NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Pagi itu, sebelum bel masuk berbunyi, rooftop SMA Lentera Cendekia sudah menjadi markas kecil yang hidup. Angin pagi berembus cukup kencang, menggoyangkan ujung-ujung seragam para siswa yang berdiri di sana. Dari ketinggian itu, halaman sekolah terlihat ramai, namun suara-suara di bawah seolah meredup—memberi ruang bagi percakapan serius yang terjadi di atas.

Ryuga berdiri di dekat pagar pembatas, satu tangan dimasukkan ke saku celana, tatapannya tajam mengarah ke kejauhan. Aura dingin dan dominannya terasa jelas. Di belakangnya, Zayden duduk santai di atas bangku beton, sementara Keano setengah rebahan dengan ekspresi santai namun penuh minat.

Zayden membuka pembicaraan.

“Lintasan kemarin terlalu gampang. Anak-anak tim lawan nggak ada yang berani ngambil tikungan tajam.”

Keano mengangguk cepat.

“Iya, serius. Gue sampe ngantuk nonton. Padahal biasanya jantung gue ikut balapan.”

Ryuga tetap diam beberapa detik, seolah menimbang.

“Ganti lintasan.”

Zayden menoleh.

“Yang mana?”

Ryuga, “Jalur utara. Tikungan sempit. Banyak blind spot.”

Keano langsung duduk tegak.

“Buset… lo mau balapan atau uji nyali?”

Ryuga menoleh sedikit, sorot matanya dingin namun penuh tantangan.

“Kalau takut, nggak usah ikut.”

Keano tertawa.

“Takut? Gue? Nggak ada di kamus!”

Zayden menyeringai tipis.

“Yang ada nanti justru mereka yang nyerah duluan.”

Tiba-tiba—

KREEEK…

Pintu rooftop terbuka.

Elric muncul.

Langkahnya tetap tenang, wajahnya tetap dingin seperti biasa. Namun ada sesuatu yang samar berubah—sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

Keano langsung melirik.

“Nah, akhirnya muncul juga. Tumben lama. Biasanya lo paling cepet, Ric.”

Elric menjawab singkat.

“Macet.”

Zayden langsung mengangkat alis.

“Macet? Jam segini?”

Keano langsung menyikut lengan Elric.

“Jangan-jangan… ada yang bikin lo telat, nih?”

Elric menatap datar.

“Nggak ada.”

Namun di dalam dirinya—

Kilasan kejadian pagi tadi kembali muncul tanpa izin.

Vexa—seorang gadis yang cerewet.

Pelukan hangat yang tiba-tiba.

Dan detak jantungnya yang… tidak seperti biasanya.

"Kenapa gue masih kepikiran…" batinnya gelisah.

Ia mengalihkan pandangan, berusaha kembali dingin.

Ryuga melirik sekilas.

“Lo telat.”

Elric, “Ada urusan.”

Jawaban singkat. Tegas. Tidak memberi ruang untuk ditanya lebih jauh.

Zayden menyeringai.

“Menarik.”

Keano langsung heboh.

“Fix! Ini pasti urusan cewek!”

Elric menatap tajam.

“Mulut lo terlalu berisik.”

Keano mengangkat tangan.

“Oke, oke! Tapi gue yakin… suatu hari gue bakal tau.”

Elric tidak menjawab.

Namun dalam diam…

Untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya ingin menyangkal.

Sementara itu, di kelas 11 IPS 5, suasana jauh berbeda.

Ruangan itu riuh oleh suara siswa yang bercanda, kursi yang bergeser, dan tawa yang saling bersahutan. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela, menerangi meja-meja yang mulai terisi.

Quinn baru saja duduk, menyandarkan dagunya di tangan, ketika—

BRAK!

Pintu kelas terbuka.

Vexa masuk dengan senyum lebar dan langkah ringan.

Aura bahagia di dalam dirinya terlalu mencolok.

Quinn langsung menyipitkan mata.

“Kesambet lo?”

Vexa berhenti, lalu menoleh dramatis.

“Gue lagi bahagia. Jangan dirusak.”

Quinn mengangkat alis.

“Serem. Lo kayak orang dapet warisan.”

