Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 Rencana Besar Ren Untuk Anjani
Suasana yang sebelumnya masih dipenuhi suara langkah kaki, bunyi peralatan, dan obrolan para kru mendadak mereda saat seseorang muncul dari sana.
Anjani.
Gaun Aurora yang selama ini hanya hidup di atas kertas kini benar-benar bernapas. Kain indah itu membalut lembut dan elegan. Tidak terlihat berlebihan, tidak juga mencolok, namun sulit diabaikan.
Beberapa orang yang tadinya sibuk bekerja tanpa sadar menghentikan aktivitas mereka. Tatapan demi tatapan beralih, lalu bertahan lebih lama dari seharusnya. Cantik memang bukan hal langka di industri fashion. Mereka melihat perempuan cantik hampir setiap hari.
Namun, Anjani berbeda. Cantiknya tidak langsung menghantam. Bukan tipe yang membuat orang terpana dalam satu detik lalu bosan di detik berikutnya, tapi sebaliknya. Semakin lama dipandang, semakin banyak hal yang terlihat, semakin menarik, semakin hidup, seolah wajahnya menyimpan cerita yang tidak habis dibaca.
Fotografer yang berdiri dekat lampu studio sampai menurunkan kameranya sedikit. "Woah..." Hanya itu yang keluar, padahal biasanya dia terkenal cerewet.
Di sisi lain, beberapa kru saling bertukar pandang. Diam-diam mengerti sekarang kenapa Ren menolak begitu banyak model. Setelah melihat Anjani, semua kandidat sebelumnya tiba-tiba terasa kurang tepat.
Raka yang berdiri di dekat Ren bahkan tidak berusaha menyembunyikan kekagumannya. "Mbak Anjani."
Anjani menoleh.
Raka menggeleng pelan. "Saya baru sadar satu hal."
"Apa?"
"Pak Ren benar."
Anjani tampak bingung.
Sementara Raka melanjutkan tanpa dosa. "Kalau model sebelumnya tetap dipakai, kampanye Aurora bisa rugi besar."
Anjani langsung salah tingkah. "Pak Raka..."
"Saya serius."
"Jangan begitu."
Raka menatap Anjani beberapa detik lagi sebelum berkata jujur. "Gaunnya bagus."
"Terima kasih."
"Tapi yang bikin hidup bukan gaunnya."
Anjani langsung kehilangan jawaban. Dan tepat di sebelahnya, udara mendadak terasa lebih dingin. Raka tidak perlu menoleh untuk tahu penyebabnya, karena sejak tadi ada seseorang yang mulai tidak suka.
Ren.
Tatapan tajam itu kini menempel di belakang kepala asistennya. Bukan karena Raka salah bicara. Justru masalahnya Raka tidak salah. Ren sendiri sebenarnya melihat hal yang sama tentang Anjani. Mungkin bahkan lebih jelas dari siapa pun di ruangan itu.
Namun, ada satu masalah besar. Namanya gengsi. Jadi sementara orang lain bebas memuji dan Ren hanya bisa berdiri diam, memasukkan kedua tangan ke saku celana, memasang wajah datar seperti biasa, seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal, semenit yang lalu, jantungnya sempat berhenti sepersekian detik ketika pintu tadi terbuka. Bahkan ujung telinganya kembali berkhianat.
Raka melirik sekilas. Seketika ia hampir tersedak, karena ujung telinga Ren kembali memerah. Dia tahu apa artinya itu. Maria pernah bercerita ke dia.
Astaga. Lagi. Batinnya tercengang.
Raka buru-buru memalingkan wajah. Insting bertahan hidupnya masih sangat sehat. Kalau sampai ketahuan melihat itu, kemungkinan besar kariernya tamat hari ini juga.
Sedangkan Anjani masih sibuk menyesuaikan gaun yang dikenakannya. Ia bahkan tidak menyadari efek yang ditimbulkannya, bahwa satu studio baru saja kehilangan fokus karena diam-diam masih memperhatikannya. Dan tentu saja tidak menyadari ada seorang CEO bermuka masam yang sejak tadi memilih diam daripada mengakui satu pujian sederhana. Untungnya Ren segera menyelamatkan dirinya sendiri.
"Sudah selesai kagumnya?" Suara datarnya langsung memecah suasana. Seluruh studio langsung tersadar.
"Kalian dibayar untuk bekerja." Tatapan tajamnya menyapu satu ruangan. "Bukan untuk melamun."
Beberapa staf langsung menunduk. Fotografer buru-buru mengangkat kamera. Tim pencahayaan kembali bergerak. Asisten produksi kembali berlari. Semua orang mendadak terlihat rajin.
Ren melirik jam tangannya, lalu berkata singkat. "Mulai."
Hanya satu kata, tapi sukses membuat seluruh studio bergerak serempak. Dan ketika semua orang mulai sibuk kembali, tak ada yang menyadari satu hal. Tatapan Ren sempat berhenti sepersekian detik lebih lama pada Anjani, lalu berpaling cepat, seakan tidak terjadi apa-apa, seakan sejak tadi dia benar-benar hanya memikirkan pekerjaan. Padahal kenyataannya, bahkan dirinya sendiri mulai sulit mempercayai alasan itu.
