NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghinaan Untuk Sang Putri

Mobil luxury van hitam itu meluncur membelah kemacetan tol menuju pusat kota. Helen menatap keluar jendela, melihat papan-papan iklan besar yang berkelebat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mereka memasuki kawasan bisnis Sudirman.

Di kejauhan, sebuah gedung pencakar langit dengan arsitektur ikonik berdiri megah. Dulu, di puncaknya, terpampang logo emas "KUSUMA TEXTILE GROUP" yang melambangkan kemandirian industri nasional. Namun kini, logo itu telah hilang. Sebagai gantinya, huruf-huruf baja dingin bergaya minimalis Eropa bertengger di sana: "V.A. NORDIC INDUSTRIES".

"Bajingan," desis Helen, air mata amarah mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia benar-benar menghapusnya. Dia menghapus nama Papa."

Mobil berhenti tepat di lobi utama. Puluhan karyawan berlalu-lalang, namun tak satu pun dari mereka menoleh ke arah Helen. Manajemen telah berubah total. Wajah-wajah asing berambut pirang dan bermata biru kini mendominasi area eksekutif, berbicara dalam bahasa Inggris dan Jerman dengan nada angkuh. Aroma melati yang dulu selalu menghiasi lobi kantor ayahnya kini digantikan oleh bau parfum maskulin yang tajam dan steril.

****

Mereka dibawa naik menuju lantai 20, ruang kerja yang dulu milik Aditya Kusuma. Saat pintu lift terbuka, Helen merasa seperti melangkah masuk ke dalam peti mati ayahnya. Ruangan itu telah berubah total. Dinding kayu jati yang hangat telah diganti dengan kaca hitam dan logam krom. Foto-foto Aditya yang bersalaman dengan para buruh pabrik telah hilang, digantikan oleh lukisan abstrak kontemporer yang dingin.

Di balik meja kerja besar dari marmer Italia, duduklah Beatrix van Amgard. Ia mengenakan gaun sutra berwarna emerald, memegang sebatang cerutu tipis yang asapnya mengepul elegan.

"Lihatlah siapa yang datang," ucap Beatrix tanpa berdiri. Ia menatap Helen dan Ario seolah-olah mereka adalah kotoran yang terbawa angin masuk ke ruangannya. "Dua ekor tikus yang berhasil selamat dari lubang di Venezuela."

Helen melangkah maju, napasnya memburu. "Kau tidak berhak berada di kursi ini, Tante Beatrix! Ini kantor ayahku! Ini keringat dan air mata keluargaku!"

Beatrix tertawa, sebuah tawa yang kering dan tajam. Ia berdiri perlahan, berjalan mengitari meja dan mendekati Helen. Ia meraih seuntai rambut Helen yang kusut dan menariknya sedikit.

"Ayahmu? Aditya?" Beatrix berbisik tepat di telinga Helen. "Ayahmu adalah masa lalu yang gagal. Dia terlalu lembek untuk dunia ini. Sekarang, lihatlah ke luar sana, Helen. Perusahaan ini sekarang adalah bagian dari rantai pasok global Eropa. Kami tidak lagi mengurusi kain-kain murah untuk pasar lokal. Kami adalah raksasa. Dan kau?"

Beatrix melepaskan rambut Helen dan mendorong bahunya dengan ujung jari. "Kau tidak punya apa-apa lagi di sini. Rumahmu? Sudah atas namaku. Tabunganmu? Sudah dilikuidasi untuk membayar hutang-hutang imajiner yang aku ciptakan. Bahkan nama belakangmu sekarang tidak lebih berharga daripada kertas toilet."

Ario mencoba mengintervensi, namun dua pengawal segera menodongkan senjata ke arah pinggangnya di bawah jas mereka.

"Jangan bergerak, Ario," ancam Beatrix. "Kau juga sudah habis. Izin perusahaanmu sudah dicabut, koneksimu di Jakarta sudah aku beli semua. Kau hanya seorang pengawal cacat yang menikahi seorang yatim piatu yang miskin."

