NovelToon NovelToon
Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ginian

​"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
​Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
​Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya

​Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
​Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
​"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Ujian Kesabaran

Warung kopi "Pelita" milik Vandiko mulai dikenal di lingkungan sekitarnya. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena rasa kopinya yang setara dengan kafe bintang lima namun dijual dengan harga rakyat. Vandiko menikmati rutinitas barunya: bangun jam empat subuh, merebus air, dan menyapa para kuli bangunan atau tukang ojek yang mampir sebelum mulai bekerja.

Namun, kedamaian itu terusik ketika sebuah pengembang properti besar, Agung Jaya Group, mulai melirik kawasan pemukiman padat itu untuk dijadikan apartemen mewah.

"Mas Van, dengar-dengar rumah kita mau digusur ya?" tanya Pak RT saat menyeruput kopi hitamnya dengan wajah cemas.

Vandiko berhenti mengaduk kopi. Ia tahu nama perusahaan itu. Itu adalah anak perusahaan yang dulu pernah ia tekan saat ia masih menjadi "Serigala Trotoar". "Siapa yang bilang, Pak?"

"Tadi ada orang-orang berpakaian rapi, pakai mobil hitam besar. Mereka bilang tanah di sini sudah dibeli perusahaan pusat. Kami cuma dikasih uang ganti rugi yang nggak seberapa."

Vandiko terdiam. Pikirannya yang dulu dingin dan kalkulatif mulai bekerja. Ia melihat tangan-tangan kasar para pelanggannya yang gemetar ketakutan akan kehilangan tempat tinggal. Dulu, Vandiko mungkin akan menelepon CEO perusahaan itu dan mengancamnya dengan kehancuran saham. Sekarang, ia tidak punya kekuatan itu.

"Jangan khawatir dulu, Pak. Kita lihat apa yang bisa kita lakukan lewat jalur hukum," ucap Vandiko menenangkan.

Sore harinya, mobil-mobil mewah itu benar-benar datang. Seorang pria muda sombong keluar dari mobil, dikawal oleh beberapa pria berbadan tegap. Pria itu adalah Adrian, keponakan dari pemilik Agung Jaya.

"Jadi ini warung yang katanya bikin orang-orang sini keras kepala?" Adrian masuk ke warung Vandiko dengan ekspresi jijik, menutup hidungnya dari aroma uap kopi. "Dengar ya, penjual kopi. Tempat ini akan rata dengan tanah bulan depan. Ambil uang ini dan pergilah."

Adrian melempar selembar cek ke atas meja kayu Vandiko.

Vandiko melihat cek itu, lalu menatap Adrian. Matanya yang jernih memiliki wibawa yang membuat Adrian sedikit tersentak. "Uang ini tidak cukup untuk membeli kenangan orang-orang di sini, Tuan Adrian."

"Jangan sok puitis! Kamu cuma rakyat jelata. Kamu tahu siapa pemilik perusahaan ini? Kamu tidak akan bisa melawannya."

Vandiko tersenyum tipis. "Saya tahu persis siapa pemiliknya. Tapi saya juga tahu bahwa hukum di negeri ini tidak hanya milik orang kaya. Silakan pergi, kopi saya hanya untuk manusia, bukan untuk mesin pencari uang."

Kemarahan Adrian meledak, namun ia tertahan oleh tatapan Vandiko yang begitu dalam. Vandiko menyadari bahwa meski ia telah membuang hartanya, ia tidak bisa membuang tanggung jawabnya untuk melindungi orang-orang kecil. Perang ini akan berbeda; kali ini ia tidak akan menyerang dengan uang, melainkan dengan solidaritas .

Malam itu, rumah kecil Vandiko menjadi markas pertemuan warga. Rahma dan Adipati membantu menyiapkan gorengan sementara Vandiko duduk di tengah-tengah warga yang panik.

"Kita tidak bisa melawan mereka dengan uang," Vandiko memulai pembicaraan. "Tapi kita punya sesuatu yang tidak mereka miliki: sejarah dan legalitas."

Vandiko mulai memeriksa surat-surat tanah warga. Ternyata, banyak dari mereka yang memiliki sertifikat sah sejak zaman kolonial, namun perusahaan mencoba menakuti mereka dengan dokumen palsu. Vandiko menghabiskan malam itu dengan menyusun strategi hukum sederhana yang bisa dipahami warga.

"Gia, aku butuh bantuanmu," ucap Vandiko saat menelepon mantan asistennya.

"Apa pun, Tuan," sahut Gia di seberang sana.

"Jangan panggil aku Tuan. Aku butuh data tentang izin lingkungan Agung Jaya di kawasan ini. Aku yakin mereka belum punya Amdal yang lengkap. Dan tolong, hubungi teman-teman pers yang dulu sering kita bantu. Katakan ada cerita tentang perampasan lahan rakyat."