Lampu studio menyala terang. Fotografer dan tim pencahayaan sudah siap, begitu juga dengan stylist dan make up. Semua siap, kecuali satu orang.
Anjani.
"Bahunya sedikit rileks, Mbak."
Klik.
"Dagunya naik sedikit."
Klik.
"Matanya ke kamera."
Klik.
Klik.
Klik.
Fotografer menurunkan kameranya, lalu menghela napas. Hasilnya tidak buruk, tapi juga tidak luar biasa. Padahal semua orang tahu seharusnya bisa jauh lebih baik dari ini, karena saat berjalan keluar dari ruang make up tadi, bahkan tanpa kamera pun Anjani sudah terlihat seperti iklan hidup.Namun sekarang, ia terlalu sadar sedang diperhatikan, semua mata tertuju padanya.
Anjani mengembuskan napas pelan. Tangannya sedikit dingin. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali berdiri di depan lensa. Terlalu lama sejak terakhir kali menjadi dirinya sendiri. Dan tentu saja, ada satu orang yang tidak membantu sama sekali.
Ren.
Pria itu berdiri di sudut studio seperti pengawas ujian yang lahir hanya untuk membuat peserta stres.
"Hasilnya masih biasa."
Anjani langsung menoleh. Beberapa kru refleks memejamkan mata. Kalimat Ren ternyata tetap setajam biasanya.
Fotografer berusaha menyelamatkan situasi. "Sebenarnya sudah bagus, Pak."
"Bagus.' Ren mengangguk. "Lalu? Saya tidak bayar miliaran untuk bagus."
"Pak Ren..." Kepala fotografer mulai berkeringat.
"Saya butuh luar biasa."
Anjani mengepalkan jemarinya pelan. Dia mulai kesal, sedikit tersinggung juga. Padahal dia sudah berusaha.
Menit berikutnya pemotretan kembali berjalan. Dan lagi-lagi, Anjani masih belum mencapai hasil yang diinginkan Ren. Hasilnya bukan jelek, justru terlalu bagus.
Masalahnya hasil foto tidak hidup. Ia masih berpose seperti seseorang yang sedang berusaha menjadi model, bukan seseorang yang sedang menceritakan kisah.
Ren mengamati beberapa saat, lalu berkata datar. "Kamu masih bersembunyi."
Anjani menoleh ke Ren. "Apa?"
"Kamu bersembunyi."
"Saya tidak."
"Ya."
"Pak Ren."
"Kamu takut terlihat."
Anjani langsung mengernyit. "Saya cuma gugup."
"Alasan yang bagus."
"Pak Ren."
"Tapi tetap alasan."
Ya ampun. CEO satu ini kalau memberi motivasi seperti sedang menagih utang.
Anjani mulai kesal sekarang. "Saya sudah berusaha."
"Saya tahu."
"Nah."
"Tapi belum cukup."
Kesabaran Anjani mulai menipis. "Kalau begitu cari model lain saja."
Sunyi.
Seluruh studio seketika membeku. Fotografer bahkan hampir menjatuhkan kameranya, karena Anjani baru saja membalas Ren Aksara secara langsung, di depan umum.
Wah. Berani juga.
Namun Anjani belum selesai. Ia tetap tersenyum sopan. "Tadi Pak Ren bilang saya model yang paling cocok."
"Betul."
"Sekarang Bapak bilang saya kurang."
"Betul."
"Bapak memang sulit dipuaskan ya."
Deg.
Semua kru yang sudah membeku tambah beku. Ada yang pura-pura mengecek lampu. Ada yang pura-pura membaca catatan. Pokoknya tidak ada yang berani melihat wajah Ren.
Dan yang mengejutkan, Ren justru tidak marah. Biasanya minimal ada ledakan minimalis. Namun, pria itu hanya menatap tajam. Tatapan tajam yang semakin dalam, seolah sedang menunggu sesuatu.
Lalu akhirnya ia berkata. "Dari awal kamu masih salah di satu hal."
"Apa?"
"Kamu terus berpikir harus menjadi orang lain."
Anjani berusaha mencerna ucapan Ren.
Ren melangkah mendekat satu langkah. "Ceritakan padaku. Siapa perempuan dalam koleksi Aurora?"
Sunyi.
Anjani tidak menjawab, tapi tentu ia tahu jawabannya, yaitu perempuan yang kehilangan rumah, perempuan yang kehilangan keluarga, perempuan yang kehilangan dirinya sendiri.
Dan perlahan, dadanya mulai terasa sesak.
Ren belum selesai. "Perempuan itu jatuh. Dihina. Diremehkan. Dibuang."
Deg.
Mata Anjani langsung bergetar. Seluruh studio mendadak hening. Kata-kata Ren tidak terdengar seperti kritik, melainkan seperti seseorang yang sedang memaksa cermin menunjukkan bayangan aslinya.
