Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Fondue, Brankas, dan Akting Kelas Kakap
Dinginnya udara Pegunungan Alpen menyambut ketiganya saat jet pribadi Adiguna mendarat di Zurich. Namun, atmosfer di dalam kabin jauh lebih dingin daripada salju di luar sana. Nika dan Isabelle duduk berhadapan, dua wajah yang identik namun memiliki aura yang bertolak belakang—seperti api dan es yang dipaksa berada dalam satu kotak kaca.
"Bisakah kau berhenti mengetuk-ngetukkan kuku merah jambumu itu ke meja? Itu sangat mengganggu konsentrasiku," Isabelle mendengus, matanya tetap terpaku pada tablet yang menampilkan denah Bank der Schweizer Alpen.
Nika menghentikan ketukannya, lalu justru menyodorkan sepotong cokelat Swiss ke depan mulut Isabelle. "Makanlah, Anika. Kamu terlalu tegang. Orang tegang biasanya salah pencet kode PIN."
"Jangan panggil aku Anika!"
"Tapi itu namamu di buku harian Ibu," balas Nika tenang, lalu berpaling ke arah Devan yang sedang memeriksa alat komunikasi kecil. "Mas, apa rencana 'perampokan sopan' kita sudah siap?"
Devan mendongak, wajahnya sangat serius. "Bank ini adalah salah satu yang paling aman di dunia. Mereka tidak hanya menggunakan kunci fisik, tapi juga pengenalan retina dan pola langkah kaki. Untungnya, Isabelle memiliki profil yang sangat mirip dengan profil biologis yang didaftarkan Pak Batubara untuk akses darurat keluarga."
"Jadi, skenarionya begini," Devan melanjutkan sambil menatap kedua wanita itu. "Nika akan berperan sebagai 'Nyonya Besar Adiguna' yang sedang ingin memindahkan aset berliannya. Kamu harus membuat keributan yang elegan di lobi utama untuk menarik perhatian kepala keamanan. Sementara itu, Isabelle dan aku akan masuk melalui jalur nasabah prioritas menuju ruang arsip bawah tanah menggunakan identitas ganda."
Dua jam kemudian, di depan gedung bank yang megah dengan pilar-pilar batu granit, Nika turun dari limosin hitam. Ia mengenakan jubah bulu putih yang sangat mewah, topi lebar, dan kacamata hitam yang menutupi matanya. Ia membawa sebuah koper kecil yang sebenarnya berisi... kumpulan kaleng sarden (karena menurut Nika, beratnya pas untuk menyamar sebagai emas batangan).
"Dengarkan aku!" seru Nika dengan aksen yang dibuat-buat sangat manja saat memasuki lobi. "Aku tidak mau tahu! Aku ingin manajer paling senior di sini. Aku tidak bisa membiarkan perhiasanku menginap di tempat yang suhunya tidak diatur dengan benar! Kulit mutiaraku bisa kusam!"
Para penjaga bank yang biasanya kaku mulai merasa terganggu namun juga segan melihat penampilan Nika yang sangat dominan. Manajer keamanan, seorang pria Swiss bernama Hans, segera menghampiri Nika.
"Nyonya, mohon tenang. Kita bisa bicarakan ini di ruang tunggu..."
"Ruang tunggu? Kamu ingin aku duduk di kursi umum? Apa kamu tidak tahu siapa suamiku?" Nika mulai beraksi. Ia menjatuhkan koper "emasnya" ke lantai dengan dentuman keras. "Lihat! Koperku saja sudah stres! Cepat panggilkan manajer umum!"
Di saat perhatian seluruh staf lobi tertuju pada drama "Nyonya Besar" yang sedang menuntut AC khusus untuk mutiaranya, Devan dan Isabelle menyelinap masuk melalui pintu samping menggunakan kartu akses yang telah dikloning.
