Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Senja
Hari ketiga di Desa Tenganan.
Tio terbangun dengan perasaan yang aneh—bukan sakit, bukan takut, tapi semacam ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan. Tubuhnya semakin pulih. Kaki kanannya kini bisa digerakkan tanpa rasa sakit yang berarti, meski masih sedikit kaku.
Luka-luka di tangan dan kepala sudah mengering, meninggalkan bekas kemerahan yang akan menjadi parut.
Ki Jaga sudah duduk di ambang pintu ketika Tio bangun. Seperti biasa, ia memandangi kabut tebal yang menyelimuti desa. Kabut itu tidak pernah hilang di sini—tebal, putih, bergerak lambat seperti lautan susu yang tenang.
"Wis waras, Le?" tanya Ki Jaga tanpa menoleh.
"Lumayan, Mbah. Maturnuwun." (Cukup, Kakek. Terima kasih.)
Ki Jaga berdiri, berbalik. "Ayo. Dino iki kowe tak jak nang pasar." (Ayo. Hari ini kamu kuajak ke pasar.)
Tio mengerjap. "Pasar? Ono pasar neng kene, Mbah?" (Pasar? Ada pasar di sini, Kakek?)
Ki Jaga tersenyum misterius. "Ono. Ning dudu pasar koyo biasane." (Ada. Tapi bukan pasar seperti biasanya.)
Mereka berjalan melewati jalan setapak di antara rumah-rumah bambu. Kabut masih tebal, tapi Tio mulai bisa melihat bayangan-bayangan di kejauhan—penduduk desa yang juga berjalan, mungkin menuju arah yang sama.
Tidak ada yang berbicara. Semua berjalan dalam diam, hanya suara langkah kaki di tanah yang terdengar. Sunyi, tapi tidak mencekam. Sunyi yang damai.
Setelah sekitar 20 menit berjalan, mereka tiba di sebuah lapangan terbuka. Kabut di sini sedikit lebih tipis, memungkinkan Tio melihat sekeliling.
Pasar.
Tapi bukan pasar seperti yang ia kenal. Tidak ada kios-kios kayu, tidak ada terpal plastik, tidak ada pedagang berteriak menawarkan dagangan. Yang ada hanyalah orang-orang yang duduk bersila di atas tikar pandan, masing-masing dengan barang-barang yang dipajang di depan mereka.
Barang-barang itu aneh. Buah-buahan yang tidak ia kenali, umbi-umbian dengan bentuk aneh, kain tenun dengan corak yang tidak pernah ia lihat, perhiasan dari batu dan kayu, dan benda-benda lain yang tidak bisa ia identifikasi.
Tapi yang paling aneh adalah suasananya. Sunyi. Benar-benar sunyi.
Orang-orang datang, duduk di depan tikar pedagang, memandangi barang-barang yang dijual. Lalu mereka saling bertukar pandang. Pedagang mengangguk sedikit. Pembeli mengangguk balik. Lalu pembeli mengambil barang itu, meninggalkan sesuatu—mungkin barang lain, mungkin makanan, mungkin benda kecil—dan pergi.
Tidak ada kata-kata. Tidak ada tawar-menawar. Semua dilakukan dengan isyarat, dengan tatapan, dengan anggukan.
"Ini... ini pasar bisu?" bisik Tio pada Ki Jaga.
Ki Jaga menggeleng. "Dudu bisu. Wong kene ngomong, ning ora karo saben wong. Ing pasar, cukup nganggo ati."
(Bukan bisu. Orang sini bicara, tapi tidak dengan setiap orang. Di pasar, cukup pakai hati.)
Tio tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Mereka berjalan perlahan di antara para pedagang. Tio mengamati wajah-wajah mereka—semua memiliki mata yang tajam, seperti Ki Jaga. Semua bergerak dengan anggun, seperti penari. Dan semua... diam.
Tiba-tiba, di depan matanya, sesuatu terjadi.
Seorang pedagang yang duduk di tikar—pria paruh baya dengan caping bambu—tiba-tiba berubah.
Sosoknya... melebur. Menjadi bayangan. Hitam, tidak berbentuk, seperti siluet manusia yang terbuat dari kabut pekat.
Tio tersentak, mundur selangkah. Tangannya meraih lengan Ki Jaga.
"M-Mbah... itu..."
Ki Jaga menepuk tangannya pelan. "Ojo wedi.
Delengo." (Jangan takut. Lihat.)