Selama seminggu ke depan, Vandiko memimpin warga melakukan aksi damai. Ia mengajari mereka cara menghadapi intimidasi tanpa kekerasan. Vandiko menggunakan kecerdasan korporatnya untuk menemukan celah hukum dalam prosedur penggusuran tersebut.

Ia menulis surat terbuka yang viral di media sosial. Surat itu tidak berisi makian, melainkan narasi menyentuh tentang pentingnya menjaga ruang hidup rakyat kecil. Gaya tulisannya yang berkelas namun tajam membuat banyak orang tersadar.

Adrian kembali datang, kali ini dengan amarah yang lebih besar. "Kau pikir dengan viralitas kau bisa menang? Kami punya pengacara terbaik!"

"Dan kami punya kebenaran," jawab Vandiko tenang. "Anda sudah melanggar Perda Nomor 12 tentang zonasi hijau. Jika Anda terus menekan, saya akan membawa kasus ini ke pengadilan tinggi. Dan percayalah, biaya pengacara Anda akan jauh lebih mahal daripada nilai tanah ini."

Adrian terdiam. Ia tidak menyangka seorang tukang kopi di pinggiran Jakarta bisa tahu detail peraturan daerah sespesifik itu. Ia mulai merasa bahwa pria di depannya ini bukanlah orang sembarangan.

Vandiko tidak merasa bangga. Ia hanya merasa ini adalah "kompensasi" yang sebenarnya. Dulu ia merugikan banyak orang untuk memperkaya diri

Kini, ia menggunakan sisa kecerdasannya untuk memastikan orang lain tidak dirugikan .

Kemenangan warga atas Agung Jaya menjadi berita besar. Perusahaan itu akhirnya mundur karena tekanan publik dan temuan pelanggaran izin yang diungkap Vandiko. Kawasan itu aman. Warga merayakannya dengan syukuran besar di depan warung "Pelita".

Namun, popularitas itu membawa risiko baru. Di sebuah kantor mewah di pusat Jakarta, Isabella Wijaya yang kini hidup dari sisa-sisa hartanya, melihat berita tersebut. Matanya menyipit saat melihat foto buram seorang pria yang memimpin warga.

"Vandiko...?" bisiknya. "Tidak mungkin. Dia sudah mati di Himalaya."

Rasa penasaran membawa Isabella pergi ke pemukiman itu. Ia datang dengan pakaian tertutup, kacamata hitam, dan masker. Ia duduk di pojok warung, memesan kopi hitam.

Vandiko menyajikan kopi itu. Saat tangan mereka bersentuhan saat meletakkan cangkir, Vandiko merasakan getaran yang sangat ia kenali. Ia menatap wanita di depannya. Meskipun tertutup masker, tatapan mata Isabella tidak bisa membohonginya.

"Kopinya, Nona," ucap Vandiko tenang.

Isabella membuka maskernya perlahan. Wajahnya tampak lebih tirus, tidak ada lagi keangkuhan yang dulu selalu ia pamerkan. "Jadi benar... kau masih hidup."

Vandiko tidak terkejut. Ia duduk di kursi depan Isabella. "Vandiko yang kau kenal sudah mati, Isabella. Yang ada di depanmu sekarang hanyalah seorang tukang kopi."

Isabella tertawa getir. "Tukang kopi yang baru saja mengalahkan perusahaan raksasa? Kau tidak bisa bersembunyi dari dirimu sendiri, Van. Kenapa? Kenapa kau memilih hidup seperti ini? Dengan uangmu, kau bisa membangun kerajaan baru."

"Aku sudah memiliki kerajaan di sini, Isabella," jawab Vandiko sambil menunjuk ke arah warga yang sedang tertawa bersama ayahnya di luar. "Di sini, aku tidak perlu takut dikhianati. Di sini, aku dihargai bukan karena saldo bankku, tapi karena keberadaanku."

Isabella menunduk, meneteskan air mata. "Aku kehilangan segalanya, Van. Ayahku di penjara, asetku disita. Aku tidak punya siapa-siapa."

Vandiko menghela napas. Dendamnya sudah lama padam. Ia mengambil sepotong pisang goreng dan meletakkannya di piring Isabella. "Makanlah. Mungkin ini bukan makan malam di restoran mewah, tapi ini jujur. Jika kau ingin memulai hidup baru, mulailah dengan mengakui bahwa kau juga manusia biasa."

Pertemuan itu adalah penutupan bagi masa lalu Vandiko

Ia memaafkan musuh terbesarnya, bukan karena Isabella layak dimaafkan, tapi karena jiwanya layak mendapatkan ketenangan.

1
Ali
Thor knapa si isabela dibiarin hidup...bego lu thor.skip ah.cerita muter muter kayak gasing.
Ginian
iya terimakasih
Ginian
terimakasih 🙏
D'ken Nicko
ga seru kalau ada sistem lain. jadi hambar
D'ken Nicko
tetap semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!