NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan ke Jenewa dan Bayang-bayang Jerman

Hujan gerimis halus mengguyur jalanan kota tua Geneva ketika mereka melangkah keluar dari hotel sederhana di Rue de Lausanne. Udara dingin menempel di kulit, membuat napas terlihat seperti asap putih. Gedung-gedung berfasad klasik dengan jendela tinggi dan balkon besi berderet rapi, lampu jalan berbentuk bola memancarkan cahaya kuning lembut. Aroma kopi dan roti dari kafe-kafe kecil yang baru buka menusuk hidung. Mereka bergegas ke gedung United Nations, tempat konferensi etika medis berlangsung, menenteng tas berisi materi presentasi. Jaket tebal yang mereka kenakan tidak cukup menahan dingin, namun semangat mereka menghangatkan suasana.

Di depan gedung, bendera berbagai negara berkibar, termasuk Merah Putih. Patung kursi raksasa setengah patah berdiri di depan, simbol perlawanan terhadap perang. Mereka melangkah masuk, melewati pemeriksaan keamanan, menunjukkan badge peserta. Dalam ruangan konferensi, ratusan kursi tersusun rapi, layar besar menampilkan jadwal acara. Peserta dari berbagai negara berbicara dalam bahasa mereka, terdengar campuran bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Arab, dan lainnya. Aroma kopi, teh, dan kue croissant tersebar. Mereka duduk di baris tengah, memegang catatan, kepala diangkat, mata berbinar.

Sesi pertama adalah pembukaan. Seorang wanita paruh baya berambut pendek, Presiden GREC, berbicara dengan bahasa Inggris beraksen Prancis, kemudian diikuti oleh terjemahan dalam empat bahasa. Ia menyambut peserta, berbicara tentang pentingnya etika dan persetujuan. “Hari ini,” katanya, “kita belajar dari satu sama lain. Karena pelanggaran di satu negara berarti ancaman di negara lain.” Tepuk tangan menggema. Ia kemudian memperkenalkan panelis. Ketika nama Profesor Dimas disebut, semua mata mengarah ke mereka. Profesor berdiri, mengangguk, berjalan ke panggung, diikuti oleh Tento, Rina, Budi, Perikus, Sondi, dan Pak Hadi. Mereka memegang mikrofon, pandangan tegas.

Rina mulai berbicara, suara jelas dan percaya diri. Ia menceritakan tentang dirinya sebagai perawat pabrik yang menolak program kesehatan palsu, tentang bagaimana ia melarikan diri, menemukan keberanian untuk bersuara, dan menemukan keluarga baru. Profesor berbicara tentang etika penelitian di negara berkembang, peran pemerintah, dan bahaya politisasi ilmu. Perikus berbagi pengalaman komunitas, memberi contoh minyak kayu putih sebagai humor. Budi membawa lukisan-lukisan kecil dan menunjukkan gambar reog menempel pelacak ke kapal. Tawa kecil terdengar. Pak Hadi berbicara singkat, suaranya bergetar. “Saya bukan aktivis,” katanya. “Saya seorang ayah. Saya tidak ingin ayah lain merasakan apa yang saya rasakan.” Sondi menyanyikan sebuah syair Batak, suaranya melengking, membuat ruangan hening. Tepuk tangan dan tangis bercampur. Mereka selesai, menunduk, mendapat standing ovation.

Setelah panel, banyak peserta mendekati mereka. Seorang wanita Afrika Selatan berjilbab, Dr. Lindiwe, memperkenalkan diri sebagai kepala LSM etika penelitian. “Kalian mengingatkan saya pada kasus di negara kami,” katanya. “Mari kita bekerja sama.” Seorang pria kurus berkacamata dari Brazil, Profesor Silva, bercerita tentang pelanggaran di Amazon. “Kita satu perjuangan,” katanya. Seorang jurnalis Jerman muda, bernama Anna, mengenakan jaket wol, mendekat. “Saya dari Berlin. Saya menulis tentang pelanggaran penelitian. Bolehkah saya mewawancarai kalian?” tanyanya dalam bahasa Inggris dengan aksen. Mereka setuju. Anna mengeluarkan notebook, mencatat. “Saya juga ingin cerita tentang Dr. Klaus,” katanya. “Kalian tahu tentang dia?” Mereka saling pandang. Profesor mengangguk. “Kami baru mendengar. Apakah kamu tahu lebih banyak?” tanya Rina. Anna menatap mereka serius. “Ya. Klaus adalah ilmuwan kontroversial di Jerman Timur. Ia bekerja dengan perusahaan farmasi, mengembangkan modul neuro. Ia dituduh melakukan eksperimen ilegal, namun tak pernah terbukti. Sekarang ia terlibat B18.”

