Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 39
Menatap sebuah layar digital yang menampilkan ribuan piksel warna terkadang bisa memberikan pemahaman yang lebih jujur tentang seseorang daripada percakapan berjam-jam di balik meja kayu jati yang mahal. Gunawan menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang dilapisi kulit domba kualitas terbaik, membiarkan kacamata bacanya tetap bertengger di ujung hidung. Di depannya, layar monitor berukuran tiga puluh dua inci itu menampilkan sebuah foto hitam putih: seorang pengamen jalanan di bawah jembatan Pont Neuf yang sedang memetik senar gitarnya yang putus, namun matanya menatap ke arah langit seolah-olah ia baru saja mendengar nyanyian malaikat.
Pria itu terdiam cukup lama, membiarkan kesunyian ruang kerjanya hanya diisi oleh dengung halus mesin pendingin ruangan yang dipasang pada suhu delapan belas derajat. Selama tiga puluh tahun membangun kerajaan bisnisnya, Gunawan telah melihat ribuan presentasi, ribuan proposal, dan ribuan wajah yang mencoba meyakinkannya tentang nilai sebuah investasi. Namun, ini adalah pertama kalinya ia merasa sedang diajak masuk ke dalam sebuah ruang privat yang penuh dengan kerentanan dan luka yang tidak ditutupi.
Jemari Gunawan bergerak di atas mouse nirkabelnya, menggeser ke foto berikutnya. Sebuah foto low-light yang menangkap rona biru pekat—Midnight Blue—di atas sungai Seine. Di sudut foto itu, terlihat siluet seorang gadis yang sedang duduk merenung, yang ia tahu pasti adalah Felysha. Sudut pengambilan gambarnya begitu lembut, seolah-olah sang fotografer sangat takut jika ia terlalu dekat, ia akan merusak ketenangan yang sedang dirasakan oleh objek fotonya.
Gunawan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan hingga kacamatanya sedikit berembun. Ia baru saja selesai membaca surat pengantar yang ditulis Mahesa. Kalimat-kalimatnya tidak berbunga-bunga, tidak ada permohonan maaf yang berlebihan, dan sama sekali tidak ada nada ingin dikasihani. Mahesa hanya menulis tentang bagaimana setiap jepretan itu mewakili satu detik kejujuran yang ia temukan di tengah kebohongan hidupnya selama ini.
Ponsel di atas meja Gunawan bergetar. Sebuah nama muncul di sana: Andra.
Pria itu tidak segera mengangkatnya. Ia justru kembali menatap foto Felysha yang sedang tersenyum tipis di depan sebuah toko buku tua. Binar di mata putrinya dalam foto itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama Felysha berada di Jakarta. Seolah-olah selama ini Felysha adalah sebuah bangunan megah yang kekurangan cahaya, dan pria bernama Mahesa ini tahu persis di mana harus meletakkan lampunya.
Di paviliun belakang, Felysha sedang duduk bersimpuh di atas karpet tebal, kedua tangannya memegang erat ponselnya yang masih sunyi. Dia baru saja mengirim pesan penyemangat untuk Mahesa sepuluh menit lalu, namun belum ada balasan. Udara sore di Jakarta yang lembap meresap masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah kering yang baru saja tersiram sisa-sisa air hujan.
Felysha menatap jam dinding kayu yang berdetak dengan irama yang terasa semakin lambat. Pukul delapan lebih lima belas menit. Seharusnya Papa sudah selesai membaca email itu. Seharusnya Mahesa sudah sampai di agensinya. Begitu banyak "seharusnya" yang berkecamuk di kepalanya hingga ia merasa kepalanya mulai berdenyut nyeri.
Dia bangkit perlahan, berjalan menuju meja belajarnya. Kamera Mahesa masih ada di sana, diletakkan di atas tumpukan sketsa tugas akhirnya yang kini terbengkalai. Felysha mengambil kamera itu, meraba bodi hitamnya yang kasar. Dia merasa seolah-olah kamera ini adalah satu-satunya saluran komunikasi yang jujur antara dunianya dan dunia Mahesa.
"Kamu sedang apa sekarang, Mahesa?" bisik Felysha pada lensa kamera yang gelap.
Bayangan Mahesa yang tadi siang berdiri di bandara kembali melintas. Cara Mahesa menggenggam tangannya, cara pria itu menatapnya seolah-olah dunia akan berakhir besok, dan ketegasan di suaranya saat menghadapi Rian. Felysha menyadari bahwa Mahesa tidak sedang bertarung untuk mendapatkan restu ayahnya; Mahesa sedang bertarung untuk mendapatkan kembali martabatnya yang pernah hilang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di selasar paviliun. Langkah yang berat dan teratur. Langkah Papa.
Felysha segera meletakkan kembali kamera itu, merapikan sedikit bajunya, dan berdiri tegak menghadap pintu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di antara suara jangkrik di taman belakang. Pintu paviliun terbuka, memperlihatkan sosok Gunawan yang masih mengenakan kemeja kerjanya, namun dasinya sudah dilepas dan kancing teratasnya terbuka.
