“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Setelah ketegangan di kamar utama mereda, Ningsih memutuskan untuk membawa Luna turun ke lantai bawah. Kamar Yudha terlalu menyesakkan karena keberadaan Yeni, dan perut Luna pun sudah mulai berbunyi minta diisi.
Mereka kini berada di ruang makan. Ningsih mendudukkan Luna di salah satu kursi. Lalu, ia mengusap pipi putrinya dengan lembut. "Luna sayang, malam-malam begini perutnya lapar, ya? Luna mau makan apa? Biar Mama buatkan."
"Luna mau ayam goreng, Ma! Yang krispi, yang bumbunya banyak seperti buatan Mama di rumah," seru Luna dengan mata berbinar-binar penuh semangat.
Ningsih tersenyum, lalu menoleh ke arah salah satu pelayan yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu.
"Bi, tolong siapkan bahan-bahannya di dapur. Daging ayam fillet, tepung bumbu, telur, dan minyak goreng. Saya yang akan memasaknya sendiri untuk anak saya."
Pelayan itu sempat tertegun, lalu buru-buru mengangguk
"Baik, Nona Ningsih. Segera saya siapkan di dapur utama."
Ningsih segera melangkah ke dapur, diikuti oleh Luna yang mengekor di belakangnya sambil memegangi ujung pakaian sang mama. Di dapur rumah utama yang sangat luas dan berfasilitas lengkap layaknya restoran bintang lima, Ningsih mulai bergerak dengan cekatan. Ia menyingsingkan lengan kemeja putihnya, lalu mulai membumbui ayam. Luna duduk di atas kursi bar dapur, memperhatikan mamanya dengan dagu yang ditopang kedua tangan mungilnya.
"Wah, Mama keren sekali. Di kantor bisa jadi bos besar, di dapur bisa jadi koki hebat!" puji Luna polos, membuat Ningsih tertawa renyah.
"Tentu dong, sayang. Perempuan itu harus bisa segala hal, supaya tidak gampang disepelekan orang lain," sahut Ningsih sembari memasukkan potongan ayam ke dalam minyak panas yang langsung berdesis mengeluarkan aroma gurih yang menggugah selera.
Namun, momen kehangatan ibu dan anak itu mendadak terusik. Suara ketukan sepatu hak tinggi yang nyaring terdengar bergema memasuki area dapur.
Yeni berjalan masuk dengan dagu terangkat, melipat kedua tangannya di depan dada sambil memandang Ningsih dengan tatapan yang sangat meremehkan.
"Duh, Ningsih... Ningsih. Ternyata mental pembantu memang tidak bisa hilang dari dirimu, ya?" sindir Yeni dengan nada suara yang sengaja dikeraskan. "Sudah pulang ke rumah mewah begini, pelayan bertebaran di mana-mana, kamu malah memilih repot-repot mengotori tangan di dapur. Apa kamu sengaja mau pamer dan cari perhatian pada papamu, seolah-olah aku di sini tidak pernah mengurus rumah dengan benar?"
Ningsih sama sekali tidak menoleh. Ia tetap fokus membalik ayam gorengnya di dalam wajan dengan ekspresi wajah yang teramat tenang.
Sikap acuh tak acuh Ningsih itu justru membuat Yeni semakin meradang.
"Heh! Kamu punya kuping tidak, sih? Aku ini sedang bicara denganmu!" bentak Yeni, melangkah lebih dekat ke arah konter dapur.
Luna yang melihat ekspresi galak Yeni langsung mengkerut, namun anak cerdas itu tidak tinggal diam.
"Kata Mama, kalau ada orang sedang memasak, tidak boleh diganggu. Nanti makanannya bisa kemasukan jin yang suka marah-marah seperti Nenek."
"Apa kamu bilang?! Bocah kurang ajar ya, persis seperti ibunya!" pekik Yeni, matanya melotot tajam ke arah Luna.
Mendengar putri kecilnya dibentak, barulah Ningsih mematikan kompornya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Yeni dengan pandangan mata yang dingin dan menusuk.
"Tante Yeni, mulut anda tolong dijaga, ya. Jangan sampai aku lupa kalau anda ini sekarang sedang menumpang hidup di atas harta ayahku."
