NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Kyara melangkah keluar dari area pemakaman dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibanding saat ia datang. Setelah beberapa saat berdiri di tepi jalan, sebuah angkot berwarna hijau muda dengan strip merah tua melintas perlahan.

Kyara mengangkat tangan memberi isyarat. Angkot itu berhenti dengan sedikit berdecit. "Mau ke mana, Teh?" tanya sopirnya dari balik kaca spion.

"Ke pasar, Mang."

"Naik."

Kyara masuk dan duduk di bangku dekat jendela. Di dalam angkot hanya ada dua penumpang lain yang duduk berjauhan. Angkot kembali melaju menyusuri jalan kota yang mulai ramai oleh aktivitas siang hari.

Kyara memandang keluar jendela. Deretan toko, pedagang kaki lima, dan orang-orang yang berlalu lalang membuat pikirannya terasa lebih tenang.

Beberapa menit kemudian, angkot berhenti di dekat deretan ruko.  "Pasar ... pasar ..." seru sopirnya.

Kyara turun sambil memberikan uang ongkos. "Makasih, Mang." Ia kemudian berjalan menuju sebuah minimarket yang berdiri di sudut jalan. Pintu kaca ia dorong dan terbuka. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya.

Kyara sebenarnya tidak berniat berbelanja banyak. Ia hanya ingin mengambil uang dari kartu debit yang tadi pagi diberikan Doni. Ia berjalan ke arah mesin ATM yang berada di dalam minimarket.

Kyara mengeluarkan kartu debit dari dompetnya. Ia sempat memandang kartu itu sejenak sebelum memasukkannya ke mesin.

Beberapa detik kemudian layar ATM menyala. Kyara menekan beberapa tombol dengan hati-hati.

Jumlah yang ia masukkan: lima juta rupiah.

Mesin ATM berdengung sebentar sebelum akhirnya uang keluar dari slot.

Kyara mengambil lembaran uang itu dan memasukkannya ke dalam dompet. Ia lalu menekan tombol transaksi lagi.

Sekali lagi ia menarik lima juta rupiah.

Mesin kembali mengeluarkan tumpukan uang. Total uang yang ia ambil adalah sepuluh juta rupiah.

Kyara memasukkan semuanya ke dalam tas kecilnya, lalu mengambil kartu debitnya kembali. Sebelum pergi, ia berdiri sebentar di depan mesin ATM. Entah kenapa, ia teringat ucapan Doni tadi pagi di meja makan.

"Kalau kamu nanti siang mau belanja lagi, pergilah. Habiskan uang di kartu itu."

Kyara menghela napas pelan. Namun ia tidak berniat membelanjakan uang yang ia ambil barusan. Ia ingin menyimpan uang tersebut untuk tabungan.

Kartu debit itu ia masukan kembali ke dalam dompet, lalu berjalan keluar dari minimarket. Pintu kaca ia dorong kembali.

Begitu keluar, udara siang yang hangat kembali menyentuh wajahnya. Kyara melangkah ke trotoar dengan tas kecil di tangannya. Tanpa ia sadari, dari seberang jalan, sepasang mata sedang memperhatikannya.

Kyara kembali menunggu angkot yang lewat. Tak lama kemudian sebuah angkot berwarna serupa dengan yang tadi berhenti di depannya. Ia pun masuk dan duduk dekat pintu, sebab penumpang angkot ini jauh lebih ramai.

Ada seorang ibu membawa belanjaan, dua pelajar yang sedang bercanda, dan seorang bapak yang sibuk memainkan ponselnya. Angkot pun melaju kembali menyusuri jalan.

Kyara memandang keluar jendela sebentar, lalu tiba-tiba teringat seseorang.

Erna.

Tanpa berpikir lama, Kyara mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Erna. Beberapa detik kemudian sambungan tersambung.

"Halo?" suara Erna terdengar dari seberang.

"Er, kamu ada di rumah tidak?"

Erna menjawab cepat, "Ada."

