Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ego yang Luruh
Tanpa aba-aba, Bara melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia meraih kedua tangan Laras yang dingin dan gemetar, menggenggamnya kuat-kuat di dalam telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Aku nggak bisa tenang kalau kita belum selesai," suara Bara rendah, membelah kesunyian malam.
"Aku tahu aku keterlaluan di sekolah tadi. Aku nggak seharusnya bentak kamu cuma gara-gara susu stroberi sialan itu."
"Bodo amat! Aku benci sama kamu" kalimat yang sudah direncanakan Laras saat bertemu dengan Bara, tapi realitanya kalimat itu tidak bisa keluar dari mulutnya.
Laras terdiam. Semua kalimat makian yang sudah ia siapkan di ujung lidah mendadak luntur. Ia mencoba menarik tangannya, namun Bara justru mempererat genggamannya.
"Aku cemburu, Ras. Setengah mati," lanjut Bara, kali ini suaranya lebih lembut, hampir seperti bisikan.
"Melihat dia bisa kasih kamu sesuatu secara terbuka di depan orang banyak, sementara aku harus pura-pura nggak kenal... itu bikin aku ngerasa nggak berguna."
Laras mendongak, menatap wajah Bara yang tampak sangat jujur malam ini. Keangkuhan pria itu luruh.
Aku juga salah," gumam Laras akhirnya, suaranya melemah.
"Aku sengaja mancing kamu karena aku juga panas liat Erika. Kita sama-sama kekanak-kanakan, Bar."
Bara menarik napas panjang, lalu perlahan ia menarik Laras ke dalam pelukannya. Di bawah bayangan pohon besar, di lingkungan elit yang sepi itu, mereka seolah menciptakan dunia kecil mereka sendiri. Dunia yang tidak mengenal kasta.
"Jangan pernah nekat datang ke sini lagi," bisik Laras di dada Bara.
"Aku takut, Bar."
Bara mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Laras sekilas.
"Aku bakal pergi. Tapi janji sama aku, jangan pernah terima apa pun lagi dari dia."
Ia merogoh saku jaket kulitnya yang cukup dalam, lalu mengeluarkan sebuah kotak susu kecil yang masih terasa sejuk dan menyerahkannya pada Laras. Laras mengerutkan kening, mencoba membaca labelnya di bawah remang lampu jalan.
"Susu pisang?"
Bara mengangguk, ada senyum miring yang tipis dan penuh kemenangan di wajahnya.
"Susu stroberi itu kurang enak. Rasanya terlalu pasaran."
Laras menahan tawa melihat tingkah kekanak-kanakan pria di depannya ini. Ternyata, aksi nekat Bara datang ke rumahnya bukan hanya untuk meminta maaf, tapi juga untuk melakukan 'balas dendam' kecil terhadap pemberian Yudhis.
"Kamu jauh-jauh ke sini cuma buat nganterin susu pisang?" goda Laras.
"Susu pisang itu lebih enak"
Laras menerima kotak susu itu, merasakan dinginnya merambat ke telapak tangannya.
"Makasih, Bar. Aku bakal minum ini di kamar."
"Harus. Dan besok kasih tau aku kalau rasanya jauh lebih enak daripada stroberi sialan itu," tantang Bara.
"Sana masuk. Aku cabut," ujar Bara.
Ia memacu motornya pergi, setelah memastikan Laras masuk rumah. Laras memeluk kotak susu pisang itu erat-erat. Ia tersenyum tipis. Baginya, susu kotak sederhana ini sangat mewah, karena di dalamnya ada ego seorang Bara yang luruh demi sebuah rasa sayang. Laras segera menyelinap masuk ke dalam rumah, menyembunyikan susu pisang itu di balik kardigannya, membawa rahasia manis itu kembali ke balik pintu jati.
Bara memacu motornya perlahan, mencoba tidak menarik perhatian di lingkungan yang terlalu tenang itu. Namun, saat ia baru saja melewati gerbang kompleks, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam meluncur masuk dari arah berlawanan. Insting Bara mendadak tajam. Ia sedikit menurunkan kecepatan motornya.
Mobil itu melewati motor Bara dengan sangat pelan karena gundukan jalan. Di kursi belakang, kaca jendela terbuka setengah, menyingkap profil wajah seorang pria paruh baya yang sedang menelepon. Lampu jalan yang terang benderang menerangi wajah itu selama beberapa detik—cukup lama bagi Bara untuk merekam setiap detailnya. Jantung Bara berdegup kencang, ia ingat betul rahang tegas dan tatapan dingin itu. Pria itu adalah sosok yang sama dengan yang ia lihat dalam rekaman. Bara menghentikan motornya di bahu jalan setelah mobil itu menjauh. Ia menatap lampu belakang mobil mewah tersebut yang perlahan menghilang ke arah deretan rumah besar, termasuk arah rumah Laras.
"Jadi benar..." desis Bara pelan.
