NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Akan Mengubahnya

Nara mengerjap keras.

Sekali.

Dua kali.

Napasnya yang terengah-engah menyapu permukaan kaca jendela kedai jamu yang berdebu, tetesan darah dari hidungnya jatuh ke ujung sepatunya.

Ia menatap pantulan di kaca itu lagi.

Kosong.

Tidak ada Aruna.

Yang menatap balik padanya dari balik kaca buram itu hanyalah refleksi dirinya sendiri seorang gadis dengan wajah sepucat mayat, kantung mata menghitam, dan noda darah kemerahan di bawah hidung.

Nara menyandarkan dahi ke kaca yang dingin, membiarkan rasa dingin itu meredam denyut menyiksa di pelipisnya. Ia tertawa pelan, tawa yang terdengar lebih seperti rintihan.

"Sialan, aku mulai gila," umpatnya lirih.

Tentu saja itu bukan Aruna.

Aruna yang asli, perempuan berwajah dingin itu adalah manusia dari darah dan daging. Ia meninggalkan jejak langkah di rumput, ia bernapas, dan ia memegang kerah baju Nara dengan tangan yang nyata. Aruna tidak mungkin muncul dari dalam kaca layaknya hantu murahan di film horor.

Suara ancaman yang menggema di kepalanya barusan hanyalah halusinasi, sebuah manifestasi dari Penolakan Waktu.

Alam semesta sedang menghukum otak Nara karena mencoba membelokkan takdir. Sebagai bentuk siksaan psikologis, anomali waktu itu memutar ulang ketakutan terbesar Nara, meminjam wajah dan suara Aruna satu-satunya orang yang mengetahui rahasia perjalanan waktu ini untuk meneror kewarasannya.

"Siapa sebenarnya perempuan itu?" batin Nara, menyeka sisa darah di dagunya dengan ujung lengan jaket. "Apakah dia semacam penjaga waktu? Atau orang lain yang terjebak juga di era ini?"

Nara tidak punya jawabannya, tapi satu hal yang ia tahu pasti ia tidak akan membiarkan ancaman Aruna baik yang nyata maupun halusinasi menghentikan rencananya sekarang. Ia lebih memilih tubuhnya hancur daripada melihat ayahnya mati rasa seumur hidup.

Dengan langkah gontai dan pandangan yang masih sedikit berkunang-kunang, Nara memaksakan diri berjalan kembali menuju kosan. Ia harus sampai di sana sebelum Sinta pulang.

Tiga jam kemudian, pintu kamar kos terbuka.

Sinta masuk dengan langkah ringan yang jarang sekali ia tunjukkan, buku Makro ekonomi bersampul biru kebanggaannya dipeluk erat di dada. Meski wajahnya berusaha diatur sedatar mungkin, ada sisa-sisa lengkungan senyum di sudut bibirnya yang gagal disembunyikan.

Namun, senyum samar itu lenyap seketika saat Sinta menoleh ke arah kasur.

Nara terbaring meringkuk, membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Keringat dingin membasahi dahi gadis itu, dan bibirnya pucat pasi. Di lantai, dekat tempat sampah, terdapat beberapa lembar tisu bernoda darah yang belum sempat Nara buang dengan benar.

Buku tebal Sinta langsung tergelincir dari tangannya, jatuh berdebum ke lantai.

"Nara!"

Sinta berlutut di samping kasur, panik melanda wajahnya. Tangan Sinta yang biasanya kaku dan selalu menjaga jarak, kini tanpa ragu menempel di dahi Nara.

"Astaga, badanmu panas banget! Kamu habis kehujanan di mana? Ini kan musim kemarau!" omel Sinta, nadanya bergetar antara marah dan sangat cemas, matanya beralih pada tisu di dekat tempat sampah. "Dan hidungmu berdarah? Kamu sakit apa, Nar? Kita ke rumah sakit sekarang!"

Nara membuka matanya perlahan, menyipit karena silau lampu kamar. Melihat wajah panik ibunya di masa muda ini, hati Nara mencelos. Sinta yang ini cerewet, galak, tapi sangat peduli. Jauh berbeda dengan Sinta di masa depan yang hanya akan menyuruh pembantu untuk mengantarnya ke dokter.