Pertemuan ini memperluas jaringan mereka. Mereka menghadiri lebih banyak sesi, mendengar kisah dari India, Nigeria, dan Peru. Mereka bertemu Dr. Elise, perwakilan WHO, yang menawarkan bantuan. “Kita perlu regulasi global yang lebih kuat,” katanya. “Setelah konferensi, saya akan menghubungi kalian.” Mereka senang, namun juga kewalahan. Di luar sesi, mereka makan siang di kafetaria PBB. Menu hari itu: sup sayuran, pasta, salad, keju. Budi mencoba keju Gruyère. “Ini bau kaki tapi enak,” katanya, membuat yang lain tertawa. Perikus memesan chicken curry, aroma rempahnya mengingatkan rumah. Pak Hadi memesan sup, memuji pelayan dengan bahasa Tarzan. Pelayan tersenyum, mengucapkan “Danke” dengan logat Swiss Jerman.

Malam hari, mereka berjalan di tepi Danau Geneva. Air tenang, memantulkan lampu-lampu kota dan bulan yang hampir purnama. Udara dingin, angin bertiup, merontokkan daun maple. Mereka memakai jaket. Mereka melihat Jet d’Eau, air mancur tinggi yang menyembur ke langit. Budi menatap terpesona. “Aku ingin mandi di sana, tapi mungkin dilarang,” katanya. Mereka tertawa. Mereka duduk di bangku, memakan cokelat Swiss dari kios. Rina berkata, “Aku tidak percaya kita di sini.” Tento menangguk. “Ini gila. Tapi ini menunjukkan, jika kita bersuara, dunia mendengar,” katanya. Pak Hadi memandang air. “Tapi kita tidak boleh lupa, di rumah masih banyak yang menunggu.” Mereka diam, memikirkan Joko, Karin, dan lainnya.

Esoknya, mereka menghadiri workshop, bertukar ide. Mereka diajak untuk menandatangani pernyataan bersama. Mereka setuju. Mereka juga diundang ke Universitas Geneva untuk berbicara di kelas mahasiswa. Mereka pergi, menyapa mahasiswa dengan bahasa Inggris. “Saya datang dari warung kopi di Malang,” kata Tento, disambut tawa. Mahasiswa tertarik. “Kami tidak tahu hal seperti ini masih terjadi,” kata salah satu mahasiswa. “Terima kasih sudah datang.”

Pada hari terakhir konferensi, Anna datang ke hotel mereka. Ia membawa folder. “Aku punya informasi lebih banyak,” katanya. “Klaus sedang menyiapkan pertemuan di sebuah kastil tua di Sachsen. Ada investor dari Rusia, China, dan Timur Tengah. Mereka mau membeli B18 untuk kepentingan militer. Ini bukan hanya tentang farmasi, tetapi senjata biologis.” Mereka menelan ludah. “Ini lebih besar dari yang kami bayangkan,” kata Rina. Anna menatap mereka. “Aku ingin pergi ke sana. Aku tahu jalan. Tapi aku butuh kalian. Karena kalian punya bukti dan keberanian.” Mereka menatap satu sama lain. Budi menggaruk kepala. “Kastil? Ini seperti film James Bond,” katanya. Mereka tertawa, namun mata mereka serius. Profesor menimbang. “Kita harus berpikir,” katanya. “Ini berbahaya. Kita bukan agen. Tetapi jika kita bisa mencegah B18, kita harus.”

Malam itu, mereka berdebat di kamar hotel. Lampu lampu kamar bersinar redup, tirai ditutup. Suara musik dari bar hotel terdengar pelan. Rina berkata, “Kita baru saja melewati badai. Apakah kita berani menghadapi B18 di luar negeri?” Perikus menatap jendela. “Kita selalu berani, tapi kita harus tahu batas,” katanya. Budi mengangkat tangan. “Aku cinta petualangan, tetapi ini bisa membuat kita ditangkap, atau lebih buruk,” katanya. Profesor duduk di kursi, menatap peta Jerman di layar tablet. “Dr. Klaus harus diserahkan pada Interpol. Kita bisa memberi informasi kepada mereka, tanpa harus masuk kastil,” katanya. Pak Hadi menahan napas. “Tapi siapa tahu kapan Interpol bergerak? Mereka lambat. Sementara itu, B18 bisa bocor ke tangan berbahaya,” katanya.

Di tengah diskusi, telepon Profesor berdering. Suara yang familiar di seberang: Maya. “Aku hack email Klaus. Dia akan mengadakan pertemuan tiga hari lagi. Lokasinya di Kastil Wehlen, dekat Dresden. Tamu datang jam tiga sore. Dia menyewa band orkestra untuk alibi. Ada pintu rahasia di lantai dua. Aku punya blueprint. Kalian bisa masuk jika mau. Tapi aku tidak bisa menjamin keselamatan.” Mereka semua menelan ludah. Ini nyata. Mereka teringat film-film action. Apakah mereka bisa?

Keputusan akhirnya dibuat. Mereka akan memberi informasi kepada Interpol melalui saluran resmi, tetapi juga mengirim tim kecil untuk memverifikasi, bekerja dengan Anna. “Kita harus memastikan B18 tidak keluar,” kata Rina. “Kita akan butuh bantuan dari aktivis Eropa.” Professor setuju. “Aku akan tetap di sini, menghubungi Interpol, WHO, dan jaringan. Kalian pergi sebagai turis, dengan Anna. Jangan bertindak bodoh,” katanya. Budi mengangkat bahu. “Aku selalu bodoh, tapi aku akan mencoba tidak terlalu,” katanya. Rina menepuk punggungnya. “Aku percaya kamu,” katanya.

