NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Elvy Anggreny

Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.

Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.


Bagaimana kisah selanjut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Randi merasa sesuatu telah terjadi pada ayah mertuanya.

"Hallo Lia... Saya minta maaf saya nggak ke rumah yah. Ayah saya sakit, saya harus ke kampung sekarang"

"Nggak apa-apa Wi...kamu hati hati ya di jalan " Jawab Amalia terkejut

"Jangan lupa di ambil kue ulang tahun Nora ya "

Dewi segera membereskan barang barang untuk segera ke kampung.

"Tunggu sayang, Yan sama Arumi ya. ibu sama Ayah"

"Nggak usah pake motor. Saya udah pinjam mobil Amalia aja " Mobil itu sebenarnya adalah milik Dewi sendiri. Dewi menyembunyikan banyak hal dari Randi dan keluarganya.

"Baiklah sayang"

Dua puluh menit kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju ke kampung halaman Dewi.

Randi menjaga jarak dari Mariam, walaupun Mariam berusaha mendekatinya. Randi tidak ingin menimbulkan masalah. Randi tau Ayah mertuanya tidak baik baik saja. Sebelum mereka pergi ibunya sudah menelpon kalau ayah mertuanya drop lagi, sakitnya udah tidak bisa di sembuhkan.

Dewi terlihat gelisah, Dewi mengingat kembali bagaimana dulu ayahnya terus menyuruh pulang. Hingga Dewi menghilang dari mereka semua karena Dewi tak ingin ayahnya tau tentang keadaannya. Dewi membawa kedua anaknya. Di sana akan berkumpul semua keluarga ayah dan keluarga kedua ibu tirinya. Dewi takut mereka mengeluarkan kata kata yang menyakitkan, Dewi tidak ingin kedua anaknya mendengar itu. Apalagi Yan, dia memiliki sifat yang sedikit berbeda dari dirinya. Yan tidak bisa mengendalikan emosi, Apalagi jika dirinya dan Arumi yang di sakiti. Yan tidak bisa menahan diri.

"Kak.... Saya sama anak anak turun di rumah ibu ya "

"Loh kenapa nggak langsung aja kerumah tempat ayah kamu saja ?"

"Biar Yan sama Arumi beristirahat dulu di sana " Jawab Dewi

"Baiklah sayang " Randi akhirnya paham

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah ibu Dewi.

"Yan sama Arumi di rumah nenek aja ya di dalam ada ibu Martini " ibu Martini adalah sepupu jauh dari ibunya beliau sudah ikut ibunya pindah ke rumah ini sejak suami ibu Martini meninggal. Ibu Martini tidak memiliki anak.

"Bu.... Saya titip anak anak ya "

"Baik Nak..Nak yang sabar ya " Dewi hanya mengangguk tanpa tau apa maksud kata kata ibu Martini.

"Baik bu"

Dari kejauhan Dewi melihat tenda biru di depan rumah ibu sambung Dewi, yaitu di rumah ibu kandung Mariam. Bunyi salah satu jenis alat musik di daerah Dewi yang biasa di bunyikan jika ada pesta adat atau ada warga yang meninggal, juga terdengar dari rumah itu. Debar debar jantung Dewi semakin kencang. Ada apa ni? Dewi berusaha berpikir bahwa semua baik baik saja.

Semakin dekat Dewi juga mendengar suara tangisan dari dalam rumah itu.

"Kak.... Ada apa ?" Dewi menahan lengan Randi.

"Ayo kita sama sama masuk sayang "

Dewi masuk ke dalam, Dewi bisa melihat kedua ibu sambungnya sedang meratapi sosok yang terbujur kaku dalam peti jenazah. Sosok yang sudah jarang Dewi peluk tapi masih selalu menitipkan salam lewat Maya. Sosok yang pernah menjadi tempatnya mengadu. Sosok itu adalah ayahnya, seluruh tubuh Dewi terasa lemas.

"Ayah...... " Dewi berlari memeluk peti jenazah di mana Ayahnya terbujur kaku.

"Ayah, kenapa ayah nggak pernah ngomong kalau ayah sakit? Ayah..... "

Semua diam, Randi melihat tatapan sinis dari ibu kandung Mariam. Randi tidak melihat istri keduanya. Dia mencoba mencari namun tidak melihat Mariam.

"Udah mati baru mau datang..." Dewi mengabaikan suara ibu tirinya.