"Nggak usah lebay, Sin," suara Nara parau, ia mencoba tersenyum mengejek. "Cuma mimisan biasa, panas dalam. Kurang vitamin C aja."

"Panas dalam kepalamu! Badanmu kayak setrikaan menyala begini!" Sinta berdiri berkacak pinggang, napasnya memburu. "Aku ambil kompres dulu, kalau kamu berani bangun dari kasur sebelum aku balik, aku ikat kakimu di ranjang!"

Sinta berlari keluar kamar menuju dapur kosan, suara panci beradu dan langkah kaki yang terburu-buru terdengar gaduh dari luar.

Nara menatap langit-langit kamar dengan mata sayu, siksaan fisik dari anomali waktu ini benar-benar menguras tenaganya. Namun, melihat Sinta merawatnya dengan sepenuh hati entah mengapa menjadi obat penawar tersendiri.

Tak lama, Sinta kembali membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil. Dengan telaten, perempuan logis itu memeras handuk dan meletakkannya di dahi Nara. Gerakannya sedikit kasar dan kaku khas Sinta yang tidak terbiasa bermanja-manja tapi sentuhannya sangat hati-hati.

"Kamu ini turis yang merepotkan," gerutu Sinta sambil duduk bersila di lantai, menunggui Nara.

"Makasih, Nona Kalkulator," bisik Nara.

Sinta mendengus. "Jangan panggil aku pakai julukan konyol dari gembel jalanan itu."

Meski mulutnya berkata begitu, Nara menangkap kilat aneh di mata Sinta saat nama Raka secara tidak langsung disebut.

"Gimana tadi di Palasari?" pancing Nara perlahan, menahan rasa sakit di kepalanya. "Kalian nggak cakar-cakaran di jalan, kan?"

Sinta membuang muka, pura-pura merapikan ujung selimut Nara.

"Nggak, dia aneh," jawab Sinta singkat.

"Aneh gimana?"

Sinta diam sejenak, menghela napas. "Dia tawar-menawar harga buku pakai cara preman. Terus, pas pulang, Vespanya mogok di perempatan Braga, kamu tahu apa yang dia lakukan?"

Nara menggeleng pelan.

"Dia nggak panik atau malu sama sekali, dia malah ketawa ngakak, nyuruh aku turun, terus dia jongkok ngotak-ngatik mesinnya pakai obeng karatan yang dia simpan di balik jok," Sinta bercerita dengan nada yang setengah kesal, tapi matanya memancarkan rasa takjub yang tak disadarinya. "Tangan dan bajunya kena oli hitam semua, dan dia masih bisa-bisanya nawarin aku nyanyi lagu Iwan Fals sambil nungguin dia benerin busi."

Nara menahan senyum. "Terus? Kamu ngomel?"

"Tadinya mau ngomel, tapi..." Sinta menggigit bibir bawahnya, gengsinya berontak untuk mengakui hal ini. "Dia kelihatan sangat paham apa yang dia lakukan, Nar. Di balik sikap urakannya, dia mandiri. Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus merengek atau mengandalkan uang orang tua seperti... seperti Danang."

Bingo.

Nara bersorak dalam hati.

Perbandingan itu akhirnya muncul secara alami di kepala Sinta, tembok gengsi Sinta mulai retak. Perempuan itu mulai bisa melihat nilai dari seorang Raka, melampaui pakaian usang dan status sosialnya.

"Lagipula," tambah Sinta pelan, suaranya melembut, "waktu aku tawarin tisu basah buat ngelap tangannya yang kena oli, dia nolak. Dia bilang takut tangannya yang kotor bikin tanganku ikutan kotor, padahal biasanya dia suka jahil."

Nara memejamkan mata, membiarkan kehangatan kompres Sinta menjalar.

Interaksi alami ini bekerja dengan sempurna, Raka tidak perlu memakai kemeja rapi dan sepatu pantofel untuk dihormati oleh Sinta. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, mandiri, tangguh, dan tidak mudah patah oleh keadaan.

"Tidurlah Nar, jangan banyak mikir," ucap Sinta datar, kembali memasang topeng galaknya. "Besok aku ada kuis, jadi malam ini kamu jangan berani-berani mati di kamarku, aku malas berurusan dengan polisi."

Nara tertawa kecil, meski dadanya terasa sesak.

