NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Amara tidak langsung pulang setelah drama di pusat perbelanjaan tadi. Atas desakan Bethany, ia akhirnya mampir ke rumah sahabatnya itu untuk sekadar ngeteh dan ngemil sore.

Padahal, Bethany sendiri yang bilang kalau acara ini bertujuan untuk mendinginkan suasana dan melupakan pertengkaran mereka dengan Tobias dan Fiona. Namun nyatanya, Bethany sendiri yang gagal tenang. Ia masih tampak meledak-ledak.

"Berani-beraninya mereka!" gerutu Bethany. Ia menggigit scone-nya kuat-kuat—lebih seperti sedang meluapkan amarah daripada menikmati kue.

Amara hanya bisa terkekeh melihat tingkah sahabatnya. "Sudahlah, jangan biarkan mereka merusak harimu," ucapnya tenang sambil menyesap teh hangat. "Mereka tidak sebanding dengan energi yang kamu buang."

Bethany mengernyitkan dahi, menatap Amara tidak percaya. "Bagaimana bisa kamu setenang itu setelah dihina habis-habisan? Mereka benar-benar tidak punya tata krama!" Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar.

"Apa mereka selalu memperlakukanmu seperti ini? Apa hal-hal semacam ini yang harus kamu telan selama pernikahanmu, Amara?"

Raut sedih sempat melintas di wajah Amara, namun hanya sekejap. Sambil menyesap kembali tehnya, ia menjawab pelan, "Ya, tapi itu semua sudah lewat. Tobias, keluarganya, dan 'Amara yang dulu'... mereka semua adalah masa lalu."

Ia menatap mata Bethany dengan senyum tipis yang tulus. "Sekarang aku adalah orang yang baru. Aku tidak lagi terpaku pada apa yang sudah tertinggal di belakang. Jadi, apa pun yang mereka katakan, itu tidak akan memengaruhiku lagi."

Kata-kata Amara perlahan meredakan kekesalan Bethany. Meski masih ada sisa dongkol di hatinya, ia memutuskan untuk mengikuti sikap tenang sahabatnya itu.

Bethany mengangkat cangkir tehnya tinggi-tinggi, seolah-olah itu adalah segelas sampanye mahal. "Mari bersulang," seru Bethany, menunggu Amara melakukan hal yang sama. "Untuk kita, para janda keren yang sekarang sudah tahu seberapa berharganya diri kita!"

Amara tertawa kecil. Mereka dentingkan cangkir teh itu perlahan sebelum menyesapnya bersama. Suasana yang tadinya tegang akhirnya mencair—setidaknya sampai ponsel Amara menyala di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Melanie.

Amara membuka pesan itu. Detik berikutnya, napasnya seolah tertahan. Di layar ponselnya, terpampang foto Tobias dan Celestine yang sedang berpelukan mesra.

Suasana hatinya sempat anjlok melihat pemandangan itu. Ada nyeri yang mencoba merayap kembali, namun dengan cepat Amara menepis perasaan lemah tersebut. Ia tidak akan membiarkan foto itu menghancurkan kedamaian yang baru saja ia bangun.

"Ada apa?" tanya Bethany, menyadari perubahan ekspresi di wajah sahabatnya.

"Bukan apa-apa." Amara segera meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah, namun gerakan itu terlambat. Bethany sudah sempat menangkap sekilas gambar di layar tadi.

Bethany mencibir sinis. "Selera Tobias benar-benar terjun bebas. Kalau bukan buta, dia pasti sudah gila." Ia menunjuk ponsel Amara dengan dagunya. "Bisa-bisanya dia memilih orang sekelas Celestine? Bagaimana mungkin seleranya jatuh seanjlok itu?"

Amara hanya mengedikkan bahu. Ia enggan, atau lebih tepatnya, ia menolak untuk merasa terusik. Baginya, Tobias tidak lagi layak mendapatkan ruang dalam emosinya.

"Kamu beneran tidak merasa terganggu atau... bingung dengan semua ini?" Tanya Bethany penasaran.