"Lalu apa yang dia lakukan?"
Anjani menggigit bibirnya.
Ren menatap lurus ke arahnya. "Menangis?
Anjani diam.
"Menyerah?"
Tangan Anjani mengepal kecil.
"Atau bangkit?"
Deg. Sesuatu yang lama terkubur perlahan bergerak. Sesuatu yang selama ini dipaksa diam. Sesuatu yang selama ini terus diinjak. Harga diri, martabat, keberanian. Perempuan yang dulu pernah bermimpi besar.
Dan akhirnya Anjani berhenti berusaha menjadi model. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Lampu studio masih menyala terang. Kamera masih mengarah padanya. Puluhan pasang mata masih menunggu. Namun, untuk pertama kalinya sejak berdiri di depan lensa, Anjani tidak lagi memikirkan bagaimana cara terlihat cantik, tidak memikirkan sudut wajah, tidak memikirkan pose, tidak memikirkan apakah dirinya cukup baik.
Ia hanya mengingat. Mengingat rumah yang ditinggalkannya. Mengingat ketika ia keluar tanpa membawa apa pun. Mengingat langkah-langkah kakinya yang dingin di atas jalan. Mengingat bagaimana harga dirinya dilucuti satu per satu. Dan mengingat bagaimana ia tetap berdiri setelah semuanya.
Perlahan dagunya terangkat. Bukan menunjukkan keangkuhan, melainkan seseorang yang telah jatuh begitu dalam, lalu memilih bangkit sendiri.
Matanya menatap lurus ke depan. Ada luka yang tersemat di sana. Masih ada, tapi tidak lagi memohon untuk dikasihani. Luka itu kini berubah menjadi kekuatan.
Klik.
Fotografer yang sejak tadi frustrasi mendadak membeku.
Klik!
"Jangan bergerak." Suaranya berubah antusias, nyaris bergetar.
Klik!
Klik!
Klik!
Kini Anjani tidak lagi terlihat seperti perempuan yang sedang mengenakan gaun Aurora, justru sebaliknya. Aurora terlihat seperti gaun yang diciptakan untuk dirinya. Setiap langkah kecil, gerakan jemari, tatapan, semuanya terasa memiliki cerita.
Monitor besar di samping studio mulai menampilkan hasil-hasil foto yang baru saja diambil. Satu per satu orang terdiam. Dalam salah satu foto, Anjani berdiri sendiri di tengah latar yang sederhana. Dia tidak tersenyum, namun tatapannya membuat orang ingin berhenti lebih lama.
Pada foto lain, ia sedikit memalingkan wajah. Sorot matanya tenang, tetapi ada sesuatu yang membuat dada sesak saat melihatnya. Perempuan dalam foto itu telah kehilangan begitu banyak hal dan tetap memilih hidup. Bahkan beberapa kru yang tidak tahu kisah hidup Anjani ikut merasakan sesuatu. Mereka tidak bisa menjelaskan apa, tapi mereka merasakannya.
Fashion memang aneh. Kadang gaun paling mahal tidak mampu menyampaikan apa pun. Namun kadang, satu tatapan mampu menjual seluruh koleksi. Dan saat itulah semua orang menyadari sesuatu. Aurora akhirnya memiliki wajah.
Fotografer sampai menurunkan kameranya perlahan, lalu menatap layar monitor. "Ini dia."
Tidak ada yang bertanya maksudnya, karena semua orang tahu. Ini dia yang mereka cari selama berminggu-minggu.
Di sudut studio, Maria yang ternyata sudah berada di sana sedari tadi, tersenyum lebar. Matanya bahkan sedikit berkaca-kaca.
"Selamat datang kembali, Njan, " ucapnya lirih.
Sementara Anjani sendiri masih berdiri di tengah studio, sedikit bingung melihat reaksi semua orang. Dia tidak menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi pusat dari kampanye bernilai miliaran rupiah.
Dan di sisi lain, Ren hanya diam. Tangan masih berada di dalam saku celana dengan ekspresi khas Ren Aksara.
Namun ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun. Sejak awal, pemotretan hari ini hanyalah langkah pertama, karena jauh sebelum sesi ini dimulai, Ren sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih gila. Dan hampir pasti akan membuat Anjani marah ketika mengetahuinya nanti.
Tatapan Ren kembali jatuh pada layar monitor, pada sosok perempuan yang berdiri anggun dalam gaun Aurora. Sudut bibirnya bergerak sangat tipis.
"Siapkan tahap berikutnya," ucapnya datar kepada Raka.
Raka menoleh bingung. "Tahap yang mana, Pak?"
Ren tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada foto Anjani.
"Runway."
Deg.
Raka seketika membelalak, karena kalau Ren sudah mulai bicara tentang runway, berarti CEO itu tidak lagi memikirkan kampanye. Ia sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan besar.
Dan entah kenapa, instingnya mengatakan bahwa kali ini korbannya lagi-lagi adalah Anjani.
Bersambung~~