"Iya, Bawel."

* * *

Tiga hari berlalu sejak kejadian di Palasari.

Nara berhasil menutupi sisa-sisa gejala sakitnya dari Sinta dengan dalih "sudah minum obat dari apotek". Meski begitu, setiap malam kepalanya masih sering berdenyut, dan bayangan-bayangan mengerikan tentang masa depan yang memudar kerap menghantui mimpinya.

Namun, pengorbanan fisiknya tidak sia-sia.

Dinamika antara Raka dan Sinta mengalami pergeseran yang halus namun pasti, mereka belum menjadi sepasang kekasih perjalanan ke sana masih panjang tetapi status "musuh bebuyutan yang canggung" itu telah memudar.

Sore itu, di pelataran kampus Sinta.

Nara sedang duduk di bawah pohon rindang, menunggu Sinta keluar dari kelas. Dari kejauhan, ia melihat Sinta berjalan keluar dari gedung fakultas dengan wajah ditekuk, memeluk tumpukan buku yang tebal.

Danang, si kating sombong, berjalan cepat menyusul Sinta.

"Sin! Tunggu! Ayo pulang bareng, kebetulan Mas bawa mobil. Mendung nih, mau hujan," tawar Danang setengah memaksa, berusaha meraih buku-buku dari tangan Sinta.

"Nggak usah Mas, aku bisa pulang naik angkot," tolak Sinta tegas, menarik tumpukan bukunya menjauh.

Tepat pada saat itu, suara kaleng rombeng dari mesin Vespa biru memecah kesunyian pelataran kampus.

Raka mengendarai Vespanya memasuki area parkir dengan gaya santai yang mengundang tatapan sinis dari beberapa mahasiswa rapi di sana. Ia mengenakan jaket denimnya, helm catok di kepala, dan senyum jahil yang tak pernah luntur.

Raka memarkirkan motornya tidak jauh dari Sinta dan Danang. Ia tidak turun, hanya menopang dagu di atas stang motor sambil menonton adegan penolakan itu seperti sedang menonton sinetron sore.

"Duh Mas, udah ditolak masih aja maksa. Nggak malu sama kumis?" celetuk Raka santai, suaranya cukup keras untuk didengar belasan orang di sekeliling mereka.

Wajah Danang seketika memerah padam. "Heh, gembel! Ngapain kamu di kampus elit begini? Mau ngamen? Sana di lampu merah, jangan nyampah di sini!"

Raka sama sekali tidak tersinggung, ia malah tertawa renyah.

"Siapa yang mau ngamen? Aku ke sini mau jemput rentenirku," Raka mengedipkan sebelah mata ke arah Sinta. "Ayo Sin, katanya mau minta ajarin nge-gitar biar otakmu nggak isinya angka doang."

Sinta ternganga.

Sejak kapan ia minta diajari main gitar?! Raka jelas sedang mengarang bebas.

Namun, melihat wajah Danang yang menyebalkan, otak logis Sinta langsung mengkalkulasi pilihan terbaik. Daripada terjebak satu mobil dengan Danang yang memuakkan, lebih baik ia menumpang mesin pembuat asap milik Raka.

Tanpa mempedulikan Danang yang masih menganga, Sinta melangkah mendekati Vespa Raka.

"Kalau motormu mogok lagi, aku beneran bakal buang motor ini ke sungai Cikapundung," ancam Sinta galak.

Raka tersenyum lebar, menepuk jok belakangnya. "Tenang, Nona. Hari ini udah aku isi bensin full tank pakai uang hasil ngamen."

Sinta naik ke boncengan Raka dengan sedikit canggung, Raka langsung menarik gas meninggalkan Danang yang mematung menahan malu di tengah pelataran kampus.

Dari bawah pohon, Nara mengawasi Vespa biru itu menghilang di tikungan gerbang kampus.

Ia tersenyum simpul.

Tiba-tiba, setetes cairan hangat kembali mengalir dari hidung Nara.

Nara buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, warnanya merah pekat, sakit kepala itu datang lagi, kali ini menusuk tepat di belakang matanya.

Anomali waktu tidak pernah tidur, waktu sedang bersiap menagih utang yang lebih besar. Namun kali ini, Nara siap menghadapinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!