"Aku tidak memiliki alasan kenapa aku harus bingung. Siapa pun yang Tobias pilih, itu haknya. Sekarang kami cuma orang asing. Dia bagian dari masa lalu, dan yang paling penting..." Amara menjeda sejenak, suaranya tenang namun tegas. "Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya."

Bethany menatap dalam-dalam wajah Amara, mencoba mencari celah kebohongan di sana. "Kamu luar biasa dewasa menghadapi ini," komentarnya kagum.

"Aku terpaksa belajar untuk dewasa, Bethany. Karena kalau tidak..." Sebuah potongan ingatan pahit mendadak melintas di benak Amara. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram kuat hingga scone di genggamannya patah menjadi dua. "...kamu hanya akan berakhir melakukan kesalahan konyol yang bakal kamu sesali seumur hidup."

Amara menunduk, menatap scone yang hancur di tangannya, lalu tersenyum getir. "Aku bicara berdasarkan pengalaman, Bethany."

####

Sesi minum teh itu berakhir sekitar satu jam kemudian. Setelah mengobrol singkat dan berjanji untuk segera bertemu lagi, Amara berpamitan dan beranjak pergi.

Namun, kepulangannya tidak setenang yang ia harapkan. Sepanjang perjalanan, pikirannya seolah dikhianati oleh ingatannya sendiri; foto dari Melanie terus terbayang-bayang di benaknya. Ia berusaha keras untuk tetap acuh tak acuh, tapi kali ini, ia kalah dalam pergulatan batinnya.

Terlepas dari semua kata-kata kuat yang ia ucapkan pada Bethany, jauh di lubuk hatinya, masih ada sisa-sisa rasa sesak dan pahit yang tertinggal. Tapi Amara adalah ahli dalam menyembunyikan luka; ia tak akan membiarkan siapa pun melihat kerapuhannya.

Sambil membuang jauh-jauh pikiran itu, Amara membelokkan mobilnya ke halaman rumah. Saat turun, pandangannya langsung tertuju pada sebuah kotak cokelat yang tergeletak di depan pintu, terbungkus cantik dengan pita emas.

Rasa penasaran mulai mengusik. Setelah membuka kunci dan masuk ke dalam, ia kembali keluar untuk memungut kotak tersebut. Paket itu terasa ringan, dan Amara tidak perlu menebak terlalu lama siapa pengirimnya—pasti Melanie. Apalagi saat ia melihat sebuah catatan kecil yang tertempel di bagian luar kotak.

"Produk terbaru, cobalah dan kamu akan terpukau melihat betapa hebat khasiatnya."

Catatan Melanie yang ambigu, lengkap dengan coretan emoji yang aneh, membuat Amara mengernyit bingung. Rasa penasarannya memuncak. Tanpa membuang waktu, ia segera menyobek segel kotak tersebut.

Matanya hampir melompat keluar saat melihat isinya. Kotak itu penuh dengan berbagai macam mainan sex.

Mulai dari vibrator, dildo, perangkat berbentuk telur, anal plugs, butt pumps, hingga penjepit puting—banyak benda di sana yang bahkan Amara tidak tahu namanya, apalagi fungsinya.

"Apa-apaan ini..." gumamnya tak percaya, sambil mengangkat sebuah benda aneh yang bentuknya seperti persilangan antara mentimun dan vibrator.

Ia benar-benar bingung; apakah benda-benda ini digunakan bersamaan? Untuk pria, wanita, atau keduanya? Apa sebenarnya yang ada di otak Melanie?

Sambil menggelengkan kepala, Amara memasukkan kembali benda-benda "ajaib" itu ke dalam kotak dan menutupnya rapat-rapat. Ia berjanji akan menginterogasi Melanie nanti. Untuk sekarang, draf proyeknya jauh lebih penting.

Setelah mandi dan berganti pakaian dengan gaun tidur yang nyaman, Amara duduk di meja kerjanya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul 10 malam. Meski lelah, ia menyeduh secangkir cokelat hangat untuk menemaninya menyusun draf hingga tuntas.

Beberapa jam berlalu. Saat draf itu akhirnya selesai, rasa puas sekaligus kantuk mulai menyerang. Namun, keheningan malam itu pecah oleh suara ketukan di pintu.