Suaranya tenggelam dalam deru mesin motornya yang masih menyala.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Bara melempar jaketnya ke kursi kayu di sudut kamar. Pikirannya masih tertinggal pada sosok pria di mobil mewah tadi. Dengan sisa kegelisahan yang masih berdenyut di kepalanya, ia meraih ponsel dan menekan nomor Laras.
"Halo?" suara Laras terdengar berbisik di seberang sana.
"Bara? Kamu udah sampai rumah?"
"Udah baru aja," jawab Bara, mencoba menetralkan nada suaranya agar terdengar biasa saja.
"Lagi apa? Udah tidur?"
"Belum, baru mau minum susu pisang dari kamu," Laras terkekeh pelan, sedikit mencairkan suasana.
"Tumben langsung telpon lagi. Kenapa? Kangen?"
Bara terdiam sejenak sebelum memulai basa-basi yang sebenarnya adalah interogasi terselubung.
"Aku cuma kepikiran aja... tadi pas aku pulang, ada mobil masuk rumahmu. Rumah kamu lagi ada tamu ya jam segini?"
"Oh, itu..." Laras terdiam sebentar, terdengar suara pintu ditutup pelan di latar belakang.
"Iya, ada tamu. Aku panggilnya Mbah Kung Brotojoyo. Beliau itu kakak dari Eyang Kakung aku, tapi beda bapak. Kenapa emangnya?"
Mendengar jawaban itu, Bara merasa dadanya seolah dihantam benda tumpul. Informasi itu mengonfirmasi dugaannya: pria itu bukan sekadar orang asing bagi keluarga Laras. Pria itu adalah bagian dari silsilah keluarga besar Widjaya.
"Nggak apa-apa," jawab Bara cepat, meski rahangnya mengeras.
"Cuma nanya aja. Keliatannya orang penting banget."
"Emang. Beliau disegani banget di keluarga besar. Aku aja nggak berani banyak omong kalau ada beliau," lanjut Laras tanpa curiga.
Bara menutup mata, memijat keningnya yang berdenyut.
"Ya udah, minum susunya terus tidur. Besok jangan telat."
Begitu sambungan telepon terputus, Bara menatap layar ponselnya dengan hampa. Kini, tembok jati itu terasa ribuan kali lebih tinggi dan lebih dingin. Laras adalah gadis yang ia cintai, namun keluarga besar Laras mungkin adalah labirin hitam yang selama ini ia coba bongkar.
Bara melempar ponselnya ke atas kasur. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang lembap, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai semen yang dingin. Jawaban Laras tadi terus bergema di kepalanya:
Kakak dari Eyang Kakung aku, tapi beda bapak.
Lalu alasan apa yang membuat orang itu mencelakai saudaranya sendiri?
Apa karna rebutan tahta? Warisan?
Bara membayangkan jika suatu saat ia harus menarik pelatuk atau membongkar borok pria itu ke polisi, apa yang akan terjadi?
Sementara itu, di kamar mewahnya, Laras menatap kotak susu pisang yang sudah kosong di atas meja rias. Ia tersenyum kecil, merasa hangat karena perhatian Bara yang tak terduga. Tiba-tiba, ponsel Bara bergetar. Sebuah foto masuk dari nomor Laras. Foto itu memperlihatkan Laras yang sedang memegang kotak susu pisang yang sudah kosong, ia berpose lucu dengan pipi menggembung. Di bawahnya ada tulisan: "Enak banget! Stroberi lewat. Makasih ya, Bar. Sleep tight!"
Bara menatap layar itu lama. Senyum Laras terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Gadis ini terlalu bersih, terlalu polos untuk berada di tengah-tengah lumpur hitam yang diciptakan keluarganya sendiri. Sebuah ide nakal muncul untuk sedikit mencairkan suasana hatinya yang berat. Ia mengarahkan kamera ponselnya ke arah dirinya sendiri. Dengan pencahayaan lampu kamar yang minim namun justru mempertegas bayangan di otot dadanya yang six pack dan atletis, Bara mengambil satu foto close-up sambil berbaring. Tanpa kata-kata, ia menekan tombol kirim.
Di seberang sana, Laras yang baru saja hendak memejamkan mata langsung terlonjak saat ponselnya bergetar. Begitu foto itu terunduh, wajahnya terasa panas seketika. Ia menatap layar dengan mata membulat, jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia sembunyi-sembunyi keluar rumah tadi.
[Laras]
BARA!!! Pake baju kamu! Nanti masuk angin!
"Aduh, detak jantung aku nggak aman sekarang" gumamnya.
Bara terkekeh melihat balasan itu. Setidaknya untuk malam ini, ia ingin ego dan dendamnya kalah sejenak oleh perasaan manis yang membuatnya merasa seperti remaja biasa. Ia meletakkan ponselnya di dada, merasakan detak jantungnya sendiri yang kini sedikit lebih tenang.