NovelToon NovelToon
SELAMATKAN AKU

SELAMATKAN AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis / Selingkuh / Cintamanis / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Pertanyaan yang dilontarkan Sazi memanglah sederhana namun berhasil tepat sampai ke tengah dada. Fadli seketika terdiam membeku saat itu

Untuk sepersekian detik dirinya kehilangan kata kata untuk menjawab pertanyaan dari istri kecilnya itu. Mobil masih melaju, Sazi yang sebenernya kepalanya sedikit pusing tapi berhasil mengendalikan rasa mualnya karena sebelumnya ia sengaja tidak sarapan dulu agar tidak muntah didalam mobil.

meskipun didalam mobil suasananya berubah menjadi tegang sedikit. "Bang" ucap Sazi pelan tapi berhasil membuat Fadli menoleh lagi.

Fadlipun menarik nafasnya dalam "kalau saya bilang iya, kamu emangnya siap buat denger semuanya?." jawab Fadli.

Sazi tidak langsung menjawab doa hanya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab "Ya, Sazi siap dengernya kalo Abang mau cerita tentang masa lalu Abang." ucap Sazi sambil matanya lurus kedepan. Namun jemarinya saling bertaut erat dipangkuannya.

"Hmm, kalau itu tentang sekarang,..?." seketika Sazi menelan ludahnya dengan susah payah. "Sazi juga harus siap" jawabnya singkat walau debaran jantungnya berdetak begitu cepat tidak seperti biasanya.

degh.

Seketika Fadli membeku, wajahnya jadi tegang dan kalimat itu bukan sekedar pertanyaan melainkan seperti sebuah peringatan.

Mobil akhirnya berhenti didepan sekolah, namun tidak ada yang langsung turun saat itu, beberapa detik kemudian Sazi menoleh menatap Fadli. "bang, Sazi berangkat sekolah dulu" Sazi meraih tangan Fadli dan menempelkannya di dahi, Fadli yang terkejut pada akhirnya faham ia pun langsung mengusap kepala istrinya dengan lembut, "Hati hati ya, nanti Abang jemput kamu kabarin aja kalau sudah bubar"

Sazi mengangguk "Iya, bang" namun langkahnya terhenti sebelum ia turun dari mobil. Membuat Fadli mengernyit heran "kenapa?."

"Bang, bentar, Sazi mau tanya sesuatu dulu sebelum turun"

"Apa?."

"Hmm,..Abang masih berhubungan sama cewek yang namanya hmm Nadia?."

Degh

Fadli langsung membeku seketika. Pertanyaan itu datang tiba tiba di pikiran Sazi, dengan polosnya ia langsung bertanya pada Fadli mumpung momentnya tepat menurutnya sampai sampai membuat Fadli reflek menggenggam setirnya lebih erat, rahangnya mulai mengeras, kedua netranya sempat ia pejamkan beberapa saat dan ia buka lagi lalu menoleh menatap Sazi yang masih menunggu jawabannya saat itu.

Untuk pertama kalinya ia tidak menghindar lagi. "Iya" Sazi tidak langsung bereaksi tetap tenang dan tidak marah hanya mengangguk pelan saja meski hatinya tertusuk duri sekalipun. "sejauh apa?." tanyanya lagi, makin membuat Fadli malah merasa tak enak hati jauh lebih menakutkan melihat pembawaan Sazi yang begitu tenang.

Lagi lagi fadli menelan ludahnya lagi dengan susah payah. "Abang masih komunikasi aja Zi" jawab Fadli."Cuma komunikasi?." lagi lagi pertanyaannya membuat Fadli merasa terpojokkan kali ini. Sampai bingung harus jawab apa.

"Bang."

"hmm?"

"Jawab?."

Degh

"Bukan sekedar komunikasi aja kan?."

***

Suatu sore Sazi memutuskan untuk pulang lebih awal, menghubungi Fadli namun tidak ada jawaban l, mengirim pesan pun tidak ada balasan, mau tidak mau ia berjalan kali seperti biasa meski jaraknya tidak lah dekat.

Saat masuk rumah ia melihat Fadli yang hendak keluar rumah dengan ekspresi panik dan terburu buru. "Mau kemana bang?" tanya Sazi sambil mencium tangan Fadli.

"Astaga Abang lupa jemput kamu, Abang dari tadi belum cek hp Zi maaf ya, Abang ini buru buru mau keluar, nanti Abang usahain pulang cepat, kamu jangan lupa makan ya, Abang pamit assalamualaikum." sahut Fadli yang terlihat panik dan terburu buru ia langsung mengecup pipi Sazi dan langsung berlari setelah mengambil kunci mobil dengan cepatnya.