Vexa langsung duduk di sebelah Quinn, mengguncang lengannya.

“Lebih dari itu!”

Quinn, “Apaan sih?”

Vexa menarik napas panjang… lalu—

“GUE NAIK MOTOR SAMA ELRIC!”

Quinn langsung melotot.

“Hah?!”

Vexa mengangguk cepat, matanya berbinar terang.

“Iya! Tadi mobil gue mogok, terus dia datang… kayak—kayak pahlawan!”

Quinn menahan tawa.

“Pahlawan dingin tanpa ekspresi?”

Vexa mencubitnya.

“Ih, dengerin dulu!”

Ia berdiri, mulai menceritakan dengan penuh drama.

“Dia turun dari motor… buka helm… astaga, Quinn… rambutnya, mukanya—GILA! Gue hampir lupa napas!”

Quinn menatap datar.

“Sayang banget lo nggak pingsan sekalian.”

Vexa, “GUE SERIUS!”

Quinn tertawa kecil.

Vexa lanjut, makin heboh.

“Terus dia nawarin gue nebeng! TANPA GUE MINTA!”

Quinn, “Langka.”

Vexa mengangguk setuju.

“BANGET!”

Quinn menyilangkan tangan.

“Terus lo langsung peluk dia, kan?”

Vexa terdiam sebentar.

Lalu tersenyum lebar, disusul anggukan semangat.

“Iya dong...”

Quinn langsung menepuk dahinya.

“Ya ampun… gue hafal banget kelakuan lo.”

Vexa, “Eh... tapi dengerin! Dia kaku banget pas gue peluk! Kayak robot!”

Quinn terkekeh.

“Ya iya lah. Itu Elric. Disentuh cewek mungkin baru sekali seumur hidup.”

Vexa tersenyum bangga.

“Berarti gue spesial.”

Quinn meliriknya sinis.

“Atau lo korban pertama.”

Vexa mencibir.

“Lo iri ya?”

Quinn langsung menjawab cepat.

“Iri? Sorry ya. Gue punya Ryuga.”

Vexa terdiam sejenak… lalu mengangguk.

“Valid sih.”

Mereka saling menatap.

Lalu—

Tertawa bersama.

Namun di balik tawa itu…

Quinn memperhatikan sahabatnya.

Ada sesuatu yang berbeda.

Bukan sekadar heboh biasa.

Tapi… getaran perasaan yang mulai tumbuh.

Dan di sisi lain—

Di rooftop, Elric berdiri diam.

Angin menyapu wajahnya.

Namun pikirannya tidak setenang biasanya.

Untuk berhasil membuat dunianya yang datar… sedikit berwarna.

Dan entah mengapa—

Ia tidak ingin warna itu segera menghilang.

...----------------...

Sementara itu di sisi lain kota, sebuah supermarket tampak ramai di akhir pekan. Deretan rak tertata rapi, dipenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga. Aroma roti panggang dari sudut bakery bercampur dengan wangi buah-buahan segar di bagian depan. Troli-troli berderit halus saat didorong para pengunjung yang sibuk memilih barang.

Di salah satu lorong, Selena sedang memilih bahan masakan. Tangannya lincah mengambil beberapa sayuran, sesekali membaca label dengan teliti. Wajahnya tampak tenang, hingga—

Seseorang menabraknya pelan.

“Eh, maaf—”

Keduanya sama-sama menoleh.

Dan waktu seakan berhenti.

Mata mereka saling membesar.

“...Selena?”

Selena membeku, lalu matanya melebar tak percaya.

“Adriana?!”

Hening sepersekian detik—

Lalu—

“ASTAGA!!!”

Mereka langsung saling berpelukan erat di tengah lorong supermarket, membuat beberapa orang menoleh heran.

Adriana menepuk-nepuk punggung Selena dengan heboh.

“Ya ampun, Sel! Ini beneran kamu?! Aku kira aku salah lihat!”

Selena tertawa haru.

“Aku juga, Na! Kamu nggak berubah sama sekali!”

Adriana menjauh sedikit, menatap wajah Selena dari atas sampai bawah.

“Kamu makin cantik, ya ampun! Ini rahasianya apa sih?!”

