NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Likuidasi Jiwa dan Pilihan Ketujuh

Lantai basemen tiga sedingin dinding es di dasar sumur tua. Udara pengap yang semula pekat oleh jelaga, kini terasa membeku oleh kenyataan yang baru saja dijatuhkan Baskoro. Lembaran kertas di dalam map hitam Hendra itu tidak lagi memancarkan kehangatan suci; aksara emasnya mendadak meredup, digantikan oleh pendar keunguan yang pekat dan beraroma anyir besi—warna dari sebuah kepemilikan yang sah, namun lahir dari rahim keserakahan yang dingin.

Lina masih terduduk di atas semen kasar basemen. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan lantai yang berdebu, sementara matanya menatap punggung Dika dengan kekosongan yang mengerikan. Pria di depannya ini, yang beberapa menit lalu ia anggap sebagai pahlawan spiritual penumpas kebatilan, ternyata adalah sang arsitek dari seluruh penderitaan yang ada. Panti asuhan Hendra, tangis anak-anak yatim, hingga keringat darah para pekerja yang mati kelelahan—semuanya hanyalah angka-angka di dalam spreadsheet takdir yang dirancang oleh jemari Dika sendiri.

"Dik..." Suara Lina nyaris tak terdengar, terjepit di antara rasa tidak percaya dan ketakutan yang mencekat tenggorokan.

"Lu... lu beneran yang bikin semua ini?"

Dika tidak berbalik. Tubuhnya kaku seperti patung semen yang belum kering. Di dalam kepalanya, badai memori sedang mengamuk hebat. Benteng amnesia yang selama lima tahun ini melindunginya runtuh berkeping-keping. Rasa sakit di ubun-ubunnya menjalar hingga ke pangkal lidah, menyisakan rasa pahit yang tak tertahankan.

Dia mengingatnya sekarang. Setiap jengkalnya. Dia mengingat aroma ruang rapat VIP di lantai paling atas menara The Seven Actuaries. Dia mengingat saat jemarinya memegang pena berlapis emas, menorehkan tanda tangan di atas akta pendirian Yayasan Hendra. Dia bukan sedang menyelamatkan anak-anak terlantar; dia sedang mendirikan sebuah bank spiritual. Doa-doa tulus dari anak-anak yang kelaparan adalah komoditas dengan nilai spiritual paling murni, sebuah aset cair yang bisa digunakan untuk menutupi defisit karma buruk akibat manipulasi pasar yang dilakukannya bersama Wijaya.

"Nona Lina," Baskoro menyela, suaranya mengalun tenang sembari jemarinya dengan rapi memasukkan map hitam Hendra ke dalam tas kulit buayanya. Klik. Bunyi kunci tas itu terdengar seperti vonis ketok palu di ruang sidang gaib. "Jangan terlalu keras pada rekan kita. Di dunia akuntansi modern, apa yang dilakukan Dika disebut dengan hedging—lindung nilai. Dia hanya mengamankan portofolionya agar tidak bangkrut saat hari penghakiman tiba. Sangat rasional, bukan?"

Baskoro melangkah maju, membiarkan ujung sepatu Oxford-nya yang mengilat berada hanya beberapa senti dari lilitan rantai besi hitam yang kini telah membungkus pergelangan kaki Dika hingga ke lutut. Rantai itu tidak kasat mata bagi manusia biasa, namun bagi Lina dan Dika, setiap mata rantainya diukir dengan angka-angka nominal utang yang belum dibayar.

"Nah, Saudara Dika," Baskoro menepuk bahu Dika dengan keakraban yang palsu dan mematikan. "Ingatanmu sudah kembali. Saldo akunmu sudah diperbarui. Sistem otomatis yang kamu buat telah berhasil membersihkan Wijaya—si makelar serakah yang mencoba menilap asetmu. Sekarang, posisi lowongan Direktur Eksekutif Risiko Spiritual sedang kosong. Mau kembali ke mediamu yang nyaman, atau kamu memilih untuk tetap menjadi akuntan magang dengan gaji UMR yang kamarnya bau mi instan?"