Pada pagi keberangkatan, mereka menyiapkan tas kecil dengan pakaian gelap, kamera, dan catatan. Anna menjemput mereka dengan mobil sewaan. “Ini mobil yang bisa melewati medan berat,” katanya. Mereka melaju ke utara, melewati jalan bebas hambatan Swiss yang bersih, kemudian masuk Jerman. Pemandangan berubah: pepohonan cemara, rumah-rumah kayu, lapangan gandum. Bau rumput dan hewan ternak. Mereka memutar radio mobil, mendengarkan lagu Jerman yang tidak mereka mengerti. Mereka tertawa saat Budi mencoba menirukan lirik. Mereka melewati perbatasan tanpa pemeriksaan. Di jalan, mereka melihat papan penunjuk ke Dresden, Leipzig, Berlin. Mereka keluar di jalan kecil menuju Wehlen. Bukit-bukit batu pasir Elbe memanjakan mata. Kastil Wehlen berdiri di atas bukit, dikelilingi hutan dan sungai.

Mereka memarkir mobil di desa terdekat, berjalan kaki di hutan, angin dingin menerpa. Aroma dedaunan basah dan tanah memenuhi hidung. Suara langkah mereka meredam oleh lumut. Kastil tua itu tampak megah, tembok batu tinggi, atap berwarna merah. Lampu-lampu dinyalakan, musik klasik terdengar, orang-orang berseragam tuxedo memasuki halaman. Mereka memakai jaket tebal, topi wol, mencoba menyamarkan diri sebagai tamu. Anna memberikan mereka badge palsu. “Kita masuk dari pintu belakang, melalui dapur,” katanya. Mereka berjalan cepat, melewati aroma roti panggang dan daging. Mereka masuk ke dapur besar, para koki sibuk. Budi hampir tersandung panci, memegang kursi. “Halo,” kata koki dalam bahasa Jerman. Anna menjawab, lalu menarik mereka ke lorong. Mereka menemukan tangga ke lantai dua, sesuai blueprint. Mereka menaiki tangga. Denyut nadi mereka terasa di telinga.

Di lantai dua, lorong gelap. Mereka melihat pintu tertutup. Dari dalam, terdengar suara pria berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Jerman. “This formula will revolutionize neural control,” kata suara itu. Anna membisikkan, “Itu Klaus.” Mereka mengintip dari lubang kunci. Mereka melihat pria paruh baya berkacamata, rambut putih, dengan laptop. Di sampingnya, dua pria berbadan besar. Meja dipenuhi vial cairan biru dan ungu. Klaus menunjuk ke layar. “The B18 variant integrates with the central nervous system within hours. The subject becomes obedient. We can reduce aggression by 75%. Imagine the military applications.”

Mereka menahan napas. Mereka merekam dengan kamera mini melalui celah pintu. Budi memegang catatan. Sementara itu, Anna mengirim pesan ke Interpol dengan koordinat. Mereka menunggu. Tiba-tiba, suara radio Anna bergetar. “Interpol arriving in 10 minutes,” bunyi pesan. Namun, pria bertubuh besar mendekati pintu. Mereka panik. Mereka melompat ke lemari di lorong, menutup pintu, menahan napas. Pria itu membuka pintu, melihat sekitar, lalu pergi. Mereka merasa lega. Lima menit yang terasa seperti selamanya berlalu. Akhirnya, suara sirene kecil terdengar. Polisi Jerman berlari masuk, menjerit dalam bahasa Jerman, “Hände hoch!” Tembakan dilepaskan. Mereka keluar dari lemari, mengikuti Anna. Mereka melihat Klaus berusaha kabur melalui jendela, tetapi ditangkap. Vial B18 disita. Seorang pria berdasi rusak berusaha lari, jatuh. Polisi menangkap. Semuanya terjadi cepat. Mereka keluar melalui dapur, tersenyum. “We did it,” bisik Rina. Mereka menatap kastil dari luar, di bawah cahaya lampu polisi. Mereka melihat Klaus dibawa pergi. B18 disegel.

Hari itu berakhir dengan mereka duduk di café kecil di desa, minum teh panas. Aroma roti dan keju, suara bel gereja, dan angin dingin menyelubungi mereka. Mereka tertawa, menangis, lega. Mereka memandangi ponsel, menerima pesan dari Profesor: “Kalian selamat? B18 diambil? Interpol mengucapkan terima kasih. Kalian gila, tapi pahlawan. Pulanglah.”

Di luar jendela café, salju mulai turun ringan, menutupi atap rumah dan pohon. Ini pertama kalinya mereka melihat salju. Budi keluar, membuka tangan, menampung serpihan salju, tertawa seperti anak kecil. “Ini lebih dingin dari air Danau Toba,” katanya. Mereka menari kecil di bawah salju, memutar seperti reog, merayakan kemenangan kecil di negeri jauh. Mereka tahu perjalanan belum usai, tetapi untuk sementara, mereka menikmati keajaiban salju dan kehangatan persahabatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!