Fadli langsung mengambil kunci mobil dan langsung tancap gas, Sazi hanya terdiam tanpa banyak bicara lagi, tidak juga protes ia membiarkan Fadli pergi begitu saja saat itu. Sazi menuju kamarnya mengganti baju dan pergi ke bawah ke area dapur ia langsung membuat telor dadar dan memakannya dengan lahap.

Di apartemen Nadia, Nadia tersenyum ketika melihat Fadli sudah tiba di apartemennya. dan langsung membuka begitu saja pintu apartment Nadia.

"Nad, Nadia." panggilannya panik.

"Kamu datang fad, akunkira kamu enggak datang?."

"Kamu kenapa lagi Nadia, kenapa sih bikin aku khawatir terus?, kamu udah makan belum?."

Nadia hanya tersenyum lalu memeluk Fadli dengan manjanya "Aku kangen sama kamu fad, mungkin aku sempat telat makan dan kecapean jadi asam lambungku kambuh" jelas Nadia.

"sudah makan?."

"Suapin"

"Yasudah duduk sini, aku suapin."

"Fad, makasih ya, sampai detik ini kamu masih belain datang meskipun kamu sibuk, maafin aku sering repotin kamu, tapi sebenarnya aku enggak enak loh sama istri kamu."

"Istri kamu marah enggak kamu kesini?."

Degh

Fadli membeku, ia berusaha untuk tidak ingin membahas Sazi saat bersama Nadia saat itu. Berusaha mengalihkan pembicaraan saat menyuapi Nadia tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar dari Nadia.

Nadia menyadari perubahan ekspresi pada wajah Fadli yang membuatnya tidak nyaman ia pun hanya diam, tak ingin membahasnya lagi. "Eh Fad, nanti setelah ini aku ingin berenang aku yakin kali ini kamu akan kalah dariku, selama ini aku banyak berlatih loh, mungkin dulu aku sering kalah tapi sekarang aku pasti menang"

"Benarkah?, siapa takut ayo."

Keduanya tertawa sampai tak terasa menu dimangkuk sudah tandas tak tersisa. "Selesai, nah gitu dong dihabiskan, setelah ini kamu istirahat dulu saja nanti kita tenang oke."

"Baiklah, kamu tidak buru buru pulang kan fad?."

deg, Fadli terdiam sejenak, padahal dirinya ada janji dengan Sazi saat itu akan membelikan motor listrik namun seolah lupa begitu saja pada akhirnya ia menemani Nadia sampai malam begitu larut barulah ia pulang.

"Assalamualaikum"

"Wassalamu'alaikum, eh Abang baru pulang bang"

"kamu belum tidur Zi?."

"Belum bang, Abang sudah makan?."

"Hmm belum, kamu masak?."

"Hmm, masak gulai ayam, Abang suka?."

"Suka, ayo makan"

"Hmm"tidak banyak bicara Sazi hanya melayaninya dengan baik saat itu tanpa banyak membahas apapun.

Dan tak ingin menagih janjinya, biarlah ia akan mengumpulkan uang sendiri begitulah pikir Sazi. Namun tak lama bel berbunyi tiba tiba saja ada seseorang yang mengirim barang ke rumah itu.

"Atas nama mba Sazi?."

"Iya saya sendiri, ada apa yang mas?."

"Ini silahkan tanda tangan, ada kiriman barang untuk mbak silahkan dibuka."

"Hah, kiriman barang?." ucap Sazi terkejut, karena tidak merasa membeli apapun.

"Kenapa Zi?." tanya Fadli tapi tidak beranjak dari duduknya. Kemudian Sazi menoleh dan berterima kasih pada Fadli, membuat Fadli terheran dan membeku seketika sambil mengingat janji apa yang belum ia tunaikan dan saat Sazi memberitahu tentang motor listrik dirinya begitu terkejutnya bukan main. Ingin bilang tapi tidak tega karena melihat wajah istrinya yang begitu happy, meskipun didalam dirinya masih menyimpan tanda tanya dan kemarahan pada seorang yang telah membelikan barang tersebut tanpa sepengetahuannya.

"Ini bang, Abang jadi beliin motor listrik buat Sazi ya?, makasih ya bang, kirain Sazi Abang lupa."

Jeleger, bak tersambar petir Fadli saat itu.

"Motor listrik?," tanyanya lagi dalam bisiknya.

"Siapa yang belikan untuk Sazi?." seketika Fadli membeku, pikirannya langsung tertuju antara pada Sadewa dan ayahnya, namun ia jadi merasa bersalah sekaligus malunya luar biasa seolah harga dirinya dihancurkan seketika ditampar oleh kenyataan yang ada didepan matanya saat ini.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!