"Kak Randi.. Kakak tau selama ini ayah sakit kan ? Kenapa kakak nggak ngomong sama saya ? Kenapa kakak diam aja ? Kakak tadi ngomong kakak pernah ke sini dan melihat Ayah sakit tapi kenapa kakak nggak kasih tau saya ? Kenapa kakak ?" Wajah ibu mertua Randi dan mereka semua yang tau alasan Randi ke kampung halamannya saat itu terlihat pucat mendengar kata kata Dewi.

Tidak semua orang tau tentang perkawinan Randi dan Mariam. Di kampung halaman Dewi pun hanya keluarga ibu Mariam dan ibu Maya dan ayah Dewi. Mereka semua merahasiakan hal ini, hanya Maya yang berani mengatakan tentang pernikahan adat Randi dan Mariam.

"Kak.... sebelum Ayah menghembuskan nafasnya, ketika kami mau bawa ayah ke kota. Dalam perjalanan ayah berpesan, ayah mau minta maaf untuk semua kesalahan ayah " Dewi semakin terisak isak.

"Ayah nggak punya salah apa-apa dek" Kata Dewi di sela Isak tangisnya.

"Ayah juga bilang, kakak harus kuat. Jaga Yan dan Arumi " Sekali lagi Maya mengatakan hal yang membuat Dewi merasakan sakit. Dewi tau kenapa ayahnya bicara seperti itu. Mungkin ayahnya merasa bersalah.

"Kamu jangan mengada-ada Maya, gimana Ayah kamu ngomong dia sedang kesakitan begitu " Sambung ibu Mariam.

"Ibu duduk di depan, jadi ibu nggak tau. Apa yang saya sampaikan ini benar Bu " Jawab Maya.

Semua orang terdiam...

Dewi menatap kuburan di mana ada Ayah dan ibunya, kini ia merasa benar benar sendiri.

Dewi dan semua keluarganya kembali ke rumah, suasana duka masih sangat terasa. Dewi dan Randi bersama kedua anaknya baru saja duduk di kursi depan di rumah Mariam.

"Semua ini gara gara kamu, kalau kamu nggak beralasan ngurusin anak anak kamu. Ayah mungkin masih bisa selamat" Salah satu saudara tiri Dewi tiba tiba saja datang dan bicara seperti itu pada Dewi.

"Apa maksud kamu?" Tanya Dewi, Dewi tak sadar kalau dia sudah di kelilingi oleh saudara saudaranya. Dewi juga sudah tidak melihat kedua ibu tirinya.

"Ya... Kamu selalu banyak alasan jika ayah meminta uang untuk berobat. Kalau kamu nggak kerja, nggak mungkin juga ayah minta sama kamu" Lanjut adik tiri Dewi

Dewi memicingkan matanya menatap adik tirinya itu..

"Maksud kamu ,selama ini saya nggak pernah mengirimkan uang bulanan untuk ayah ?"

"Itu bener kan ? bahkan obat ayah saja kadang bisa di beli kadang nggak bisa di beli, kamu tau sendiri harga obat ayah itu mahal dan kami di sini hanya bertani". Sambung adik tiri Dewi lagi.

Dewi menatap Randi, terlihat Randi juga ikut menatapnya. Randi tau Dewi tidak pernah terlambat mengirimkan uang bulanan untuk orang tuanya dan untuk Ayahnya sendiri. Tapi kenapa bisa salah satu adik iparnya bicara seperti itu.

Bahkan ibu mertua Dewi, kakak dan adik iparnya juga ikut menatap Dewi. Mereka menatap dengan wajah yang tidak bersahabat sama sekali.

"Saya selalu mengirimkan uang untuk Ayah, Nggak pernah terlambat kok "

"Kamu terlalu banyak berbohong " Teriak adik tiri Dewi yang lain.

"Jadi selama ini, kalian berpikir saya nggak pernah mengirimkan uang untuk Ayah. Begitu kan ? "

"Kami bukan berpikir tapi itu memang benar kan ? Hal terakhir yang ayah minta saja nggak bisa di penuhi karena uang kami semua nggak cukup"

"Apa yang ayah minta?" Tanya Dewi, dia ingat ketika ibu Mariam mengirimkan pesan, Ayah nya ingin membeli sesuatu. Dan harganya lumayan mahal.