Amara menatap ke arah pintu dengan dahi berkerut. Siapa malam-malam begini? Satu nama langsung muncul di benaknya: Melanie. Pasti sahabatnya itu datang untuk menjelaskan maksud dari kiriman gila tadi.

Dengan langkah cepat dan sedikit kesal, Amara bergegas membuka pintu.

"Mel! Apa sih yang kamu pikirkan sampai mengirim barang-barang seperti itu—"

Kata-katanya mendadak tercekat di tenggorokan. Sosok yang berdiri di depannya bukanlah Melanie, melainkan Tobias.

"Kamu..."

Ekspresi Amara berubah drastis; dari bingung menjadi terkejut, lalu berakhir pada rasa muak yang tertahan.

"Mau apa kamu ke sini?" tanyanya dingin, berusaha keras menyembunyikan badai emosi di balik wajah datarnya.

Tobias sama sekali tidak bergeming. Dengan tatapan serius yang menuntut, ia melangkah maju. "Amara, kita perlu bicara."

Di saat Amara masih berusaha menenangkan diri dari kedatangan Tobias yang tiba-tiba, pria itu sudah melangkah maju mendekatinya dan berkata dengan tegas.

"Kita perlu bicara," ucap Tobias datar.

“Bicara?” Amara mendongak, menatapnya dengan sorot mata tajam yang menusuk seperti bilah pisau. Di benaknya, foto kiriman Melanie kembali muncul—kemesraan Tobias dan Celestine yang terpampang jelas—membuat perutnya bergejolak antara mual dan benci.

Bagi Amara, pria di depannya ini benar-benar tidak punya urat malu. Bagaimana mungkin setelah memadu kasih dengan wanita lain, dia berani datang ke sini dan menuntut waktu?

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," desis Amara dingin. Ia berbalik, mencoba membanting pintu tepat di depan wajah mantan suaminya itu.

BRAK!

Niatnya gagal. Tobias dengan cepat mengganjal pintu menggunakan kakinya. Pria itu meringis pelan, jelas menahan sakit akibat benturan keras tersebut, namun dia tetap bergeming.

"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan," paksa Tobias. Ia tidak menunggu izin; ia menerobos masuk, memaksa Amara mundur selangkah demi selangkah.

"Kamu gila? Apa otakmu sudah tidak berfungsi lagi?" Amara membentak, suaranya bergetar karena amarah yang mulai meluap.

Tobias berbalik menghadapnya. Wajahnya kembali pada ekspresi datar yang lazim ia tunjukkan, namun nada suaranya menyiratkan kejengkelan yang nyata. "Ini soal Celestine."

"Simpananmu itu?" Amara melempar sindiran pedas. "Bukannya seharusnya kamu berjaga di rumah sakit untuknya? Kenapa malah menerobos masuk ke rumahku?"

Tobias menghela napas panjang. Melihat sikap defensif Amara, ia yakin ucapan Austin benar: Amara membencinya, dan menyerang Celestine adalah caranya untuk membalas dendam.

"Tidak perlu bersikap seperti ini, Amara," suara Tobias merendah, mencoba mendinginkan suasana yang kian panas. "Mari kita akhiri kegilaan ini. Aku ingin kita berdamai."

Amara tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya. "Berdamai? Kamu mau kita damai, Tobias?"

"Iya. Apa pun syaratnya," jawab Tobias cepat. Tatapannya terkunci pada Amara. "Bahkan jika kamu menuntutku untuk menikahimu lagi."

Kalimat itu menghantam dada Amara seperti godam. Kenyataan pahit itu terasa begitu nyata: Tobias rela melakukan apa pun demi Celestine—bahkan mengorbankan statusnya untuk kembali ke pernikahan yang pernah dia abaikan.

Di balik kemarahan itu, Amara merasa bodoh. Ternyata sisa-sisa cinta selama enam tahun itu masih ada di sudut hatinya, dan sekarang, rasa itu kembali menghantamnya dengan rasa sakit yang luar biasa.

Namun, Amara sudah cukup hancur. Ia tidak akan membiarkan Tobias melihat luka itu lagi.

"Wow," gumam Amara dengan tawa hampa yang pahit. "Aku benar-benar meremehkan seberapa besar cintamu pada wanita itu."

