Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25 Quality Time
Malam harinya.
Rania keluar kamar dengan langkah pelan.
Masih sedikit mengantuk.
Masih sedikit malu.
Karena sayangnya— otaknya belum lupa tragedi tadi pagi.
Yoga.
Jatuh.
Menimpa Gavin.
Wajah terlalu dekat.
Dan—
difoto.
Oh Tuhan.
Kenapa hidupnya seperti reality show murahan?
Begitu sampai meja makan—
langkahnya berhenti total.
…
Tidak.
Tidak.
Jangan bilang—
Di tengah meja makan—
berdiri sebuah frame foto.
Ukuran besar.
Sangat besar.
Foto dirinya.
Di atas Gavin.
Di matras yoga.
Wajah terlalu dekat.
Judul besar di bawahnya:
VISION BOARD CUCU 2026
Sunyi.
Sangat sunyi.
Rania berkedip sekali.
Dua kali.
Lalu perlahan menunjuk frame itu.
“…Saya mau pindah negara.”
Mama Ratna tersenyum puas.
“Bagus kan?”
Mama Ambar sedang meminum teh dengan elegan.
“Chemistry kalian fotogenik.”
“ITU BUKAN KALIMAT NORMAL.”
Lalu—
suara kursi bergeser.
Rania refleks menoleh.
Dan tentu saja—
Gavin baru duduk.
Kaos rumah hitam.
Rambut sedikit berantakan.
Masih terlihat terlalu tampan untuk ukuran orang yang ikut menghancurkan harga dirinya.
Tatapannya jatuh ke frame.
Diam dua detik.
Lalu—
“…Mama serius print?”
Ratna mengangguk bangga.
“Mau mama laminating juga.”
Gavin memejam mata sebentar.
“Saya mendadak paham kenapa orang memilih boarding school.”
Dan—
untuk alasan yang sangat mengkhianati—
sudut bibir Rania nyaris naik.
Nyaris.
Namun begitu Gavin duduk di sebelahnya—
jantungnya langsung kembali aneh.
Karena terlalu dekat.
Lagi.
Dan setelah kejadian kemarin—
semuanya terasa terlalu sadar diri.
Apalagi—
pria itu masih belum benar-benar kembali seperti biasa.
Tidak dingin.
Tapi…
lebih diam.
Dan justru itu mengganggu.
___
Selepas makan malam, dua perempuan itu berdiri di ruang tengah apartemen dengan ekspresi yang terlalu serius untuk sesuatu yang absurd.
Di tangan Ambar terdapat sebuah keranjang rotan.
Di tangan Ratna, secarik kertas bertuliskan besar:
SITA GADGET – SESI QUALITY TIME PASANGAN.
Rania memandang papan itu dengan tatapan kosong.
“Saya mau tanya,” katanya datar.
“Ini keluarga atau lembaga pemasyarakatan?”
“Ini intervensi rumah tangga,” jawab Ratna mantap.
Di sebelahnya, Gavin baru saja keluar dari ruang kerja sambil membawa laptop.
“Tidak.”
Ratna langsung menunjuknya seperti jaksa menemukan bukti kriminal.
“Masukkan.”
“Saya ada laporan kuartalan.”
“Besok.”
“Deadline.” jawab Gavin nelangsa.
“Cinta lebih penting.”
Gavin menatap ibunya selama tiga detik penuh.
Lalu menoleh pada Rania.
“Apakah kita bisa laporkan ini sebagai pelecehan profesional?”
“Kalau bisa, saya saksi utama.”
Namun dua suara protes mereka sama sekali tidak digubris.
Dalam waktu kurang dari lima menit, semua laptop, tablet, ponsel, bahkan smartwatch milik mereka sudah masuk ke keranjang rotan.
Ratna menutupnya dengan puas.
“Bagus.”
Ambar tersenyum lebar.
“Sekarang, quality time.”
Sunyi
“Kenapa semua aktivitas terdengar seperti hukuman sosial?” gumam Rania.
Ratna mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.
Membeku.
Melihat isinya, darah Rania mendadak surut.
Monopoli Edisi Pasangan Romantis.
Di sampulnya tergambar sepasang pengantin kartun sedang berpelukan.
“Oh, Tuhan,” gumamnya.
“Bukan Tuhan,” koreksi Ratna otomatis.
“Ini Mama,” sahut Ambar dan Ratna bersamaan.
Rania menutup wajah.
Ia benar-benar ingin pindah benua.
Gavin berdiri sambil mengambil kopi.
“…Kalau kami nolak?”
Ratna tersenyum penuh ancaman.
“Mama upload foto yoga ke grup keluarga."