Selena tertawa kecil.

“Apaan sih… kamu juga sama aja, Na.”

Adriana langsung menggandeng tangan Selena.

“Nggak, nggak! Kita nggak bisa ngobrol di sini. Yuk, ke kafe aja! Aku kangen banget!”

Selena tersenyum hangat.

“Ayo.”

Tak lama kemudian, mereka sudah duduk di sebuah kafe kecil di dalam supermarket. Suasananya hangat, dengan aroma kopi yang menenangkan dan alunan musik lembut yang mengisi ruangan.

Dua cangkir kopi hangat terhidang di meja.

Namun perhatian mereka jelas bukan pada kopi itu.

Mereka masih saling menatap, seolah tidak percaya akhirnya bisa bertemu lagi setelah sekian lama.

Adriana menggenggam tangan Selena.

“Sel… aku beneran kangen banget sama kamu.”

Selena tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca.

“Aku juga, Na. Terakhir kita ketemu… waktu kelulusan SMA ya?”

Adriana mengangguk cepat.

“Iya! Setelah itu hidup kita sibuk masing-masing… nikah, punya anak… eh tau-tau udah tua aja.”

Selena tertawa.

“Jangan bilang tua, dong.”

Adriana ikut tertawa, lalu tiba-tiba wajahnya berubah antusias.

“Eh! Ngomong-ngomong anak kamu mana?”

Selena mengangkat alis.

Adriana menepuk dahinya sendiri.

“Aduh… siapa ya namanya? Anak kamu yang cantik itu… yang dulu kecil banget, lucu… pipinya tembem…”

Selena tersenyum.

“Rara.”

Adriana langsung menunjuk.

“NAH! IYA! Rara!”

Ia menutup mulutnya, matanya berbinar.

“Ya ampun… dulu terakhir aku lihat dia masih umur tiga tahun! Masih kecil banget, lari-larian sambil manggil ‘Mama Selenaaa’ gitu…”

Selena tertawa kecil, membayangkan masa lalu.

“Iya… sekarang udah besar.”

Adriana mencondongkan tubuh, penuh rasa penasaran.

“Gimana kabarnya?”

Selena menjawab lembut, penuh kebanggaan seorang ibu.

“Dia baik, Na.”

Adriana menghela napas lega.

“Syukurlah…”

Lalu—

Tatapan Adriana berubah… jadi lebih nakal.

“Eh… Rara udah punya pacar belum?”

Selena sedikit terkejut dengan pertanyaan mendadak itu.

“Hmm… kenapa?”

Adriana langsung tersenyum lebar.

“Kalau belum… jodohin aja sama anak aku, Ryuga!”

Selena mengernyit.

Adriana melanjutkan dengan semangat.

“Kebetulan dia juga masih single!”

Selena terdiam sejenak.

Nama itu…

Terasa familiar.

Selena mengulang pelan.

“Ryuga…?”

Adriana mengangguk cepat.

“Iya! Kamu lupa? Anak kita kan seumuran! Dulu mereka pernah main bareng juga, walau masih kecil banget sih.”

Selena mencoba mengingat.

Dan perlahan…

Potongan ingatan itu kembali.

Seorang anak laki-laki kecil.

Yang dulu sering datang bersama Adriana.

Yang namanya…

Ryuga.

Mata Selena sedikit melebar.

"Ryuga… pacarnya Rara juga namanya Ryuga… jangan-jangan…" batinnya menebak-nebak.

Adriana masih terus berbicara penuh semangat.

“Serius, Sel! Anak aku itu ganteng banget, tinggi, pinter, dingin sih dikit… tapi aslinya baik! Cocok banget sama Rara!”

Selena tersenyum kecil, namun kali ini ada makna lain di balik senyumnya.

“Na…”

Adriana masih belum berhenti.

“Kita jodohin aja! Lumayan, jadi besan! Kebayang nggak sih? Persahabatan kita lanjut ke anak-anak kita—”

Selena menggeleng pelan, memotong dengan lembut.

“Rara… udah punya pacar.”

Hening.

Adriana langsung terdiam.

Senyumnya perlahan memudar.

“Oh…”

Ia tertawa kecil, tapi terdengar sedikit dipaksakan.

