NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandri Ratuloly

Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.

Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.

Namun kini, wanita yang sama memilih diam.

Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.

Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

******

Makan malam kali ini hanya dihadiri oleh Calista dan ayahnya—Tuan Hendra. Kedua suaminya, Damar dan Arkana, sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sehingga tidak bisa pulang ke mansion malam ini. Calista tidak mengatakan apa pun untuk memaksa mereka kembali.

Walaupun sebenarnya ia ingin.

Arkana sedang sibuk mengurus pengalihan hak sebagian perusahaan keluarganya sesuai dengan semua perjanjian yang telah mereka sepakati. Tadi sore Arkana sudah menceritakan semuanya kepada Calista. Wanita itu hanya mengangguk tanpa memberikan komentar apa pun atas keputusan yang telah dipilih Arkana.

Sedangkan Damar—pria malang itu tengah stres karena salah satu karyawan di perusahaannya tertangkap melakukan korupsi dan kini melarikan diri entah ke mana. Calista sempat menawarkan diri untuk membantu, namun Damar menolak karena menurutnya itu hanyalah masalah kecil yang bisa ia selesaikan sendiri.

Ah, Calista juga sempat menanyakan soal Elina kepada Damar. Apakah suaminya itu yang menjadi dalang di balik hilangnya Elina dari mansion pagi tadi.

Dan jawabannya adalah tidak.

Damar bahkan baru berniat memikirkan rencana untuk menyingkirkan Elina setelah urusan kantornya selesai.

Calista melirik ayahnya yang sedang menikmati makan malam dengan khidmat. Entah mengapa, justru ayahnya inilah yang mulai ia curigai.

“Ayah…”

Setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya, Calista akhirnya memanggil ayahnya.

“Ya, kenapa, putriku? Apa kamu kesepian karena kedua suamimu tidak bisa pulang menemui kamu?” Tuan Hendra meneguk segelas air putih setelah menyelesaikan makan malamnya di meja yang terasa begitu sunyi itu.

“Salah satu pelayan di mansion kita tiba-tiba hilang pagi ini. Elina namanya,” ujar Calista langsung, tanpa basa-basi.

“Kenapa? Apa dia membuat masalah denganmu sampai kamu mencarinya seperti ini?” Tuan Hendra menatap putri kesayangannya dengan lembut. Ia bahkan mengelap ujung bibir Calista yang terkena sisa makanan dengan tisu. “Seperti anak kecil saja, makannya masih blepotan.”

“Ayah,” ujar Calista dengan nada serius. “Calista serius kali ini. Apa Ayah yang membuat Elina menghilang dari mansion ini?”

Tuan Hendra tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebutir anggur dari piring buah di meja, lalu memakannya dengan santai.

“Ayah hanya menyingkirkan satu sampah kecil yang berani berkhianat di tempat ia mencari makan. Apalagi targetnya adalah putri kesayangan Ayah. Ayah mana mungkin membiarkannya tetap berada di sini dengan tenang.”

“Lalu Elina Ayah bawa ke mana? Ayah apakan dia?” tanya Calista penasaran.

Untung saja makan malamnya sudah habis. Saat ini ia benar-benar kehilangan selera makan. Ia jauh lebih tertarik pada jawaban ayahnya.

“Ayah menyuruh orang-orang Ayah yang mengurusnya,” jawab Tuan Hendra singkat.

Jawaban itu jelas tidak memuaskan Calista.

“Orang-orang Ayah disuruh apa? Ayah harus jawab. Kalau tidak, malam ini Ayah tidak akan bisa tidur karena terus ku teror dengan pertanyaan ini,” ancam Calista sambil menatap kesal.

“Dibunuh, apalagi?” jawab Tuan Hendra santai. “Lalu mayatnya Ayah suruh buang di hutan milik kita yang penuh dengan hewan buas.”

“Hewan buas? Berarti tubuhnya akan dimakan hewan buas?” Calista terkejut. Tanpa sadar ia menelan ludah dengan susah payah.

Ayah barunya ini… kenapa bisa begitu menyeramkan?

