"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25. Rayhan vs Imam
Di tengah keputusasaan yang memuncak, Imam mengambil napas dalam-dalam. Ia melangkah mendekat, lalu ikut menjatuhkan lututnya di atas lantai keramik, berlutut di hadapan Rayhan dan Habibah.
Ameera terpekik pelan melihat ayahnya, pria yang selama ini begitu menjaga wibawa dan harga dirinya kini berlutut dengan air mata yang membasahi sebagian jenggotnya.
"Rayhan, Bibah... dengarkan saya," ujar Imam, suaranya bergetar namun ada ketegasan penuh penyesalan di sana. "Kalau harus ada yang pergi dari kehidupan kalian, orang itu adalah saya. Bukan Bibah."
Imam menatap Rayhan dengan tatapan memohon. "Ibumu tidak bersalah, Ray. Dia wanita suci yang menjaga kehormatannya dengan sangat baik. Skenario paviliun kembar, rumah kontrakan ini... ini semua terjadi karena kebodohan Om yang tidak jujur sejak awal pada Ameera."
Imam kemudian beralih menatap Habibah yang masih menangis sesenggukan. "Bah... jangan pernah sebut panti jompo lagi. Demi Allah, aku tidak akan membiarkan wanita yang membesarkan calon menantuku dengan begitu mulia harus mengasingkan diri. Kamu berhak bahagia di sini, melihat Rayhan dan Ameera menikah."
Imam bangkit berdiri dengan perlahan, mengusap air matanya. Ia berbalik menatap Ameera yang masih syok di sudut ruangan.
"Meer... maafkan Papa. Papa sudah merusak masa-masa bahagia menjelang pernikahanmu," ucap Imam lirih, memegang kedua bahu putrinya. "Papa akan keluar dari rumah kontrakan ini pagi ini juga. Rencana paviliun kembar kita batalkan. Setelah kalian menikah, kalian tinggallah di sini bersama Tante Bibah. Papa... Papa bisa pulang ke rumah lama kita, atau Papa bisa sewa apartemen dekat kantor."
"Tapi Papa nanti sendiri..." bisik Ameera di sela tangisnya, hatinya tercabik antara rasa sayang pada ayahnya dan rasa bersalah pada keluarga Rayhan.
"Papa tidak apa-apa, Meer. Papa pantas mendapatkan ini karena tidak mampu mengubur masa lalu Papa dengan benar," sahut Imam dengan senyum getir.
Rayhan perlahan membantu ibunya berdiri dan membimbingnya duduk di tepi ranjang kamar bawah. Setelah memastikan ibunya agak tenang, Rayhan kembali ke ambang pintu. Ia menatap Imam yang sedang mengemas beberapa pakaiannya ke dalam tas kerja secara terburu-buru.
"Om Imam," panggil Rayhan, suaranya kini terdengar datar dan dingin, tanpa emosi yang meledak-ledak seperti tadi.
Imam menghentikan gerakannya, menoleh ke arah Rayhan.
"Saya menghargai keputusan Om untuk pergi dari rumah ini pagi ini," ujar Rayhan tegas. "Tapi tolong jangan berpikir masalah ini selesai begitu saja. Ibu saya terguncang hebat, dan Ameera... Ameera tidak layak menanggung beban rahasia ini di hari pernikahannya."
Rayhan menjeda kalimatnya, melirik Ameera yang menunduk layu. "Untuk sementara waktu, jarak adalah hal terbaik untuk kita semua. Biarkan Ibu tenang, dan biarkan saya dan Ameera berpikir... apakah pernikahan ini masih bisa dilanjutkan dengan bayang-bayang masa lalu kalian yang seperti ini."
Perkataan Rayhan bak petir di siang bolong bagi Ameera. Gadis itu mendongak dengan tatapan tidak percaya. Ancaman bahwa pernikahan mereka bisa saja batal kini nyata di depan mata.
Mendengar ucapan Rayhan, langkah Imam yang hendak mengambil tasnya langsung terhenti. Kalimat terakhir pemuda itu seolah menyulut sisa-sisa harga diri Imam yang paling dalam. Sebagai seorang ayah yang sudah merendahkan ego hingga berlutut dan memilih mengalah untuk pergi, perkataan Rayhan yang mempertanyakan kelanjutan pernikahan dirasanya sudah keterlaluan.
Imam berbalik, menatap Rayhan dengan napas yang mulai memburu. Matanya yang merah kini menyiratkan kemarahan yang tertahan.
"Rayhan!" suara Imam meninggi, bergema berat di ruang tengah. "Om tahu Om salah. Om akui masa lalu Om dan Ibumu adalah kesalahan yang tidak seharusnya membayangi kalian. Tapi bagaimana bisa kamu bicara sekasar itu setelah semuanya terbongkar?"
Imam melangkah mendekati Rayhan, menunjuk dada pemuda itu dengan jari yang bergetar. "Om sudah memilih mengalah! Om batalkan rencana paviliun kembar, Om keluar dari rumah ini sekarang juga demi menjaga ketenangan Ibumu dan kewarasan kalian. Tapi dengan mudahnya kamu bilang mau memikirkan ulang pernikahan kalian?"