“Udah punya pacar ya…”

Selena mengangguk pelan.

“Iya.”

Adriana menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang.

“Yah… telat aku berarti…”

Ada nada kecewa yang tidak bisa disembunyikan.

Selena menatap sahabat lamanya itu dengan lembut.

Ia tahu betul perasaan Adriana.

Keinginan sederhana… untuk mengikat kembali hubungan lama dalam bentuk yang lebih dekat.

“Maaf ya, Na…”

Adriana cepat-cepat menggeleng.

“Eh, nggak! Nggak usah minta maaf! Namanya juga jodoh… nggak bisa dipaksa.”

Ia tersenyum, meski ada sedikit luka halus di baliknya.

“Yang penting Rara bahagia, kan?”

Selena tersenyum hangat.

“Iya.”

Namun dalam hati Selena—

Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh.

"Ryuga… pacarnya Rara… apa mungkin…?"

Sementara itu, Adriana menatap cangkir kopinya.

"Kalau aja… aku ketemu Selena lebih cepat… mungkin…" batinnya berandai-andai.

Ia tersenyum kecil, lalu mengangkat wajahnya kembali.

“Eh tapi aku tetap penasaran! Pacarnya Rara kayak gimana sih? Harus lebih hebat dari anak aku, dong!”

Selena tersenyum misterius.

“Hmm… nanti juga kamu tahu.”

Dan tanpa mereka sadari—

Takdir sedang tersenyum diam-diam.

Karena nama yang mereka bicarakan…

Adalah orang yang sama.

...****************...

1
Nur Halida
fiks kael kembarannya quinn
ollyooliver🍌🥒🍆
kael?🤔
ollyooliver🍌🥒🍆
lah ngapain emosi kalau ibunya sendiri baru tau dan meminta memperkenalkan dengan baiik.
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌
Nur Halida
eh beneran kael saudaranya quinn??
Adinda
mungkin kael kakaknya Quin mungkin selena dan armand kehilangan anak pertamanya
Nur Halida
jangan jatuh cinta pada kael ya quinn...😔
Nur Halida
apa iya kael kakaknya quinn?
hmmm 🤔
Angelia nikita Sumalu: Masih plot twist sih...
apa mungkin Kael kembarannya quiin tapi terpisah
total 2 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ryuga mmng anak yg buat ibunya darting, terlalu cuek sama ibunya sendiri bahkan hal untuk yg wajar seorng ibu tau. gk bagus sikap seperti itu pd ibu sendiri, klau orng lain wajar.
ollyooliver🍌🥒🍆
kemarin kan baru ketemu, udab dikota yg sama lagi..gk mungkin gk akan ketemu. lebay
Nur Halida
emang kalo berhadapan dg quinn ryuga gak bisa berkutik😁
Nur Halida
wkwkwkwk.. di kenalin sama anak sendiri🤣🤣🤣
Nur Halida
udah pacaran mareka mah gak usah dijodohin lagi🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
lamjuttt
Nur Halida
ada ada aja nih si vexa 🤭
Yudi Chandra: hehehe....ganjen dia🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya emang ufah terlamabat kael karena quinn udah punya ryuga seorang😁jadi sebelum perasanmu semakin dalam kamu harus lupain quinn biar gak sakit2 banget entar😁
Yudi Chandra: betul tuh betul😅😅😅
total 1 replies
Durahman Rahman
sangat baguss
Yudi Chandra: makaciiiiiih....🙏🙏🙏🙏
kalau ada kritik dan saran tulis aja ya. aku terima semua masukannya🤗🤗🤗🤗
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
kalau tau, knp masih berharap dodol!😏
Yudi Chandra: iya tuh. dodol banget emang😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
aku selalu dukung kamu ga. .😍😍😍
Yudi Chandra: hehehe...aku juga😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
quinn jangan jatuh cinta sama kael quinn ...ingat ryuga quinn... kasihan ryuga quinn udah nunggu kamu lama...
Yudi Chandra: iya betul. kasian Ryuga ya kan🤗🤗🤗😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Yudi Chandra: namanya cinta itu buta lo. naomi cuma mau dapetin cintanya🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!