Alfina dan Alfino teman masa kecil yang selalu bertengkar jika berada di dalam satu kelas.
Fina mempunyai tambatan hati bernama Choki, sedangkan Fino memiliki Anjani, hubungan itu tidak berarti sama sekali ketika kedua orang tua memaksa mereka untuk menikah muda.
Fina membuat perjanjian setelah pernikahan, Jika disekolah menjaga jarak, jika dirumah berperan layaknya pasutri. Tujuan Fina buat janji karena untuk melindungi Fino dari gangguan Choki.
Pada akhirnya perjanjian yang Fina buat seakan masuk ke perangkap nya sendiri. Fina semakin di ganggu oleh Choki, sedangkan Fino semakin dekat dengan Anjani.
Apakah Fina bertahan dengan janji yang sudah ia buat, jika kalau tidak bertahan bagaimana kisah mereka membina sebuah pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Keseriusan Fina benar-benar dibuktikan. Ntah pakai cara seperti apa, kenapa dia bisa dekat lagi dengan Anjani.
Tidak masalah, seperti yang sempat Fino bicarakan pada Fina, dia bebas berteman dengan siapa saja asalkan tau batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan. Terutama pergaulan bebas.
"Fina" Fino mendekat diri ke istrinya di meja kantin paling ujung.
"Iya Fin?"
"Tumben banget duduk disini sih?" Kata Fino. Yang biasa ia lihat kalau Fina selalu berada di meja makan tengah kalau enggak di depan pintu masuk kantin.
Fina memberi petunjuk ke arah meja makan yang ada di tengah kantin. Rahma ada disana sedang mengobrol bersama kelima teman sekelas lainnya. Obrolan itu terasa panas di telinga Fina, sebab pembahasan yang Rahma obrolkan tentang kejelekannya.
Rahma tau kalau di kantin itu ada Fina, tapi ia sepertinya emang sengaja untuk memancing Fina bereaksi keras.
"Kalau emang sudah engga mau berteman sama saya ya bilang aja baik-baik kali, gausah omongin dari belakang" Sindir Fina dari sana.
Cuma itu reaksi dari Fina, lebih kalem dari saat ia berhadapan dengan Anjani. Fino yang sudah membuat kepribadian Fina berubah, di tambah Fino sudah memberi nasehat ke Fina untuk tidak buat keributan di sekolah.
"Dikasih tau gak nurut, lihat saja kalau Choki dengan istrinya berulah, enggak bakal saya tolongin" Jawab Rahma dari sana.
Fina mendengkus geli mendengar nya. Saat ia sedang ada masalah dengan Choki, Fina merasa kalau Rahma tidak membantunya sama sekali.
"Kalau saya punya teman seperti dia, sudah dari tadi saya buang jauh-jauh Fin, baiknya di depan doang" Timpal Anjani.
Tak lama beberapa saat, Muncul Niko dari arah toilet yang sudah berganti seragam olahraga nya.
Rahma langsung menghampiri Niko saat itu juga, tapi Niko lebih tertarik masuk ke warung untuk membeli es good day.
Anjani terkekeh geli melihat perkembangan hubungan antara Rahma dengan Niko. "Baru kemarin jadian, sudah marahan aja mereka"
Sedangkan Fina dan Fino bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi setelah kita pergi dari kedai bakso kemarin?
**
Sehabis istirahat, Pelajaran di kelas Fina adalah olahraga. Materi dari guru yang akan diberikan yaitu lari maraton sepanjang tiga kilo meter, dimulai dari gerbang sekolah yang akan berakhir di gerbang sekolah juga.
Fina sudah memulai meregangkan kedua kaki nya sebelum berlari. Disaat yang bersamaan Rahma bersama kedua teman sekelas nya sedang memperhatikan Fina, mereka akan merencanakan sesuatu pada Fina.
Ketika peluit dari guru sudah berbunyi, kelas sembilan B sudah mulai berlari. Fina di kawal oleh Fino, bodo amat kalau murid lain menilai Fino sedang bucin.
"Sayang, kau duluan aja" Kata Fina sambil berlari kecil tepat di samping Fino.
"Maunya bareng kamu" Fino menolak.
"Lari saya tuh lambat sayang, nanti nilai olahraga kamu anjlok bagaimana coba?"
"Enggak peduli" Jawab Fino dengan tampang santainya.
Fina mengubah gerakan larinya menjadi jalan kaki untuk menghemat tenaga yang sudah mulai terkikis. Saat yang bersamaan Fino juga melakukan hal serupa.
Dari belakang tiba-tiba ada salah satu teman sekelas wanita Fina yang menyerobot masuk di tengah-tengah mereka.
"Ish, Indy!" Kesal Fina dengan tingkah nya.
"Maaf, saya takut kalau ke tengah jalan Fin" Indy menjelaskan. Okelah itu normal saja.
Tapi dari sini mulai aneh saat teman sekelas perempuan Fina yang berikutnya ikut-ikutan nyerebot masuk lewat tengah.
"Maaf Fin, saya lagi buru-buru nyusul Indy" Kata Indah.
Fina terdiam, Fino juga ikut terdiam saat melihat tingkah aneh dari teman sekelasnya yang tidak biasa.
Disaat jarak di antara mereka tidak terlalu berdekatan. Rahma menyerobot masuk ke tengah mereka.
"Adoooh!" Teriak Fina merasa sakit, saat tubuhnya sudah terhempas ke trotoar.
Bukannya meminta maaf, pelaku malah memarahi Fina dengan lantang. "Makanya kalau jalan tuh jangan di tengah-tengah bodoh!" Kata Rahma.
Fino yang melihat itu mendekat, memastikan bahwa kaki Fina baik-baik saja.
"Kamu gak apa-apa sayang?"
"Bantuin, sakit" Ringisnya
Dengan itu Fino membantu mengangkat tubuh Fina. Kemudian membantunya duduk di salah satu warung yang ada didekatnya.
Di satu sisi, Rahma menjepret keberadaan mereka yang berada di warung. "Masih dalam pelajaran olahraga kok malah mampir ke warung sih?, lihat saja nanti pasti guru itu bakal menghukum kalian"
Di sisi warung Fino membeli air mineral untuk menyiram luka dari kaki Fina, yang kemudian meminta satu buah es batu berukuran sedang untuk mengompres kaki Fina yang keseleo saat terjatuh tadi.
"Aw perih, pelan-pelan mas" Rengek Fina seraya meringis.
"Iya sayang, sudah kamu diam aja dulu mas obatin luka nya. Udah jangan nangis"
To be continue,