Tio memaksa dirinya melihat. Bayangan itu—makhluk itu—sedang "bertransaksi" dengan seorang pembeli. Pembeli itu juga berubah? Tidak, pembeli itu tetap dalam wujud manusia.
Tapi ia sepertinya tidak melihat perubahan pedagang itu. Ia hanya duduk, memandangi barang, lalu meninggalkan sesuatu, dan pergi.
Setelah pembeli pergi, bayangan itu perlahan kembali ke wujud manusia.
Pria dengan caping bambu itu tersenyum pada Tio—senyum ramah, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mereka... mereka bukan manusia?" bisik Tio.
Ki Jaga mengangguk. "Wong lelembut. Wong sing njogo alam liyo. Wong sing urip bebarengan karo manungso, ning ora katon."
(Makhluk halus. Yang menjaga alam lain. Yang hidup bersama manusia, tapi tidak terlihat.)
Tio memandang sekelilingnya dengan perspektif baru. Di pasar ini, berbaur dengan yang tampak manusia, ada yang tidak tampak manusia. Atau lebih tepatnya, yang bisa berubah wujud sesuka hati.
"Kenapa aku bisa lihat, Mbah?"
Ki Jaga menatapnya. "Kowe meh mati neng alas, Le. Ambang batas antar urip lan pati kuwi tipis banget. Wong sing wis tekan ambang kuwi, pandangan batine mbukak. Bisa weruh sing biasane ora katon."
(Kamu hampir mati di hutan, Nak. Ambang batas antara hidup dan mati itu tipis sekali. Orang yang sudah sampai di ambang itu, pandangan batinnya terbuka. Bisa melihat yang biasanya tidak terlihat.)
Tio menghela napas. Penjelasan itu masuk akal—dengan cara yang aneh. Ia memang hampir mati. Beberapa kali. Mungkin itu sebabnya ia bisa melihat bayangan-bayangan di hutan. Mungkin itu sebabnya ia bisa masuk ke desa ini.
Tapi anehnya, ia tidak takut.
Ia memandangi para pedagang itu—yang manusia, yang tidak—dan yang ia rasakan justru kedamaian. Mereka tidak mengancam. Mereka hanya... ada. Menjalani kehidupan mereka sendiri, berdampingan dengan dunia manusia, tanpa mengganggu, tanpa diganggu.
"Mereka... baik?" tanya Tio ragu.
Ki Jaga tersenyum. "Koyo manungsa, Le. Ono sing apik, ono sing olo. Sing apik ya apik, sing ora apik ya... kowe wis weruh dhewe neng alas."
(Seperti manusia, Nak. Ada yang baik, ada yang tidak. Yang baik ya baik, yang tidak baik ya... kamu sudah lihat sendiri di hutan.)
Tio teringat makhluk-makhluk dengan mata merah dan gigi runcing itu. Yang memburunya. Yang hampir menangkapnya.
"Itu... yang jahat?"
Ki Jaga mengangguk. "Sawentoro. Wong lelembut ugo ono sing seneng ngganggu manungso. Nanging umume, awake dhewe mung urip bebarengan. Ora ganggu, ora diganggu."
(Sebagian. Makhluk halus juga ada yang suka mengganggu manusia. Tapi umumnya, kami hanya hidup bersama. Tidak ganggu, tidak diganggu.)
Mereka berjalan lagi, menyusuri pasar yang sunyi. Tio semakin merasa damai. Di sini, di antara makhluk-makhluk ini, ia tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu kuat. Tidak perlu takut. Ia hanya bisa menjadi dirinya sendiri—manusia lemah yang hampir mati, yang diselamatkan oleh mereka.
Sore mulai turun. Cahaya berubah jingga, menembus kabut, menciptakan pemandangan magis. Para pedagang mulai membereskan dagangan mereka, bersiap pulang. Masih dalam diam, masih dengan gerakan anggun itu.
Tio dan Ki Jaga berjalan pulang ke gubuk. Sepanjang jalan, Tio diam, merenungkan semua yang ia lihat.
"Mbah," katanya akhirnya. "Aku betah neng kene. Aku... aku merasa tentrem." (Kakek. Aku betah di sini. Aku... aku merasa tentram.)
Ki Jaga menatapnya lama. "Kowe ngerti, Le, wong koyo kowe sing mlebu mrene lan betah... biasane ora gelem bali."
(Kamu tahu, Nak, orang sepertimu yang masuk ke sini dan betah... biasanya tidak mau pulang.)