“Itu memang pantas untuk orang-orang yang sudah berkhianat kepada tuan yang memberi mereka uang dan tempat tinggal,” ujar Tuan Hendra.

Ia tiba-tiba bangkit dari kursinya.

“Ayah mau ke ruang kerja untuk mengecek beberapa laporan perusahaan. Kamu langsung saja ke kamar dan istirahat.”

Calista masih terpaku di tempat, menatap kepergian ayahnya dengan pandangan ngeri.

“Mengerikan…” lirihnya.

Namun beberapa detik kemudian ia menghela napas panjang.

“Tapi syukurlah. Akhirnya satu masalah sudah dimusnahkan. Kalau dibiarkan terlalu lama, Elina bisa saja merencanakan sesuatu untuk mencelakaiku. Walaupun hanya seorang pelayan, perempuan itu terlihat sangat berani dan nekat.”

Calista menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Ahh… tinggal menyingkirkan si Lili murahan itu.”

******

Sementara itu, di kantor perusahaan Arkana.

Pria itu sedang tersenyum lebar sambil menatap selembar dokumen yang berisi pengalihan saham perusahaan keluarganya yang kini telah berpindah atas namanya.

Arkana duduk di kursi kerja kebanggaannya dengan santai. Punggungnya bersandar pada kursi, sementara kedua kakinya ia letakkan di atas meja kerja.

“Akhirnya…” gumamnya lirih dengan suara serak, menatap kertas di tangannya dengan puas. “Akhirnya apa yang ku inginkan selama ini terjadi juga.”

Ia menyeringai tipis.

“Ini memang baru permulaan. Mungkin baru tujuh puluh persen yang ku dapatkan sekarang. Tapi nanti, perlahan-lahan… aku akan mendapatkan semuanya.”

Arkana melempar lembaran kertas itu ke lantai. Ia bangkit dari kursinya, lalu melangkah menuju sisi ruangan yang berdinding kaca transparan.

Dari atas sana, Arkana bisa melihat pemandangan kota yang luas. Lampu-lampu jalan menyala redup, dan suasana kota terlihat begitu sunyi.

Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Wajar saja jika kota terlihat begitu sepi.

Arkana berdiri di depan kaca dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun di dalam kepalanya, berbagai kenangan masa lalu bergemuruh dengan keras.

Pengabaian.

Kekerasan.

Makian.

Semua itu ia terima tanpa pernah mengerti apa kesalahannya. Bahkan sejak ia masih sangat kecil.

Namun Arkana tidak tinggal diam.

Ia belajar dengan sangat keras agar selalu menjadi juara satu di sekolah. Ia berpikir, jika ia cukup pintar, mungkin kedua orang tuanya akhirnya akan memperhatikannya.

Namun yang ia dapatkan justru sebaliknya.

Setiap kali ia membawa pulang piala atau nilai sempurna, yang mereka lakukan hanyalah berkata dingin.

“Memang seharusnya begitu.”

Tidak ada pujian.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada kebanggaan.

Semua perhatian mereka hanya tertuju pada satu orang.

Atharva.

Saudara kembarnya yang bahkan tidak pernah berusaha.

Dan sejak saat itu… sesuatu di dalam diri Arkana mulai berubah.

Ia tidak lagi menginginkan kasih sayang mereka.

Ia hanya menginginkan satu hal.

Mengambil semua yang seharusnya menjadi miliknya.

Perusahaan.

Kekuasaan.

Dan kehidupan yang selama ini mereka rampas darinya.

Arkana menatap pantulan dirinya di kaca dengan senyum tipis yang dingin. “Sekarang permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.”

"Dan untuk istri ku tercinta, terimakasih banyak karenamu aku mendapatkan semua yang aku inginkan. " senyum miring kini terpantri di sudut bibirnya.

Sementara di tempat lain, tepatnya di ruang kerja Damar yang berada di lantai paling atas gedung kantornya, pria itu berdiri tegak di depan jendela besar yang menghadap langsung ke gemerlap kota. Dari ketinggian itu, lampu-lampu kendaraan tampak seperti garis cahaya yang bergerak tanpa henti.