Kyara sedikit menghela napas lega. "Aku ke sana sekarang."

Di ujung telepon terdengar nada suara Erna yang santai seperti biasa. "Oke, Kya. Aku tunggu."

Kyara tersenyum lagi. Ia lalu menutup telepon dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.

Angkot terus melaju menuju arah perumahan tempat Kyara tinggal.

Di kepalanya, Kyara sudah membayangkan akan menceritakan semuanya pada Erna. Tentang ceritanya yang tiba-tiba banyak dibaca orang. Tentang perasaannya yang hari ini terasa jauh lebih ringan.

Angkot yang ditumpangi Kyara terus melaju melewati deretan pertokoan dan rumah-rumah penduduk. Suara mesin yang bergetar pelan bercampur dengan obrolan penumpang lain di dalam kendaraan itu.

Kyara duduk tenang sambil sesekali menguap. Tiba-tiba ponselnya berdenting. Ia mengira Erna mengirim pesan, mungkin menanyakan di mana posisinya sekarang.

Kyara mengeluarkan ponsel dari tasnya dan melihat layar. Namun ternyata bukan dari Erna. Nama yang muncul membuatnya sedikit terkejut. "Dewi." Kyara segera membuka pesan itu.

"Mbak Kya, kenapa sudah dua hari ini Mbak nggak ke rumah makan?" Beberapa detik kemudian pesan kedua menyusul. "Mbak baik-baik saja kan? Aku, Roy dan Susi cemas sekali sama, Mbak."

Kyara terdiam sejenak membaca pesan itu. Dewi dan kedua rekannya memang selalu peduli padanya.

Kyara lalu mulai mengetik balasan. "Aku baik-baik saja, Wi." Ia berhenti sebentar, berpikir bagaimana menjelaskan semuanya. Lalu jari-jarinya kembali bergerak di layar.

"Ceritanya panjang." Beberapa detik kemudian ia menambahkan pesan lagi.

"Intinya ... aku kemarin memberontak."

Kyara menghela napas pelan sebelum melanjutkan mengetik. "Aku bilang ke suami dan mertuaku kalau aku nggak mau bantu-bantu di rumah makan lagi."

Pesan berikutnya ia kirim. "Aku bahkan mengancam mereka." Kyara sempat tersenyum tipis saat mengingat kejadian itu.

"Aku bilang kalau mereka tetap memaksa aku kerja di rumah makan tanpa digaji, aku akan pergi kerja jadi babu di rumah orang." Ia berhenti sebentar, lalu menuliskan bagian terakhir. "Akhirnya mereka mengizinkan aku tidak ke rumah makan lagi."

Pesan terakhir menyusul. "Sekarang aku cuma disuruh beres-beres di rumah saja." Kyara menekan tombol kirim.

Beberapa detik ia menatap layar ponselnya, menunggu balasan. Angkot masih terus melaju.

Dan akhirnya, balasan dari Dewi muncul. "Alhamdulillah, syukurlah, Mbak. Aku ikut senang mendengarnya. Lanjutkan, Mbak. Jangan mau diinjak-injak lagi. Mbak itu menantu, bukan babu!"

Kyara tersenyum tipis. "Siap, Wi. Makasih atas dukungannya. Salam buat Roy dan Susi."

Dewi membalas dengan emoji jempol.

Kyara dan Dewi terus berbalas pesan, hingga tidak terasa ... angkot sudah berhenti di depan gerbang perumahan Cempaka, tempat Kyara tinggal. "Kiri, Mang!" seru Kyara sambil memberikan ongkos, lalu berjalan masuk ke dalam kompleks.

Deretan rumah yang sudah sangat ia kenal menyambut langkahnya. Jalan kecil itu teduh dengan beberapa pohon peneduh di pinggirnya.

Rumah Erna sebenarnya tidak jauh dari rumah mertuanya. Masih satu blok. Hanya terhalang beberapa rumah saja. Kyara berjalan santai melewati tiga rumah, lalu berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat krem dengan pagar kecil.