Tobias mengerutkan kening, tidak menyukai nada bicara Amara yang terdengar asing.

"Oke, kamu menang. Aku akan menghentikan semuanya," ucap Amara, suaranya kini terdengar sangat tenang namun sedingin es. "Syaratnya sederhana: Hilanglah dari hidupku."

Raut wajah Tobias berubah. Ada guncangan aneh yang melintas di matanya—mungkin kekecewaan yang ia sendiri tidak pahami.

"Aku tidak mau melihat wajahmu, mendengar suaramu, atau bahkan sekadar tahu namamu lagi. Selamanya. Anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain, karena aku akan melakukan hal yang sama. Paham?"

Tobias tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah maju, memangkas jarak hingga Amara terdesak ke dinding. Ia menatap dalam ke mata Amara, mencari sebuah jawaban lain di sana.

"Tentu," bisik Tobias pelan. "Tapi... apakah ini benar-benar yang kamu inginkan?"

Amara menatap matanya dalam-dalam. "Apa aku kelihatan kayak lagi bercanda?"

Tobias diam, matanya yang gelap menatap Amara, mencari apakah ada keraguan di sana. Tapi karena tidak menemukannya, dia malah tertawa kecil. "Aku tahu kamu berbohong, Amara."

Perkataan Itu membuat kemarahan Amara meledak. "Kamu sakit ya? Apa kamu pikir aku—"

"Jika kau benar-benar membenciku dan ingin aku keluar dari hidupmu, seperti yang kau katakan," Tobias melangkah selangkah lebih dekat lagi, tapi Amara tetap bertahan kali ini.

"Lalu kenapa kau mendesah menyebut namaku dengan penuh gairah saat kita berhubungan seks terakhir kali?"

"Aku itu dijebak obat, Tobias," balas Amara sambil menusukkan telunjuknya ke dada pria itu. "Kalau otak tumpulmu itu masih tidak paham, mending kamu periksa ke dokter, jangan-jangan kamu pikun. Sekarang, keluar!"

Amara mencoba mendorong Tobias ke arah pintu, tapi dia sadar kalau tenaga tubuh kecilnya nggak ada apa-apanya dibanding tubuh kekar Tobias.

Meski sudah didorong, Tobias sama sekali tidak bergeming. Dia hanya terus menatap Amara.

Lalu tiba-tiba Tobias melangkah maju lagi. Kali ini Amara spontan mundur, sampai-sampai tas yang ada di kakinya menabrak meja di belakangnya.

Dalam sekejap, benturan itu mengguncang meja. Kotak cokelat yang ada di atasnya jatuh dan isinya berhamburan ke lantai.

Awalnya Amara tidak sadar, sampai dia melihat ekspresi wajah Tobias berubah menjadi geli.

"Mulutmu bilang tidak, tapi kelakuanmu beda lagi. Kamu memang luar biasa."

Bingung, Amara menoleh ke arah lantai. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Isi paket yang berserakan itu adalah berbagai macam mainan dewasa. Mata Amara membelalak; rasa malu yang hebat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengutuk nasib sialnya yang terjadi di waktu yang sangat salah.

"Ka—"

"Cukup!" potong Amara sebelum Tobias sempat mengejeknya lebih jauh. "Pergi sekarang. Kalau kamu masih keras kepala, aku panggil polisi!"

Amara paling benci saat Tobias diam seperti ini. Wajahnya yang datar membuat Amara tidak bisa menebak apa yang sedang direncanakan pria itu.

Tiba-tiba, Tobias berjalan melewatinya dan memungut salah satu mainan yang terjatuh di dekat kakinya. "Benda ini..." Tobias menyeringai, mengangkat benda itu tepat di depan wajah Amara. "Apa benda ini bisa memuaskanmu?"

Wajah Amara merah padam. Dengan kasar, ia menepis benda itu dari tangan Tobias. "Kamu senang, ya, mempermainkanku?!"