Gunawan tidak langsung bicara. Pria itu melangkah masuk, menatap ke sekeliling ruangan yang kini dipenuhi oleh nuansa Paris yang dibawa pulang oleh Felysha. Mata sang ayah berhenti sejenak pada kamera di atas meja, lalu kembali menatap putrinya.
"Papa sudah melihat portofolionya," ucap Gunawan, suaranya terdengar sangat netral, sulit untuk ditebak apakah ia puas atau justru kecewa.
Felysha menelan ludah, jemarinya mengepal di belakang punggung. "Lalu?"
Gunawan berjalan menuju jendela, menatap taman belakang yang kini hanya disinari oleh lampu-lampu taman yang redup. "Dia punya bakat. Papa tidak bisa memungkiri itu. Foto-fotonya... mereka punya cara bicara yang berbeda. Tidak seperti fotografer komersial yang biasanya Papa sewa untuk iklan perusahaan."
Felysha merasakan sedikit harapan mulai mekar di dadanya. "Dia bukan fotografer komersial, Pa. Dia memotret dengan hati."
"Hati tidak bisa membayar tagihan rumah sakit ibunya di Jakarta, Fely," Gunawan berbalik, menatap tajam ke arah Felysha. "Tapi Papa menghargai keberaniannya untuk tidak berbohong dalam surat pengantarnya. Dia mengaku dia pernah melakukan kesalahan besar di Paris. Dan dia bilang, dia di sini untuk menebusnya."
Gunawan melangkah mendekati Felysha, berhenti hanya sejarak satu meter. "Tapi bakat saja tidak cukup bagi Papa. Kamu tahu Andra menelepon tadi? Dia bilang agensi internasional di London itu adalah agensi kecil yang baru mulai berkembang. Dia meragukan validitas kontrak kerja Mahesa."
"Andra berbohong, Pa! Dia hanya iri!" seru Felysha, matanya mulai berkaca-kaca karena marah.
"Irinyakah, atau kehati-hatiannya?" Gunawan mengangkat bahunya. "Satu hal yang pasti, Papa akan memberikan kesempatan. Papa sudah meminta sekretaris Papa untuk menjadwalkan pertemuan dengan perwakilan agensi itu besok lusa. Jika kontrak itu benar-benar sah dan Mahesa bisa memberikan jaminan profesional, Papa akan mempertimbangkan untuk membiarkan dia tetap di Jakarta sebagai fotografer rekanan perusahaan Papa."
Felysha merasa ingin memeluk ayahnya saat itu juga, namun ia menahan diri. Dia tahu masih ada "tapi" yang besar yang akan menyusul.
"Tapi," Gunawan melanjutkan, suaranya kembali mengeras. "Selama proses itu berjalan, Papa minta kamu jangan hubungi dia dulu. Papa mau dia fokus membuktikan dirinya tanpa bantuan emosional dari kamu. Papa ingin tahu, apakah dia benar-benar pejuang, atau dia hanya bersembunyi di balik rok anak Papa."
Felysha menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa pedih yang muncul karena persyaratan itu. "Seminggu, Pa? Hanya seminggu?"
"Hanya seminggu," Gunawan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. "Dan satu lagi. Besok malam, kamu harus ikut Papa dan Andra ke acara gala di Hotel Indonesia. Ini bukan soal perjodohan, tapi soal menjaga hubungan bisnis Papa. Papa harap kamu bisa bersikap dewasa."
Pintu paviliun tertutup dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar sangat final. Felysha kembali terduduk di tepi ranjangnya, merasa lelah yang luar biasa. Dia meraih ponselnya, berniat mengirim pesan terakhir pada Mahesa untuk memberitahu syarat ayahnya, namun ia berhenti. Jika ia ingin Mahesa menang secara terhormat, ia harus menuruti aturan ayahnya.
Dia mematikan ponselnya, meletakkannya di dalam laci meja belajar. Malam itu, di tengah kesunyian Jakarta yang lembap, Felysha menyadari bahwa pertaruhan mereka kini berada di tangan Mahesa sepenuhnya. Dia hanya bisa menunggu, berdoa pada langit yang kini tertutup polusi, berharap bahwa Mahesa bisa melewati badai yang sedang disiapkan oleh Pierre dan Andra di luar sana.
Sementara itu, di kamar penginapannya yang sempit, Mahesa sedang menatap tas kamera pemberian Pierre. Dia sudah menyusun rencana di kepalanya. Dia tidak akan mencuri. Dia akan memotret, tapi dia akan memotret sesuatu yang lain. Dia akan memotret wajah-wajah orang yang sedang merencanakan kejahatan itu sendiri. Jika ia harus masuk kembali ke dalam kegelapan, ia akan memastikan bahwa ia membawa lampu kilat yang cukup terang untuk mengungkap semuanya.
Mahesa mematikan lampu kamarnya, membiarkan kegelapan Jakarta menyelimutinya. Di dalam hatinya, ia membisikkan satu janji yang ia bawa dari jembatan Pont Marie: "Aku akan pulang kepadamu, Fely. Dengan cara yang benar."