NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lucu katanya!

Suasana kelas terasa makin ramai seiring waktu berjalan.

Sejak tadi tidak ada pelajaran.

Hanya suara obrolan, tawa, dan kursi yang sesekali bergeser.

Beberapa anak sudah mulai bosan.

Sebagian lain justru makin berisik.

Aku sendiri lebih banyak diam.

Sesekali ikut ngobrol, sesekali cuma mendengarkan.

Waktu berjalan… tapi rasanya lambat.

Sampai akhirnya—

*TRINGGG!*

Bel pulang berbunyi.

Seketika suasana berubah.

Beberapa langsung berdiri, ada yang beres-beres cepat, ada juga yang santai.

Aku ikut bangkit dari kursi.

Tanpa banyak pikir—

tujuanku jelas.

Cila.

“Bro, gue duluan ya,” kataku sambil meraih tas.

Belum sempat mereka jawab panjang—

“Yaelah, buru-buru amat—” suara Andi terdengar dari belakang.

Tapi aku sudah keburu jalan keluar kelas.

Koridor masih ramai.

Beberapa kelas baru mulai keluar.

Aku melangkah cepat, menyusuri arah yang tadi kulewati saat istirahat.

Sampai akhirnya—

aku sampai di depan kelas Cila.

Pintunya masih terbuka.

Di dalam, beberapa murid masih beres-beres.

Aku berdiri di samping pintu.

Menunggu.

Beberapa siswa keluar satu per satu.

Aku hanya berdiri, bersandar ringan ke dinding.

Menunggu satu orang.

Tak lama—

Cila keluar.

Bersama dua temannya.

Begitu melihatku, langkahnya langsung melambat.

Lalu berhenti tepat di depanku.

“Nunggu dari tadi yaa…” tanyanya.

Suaranya ringan.

Wajahnya—

terlihat… beda.

Lebih cerah.

Lebih hidup.

Aku sempat memperhatikannya sepersekian detik.

Aneh.

Tapi ya… sudahlah.

“Ngga begitu lama,” jawabku santai.

Aku mengangkat tas sedikit di bahu.

“Ya udah, yuk.”

Cila mengangguk.

Kami pun mulai berjalan.

Meninggalkan kelas, menuju arah parkiran.

Sepanjang jalan, suasana sekolah mulai lengang.

Beberapa siswa sudah lebih dulu keluar.

Yang lain masih bergerombol di sana-sini.

Aku berjalan di sampingnya.

Dan entah kenapa…

mataku beberapa kali melirik ke arahnya.

Wajahnya masih sama.

Berseri.

Seolah ada sesuatu yang dia simpan.

Aku sedikit mengernyit.

Penasaran.

Tapi belum sempat aku bertanya—

Cila tiba-tiba menoleh.

Tatapan kami bertemu.

Refleks, aku langsung memalingkan pandangan.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal—

jelas aku tadi sedang melihatnya.

Cila tiba-tiba menatapku.

Kali ini… lebih lama.

Lebih tajam.

Aku langsung berusaha fokus ke depan.

Langkahku tetap jalan, tapi pikiranku mulai ke mana-mana.

Aku melirik sedikit.

Masih.

Dia masih menatapku.

“Kenapa kamu kok natap aku kayak gitu?” tanyaku, sedikit grogi, sambil pura-pura melihat ke arah lain.

Cila tidak langsung menjawab.

Dia tetap menatapku beberapa detik.

Lalu—

“Bukannya tadi kamu juga natap aku?” katanya santai. “Emang aku nggak sadar?”

Aku langsung kehabisan kata.

“Mmm…”

Cila langsung menyahut, “Mmm apa?”

Aku menggaruk belakang kepala pelan.

“Mmm… nggak,” jawabku akhirnya. “Cuma… kamu keliatan seneng aja hari ini. Emang kenapa sih?”

Aku sedikit nyengir.

Cila tersenyum.

“Ada deeh…” jawabnya singkat.

