NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Hari berlalu.

Laras masih terlelap di kamarnya saat suara ketukan di pintu membangunkannya.

Tok, tok, tok.

"Mbak, bangun, Mbak," suara Bu Ani terdengar keras dari luar kamar.

Laras membuka mata, lalu segera meraba-raba mencari ponselnya. Begitu benda itu dalam genggaman, dia segera menyalakannya. Di layar, jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Laras mematikannya kembali dan menaruhnya di samping bantal.

dia pun duduk. Dari luar, Bu Ani masih saja mengetuk.

Tok, tok, tok.

"Mbak, udah pagi. Mau masuk sekolah enggak?" tanya Bu Ani lagi.

"Sebentar, Bibi," jawab Laras. dia menggeser tubuh ke pinggir ranjang, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu.

Begitu pintu dibuka, Bu Ani langsung berucap, "Mbak, semalam Mama ga ada di rumah."

"Mama enggak ada di rumah?" tanya Laras sambil menatap Bu Ani yang mengangguk pelan. "Semalam Mama pergi ke mana?" bisiknya.

"Saya enggak tahu, Mbak. Soalnya Mama ga bilang sama Bibi," ucap Bu Ani menatap Laras yang terdiam.

"Ya sudah, Bi. Aku mau siap-siap dulu, mau berangkat sekolah." Laras kembali masuk ke dalam kamar.

***

Sementara itu, di sebuah apartemen, Arif mulai membuka mata. Selimut di ranjang tampak berantakan. Matanya bergerak mengamati sekitar sebelum dia duduk dan menyibak selimut.

"Arghh..." Arif terkejut menatap dirinya yang polos tanpa busana. dia segera kembali membaringkan diri dan menutupi tubuh dengan selimut.

Sasa yang masih tertidur mulai menggeliat. dia perlahan membuka mata dan berbicara "Kenapa, Sayang?" ucapnya,n

"Argh," Arif terperanjat menatap Sasa.

Sasa menggerakkan tangan untuk menutup bibir Arif sambil berujar, "Kamu lupa soal semalam?" ucapnya

Arif terdiam, mencoba mengingatnya. Perlahan Sasa melepas tangannya. lalu Arif menghela napas sambil berbicara, "Aku ingat. Maaf, Sayang. Hari ini aku harus berangkat ke sekolah," Arif saat hendak menurunkan kakinya dari ranjang. Sasa segera menarik tangan Arif.

"Jangan pergi, Sayang. Hari ini kamu bolos saja, kita pergi jalan-jalan," ucapnya dengan tatapan penuh keinginan.

Arif mengalihkan tatapan pada Sasa, lalu tersenyum. "kita mau jalan-jalan," jawabnya.

"iya sayang. Hari ini kita healing," ucap Sasa merasa lega. "Ya sudah ayo, kita bersiap-siap. Kita mandi berdua mau ga?" tambahnya sambil menaikkan kedua alis.

"Ayo, Sayang," jawab Arif sambil mengangguk, memperhatikan Sasa yang masih terbaring.

***

sementara Laras, dia sedang duduk di sofa ruang tamu mengenakan seragam sekolah yang rapi. Sambil menunggu taksi online yang dipesannya lewat aplikasi, dia juga udah berkali-kali mengirim pesan pada Arif.

~Laras: enggak apa-apa, Sayang.

~Laras: Pagi, Sayang.

~Laras: Kamu sudah bangun kan

Namun, pesan itu sama sekali belum dibaca oleh Arif. Laras menghela napas panjang. "dia Ke mana, ya? Apa dia belum bangun?" gumamnya dalam hati.

Laras memasukkan ponsel ke saku. Dari arah pintu, Bu Ani melangkah masuk. "Mbak, di depan ada taksi. Mbak pesan taksi kan?" tanya Bu Ani.

"Iya, Bi, aku pesan taksi. Kalau begitu aku pamit ya," jawab Laras sambil berdiri dan menyampirkan tas di bahunya. dia pun melangkah keluar dari rumah dan langsung menuju taxi,

sampai langkanya ke pinggir jalan, Laras langsung masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu. "Mas, ke SMA 1 Mars, ya," ucap Laras sambil menutup pintu mobil.

"Baik," jawab sopir itu sebelum melajukan kendaraannya.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Laras terus menatap keluar jendela. Pikirannya tidak tenang. "Kenapa, ya? Arif dari kemarin lama banget balasnya, kaya ada yang beda," gumamnya. dia kembali mengecek telepon genggamnya, namun pesan yang dikirimnya masih tetap sama, hanya centang dua, belum dibaca.