"Ngapain lagi kamu tanya, Ayah juga udah nggak ada "

Dewi tidak tau kenapa mereka bicara seperti itu, sejak Dewi bertemu kembali dengan Ayahnya saat itu juga Dewi selalu mengirimkan uang bulanan untuk Ayahnya. Bahkan kalau Dewi mendapatkan bonus di tempat kerjanya Dewi pasti akan mengingat ayahnya dan mengirimkan uang.

"Kamu tau, Kami bahkan harus menggadaikan tanah kebun yang sedang kami kelola untuk menambah biaya berobat Ayah"

" Apa ?"

"Nggak usah kaget seperti itu, Kamu emang nggak ada gunanya. Selain melemparkan kotoran ke wajah Ayah " Sambung adik laki laki Dewi yang lain.

Dewi terdiam, Dewi menatap sekelilingnya hanya ada Maya dan kakak laki-laki Maya yang sedang menyalahkan Dewi sekarang, ada juga adik dari ayah dewi. Mereka juga menatap Dewi dengan tatapan tajam. Mariam, ibu Mariam dan saudara saudaranya tidak terlihat sama sekali.

"Selama ini saya selalu mengirimkan uang untuk Ayah, bahkan di saat saya mendapatkan bonus saya mengirimkan uang. Kalau kalian nggak percaya. Saya punya bukti transfer" Kata Dewi.

Terlihat Ibu mertua Dewi menatap Rani, Reni...

"Kak.. Kakak serius ?" Tanya Maya.

"Iya dek... Nggak pernah terlambat kok kakak mengirimkan uang bulanan untuk ayah, Beberapa hari yang lalu. Saya baru mengirimkan uang untuk Ayah dalam jumlah yang cukup banyak, karna ibu mengatakan ayah menginginkan sesuatu dan kebetulan obat Ayah juga habis "

"Lalu kenapa ayah selalu mengatakan obatnya habis? Bahkan Ayah mengatakan setiap kali ibu menghubungi Dewi. Dewi nggak bisa datang karena sibuk dan anak-anaknya nggak bisa di tinggal sendiri "

Kening Dewi berkerut, Dewi tidak pernah mendapatkan telpon seperti itu atau pesan apapun. Uang bulanan tanpa di minta Dewi rutin mengirimkan, uang bonus juga jika Dewi kirim kan. Dewi hanya mengirim pesan pada ayahnya jika ia sudah mengirimkan uang. Hanya melalui pesan.

Dewi menatap Maya...

"Kamu juga nggak tau ayah sakit ya dek?" Tanya Dewi.

"Maya tau kak, tapi selama ini ibu bilang Ayah nggak apa-apa, sakit juga nggak parah"

"Karena memang seperti itu yang selalu bang Irwan katakan pada ibu, Dia baik baik saja. Kalau pun ayah kalian tidur di rumah dan ibu banyak tanya maka Ayah kalian akan memarahi ibu, ayah melarang mengatakan hal yang sebenarnya. Kata Ayah dia nggak ingin kalian terbebani " Kata Ibu Maya yang baru saja masuk.

Mariam yang menyusul masuk ke dalam rumah itu terpaku. Mariam mendengar sedikit pembicaraan mereka. Mariam melihat tatapan mereka semua mengarah padanya.

Mariam menatap Randi dan Randi paham. Dia menggeleng sambil memberi isyarat agar Mariam keluar.

"Mariam.. ibu mana ?" Tanya Kakak laki laki Maya.

"Em..em.. ibu tidur kak, ibu sakit" Jawab Mariam gugup.

"Dewi, kamu memang kakak sulung kami. Bagaimanapun saya juga laki-laki sulung di keluarga kita. Sebentar malam kita semua harus bicara tentang Ayah, Saya harus tau"

"Apa yang ingin kamu tau ?" Tanya kakak kandung Mariam. Rupanya Mariam sudah mengirimkan pesan pada kakaknya

"Tentang uang yang selalu di kirimkan Dewi pada Ayah "

semua terdiam......

.

.

.

.

Bersambung......

☺️☺️ jangan lupa tinggalkan jejak ya readers.....

1
Aliya Awina
pasti Jack yg lewat
Aliya Awina
betul2 keluarga Firaun
Aliya Awina
takut ketahuan konon tpi gak bisa klu gak deket dasar laki laki munafik kau rendi
Aliya Awina
keturunan konon macam saja kau org kaya
sudahlah miskin belagu pulak tuh
Aliya Awina
gimana ceritanya dorang bilang klau si Dewi mandul sudah jelas2 Dewi sudah perna melahirkan 2 kali malah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!