Tio terdiam. Tidak mau pulang? Apa ia tidak mau pulang? Ibunya? Rumahnya? Kehidupannya di sana?
Tapi di sini, semuanya sederhana. Damai.
Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada kenangan pahit.
"Tapi..." Tio tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Ki Jaga menepuk bahunya. "Durung wayahe mikir kuwi. Nikmati dhisik." (Belum waktunya memikirkan itu. Nikmati dulu.)
Malam tiba. Tio berbaring di tikar, memandangi langit-langit bambu. Dan dari kejauhan, ia mendengarnya lagi.
Gamelan.
Suara gamelan malam, sama seperti yang ia dengar di hutan. Tapi kali ini lebih dekat, lebih jelas. Irama yang lembut, menenangkan, seperti lagu pengantar tidur.
"Mbah, suara gamelan itu..." Tio bertanya pada Ki Jaga yang masih duduk di depan pintu.
"Wong kene. Saben wengi nabuh gamelan. Kanggo ngormati para leluhur, kanggo njogo keseimbangan."
(Orang sini. Setiap malam menabuh gamelan. Untuk menghormati leluhur, untuk menjaga keseimbangan.)
Tio tersenyum. Jadi itu sumbernya. Bukan hantu, bukan makhluk jahat. Hanya tetangganya yang sedang bermain musik.
Ia memejamkan mata, membiarkan alunan gamelan menidurkannya. Malam itu, ia tidur nyenyak. Sangat nyenyak.
---
Di tempat yang jauh, ratusan kilometer dari Desa Tenganan, di basecamp Gunung Malang, suasana berbeda.
Hari ke-12 pencarian.
Para relawan berkumpul di posko, wajah-wajah lelah dan kecewa. Selama 12 hari mereka menyisir hutan. Jalur utama, jalur alternatif, jurang-jurang, sungai-sungai—semuanya sudah diperiksa.
Tidak ada jejak.
Tidak ada tanda-tanda Tio Wirawan.
Pak Giman duduk di sudut, memandangi buku tamu yang kumal. Namanya masih di sana. Tio Wirawan, Jakarta, 5 hari. Sekarang sudah 20 hari.
Mas Darmo berdiri di depan para relawan. Suaranya berat, penuh penyesalan.
"Teman-teman, saya tahu ini keputusan yang sulit. Tapi dengan sumber daya yang kita miliki, dengan kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, dan dengan tidak adanya jejak selama 12 hari pencarian kita... kita harus mengambil keputusan."
Para relawan diam. Beberapa menunduk.
"Mulai besok, pencarian resmi kita hentikan. Kita akan tetap siaga jika ada informasi baru, tapi operasi besar-besaran tidak bisa dilanjutkan."
Salah satu relawan angkat bicara. "Mas, apa mungkin dia masih hidup?"
Mas Darmo diam lama.
"Secara statistik, kemungkinannya sangat kecil. Dengan perlengkapan untuk 5 hari, tanpa makanan, tanpa air, tanpa perlengkapan memadai... 20 hari di gunung, apalagi musim hujan... maaf, teman-teman. Kita harus realistis."
Pak Giman menunduk dalam-dalam. Air mata jatuh di pipinya yang keriput. Ia ingat pemuda itu—matanya yang tajam, senyumnya yang meremehkan.
"Saya paham risikonya, Pak. Saya sudah siap."
"Le, kowe neng endi?" bisiknya lirih. (Nak, kamu di mana?)
Keesokan harinya, berita itu tersebar. Di grup WhatsApp, di media sosial, di forum-forum pendaki.
"Pencarian Tio Wirawan, pendaki solo yang hilang di Gunung Slamet, resmi dihentikan setelah 12 hari tidak ditemukan jejak. Diduga jatuh ke jurang dan tidak dapat bertahan."
Keluarga Tio di desa—ibunya—menerima kabar itu dengan tangis. Mereka sudah dua tahun tidak bertemu anaknya. Dan sekarang, selamanya tidak akan bertemu lagi.
Atau setidaknya, itulah yang mereka kira.
Di Desa Tenganan, di dimensi lain, Tio tertidur pulas dengan iringan gamelan. Ia tidak tahu bahwa di dunianya, ia sudah dinyatakan mati. Ia tidak tahu bahwa pencariannya dihentikan. Ia tidak tahu bahwa ibunya menangis malam itu.
Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa damai. Sangat damai.
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang bertanya: Kapan aku pulang?
Pertanyaan itu belum terjawab. Tapi mungkin, belum waktunya.