"Menumpang hidup kamu bilang?! Aku ini istri sah papamu!" bela Yeni dengan suara melengking.
Ningsih tidak meladeni adu mulut itu lebih jauh. Ia menuangkan ayam goreng yang sudah matang ke atas piring, lalu menyodorkannya pada Luna.
"Luna sayang, ini ayam gorengnya sudah siap. Luna bawa ke meja makan duluan, ya? Biar Mama yang bereskan dapur."
"Siap, Mama!" jawab Luna riang, segera membawa piringnya menjauh dari dapur, menjauhi aura beracun Yeni.
Setelah Luna keluar, Ningsih mengambil segelas besar es sirup merah yang tadi sempat dibuatkan oleh pelayan untuknya. Ia memegang gelas itu, lalu berjalan mendekati Yeni yang masih berdiri dengan wajah cemberut menahan amarah.
"Ningsih, asal kamu tahu ya, kedatanganmu ke sini tidak akan mengubah apa pun! Hak waris rumah ini dan perusahaan papamu akan tetap jatuh ke tangan putriku!" ketus Yeni dengan penuh keserakahan.
Ningsih tersenyum sangat manis, senyuman yang sangat mematikan. "Oh, ya? Silakan bermimpi, Tante."
Byuurrr!
Tanpa ada aba-aba atau peringatan sedikit pun, Ningsih dengan sengaja memiringkan gelas di tangannya, menumpahkan seluruh isi es sirup merah yang kental dan dingin itu tepat ke atas gaun sutra mahal berwarna krem yang sedang dikenakan oleh Yeni.
Cairan merah itu mengalir deras dari dada hingga ke bagian bawah gaunnya, membuat penampilan Yeni seketika hancur berantakan seperti badut.
"Ahh! Astaga! Gaun mahalku!" jerit Yeni histeris. Ia melompat-lompat panik, mencoba mengusap noda merah di bajunya yang justru semakin melebar ke mana-mana. "Ningsih! Kamu gila, ya?! Kamu sengaja, kan?! Kurang ajar kamu!"
Ningsih meletakkan gelas kosongnya ke atas meja dengan ketukan yang pelan namun tegas. Ia menatap Yeni yang sedang kelabakan dengan pandangan yang teramat puas.
"Aduh, maaf sekali, Tante Yeni. Tanganku mendadak licin karena terkena minyak ayam tadi," ucap Ningsih dengan nada suara datar tanpa dosa, sama sekali tidak mencerminkan rasa bersalah.
Ningsih kemudian melangkah satu kali lagi ke depan, mencondongkan tubuhnya dan menatap Yeni dengan senyuman dingin yang membuat bulu kuduk wanita paruh baya itu berdiri.
"Anggap saja sirup merah ini sebagai peringatan awal dariku. Mulutmu itu terlalu berisik. Kalau sampai sekali lagi aku mendengar kamu membentak atau menyindir putriku, yang aku tumpahkan ke wajahmu bukan lagi es sirup dingin, tapi minyak penggorengan yang masih panas di atas kompor itu. Mengerti?"
Yeni seketika membeku.
Ancaman Ningsih tidak terdengar seperti gertakan sambal. Aura dominan dan mata baja Ningsih benar-benar mengunci lidah Yeni hingga wanita itu tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun lagi. Tubuhnya gemetar hebat antara perpaduan rasa dingin karena es dan rasa takut yang amat sangat.
Ningsih kembali menegakkan tubuhnya, merapikan lengan kemejanya dengan anggun. "Sekarang, silakan bersihkan dirimu. Bau sirup itu sangat tidak enak."
Tanpa menunggu jawaban dari Yeni yang masih mematung syok, Ningsih membalikkan badannya dengan santai dan melangkah keluar dari dapur menuju ruang makan untuk menemani Luna yang sedang asyik menikmati ayam gorengnya.
"Awas saja kamu Ningsih! Aku pasti akan membalas semua perbuatan kamu ini!" geram Yeni tak terima diperlakukan begini oleh putri tirinya. Ia menatap kepergian Ningsih dengan penuh dendam.
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut