Pernikahan Arga dan hana awalnya tampak sempurna. Sepuluh tahun kebersamaan, satu ikatan suci, dan kepercayaan yang tak pernah ia ragukan. Hingga suatu hari, Arga menemukan kebenaran yang menghancurkan seluruh hidupnya—istri yang ia cintai ternyata adalah perempuan yang diam-diam menjadi kekasih dari satu-satunya darah daging yang ia miliki: abang kandungnya sendiri. Perselingkuhan itu bukan terjadi semalam. Ia tumbuh perlahan, berakar dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati. Setiap senyum yang Arga kira tulus, setiap pelukan yang ia anggap rumah, ternyata menyimpan pengkhianatan yang terencana. Di antara dosa, rasa bersalah, dan luka yang tak terucap, Arga terjebak dalam dilema: mempertahankan pernikahan yang sudah tercemar, atau melepaskan semuanya—termasuk ikatan saudara yang sejak kecil ia jaga dengan nyawa. Ketika kebenaran terungkap, tak ada lagi yang benar-benar menjadi pemenang. Karena terkadang, pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari orang asing, melainkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruang senandika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
putus
" Sudah berapa persen persiapan nya...?" Tanya arka dengan nada kecewa dan marab. Aku tersentak segera mendongak menatap nya. Tidak seperti dugaan ku,dia malah bertanya hal yang mungkin membuat hati nya semakin sakit.
" S-sembilan puluh persen..." Jawab ku dengan nada tidak enak hati. Arka tersenyum sendu. Aku tidak kuasa melihat itu. Aku benar-benar terlihat seperti orang jahat. Menyakiti hati nya berkali-kali, apa yang bisa ku lakukan agar semua nya bisa selesai.
" Masih adakah kesempatan untuk ku...?" Ucap arka sembari menatap mata hana. Dia berkata dengan nada melemah, terdengar seperti sudah putus asa. Ku beranikan memegang tangannya. Menggenggam erat tangan itu hingga terasa begitu hangat. Ku tatap mata nya dengan senyum lembut ku. Mata nya terlihat begitu sayu. Dia terlihat lelah. Aku tau mungkin dia terlalu banyak beban pikiran setelah perjodohan ini. Aku makin merasa bersalah.
" Kita pernah saling mencintai... " Ucap Hana yang masih memegang tangan arka
" Not... Aku masih sangat mencintai mu saat ini... Jangan berkata seakan kita hanyalah kisah yang sudah selesai... Kita belum berakhir hana-ya..." Ucap arka sembari membalas genggaman tangan Hana dengan erat. Dia menyahut ucapan ku.
" kita saling mencintai, kita pernah bersama dengan begitu hangat, berbagi cerita, merasakan sedih dan senang bersama... Kita pernah berada di situasi itu..." Ucap Hana sembari menatap mata arka
" Mungkin, itu semua hanya akan menjadi kenangan indah... Kita tidak akan bersama, can not... " Jawab Hana kembali. Suara ku bergetar saat mengatakan itu.
" No...Listen to me... Aku akan memperjuangkan mu hingga kita bisa memiliki satu sama lain..." Ucap arka dengan keyakinan penuh. Hana menggeleng pelan, air mata ku menetes di saat bersamaan. Dia masih belum juga menyerah.
" Sebentar lagi aku akan menjadi milik seseorang... Aku hanya ingin kita tidak saling membebani satu sama lain..." Ucap Hana kepada arka. Hana berusaha membuat nya mengerti.
" Aku sama sekali tidak terbebani-" ucap arka dengan keyakinan penuh
" Aku yang terbebani! Aku merasa bersalah terus menyakiti mu! Dengan kita berhenti mungkin kau tidak akan tersakiti melihat kedekatan ku dengan arga...!" Ucap Hana sembari meninggikan suara ku. Bian segera menyahuti ucapan nya dengan sedikit bentakan.
"Hana!.." ucap bian berkata lirih. Sedangkan arka hanya terdiam, entah apa yang dia pikirkan.
" Akan lebih baik jika kalian berjuang bersama agar terlepas dari situasi sulit seperti sekarang..." Ucap bang bian berkata seperti itu. Hana langsung menatap nya tajam.
" Kau tidak mengerti ku bang bian! Kau tidak merasakan bagaimana rasanya di posisi ku sekarang! Kebahagiaan Daddy lebih penting, jadi aku tidak akan membantahnya...!" Ucap Hana sembari meninggikan suara ku kepada sepupu ku yaitu bian.
" Tapi kau juga berhak memilih jalan hidup mu...!" Jawab bian sembari membentak ku. Amarah ku semakin menjadi setelah mendengar ucapan nya.
" Ya! Dan aku lebih memilih menikah dengan arga! Aku yakin suatu saat dia bisa membahagiakan ku...!" Ucap Hana tak kalah tinggi suara ku. Rasanya sulit berkata kebenaran nya bahwa aku lebih mencintai arga.
" Begitukah...?" Ucap arka dengan mata penuh kekecewaan. Hana menatap arka yang tersenyum kecut dengan kata berkaca-kaca. Ucapan ku menyakiti nya, aku hanya ingin membuat nya mengerti. Jika saja aku tidak mencintai arga, pasti aku akan lebih memilih membantah appa dan memperjuangkan hubungan ku dengan arka. Namun arga adalah seseorang yang ku nanti selama ini, dia cintaku.
" Baiklah... Aku hanya ingin kau bahagia hana... Ku pikir kau pasti akan tertekan atas perjodohan ini... Namun seperti nya kau malah menginginkan..." Ucap arka dengan wajah menahan kekecewaan dan amarah pada sang kekasih
" Aku tak apa hana... Mungkin arga lah yang di takdir kan untuk mu... Selama nya aku akan tetap mencintai mu... Ku harap Arga bisa menjaga dan membahagiakan mu selalu..." Ucap Arga lagi kemudian Arga mendekati hana, dan mengecup singkat kening Hana. Hati ku mencelos, ini terasa begitu nyeri. Namun inilah keputusan terbaik nya. Hana harus siap kehilangan nya. Tidak boleh egois ingin memiliki kedua nya.
"Jangan menangis... Walau kita tidak seperti dulu lagi... Aku akan tetap menjaga mu, walaupun dari kejauhan..." Ucap arka setelah memberikan ciuman di kening. Arka menyeka air mata hana, dia tersenyum begitu tulus namun tersirat kesedihan. Aku hanya terdiam. Kemudian dia berjalan memasuki mobil. Ku lihat bang bian menatap ku kecewa.
" Aku kecewa pada mu... Ku harap kau tidak menyesal" ucap bian pada Hana yang diam dengan air mata sembari melihat arka yang sudah berada di dalam mobil bian.
Setelah itu bian juga ikut memasuki mobil. Keduanya mulai menjauh keluar dari area mansion. Aku hanya bisa menatap kepergian mereka dengan air mata yang terus mengalir.
Hana POV end
Seseorang tersenyum dari kejauhan saat melihat mobil bian yang sudah menjauh. Perdebatan mereka membuat hati nya sedikit tenang.
" Bagus hana... Keputusan mu sangat tepat..." Gumam bian Setelah itu ia menjalankan mobil nya menjauh. Arka hanya terdiam setelah pergi dari mansion hana tadi. Sungguh saat ini ia sangat ingin mengeluarkan air mata nya. Hubungan mereka tidak bisa di bilang singkat. Begitu banyak kenangan, dan juga arka yang masih sangat mencintai Hana. Hal itu membuat nya sulit untuk mengakhiri.
" Aku akan bicara lagi dengan hana..." Ujar bian menatap arka dengan tatapan bersalah. Bagaimana pun hana adalah sepupu nya.
" Tidak usah bian... Keputusan nya sudah benar..." Jawab arka membuat bian segera menggeleng tak setuju.
" Apa kau akan membiarkan dia hidup bersama seseorang pilihan ayah nya?... Dia pasti tidak akan bahagia..." Ucap bian yang hanya ingin hana bahagia bersama orang yang tepat, dan ia sudah begitu percaya dengan arka
" Aku melihat tatapan cinta hana kepada arga... Itu sudah cukup membuktikan bahwa Hana akan bahagia bersama arga..." Ucap Arka berucap dengan senyum miris nya.
" Lalu bagaimana dengan perasaan mu...?" Tanya bian sembari menatap arka dengan tatapan merasa sedikit bersalah akibat ulah hana. Arka menatap lekat bian di samping nya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sendu.
" I'm okay... Kebahagiaan nya adalah kebahagiaan ku..." Ucap arka. Bohong jika ia baik-baik saja. Nyatanya kini perasaan sangat terasa hancur. Namun demi kebahagiaan orang yang di cintainya,ia rela mengorbankan perasaan nya. Bian hanya bisa terdiam menghargai keputusan arka. Ia sungguh tak habis pikir dengan Hana. Bagaimana bisa memilih meninggalkan arka demi orang baru pilihan ayah nya. Memikirkan itu membuat bian malu sendiri akan sikap Hana menghadapi masalah.