Dika perlahan mengangkat kepalanya. Ketika dia menoleh ke arah Baskoro, pendar di matanya bukan lagi emas murni, bukan pula hitam legam. Sepasang matanya kini terbelah; mata kanannya memancarkan cahaya keemasan yang jernih—sisa-sisa kesadaran sang Akuntan Langit kuno—sementara mata kirinya segelap jelaga malam, memantulkan ambisi kelam Dika Pradipta si manusia modern.

Dua jiwa, dua era, namun terjebak dalam satu tubuh yang sama-sama membusuk oleh sistem.

"Firma kalian..." Dika berbicara, suaranya kini terdengar ganda, sebuah resonansi aneh antara keagungan purba dan keputusasaan pemuda urban. "Kalian mengira sistem ini sempurna karena angka-angkanya selalu balance di akhir tahun fiskal?"

Baskoro menyunggingkan senyum tipis, membenarkan letak kacamata emasnya. "Matematika tidak pernah bohong, Dika. Alam semesta ini adalah sebuah persamaan raksasa. Jika ada debit, pasti ada kredit. Jika ada yang kaya raya lewat jalur mistis, pasti ada yang membayar preminya dengan nyawa. Kami hanya menjaga agar neraka tidak mengalami inflasi."

"Tapi kalian lupa satu hal, Baskoro," Dika menarik napas dalam-dalam. Udara basemen yang dingin masuk ke paru-parunya, membawa rasa sakit dari koyo cabai di punggungnya yang kini kembali memanas—bukan sebagai energi spiritual, melainkan sebagai pengingat akan kerapuhan tubuh manusianya. "Kalian lupa bahwa dalam setiap laporan keuangan, selalu ada akun yang bernama 'Amortisasi Goodwill'. Nilai tak berwujud yang terus menyusut, namun tidak bisa kalian musnahkan dengan angka."

Dika menghentakkan kaki kanannya yang dililit rantai hitam. Brak!

Rantai besi gaib itu bergetar, namun tidak putus. Sebaliknya, energi kelam dari rantai tersebut mulai merembes masuk ke dalam pembuluh darah Dika, membuat urat-urat di leher dan wajahnya menonjol berwarna keunguan. Dika meringis kesakitan, tubuhnya berlutut dengan satu kaki di atas semen basemen.

"Jangan memaksakan diri, Dika," ujar Baskoro dingin, senyum ramahnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan berwibawa seorang penguasa birokrasi gaib. "Kultivasi Akuntan Langitmu itu tidak akan bekerja melawan hukum yang kamu ciptakan sendiri. Kamu adalah pemilik panti itu secara legalitas spiritual. Kamu tidak bisa menuntut dirimu sendiri atas pemerasan yang kamu rancang."

Dari belakang, Lina mencoba merangkak maju. Rasa takutnya yang semula melumpuhkan, kini terkikis oleh rasa amarah yang membakar dada. Dia melihat Dika yang sedang tersiksa di antara dua pilihan yang sama-sama menuju neraka.

"Dika!" teriak Lina, suaranya menggema di ruang basemen yang sepi. "Jangan dengerin dia! Gue nggak peduli siapa lu lima tahun lalu, atau siapa jiwa purba di dalem tubuh lu! Tapi Dika yang gue kenal seminggu ini... dia cowok tolol yang rela begadang semalaman cuma demi nyocokin selisih dua ratus perak di laporan keuangan warung kelontong! Lu nggak pernah tega liat orang lain rugi, Dik!"

Mendengar teriakan Lina, tubuh Dika bergetar hebat. Kilasan memori lima tahun terakhir—hidup sebagai manusia gagal yang dihina tetangga kos, dikejar penagih utang, namun selalu membagi nasi bungkus terakhirnya dengan kucing liar di pasar—mulai bergesekan dengan memori kemewahan mutlak penuh darah sebagai anggota The Seven Actuaries.