Ameera menatap ayahnya dengan cemas, "Papa, sudah, Pa..."
"Tidak, Ameera! Papa harus bicara!" potong Imam tegas. Ia kembali menatap Rayhan dengan tajam. "Rayhan, dengar. Jangan jadikan kesalahan masa muda kami sebagai alasan untuk kamu menghukum Ameera! Anak perempuan Om tidak tahu apa-apa tentang masa lalu itu. Dia tulus mencintaimu, dia menyiapkan pernikahan ini dengan seluruh hatinya!"
Imam mengatur napasnya yang memburu, mencoba meredam amarahnya agar tidak berubah menjadi bentakan kasar.
"Jika kamu mau membenci Om, bencilah. Jika kamu menganggap Om adalah orang tua yang gagal menjaga batasan, silakan. Tapi jangan sekali-kali kamu goyah untuk memuliakan Ameera. Om mengalah dan pergi dari sini agar kamu bisa fokus membahagiakan istrimu nanti, bukan untuk melihatmu ragu dan menghancurkan hati anak perempuan Om di ambang pelaminan!"
Suasana di ruang tengah mendadak semakin mencekam. Habibah yang mendengar keributan itu dari dalam kamar hanya bisa mendekap wajahnya dengan bantal, menangis tersedu-sedu meratapi pertengkaran yang kian merembet ke mana-mana. Sementara itu, Ameera berdiri terpaku di antara dua laki-laki yang sangat ia cintai, menunggu bagaimana Rayhan akan merespons amarah ayahnya yang meledak akibat kalimat dinginnya tadi.
Rayhan tidak mundur selangkah pun. Menghadapi telunjuk Imam yang mengarah ke dadanya, pemuda itu justru menegakkan punggung. Air mata yang tadi sempat luruh kini telah mengering, digantikan oleh tatapan mata yang sarat akan beban berat yang mendadak runtuh ke pundaknya.
"Jadi saya harus bagaimana, Om? Memangnya setelah Om pergi dari rumah ini, semuanya selesai begitu saja?" Suara Rayhan bergetar, bukan karena takut, melainkan karena rasa frustasi yang teramat dalam.
"Om pikir dengan Om angkat kaki dari sini, bayang-bayang itu otomatis hilang? Om pikir Ibu saya bisa langsung tersenyum, melupakan semua rasa bersalahnya, dan duduk tenang di pelaminan nanti?" Rayhan menggeleng getir. "Tidak semudah itu, Om."
Rayhan menatap kertas surat dari ibunya yang masih ia remas di tangan kanan.
"Ibu saya hampir membuang dirinya ke panti jompo karena merasa menjadi duri di antara kita. Dan Om bilang saya menghukum Ameera? Demi Allah, Om, saya mencintai Ameera lebih dari hidup saya sendiri! Tapi saya juga seorang anak. Bagaimana saya bisa melangkah ke pelaminan dengan hati yang tenang, kalau saya tahu di balik senyum bahagia kami nanti, ada batin Ibu saya yang terkoyak dan ada Om yang mengasingkan diri karena merasa berdosa?"
Rayhan menoleh ke arah Ameera yang berdiri gemetar. Tatapan dinginnya melunak, digantikan oleh rasa bersalah yang teramat besar pada calon istrinya.
"Saya tidak bermaksud menghancurkan hati Ameera, Om. Tapi pernikahan bukan cuma soal menyatukan dua orang yang saling cinta. Pernikahan itu menyatukan keluarga. Sekarang, bagaimana kita bisa jadi satu keluarga kalau setiap kali kita bertemu di acara keluarga nanti, ada canggung, ada rahasia, dan ada ketakutan yang harus terus kita tutupi?"
Rayhan menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Ia menurunkan nada suaranya, menatap Imam dengan sisa-sisa rasa hormat yang ia paksakan untuk tetap ada.
"Saya cuma butuh waktu, Om. Kami berdua butuh waktu untuk mencerna ini semua. Saya tidak bilang pernikahan ini ‘pasti’ batal. Tapi kalau kami memaksakan tersenyum dan pura-pura tidak terjadi apa-apa dalam kondisi rumah yang hancur seperti ini... itu namanya kami berbohong pada diri kami sendiri. Saya hanya ingin menyelamatkan Ameera dari pernikahan yang dipaksakan di atas puing-puing rasa bersalah orang tua kita."
Kemarahan di mata Imam perlahan surut, digantikan oleh kesadaran yang menamparnya telak. Argumen Rayhan tidak salah. Pergi dari rumah memang menyelesaikan masalah jarak fisik, tapi tidak menyelesaikan luka batin yang terlanjur menganga pada anak-anak mereka.
Ameera melangkah mendekat, lalu perlahan menggenggam ujung kaos Rayhan dari belakang. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun anggukan kecilnya dan remasan tangannya di kaos Rayhan menjadi tanda bahwa ia memahami ketakutan calon suaminya. Mereka berdua sama-sama terluka, dan pagi itu, kepergian Imam yang sudah di depan mata terasa seperti awal dari sebuah perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian bagi masa depan mereka.
****