Tapi senyumnya—

nggak hilang.

Aku menatapnya lagi.

Kali ini lebih berani.

Dia sesekali melihat ke depan, lalu kembali melirik ke arahku.

Masih dengan senyum kecil itu.

Aku mencoba menahan tatapanku.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga—

Sampai akhirnya kami berdua sama-sama menunduk.

Seolah sadar.

Dan di situ—

ada sesuatu yang berubah.

Bukan suasana.

Bukan tempat.

Tapi… rasanya.

Aku menarik napas pelan.

Menahan senyum yang hampir lepas begitu saja.

Sepanjang jalan, aku lebih banyak diam.

Bukan karena tidak ingin bicara.

Tapi karena…

aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Apalagi ketika bahu Cila sesekali bersentuhan dengan lenganku.

Dekat.

Terlalu dekat.

Dan entah kenapa…

aku tidak menjauh.

Aku justru berharap—

langkah ini sedikit lebih lambat.

Agar jalannya terasa lebih panjang.

Agar momen ini…

tidak cepat selesai.

Untuk pertama kalinya—

aku berharap tempat parkir itu… lebih jauh dari biasanya.

Tanpa terasa, kami sudah sampai di parkiran.

Langkahku melambat.

Aku berhenti di dekat motor.

Dan entah kenapa—

refleks.

Tanganku langsung mengambil helm.

Aku menghadap ke Cila, lalu memakaikannya ke kepalanya dengan pelan.

Dekat.

Terlalu dekat.

Dan kali ini—

tatapan kami nggak bisa dihindari.

Beberapa detik.

Diam.

Lalu—

tawa kecil Cila lepas.

Ringan.

Tulus.

Aku ikut tertawa kecil tanpa sadar.

Entah kenapa…

dadaku terasa penuh.

Seperti ada sesuatu yang mengembang di dalam.

Hangat.

Aneh.

Tapi… menyenangkan.

“Hehe… kamu kenapa ketawa?” tanyaku.

Cila masih tersenyum.

“Hari ini kamu lucu,” jawabnya, masih menahan tawa kecil.

Aku terdiam sebentar.

Lalu tanpa sadar ikut menarik napas.

Dan anehnya—

di saat yang sama, dia juga.

Kami saling menoleh.

Sepersekian detik.

Lalu—

tertawa lagi.

Padahal…

nggak ada yang lucu.

Atau mungkin—

semuanya terasa lucu.

Aku menggeleng kecil, masih dengan sisa senyum.

“Yuk,” kataku pelan.

Kami naik ke motor.

Mesin menyala.

Dan tanpa banyak kata—

kami pulang.

Di perjalanan pulang—

kami tidak banyak bicara.

Hanya suara mesin motor dan angin yang sesekali menerpa.

Tapi anehnya…

nggak terasa sepi.

Dadaku masih terasa penuh.

Aku bahkan nggak sadar sejak kapan—

senyum ini nggak hilang.

Aku hanya fokus ke jalan.

Menikmati perasaan yang… sulit dijelaskan.

Sampai tiba-tiba—

“Kamu kok senyum terus dari tadi?” suara Cila terdengar dari belakang, diselipin tawa kecil.

Aku langsung kaget.

Refleks.

“Ha? Enggak—” jawabku cepat.

Lalu aku sadar sesuatu.

Spion.

Berarti dari tadi…

dia ngelihatin aku.

Aku langsung buru-buru memutar spion ke arah lain.

Agak terlalu cepat.

Motor sedikit oleng.

“Eh, eh—” aku langsung menstabilkan setang.

Cila malah ketawa.

“Ih, kenapa sih panik gitu?” katanya sambil masih tertawa kecil.

Aku menghela napas pendek.

“Ya nggak apa-apa,” jawabku, berusaha santai.

Padahal jelas—

nggak santai.

Aku kembali fokus ke jalan.

Tapi sekarang rasanya beda.

Lebih hangat.