****

Beatrix berjalan menuju lemari pajangan dan mengambil sebuah plakat perak. Itu adalah penghargaan "Tokoh Industri Nasional" yang pernah diterima Aditya. Dengan gerakan santai, Beatrix membuang plakat itu ke dalam keranjang sampah di sudut ruangan.

"Dengar, Helen," Beatrix kembali duduk, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Aku membiarkanmu pulang bukan karena aku kasihan. Aku ingin kau merasakan apa artinya menjadi debu. Aku ingin kau berjalan di jalanan Jakarta dan melihat namaku ada di mana-mana, sementara namamu hanya ada di catatan kriminal dan daftar hutang."

Helen gemetar hebat. Rasa sakit karena kehilangan kalung ibunya di Venezuela tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit melihat warisan ayahnya diinjak-injak seperti ini. Ia merasa sangat kecil di ruangan yang dulu adalah tempatnya bermain saat kecil.

"Kau pikir kau sudah menang?" suara Helen keluar, serak dan penuh kebencian.

"Aku sudah menang, Sayang," sahut Beatrix. Ia mengambil sebuah amplop cokelat kecil dan melemparkannya ke lantai di depan kaki Helen. "Di dalamnya ada uang sepuluh juta rupiah. Ambillah. Itu cukup untuk kalian menyewa kontrakan di pinggiran Jakarta selama beberapa bulan. Anggap saja itu pesangon karena kau pernah menjadi putri di gedung ini."

Helen menatap amplop itu, lalu menatap Beatrix. Amarah yang tadinya meluap-luap tiba-tiba membeku menjadi tekad yang dingin dan gelap. Ia tidak mengambil amplop itu. Ia justru meludah ke arah meja marmer Beatrix.

"Simpan uangmu untuk membeli peti matimu nanti, Tante Beatrix," ucap Helen dengan nada yang sangat tenang hingga membuat Beatrix sedikit mengernyit. "Kau boleh mengambil gedungnya. Kau boleh mengganti namanya. Tapi kau baru saja melakukan satu kesalahan besar."

Helen menatap tajam ke mata Beatrix. "Kau membiarkan aku hidup dan kembali ke kota ini. Dan aku bersumpah demi makam ayahku, aku akan merobohkan gedung ini bersama kau di dalamnya."

****

"Bawa mereka keluar!" teriak Beatrix, kehilangan ketenangannya sejenak karena tatapan Helen. "Jangan biarkan mereka menginjak lobi gedung ini lagi!"

Helen dan Ario diseret keluar oleh para pengawal. Mereka didorong keluar dari pintu putar gedung megah itu, tepat ke trotoar Sudirman yang mulai diguyur hujan gerimis. Orang-orang yang lewat berlari menghindari hujan, sesekali menyenggol bahu Helen tanpa meminta maaf.

Di bawah guyuran hujan, di depan gedung yang dulu milik keluarganya, Helen berdiri mematung. Pakaiannya mulai basah kuyup. Ia menatap ke atas, ke arah logo "V.A. NORDIC" yang bersinar angkuh di tengah kegelapan sore Jakarta.

Ario mendekat, merangkul bahu Helen yang bergetar. "Helen... kita harus pergi dari sini sebelum mereka memanggil polisi."

Helen menoleh ke arah Ario. Air matanya menyatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya. "Kita tidak punya rumah, Ario. Kita tidak punya uang. Kita benar-benar gelandangan sekarang."

Ario menggenggam tangan Helen, meremasnya kuat-kuat. "Kita masih punya nyawa. Dan kita punya kebenaran. Beatrix lupa satu hal tentang orang yang tidak punya apa-apa."

"Apa?"

"Orang yang tidak punya apa-apa tidak akan takut kehilangan apa pun saat menyerang balik," jawab Ario dengan mata berkilat.

Mereka berbalik, berjalan menjauh dari kemegahan Sudirman menuju gang-gang sempit di belakang gedung-gedung pencakar langit. Di sanalah, di tengah kumuhnya Jakarta, sebuah rencana baru mulai disusun. Sang Putri yang kini menjadi gelandangan tidak akan menyerah. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di lantai aspal Jakarta yang keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!