Dua ratus perak. Ya, Dika yang sekarang adalah Dika yang tersiksa oleh selisih angka sekecil apa pun, karena dia tahu di balik setiap angka, ada keringat manusia yang jujur.

"Nona Lina, Anda terlalu sentimental," Baskoro mendengus, mengangkat tangan kirinya yang bebas. Dari kegelapan di balik tiang-tiang beton basemen, beberapa siluet tubuh manusia mulai bermunculan. Mereka mengenakan pakaian necis, namun wajah mereka rata—tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya ada simbol persentase (%) yang terukir di dahi mereka. Para auditor bayangan dari firma The Seven Actuaries.

"Bawa pemuda ini kembali ke menara. Dan untuk Nona Lina... hapus memorinya, masukkan dia ke dalam daftar tumpalan untuk kuartal berikutnya sebagai biaya penyusutan aset," perintah Baskoro tanpa emosi.

Para auditor tanpa wajah itu melangkah maju, gerakan mereka patah-patah namun cepat, mengepung Dika dan Lina dari segala penjuru.

Di saat kritis itu, Dika tiba-tiba tertawa. Tawa yang awalnya pelan, semakin lama semakin keras, menggema ganjil di bawah langit-langit beton basemen tiga. Tawa itu membuat langkah para auditor tanpa wajah terhenti sesaat.

"Baskoro..." Dika mengangkat wajahnya. Mata kanannya yang emas kini mendominasi, menelan pendar hitam di mata kirinya.

"Lu benar. Matematika tidak pernah bohong. Dan sebagai perancang sistem ini... gue tahu ada satu opsi yang sengaja gue sembunyikan dari kalian semua. Opsi yang tidak pernah ada di dalam buku panduan firma."

Baskoro mengernyitkan dahi, firasat buruk mendadak melintas di wajah klimisnya.

"Apa maksudmu?"

Dika memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa dari rantai hitam yang terus mengikis meridian jiwanya. Dia mengulurkan tangan kanannya ke udara, bukan untuk mengeluarkan benang takdir, melainkan untuk merobek saku kemeja blazernya yang robek. Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah benda kecil yang sangat tidak bermartabat: sebuah pulpen butut seharga dua ribu rupiah yang tintanya sudah hampir habis—pulpen yang digunakannya setiap hari di kantor magangnya.

"Dalam hukum kepailitan korporasi..." Dika berbisik, memutar pulpen itu di antara jemarinya. "Jika sebuah perusahaan tidak mampu lagi membayar utangnya, dan aset yang tersisa tidak cukup untuk menutupi defisit... maka pemilik perusahaan bisa mengajukan satu hal."

Mata Baskoro membelat seiring dia menyadari apa yang akan dikatakan Dika. "Dika! Jangan berani-berani kamu—"

"Gue... Dika Pradipta, sebagai pemilik sah dan pengendali tunggal atas aset spiritual Panti Asuhan Hendra..." Dika mengarahkan ujung pulpen bututnya tepat ke arah dadanya sendiri, ke titik di mana inti jiwa manusianya berada. "...dengan ini menyatakan Pernyataan Bangkrut Sukarela. Likuidasi Total Tanpa Sisa."

Pilihan Ketujuh. Sebuah klausul bunuh diri finansial spiritual yang hanya bisa diaktifkan oleh sang perancang sistem sendiri. Dengan menyatakan bangkrut total, seluruh aset yang terikat atas namanya—termasuk panti asuhan, tubuh manusianya, dan kultivasi Akuntan Langit di dalamnya—akan dilebur menjadi nol. Tidak ada yang bisa mengambil keuntungan, tidak ada yang bisa memanen energinya. Sistem akan melakukan force majeure.

"Lu gila, Dika!" raung Baskoro, wajahnya yang semula tenang kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. "Jika kamu melakukan itu, jiwamu akan dihapus dari buku besar kehidupan! Kamu tidak akan bisa bereinkarnasi! Kamu akan menjadi ketiadaan!"