Kyara mengetuk pagar sambil memanggil, "Erna!"

Tak lama pintu rumah terbuka. Erna muncul sambil mengelapkan tangannya ke daster navy yang ia pakai. Begitu melihat Kyara, wajahnya langsung cerah. "Kya!" Ia segera berlari dan membuka pagar. "Akhirnya kamu datang juga."

Kyara tersenyum lebar, terlihat jauh lebih ceria dibanding biasanya.

Erna langsung menariknya masuk ke ruang tamu. "Ada apa? Wajahmu kok kelihatan bahagia banget."

Kyara duduk di sofa, lalu dengan semangat mengeluarkan ponselnya dari tas. "Aku mau kasih tahu sesuatu."

Erna duduk di sampingnya, penasaran.

"Apa?"

Kyara menyalakan layar ponselnya lalu membuka aplikasi tempat ia mengunggah ceritanya. "Aku kan kemarin ngikutin saran kamu untuk nulis di My Story, nah ... kemarin tuh aku upload dua bab cerita."

Erna langsung mengangguk. "Wah, hebat, terus?"

Kyara tersenyum makin lebar. "Tadi pagi aku cek. Awalnya sih iseng aja, pengen tahu apa ceritaku ada yang baca atau enggak. Eh ... ternyata yang baca banyak banget."

Erna langsung membulatkan mata.

"Serius?"

Kyara mengangguk cepat. "Ribuan, Er. Komentarnya juga banyak." Ia lalu menambahkan dengan nada makin bersemangat, "Dan tadi sebelum mandi, aku baru saja upload bab ketiga. Dan alhamdulillah, makin banyak yang baca."

Erna langsung bertepuk tangan kecil. "Nah kan!"

Kyara tertawa melihat reaksi temannya.

Erna menatapnya dengan wajah bangga. "Kubilang juga apa." Ia menepuk lengan Kyara pelan. "Kalau ceritamu pasti banyak yang baca."

Kyara tersenyum malu. "Aku juga nggak nyangka, Er."

Erna menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Kamu itu punya bakat, Kya. Makanya jangan sia-siakan bakatmu. Aku yakin, kamu pasti bakal jadi penulis yang sukses."

Kyara menunduk sedikit, pipinya memerah. "Aamiin, semoga saja ya, Er."

Erna lalu menyenggol bahunya pelan.

"Semangat kawan!" Kyara menatapnya.

Erna melanjutkan dengan penuh keyakinan, "Tunjukan bakatmu pada suami dan keluarganya. Buktikan pada mereka ... bahwa kamu juga punya keahlian. Bukan hanya sebatas jadi ibu rumah tangga."

Kyara tersenyum lagi. Ia lalu memeluk Erna.

Setelah obrolan tentang cerita yang ditulis Kyara usai, wanita berkaus lengan panjang hitam dan celana kulot mocca itu berbisik pada Erna. "Er, sebenarnya tujuanku datang ke sini bukan hanya untuk menceritakan soal cerita yang kutulis di My Story, tapi ..."

"Tapi apa, Kya?" desak Erna tak sabar.

Kyara menelan ludah, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Aku ingin menitipkan ini ke kamu."

Erna mengerutkan kening, menatap kantong keresek hitam yang baru dikeluarkan Kyara dari dalam tasnya. "Ini apa Kya?"

Kyara menjawab. "Ini uang dan perhiasan yang kupunya, Er. Doni kan ngasih aku kartu debit, nah ... uang dari kartu itu udah aku tarik. Sebagian kubelikan perhiasan, dan sebagian lagi aku uangkan untuk jaga-jaga." Kyara tak menjelaskan jika dalam kantong keresek itu ada kalung berlian pemberian orang misterius. Ia memilih merahasiakannya.

"Oohh ... gitu. Siap, Kya. Aku akan menyimpannya dengan baik. Kamu tidak usah khawatir," tanggap Erna yang akhirnya mengerti.