Di lorong bawah tanah yang sunyi dan beraroma logam dingin, Devan dan Isabelle bergerak cepat. Isabelle menunjukkan kemampuannya yang tak terduga; jemarinya menari di atas panel kontrol pintu brankas dengan kecepatan yang membuat Devan terkesan.
"Papa pikir aku hanya belajar memotong kain di London," bisik Isabelle sambil memasukkan deretan kode enkripsi. "Dia tidak tahu aku pernah magang di firma audit forensik hanya untuk melacak ke mana dia mengirim uang Ibu."
Klik.
Pintu baja tebal itu terbuka perlahan tanpa suara. Di dalamnya, terdapat sebuah rak berisi kotak-kotak deposit. Isabelle menuju kotak nomor 2510—tanggal lahir mereka.
"Ini dia," Isabelle menarik sebuah kotak logam hitam. Saat dibuka, isinya bukan tumpukan uang tunai, melainkan tumpukan surat kepemilikan tanah, saham di beberapa perusahaan tekstil di Eropa, dan sebuah surat wasiat asli yang ditandatangani oleh ibu mereka sebelum meninggal.
"Pak Batubara bukan hanya memisahkan kalian," ucap Devan sambil memeriksa dokumen tersebut dengan bantuan lampu senter kecil. "Dia menggunakan aset Ibu kalian untuk menambal kerugian perusahaannya selama bertahun-tahun. Jika surat ini sampai ke pengadilan, Pak Batubara tidak hanya akan dipenjara karena sabotase, tapi dia akan bangkrut total karena harus mengembalikan seluruh warisan ini pada kalian."
Isabelle memegang surat itu dengan tangan bergetar. "Dia membuatku merasa seperti anak haram yang tidak diinginkan, sementara dia hidup mewah dari uang Ibuku."
"Kita bawa ini keluar sekarang," perintah Devan.
Namun, saat mereka hendak berbalik, alarm bank berbunyi nyaring. Bip! Bip! Bip!
"Sepertinya 'Nyonya Besar' kita sudah kehabisan bahan improvisasi," gumam Isabelle panik.
Kembali ke lobi, Nika sedang dikepung oleh tiga penjaga karena ia tidak sengaja menjatuhkan botol parfumnya yang pecah dan memicu sensor pendeteksi zat kimia.
"Maaf! Itu hanya aroma Chanel No. 5! Kenapa kalian sangat sensitif?" teriak Nika, masih berusaha mempertahankan karakternya.
Devan dan Isabelle muncul dari pintu rahasia di belakang meja resepsionis. Devan segera menyambar pinggang Nika. "Operasi selesai! Lari!"
Ketiganya berlari menuju pintu keluar. Nika, dengan sepatu hak tingginya, masih sempat-sempatnya menyambar sebuah piring berisi cokelat gratis di meja resepsionis sebelum meloncat masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.
"Mas! Aku hampir saja dipenjara di Swiss karena parfum!" seru Nika terengah-engah di dalam mobil yang melaju kencang menuju perbatasan.
"Tapi kita dapat dokumennya, Ni," Devan menunjukkan map hitam itu.
Isabelle duduk di pojok kursi, menatap ke luar jendela ke arah pegunungan yang mulai menjauh. Ia melirik Nika, lalu melirik cokelat yang dicuri Nika.
"Berikan aku satu," ucap Isabelle ketus.
Nika tersenyum lebar, menyuapkan cokelat itu ke mulut saudara kembarnya. "Selamat datang di tim, Anika. Langkah selanjutnya: kita buat Papa menyesal telah membuang salah satu dari kita."
Devan melihat kedua wanita identik itu di kaca spion. Ia tahu, Jakarta akan mengalami guncangan besar saat "Dua Sayap" ini mendarat kembali. Namun, di balik kemenangan itu, Devan melihat sebuah mobil Mercedes hitam terus mengikuti mereka dari kejauhan.
"Sepertinya Papa-mu punya teman di Swiss yang tidak suka rahasianya dicuri," bisik Devan sambil menambah kecepatan.