Laras menghela napas kasar dan kembali memasukkan ponsel ke saku. "Apa Arif masih tidur? Kok tidak balas chat-ku?" gunamnyaa dalam hati,

Tak lama, kendaraan terhenti di pinggir jalan dekat gerbang sekolah. Laras masih saja melamun sampai sopir taksi menegurnya, "Mbak, sudah sampai." ucapnya

"Oh iya, Mas. Maaf-maaf." Laras segera membuka pintu dan keluar.

"aneh banget, udah kaya emak emak yang kepikiran hutang," Bisik supir sambil mengalihkan tatapnya ke kaca depan,n

Kini dia berdiri di pinggir jalan, menatap taksi yang menjauh. Langkahnya menuju gerbang terasa berat. Pikirannya berantakan. Bahkan saat sampai di teras sekolah, dia masih saja melamun.

saat Felix yang sedang duduk, dia langsung berdiri saat melihatnya. "Laras!" panggilnya.

Namun Laras terus melangkah seolah tidak mendengar. Felix segera mendekat dan menarik tangan Laras hingga terhenti. "Lo kenapa?" tanya Felix menatap nya.

"Eh, Fel. Enggak ada apa-apa. Lo ngapain main tarik gue?" tanya Laras menatap Felix yang melepaskan genggamannya.

"Gue yang harusnya tanya. Lo kenapa gue panggil enggak jawab? Lo masih kepikiran soal semalam?"

"Bukan."

"Terus?"

"Enggak ada apa-apa. Eh, lo udah sembuh?" Laras melirik ke arah kaki Felix.

"Masih sakit, tapi gue paksain saja. Lagian enggak terlalu parah," jawab Felix. dia terjeda sejenak sebelum bertanya lagi, "Arif ke mana? Kok belum keliatan di sekolah?"

"Entahlah. Aku ke kelas duluan, ya." Laras melangkah pergi meninggalkan Felix begitu saja.

"Aneh banget sih," bisik Felix pelan. Saat dia menatap kepergian Laras, tiba-tiba bahunya ditepuk.

Plak!

"Ngapain sih?" tanya Gea sambil memperhatikan Laras yang menjauh. "Lo lihatin Laras? Lo suka sama Laras?" tanya Gea menatap lekat dengan kedua alis terangkat.

"Sembarangan ajah. Mana mungkin gue mau ambil punya Arif. Gue cuma nanyain Arif, tapi kelihatannya Laras aneh banget hari ini, kayak lagi kepikiran sesuatu."

Felix melangkah menuju kursi dan kembali duduk. "Kalau enggak ada masalah, ga mungkin Laras sebingung itu," ucapnya.

"Apa karena masalah semalam?" tanya Gea sambil duduk di samping Felix.

"Kayaknya bukan. Tadi dia bilang bukan soal semalam."

"Terus kalau bukan itu?"

"Kayaknya masalah dia sama Arif. Lagian Arif dari tadi enggak kelihatan di sekolah."

"Parah sih. Ya sudah, gue masuk kelas dulu." Gea menepuk bahu Felix, lalu berdiri dan melangkah pergi.

Felix masih duduk menatap kepergian Gea. dia menghela napas kasar. "Gue harus cari tahu apa yang terjadi," bisiknya pelan. dia mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi Arif.

Panggilan menyambungkan namun tidak ada jawaban. "Lama banget. Mana enggak diangkat-angkat lagi," gumamnya.

Tut, tut, tut.

"Hilih, lagi di mana sih, Rif?" Felix mencoba menghubungi Arif sekali lagi.

Seorang siswa lain, Andre, mendekat dan bertanya, "Lagi ngapain, Fel?" tanya

"Gue lagi telepon si Arif, Dre. enggak diangkat-angkat," jawab Felix masih menatap layar ponselnya.

"Arif enggak masuk sekolah?" tanya Andre.

"Iya, enggak tahu ke mana tuh anak, mana pacar nya keliatan aneh lagi,," sahut Felix kesal, namun dia kembali mencoba menekan tombol panggil ke nomor Arif.

"Siapa?" tanya Andre penasaran, karena dia belum tau kalau Laras pasangannya,

"diam dulu, gue nelepon dulu Arif, tau ajah di angkat,"

"Oke,"

1
Haikal Nto
suka,,,jadi penisirin
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!