Amara membentak tepat di depan wajah Tobias, tanpa sadar bahwa jarak mereka kini sangat tipis. Aroma parfum Amara yang manis menyeruak masuk ke indra penciuman Tobias. Mata pria itu mulai menyapu tubuh Amara. Baju tidur tipis yang dikenakannya sama sekali tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuh Amara dengan sempurna.

Hasrat yang tertahan mendadak memuncak, menyingkirkan logika Tobias.

"Persetan," gumamnya rendah.

Sebelum Amara sempat bereaksi, tangan Tobias sudah melingkar di pinggangnya dan langsung membungkam bibirnya dengan ciuman yang menuntut.

Amara tersentak dan mencoba melawan, namun perlahan pertahanannya runtuh. Tubuhnya melemas, terseret dalam arus gairah yang sulit ia tolak. Segalanya terasa panas dan memabukkan, sampai akhirnya Amara tersadar saat merasakan jari-jari Tobias mulai menurunkan tali baju tidurnya.

1
Yuli Yulianti
amara kamu perempuan yg bersifat pinplan apa apa minun yg membuk kan sekali ud mabuk bikin hal yg memalukan seolah kamu masih istri dihadapan mantan suami
nia febriyani
mantap
Virgo Non
kurang keren harusnya amarah lebih dinginlebih waspada dan lebih menghancurkan apalagi nama besar keluarganya cukup di hormati
Mundri Astuti
bethany menyesatkan nih...
tuk Amara mending kamu rehat menjauh dari hal" yg berhubungan dgn tobias dan keluarganya, klo mabuk"an malah jadi masalah baru lagi nanti klo ketemu tobias
Yuli Yulianti
lama lama muak juga liat tobias selalu ad di sekitar Amara
azzura faradiva
bosen banget dimana² si para benalu slalu nongol
Yuli Yulianti
knp sih ad tobias disekitar Amara coba dong cowok lain yg lebih berkuasa yg mendekati Amara kan nie judul kehilangan setelah bercerai masa ad mantan trus disekitar Amara
azzura faradiva
semoga saja kakaknya Bethany seorang pria dan bisa mengambil hati seorang Amara❤️💞
azzura faradiva
keren sich ceritanya,tapi masa iya Amara harus kembali lagi sama tobias nantinya🤔klo bisa untuk season skrg hadirkan pemain pria Baru yg mengisi hari² Amara biar si tobias tambah membara🔥🔥🔥
Yuli Yulianti
jgn mau kembali dgn lelaki yg telah mbuang mu Amara orang meanggap mu murahan yg slalu bisa disentuh ...
S
Lama lama Mara balikan deh itu emosi krn cemburu kan.
S
bagus
merry
herann mntn setiap gundik y dpt mslhh knp Mara yg dislhk,, hrs cari tau gundikmu itu Tobi jgn ssrhh mntn istri Menghntiknn perbuatan y,,, dan kmu Mara ud cerai jgn Mau di tdrinn lhh klo kmrin gpp krn Kena obat kyk gk pyn hrg dri ajj
lovina: gara2 baca komen ini g jd baca, otak othornya gablek
total 1 replies
S
murah dan bodoh miris srkali pewaris terkaya tp terkihat tak berharga.kemana si kakakbya
Lee Mbaa Young
nikmati saja Amara burung Tobias 🤣🤣👎. km kn bucin smp goblok.
Lee Mbaa Young
wanita selalu murah ya bgitu sprti Amara 🤣. Kl Berkelas tinggal banting saja la ini malah mapan 🤣.
S
mara bukan siapa siapa dan apa apa ternyata hanya krn proyek dia haris menyuyak harga dirinya tak sebanding dg sumpahnya yg terkesan hebat.
S
sukurin kau akan menysali tawaran Mela, mara
S
rasain berlagak sempurna.nyatanya di luar expectasi makanya bertindak preventif itu perlu kau.bukan orang super Mara.Sekali berbuat salah fatal akbatnya sdh pernah salah langkah masih sj remeh,ceroboh.
Yuli Yulianti
amara jgn mau kamu jadi tempat napsu nya melawan lah ...
Lee Mbaa Young: 🤣🤣 melawan yo eman to burung Tobias kn enak Amara menikmati kn murah dia. laki dah bgitu masih gk melawan mlh menikmati pdhl dah cerai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!