Tangan kanannya menempelkan ponsel di telinga, sementara tatapannya tetap lurus menembus kaca, seolah pikirannya sedang berada jauh di tempat lain.

Ia tengah melakukan panggilan telepon dengan seseorang di ujung sana.

"Kau sudah menyelesaikan apa yang ku perintahkan?" ujar Damar dengan suara datar, tanpa emosi.

Di sela jari tangan kirinya terselip sebatang rokok yang sudah tinggal setengah. Asap tipisnya mengepul perlahan, menari di udara ruangan yang sunyi.

Damar memang seorang perokok dari jaman sekolah menengah atas, ini ia lakukan diam-diam dibelakang Calista.

Tangannya terangkat, menjepit rokok itu di antara bibirnya. Ia menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya pelan, sebelum kembali berbicara.

"Aku tidak suka pekerjaan yang setengah-setengah," lanjutnya dingin. "Jika belum selesai, selesaikan malam ini juga."

Dari seberang telepon terdengar suara seseorang yang menjawab dengan nada hati-hati, seolah takut membuat kesalahan.

Damar tidak langsung merespons. Ia hanya memicingkan mata sedikit, menatap lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.

"Bagus," ucapnya akhirnya singkat. "Kerjakan seperti bayangan, pastikan tidak ada yang tahu. Terutama mereka."

Kalimat terakhirnya diucapkan dengan tekanan yang samar, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan betapa seriusnya perintah itu.

Beberapa detik kemudian, panggilan telepon itu berakhir.

Damar menurunkan ponselnya perlahan. Ia kembali menghisap rokoknya sekali lagi sebelum memadamkannya di asbak kristal yang terletak di meja kerjanya.

Ruangan besar itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Namun, sorot mata Damar kini berubah. Ada sesuatu yang bergejolak di sana—sesuatu yang tidak bisa dibaca dengan mudah.

Pria itu kemudian berbalik dari jendela, berjalan pelan menuju mejanya. Di atas meja itu tergeletak sebuah foto yang sejak tadi tidak ia sentuh.

Foto seorang wanita.

Damar menatapnya beberapa saat.

"Calista..." gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja.

Seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih rumit dari yang terlihat.

******

1
CaH KangKung,
hukum Arkan ma damar....jgn biarkan mereka cepet ktemu ma Calista,biar mereka yg ngerasain ngidam...pokoknya jgn lngsung ketemu dan d maafin....
Muft Smoker
kelimpungan kn anda berdua ,, biarin aj dlu mereka gx bertemu calista ,, biar tau rasa ,,
😒😒😒😒


lanjuut kak ,,
Nurhayati Nurhayati
pas tau hamil Aruna nya, keguguran biar pada nyesel
Muft Smoker
sad ending gpp kak ,, buat suami calista merasa bersalah ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
kucing kawai
buat arkan dan damar menyesal thor 🤧
kucing kawai: thorrr apdet yang banyak donggg thorrr
total 1 replies
Susilowati Jais
nasibnya Aruna, g pernah buka hati sekalinya buka hati lngsung hncur. Up lg thor...
Muft Smoker
waaaah ad apa niih sama damar???
apa kah arkana juga terlibat???

krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
E H Mukti
Lanjut thorrr🥰👌
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak,,
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dasar bayiii gedeee ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak
Muft Smoker
waah apa niiih yg lgi di lakuin damar ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
next kak ,,

terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
Muft Smoker
duuh damar lgi ngerencanain ap niich🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
Titah Ibrahim
semangat thor 💪
Muft Smoker
mantap arkana ,, biar tau rasa tu mokondo Atharva 😒😒😒😒😒 ,,

next kak
Muft Smoker
waaaah Elina hany tinggal nama ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak bnr ,, cerita ny seruuu ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
total 2 replies
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
kak ni revisi yx???
Muft Smoker
kak knp bab baru ny jdi 1 lgi ?
gx lanjuut 21 ,, 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!