Tiga puluh menit kemudian, mereka berempat duduk melingkar di karpet ruang tengah.
Ratna bertindak sebagai banker.
Ambar sebagai komentator yang terlalu antusias.
Sementara Rania dan Gavin duduk berdampingan sebagai satu tim.
Aturannya sederhana.
Setiap kali pion mereka berhenti di kotak tertentu, mereka harus mengambil kartu tantangan pasangan.
“Percayalah,” bisik Gavin datar pada Rania.
“Kita harus menyelesaikan tantangan apa pun.”
Rania menoleh.
“…Saya mengerti.”
Permainan dimulai.
Putaran pertama aman.
Mereka membeli properti.
Menyuap Ratna diam-diam agar tidak curang.
Menertawakan Ambar yang terlalu kompetitif.
Lalu pion mereka mendarat di kotak merah muda bertuliskan:
LOVE CHALLENGE
Ratna langsung bertepuk tangan.
“Ambil kartunya!”
Dengan enggan, Rania mengambil satu kartu.
Ia membacanya keras-keras.
“Tatap pasangan Anda selama tiga puluh detik.”
Sunyi.
Ambar bersiul.
Ratna bersinar seperti baru menemukan emas.
“Mulai!”
“Ini konyol,” gumam Rania.
“Dua pilihan,” kata Gavin datar.
“Tatapan tiga puluh detik…”
Tatapannya pindah ke Mama Ratna.
“…atau foto yoga kita masuk grup keluarga.”
Rania langsung duduk tegak.
“Oke. Tatapan.”
Mereka saling berhadapan.
Dekat.
Terlalu dekat.
Dan tentu saja—ini terasa jauh lebih awkward dari seharusnya.
Karena hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Dan ketika hitungan dimulai—
Rania baru sadar betapa buruk ide ini.
Satu detik.
Tatapan Gavin tenang.
Dua detik.
Matanya gelap. Dalam. Sulit dibaca.
Lima detik.
Jantung Rania mulai kehilangan harga diri.
Gavin diam beberapa detik.
Lalu akhirnya ia bicara.
Pelan.
“Saya nggak suka.”
…
Apa?
“Kamu jauhin saya.”
Boom.
Gavin diam sesaat. Seolah baru sadar— itu terlalu jujur untuk diucapkan.
Ruangan terasa mendadak terlalu kecil.
Terlalu hening.
Karena nada suara Gavin.
tidak marah.
Tidak dingin.
Justru terdengar sangat jujur.
Rania tidak langsung menjawab.
Karena bagian paling menyebalkan dari semua ini adalah:
mendengar Gavin tidak suka dijauhi justru membuat dadanya terlalu hangat.
Dan itu bahaya.
“Tiga puluh detik!” seru Ambar.
Rania langsung memalingkan wajah.
Wajahnya panas.
Sangat panas.
Ratna menepuk tangan bahagia.
“Lihat? Ada kemajuan!”
“Kalau definisi kemajuan Mama adalah serangan jantung ringan, iya,” gumam Rania.
Sialnya, semesta belum selesai.
Satu jam kemudian permainan berakhir.
Dan tim Gavin-Rania menang.
Kesalahan besar.
Karena hadiah kemenangan ternyata—
voucher dinner romantis untuk besok malam.
Ratna menyerahkannya dengan bangga.
“Reservasi jam tujuh. Restoran rooftop.”
Rania mematung.
“Besok?” tanyanya.
“Besok.”
“Kami kerja.”
“Sudah saya minta Theo kasih izin.”
Sunyi.
Gavin perlahan menoleh.
“Apa?”
Ratna tersenyum polos.
“Barusan Mama telepon.”
Rania menatap kosong.
“Tolong bilang Theo menolak.”
Ratna mengangkat bahu.
“Dia bilang, ‘Kalau itu untuk meningkatkan stabilitas psikologis tim saya, silakan.’”
Sunyi.
Gavin memijat pelipis.
“Theo benar-benar tidak punya jiwa.”
Rania menatap voucher dinner itu cukup lama.
Rooftop.
Dinner romantis.
Berdua.
Besok malam.
Setelah perang dingin.
Setelah tragedi yoga.
Setelah tatapan tiga puluh detik yang seharusnya ilegal.
Dan—
setelah Gavin bilang:
Saya nggak suka kamu jauhin saya.
…
Bagus.
Sangat bagus.
Besok pasti tidak akan canggung sama sekali.
Dan justru karena pikiran itu—
Rania mulai panik.
Karena semakin Gavin bertingkah seolah semua ini nyata—
Semakin Rania mulai kesulitan mengingat:
hubungan ini… hanya kontrak.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.