"Lebih baik gue jadi ketiadaan..." Dika tersenyum tulus, melirik ke arah Lina untuk terakhir kalinya. "...daripada hidup sebagai mesin yang menghitung harga nyawa orang lain. Lin, maaf... utang kopi gue kayaknya fix nggak bisa gue bayar."

Ujung pulpen butut itu dihantamkan Dika ke dadanya sendiri.

Wuuussss!!!

Bukan ledakan api yang keluar, melainkan sebuah pusaran angin hampa udara yang berwarna putih bersih. Cahaya itu meledak dari dalam tubuh Dika, menyebar dengan kecepatan cahaya ke seluruh penjuru basemen. Rantai besi hitam yang melilit kakinya hancur menjadi debu seketika. Para auditor tanpa wajah yang mendekat langsung menguap seperti tetesan air di atas wajan panas.

Baskoro berteriak, tas kulit buayanya terlepas dari genggaman dan hancur berkeping-keping, menumpahkan map hitam Hendra yang langsung terbakar oleh cahaya likuidasi tersebut, mengembalikan seluruh doa dan hak anak-anak panti langsung ke langit tanpa ada pemilik modal lagi. Panti itu kini bebas. Fully bebas.

Lina memejamkan matanya, bersiap menghadapi akhir dari segalanya saat gelombang cahaya putih itu menerpanya. Namun, alih-alih rasa sakit, dia hanya merasakan hembusan angin hangat yang lembut, seperti pelukan seorang teman yang mengucapkan selamat tinggal.

Ketika Lina membuka matanya kembali, basemen tiga kembali sunyi. Lampu-lampu neon di langit-langit menyala normal dengan cahaya putihnya yang temaram. Tidak ada lagi Baskoro, tidak ada auditor tanpa wajah, dan tidak ada lagi sisa-sisa energi magis.

Dan di depan mobil perak miliknya... Dika sudah tidak ada. Yang tersisa di atas lantai semen hanyalah setumpuk abu putih halus, dengan sebuah pulpen butut seharga dua ribu rupiah yang tergeletak di tengahnya, retak menjadi dua bagian.

Lina melangkah maju dengan lutut gemetar, berlutut di samping tumpukan abu itu. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung, membasahi semen dingin basemen. Dia mengambil belahan pulpen itu, mendekapnya erat di dada.

Namun, tepat ketika air mata Lina menyentuh sisa abu putih tersebut, sebuah fenomena ganjil terjadi di sudut basemen. Lift barang yang berada di belakang Lina mendadak berdenting pelan. Ting.

Pintu lift terbuka. Dari dalam kotak logam yang terang itu, terdengar langkah kaki yang santai. Bukan ketukan sepatu kulit mahal Baskoro, bukan pula langkah terseret Dika yang encok. Melainkan suara langkah sepasang sandal jepit swalayan yang murah.

Lina menoleh dengan cepat, matanya yang sembab melebar menatap sosok yang baru saja keluar dari lift dengan membawa sebuah kantong plastik hitam berisi dua cup mi instan dan beberapa saset kopi.

Sosok itu berwajah persis seperti Dika. Namun, tidak ada pendar emas, tidak ada pendar hitam. Matanya benar-benar jernih, tipikal mata seorang manusia biasa yang baru saja bangun tidur siang.

Pemuda itu menghentikan langkahnya, menatap Lina yang menangis di lantai basemen dengan tatapan bingung yang sangat familier.

"Eh... Lina? Lu ngapain nangis di lantai parkiran?" Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terus... kok ada abu banyak banget di depan mobil lu? Tadi gue habis turun dari lantai atas mau beli kopi ke minimarket depan, kok lu malah di sini?"

Lina terpaku, napasnya tertahan di dada. Jika pemuda ini adalah Dika... lalu siapa yang baru saja melebur menjadi abu di depannya? Dan yang lebih mengerikan, pemuda di depannya ini mengenakan ID card karyawan magang yang talinya berwarna biru tua—warna tali ID card milik firma hukum The Seven Actuaries.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!