Dan sedikit… memalukan.

Dari belakang, suara tawa kecil Cila masih terdengar sesekali.

Dan entah kenapa—

aku jadi makin nggak bisa berhenti senyum.

__

Entah kenapa aku merasa jalan lebih cepat dari sebelumnya

Saat sampai di depan gerbang rumah, aku memperlambat motor.

Cila turun pelan.

“Thanks ya,” katanya singkat.

Aku mengangguk kecil. “Iya.”

Dia membuka gerbang, lalu masuk.

Aku masih diam di atas motor.

Menunggu.

Entah kenapa… belum pengen langsung pergi.

Cila sempat menoleh sebentar sebelum masuk ke dalam.

Lalu—

gerbang tertutup.

Aku menarik napas pelan.

Baru setelah itu, aku memutar motor dan masuk ke rumahku sendiri.

Motor kumatikan.

Suasana rumah terasa biasa saja.

Sepi seperti biasa.

Tapi anehnya…

rasanya beda.

Aku melepas sepatu, lalu masuk ke kamar.

Tas kutaruh sembarangan.

Aku duduk di ujung kasur.

Diam.

Senyumku belum hilang.

Bahkan tanpa alasan yang jelas.

Aku cuma duduk…

dan kepikiran.

Tentang tadi.

Tentang jalan pulang.

Tentang hal-hal kecil yang bahkan nggak penting—

tapi entah kenapa keingat semua.

Tiba-tiba—

*getar*

HP di sampingku bergetar.

Aku langsung mengambilnya.

Cila.

“Helm kamu kebawa.”

Aku langsung cek.

Refleks.

“Oh iya…” gumamku pelan sambil nyengir sendiri.

Jari-jariku langsung mengetik.

“Ya udah nanti aku ambil ke rumah kamu.”

Balasannya cepat.

“Kapan?”

Aku berhenti sebentar.

Melihat layar.

Senyumku makin lebar tanpa sadar.

“Nanti sore.”

Beberapa detik…

“Oh ya udah.”

Singkat.

Biasa.

Tapi entah kenapa…

cukup buat bikin dadaku terasa penuh lagi.

Aku meletakkan HP di samping.

Menatap ke depan.

Kosong.

Tapi pikiranku nggak kosong.

Ada sesuatu yang muter pelan di kepala.

Ringan.

Nyaman.

Dan bikin aku… nggak bisa berhenti senyum.

Aku mengusap wajah sebentar.

Seolah mau “balikin normal”.

Tapi gagal.

Senyumnya masih ada.

Akhirnya aku berdiri.

Melangkah ke arah balkon samping kamar.

Pintu kubuka pelan.

Angin langsung masuk.

Segar.

Aku melangkah keluar.

Dan saat itu—

mataku menangkap sesuatu.

Gorden di kamar sebelah.

Kamar Cila.

Sedikit bergerak.

Seperti… baru saja ditutup.

Aku berhenti.

Sepersekian detik.

Lalu pura-pura santai.

Menoleh ke arah lain.

Seolah nggak lihat apa-apa.

Padahal—

sudut bibirku sudah mulai naik lagi.

Aku berdiri di balkon.

Melihat sekitar.

Biasa.

Tapi rasanya nggak biasa.

Aku menahan tawa kecil yang hampir keluar.

Menarik napas pelan.

Buang.

Masih nggak hilang.

Akhirnya aku masuk lagi ke kamar.

Menutup pintu.

Dan begitu benar-benar sendirian—

tawa kecil itu akhirnya lepas.

Pelan.

Tapi cukup lama.

Aku duduk lagi di kasur.

Masih dengan sisa senyum.

Menggeleng kecil.

“Apaan sih…” gumamku.

Tapi kali ini—

aku nggak berusaha menahannya.

Aku biarkan saja.

Perasaan ini.

Aneh.

Nggak jelas.

Tapi…

nyaman.

Dan untuk sekarang—

itu sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!