"Makasih ya, Er." Sekali lagi, Kyara memeluk Erna. "Entah kenapa ... dari tadi subuh, aku merasa tidak enak hati. Makanya aku inisiatif menitipkan semua ini ke kamu. Aku khawatir akan terjadi sesuatu yang mengharuskan aku keluar mendadak dari rumah suamiku."

Erna mengangguk. "Iya, Kya. Aku mengerti, kok. Lebih baik jaga-jaga daripada nanti menyesal. Kalau sampai si Doni dan Bu Hesti tahu kamu punya simpanan ... wah, itu bisa jadi masalah. Nanti uang dan perhiasan ini bisa diambil lagi."

"Iya, Er. Makanya aku milih nitipin ke kamu."

"Sip!" Erna mengacungkan jempol. "Nah, gini dong. Kamu harus pintar, jangan mau diinjak-injak terus!"

1
murni l.toruan
ambil saja hitung2 gajian selama jadi istrinya dan pembantu
murni l.toruan
laporkan KDRT jadi istri harus punya pendirian yang tegas
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣. judul si kama emang markotop😁 busetdah istri mu pk lurah gimana ya😤....🤣🤣🤣🤣 selamat menik mati!
Ama Apr: tunggu sja🤗
total 1 replies
I Love you,
badai sedang mengintai kamu 🙏🤣🤣🤣
Ama Apr: betull giliran kluarga doni yg akan sengsara
total 1 replies
Kholifah Tiara
bagus juga,,,
Ama Apr: terima kasih kk
total 1 replies
stela aza
kelamaan sampai bosen 🤦
Amy
silahkan berpusing-pusing Ria Doni,,, Nah loooe mau ambil dimana duit segitu banyak, biar lagi kau jual ginjal, tdak akan cukup,,,
hehehehe tertawa jahat 🤭🤭🤭
Ama Apr: wilujeng lieur nya🤣
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
gebrakan ceritanya kaya siput thor... luamaaaa
Ama Apr: he, maaf kk. udah mau end kok
total 1 replies
merry
mntmmu istri bos kmu x don klo ia syukrinn kmuu 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwkwkkk
total 1 replies
I Love you,
Aku tunggu😁 kamu bangun dari mimpi panjang mu🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
Amy
itu menurut khayalan anda, silahkan berhayal setinggi-tingginya doni,
Ama Apr: wkwkwkkk
total 1 replies
I Love you,
astaga jgn lah masa pernikahan kontrak kama..!😤 kan dia masih terluka tega banget sih😭😭😤😡
Ama Apr: huhu, kali aja kyara mau🥲
total 1 replies
I Love you,
sukurin ajah kan Lo doni orang kaya'ye dia ga tau kerja di perusahan nyasiapa?😁🤣🤣🥰🥰🙏
Ama Apr: wkwkwk🤣
total 1 replies
I Love you,
🤣🥰. AH ..INI AWAL YG BAIK DAN DI BULAN YG BAIK PULA🙏🙏
Ama Apr: hehe, aamiin
total 1 replies
stela aza
ko kyara oncom bgt ,, kalau dia di jebak sama suami dan mertua,,, aturan dia udh punya feeling donk tiba2 ada orang numpang j rumah posisi dia lagi di rumah sendirian 🤦
I Love you,
bersiap siap bada sedang menuju kalian para penipulasi
I Love you,: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 2 replies
I Love you,
hum kandang2 sesuai realita cinta dan kasih sayang dari seorang yg ada di dalam karya karya tulis ini!!
I Love you,
muak aku 😤😡 masukan!! gini gini trus critanya muter2 wae jgn mara biar para pembaca ga bosan..🙏🙏🙏🙏😁😁😁🥰
Anonymous
awokawok bloon dan MASOKIS... kayaknya kisah nyata ini awokawok
stela aza
kyara terlalu bodoh ,,, males bgt lama2 , jadi istri yg smart dikit j kenapa ,, Ojo bloon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!