Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Hanya Butuh Data Bukan Fakta
"Kamu tau, kenapa dipanggil datang?"
Satu pertanyaan, sebagai sambutan atas kedatangan Sagara ke mansion Adinata, siang itu.
Sagara tak langsung menjawab. Ia duduk, tak jauh di depan Anjani. Dan, "Nenek rindu," katanya. Dua kata, diucap dengan datar. Bukan bermaksud bercanda. Ia tahu, diminta datang ke mansion bukan untuk reuni keluarga.
Anjani diam Tatapannya memindai wajah tampan cucunya itu. Sorot mata begitu tajam. Begitu dalam. Mustahil Sagara tak paham maksudnya.
Tatapan seperti itu biasanya selalu mengawali kemarahan yang terpendam.
"Lihat!" Anjani memberi isyarat dengan dagu ke atas meja.
Sagara melihatnya. Sebuah map coklat yang terbuka.
"Baca!" Anjani kembali memerintah dengan satu kata.
Sagara mengambil amplop itu. Membukanya. Hanya berisi satu lembar kertas yang bertuliskan data Ariana lengkap.
Hanya melihat sebentar, Sagara sudah meletakkan kertas itu lagi.
"Sudah, Nek."
"Seharusnya dia, yang mengandung anakmu?"
Sagara mengangguk. Cepat. Ringan.
"Lalu, perempuan bernama Elara itu?"
"Nenek tanya dia siapa?" Sagara balik bertanya. Karena Anjani hanya diam, ia melanjutkan ucapannya. "Dia sudah kuperkenalkan di depan, Nenek, dan semua Adinata yang lain."
Anjani menegakkan punggungnya. "Dengar Sagara, kau lebih tau dari siapapun, bahwa aku yang menginginkanmu duduk di kursi ini sekarang."
Sagara diam, tak menyela.
"Dan aku tidak peduli dengan peraturannya, bagiku kau harus duduk di kursi tertinggi Adinata, dengan, atau tanpa punya anak." Anjani kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran itu.
"Jika data ini, hanya aku yang tau, aku tak peduli kau memelihara anak siapa. Kursi itu tetap milikmu." Anjani menghela napas berat. "Tapi, data itu sudah tersebar di lingkungan keluarga. Maka aku harus tegak sebagai penjaga aturan itu, suka atau tidak."
"Aku paham." Sagara mengangguk.
"Berapa waktunya?"
"Dua hari lagi. Sidang keluarga."
Sagara diam.
"Apa tidak cukup?" tanya Anjani.
"Terlalu banyak." Sagara menghela napas ringan. "Aku hanya butuh satu jam untuk merapikan data."
"Aku sudah tetapkan dua hari lagi," kata Anjani.
"Terlalu lama." Sagara bergumam kecil. Yang ada dalam pikirannya, bukan tentang bagaimana ia akan menghadapi sidang keluarga--terkait anak Shafiya yang diakui sebagai anaknya. Tapi tentang membuntungi kekuatan Ravendra. Karena pasti dia yang telah membawa masalah ini ke depan sidang keluarga.
Tidak sampai satu jam, Sagara sudah tiba di Adinata Holding.
Langkahnya yang selalu tegap dan terukur, dikenali oleh semuanya hanya dari suara sepatu. Biasanya di antara mereka tidak ada yang berani mendongak, melihat. Walau tak bisa dipungkiri, ada yang diam-diam mencuri lihat.
"Pak." Kaluna--sekretaris cantik Sagara mendekat. Mencegah langkah si bos dengan laporan yang sudah tersusun.
Sagara tak menoleh, juga tak menghentikan langkah. Lurus ia berjalan menuju ruangannya yang berdiri paling angkuh dengan pintu paling besar.
"Sagara." Kaluna mengejar. Bunyi heelnya membentur lantai marmer, menggema di ruangan kantor yang hening.
Sagara berhenti.
"Berapa lama jadi sekretaris saya?"
Pertanyaan itu keluar tanpa menatap lawan bicaranya.
"Ee." Langkah Kaluna terhenti. Berdiri kaku.
"Masih perlu diajari, dimana tempat seharusnya memberi laporan?" Dan Sagara tidak butuh jawaban. Langkahnya kembali diambil menuju ke ruangan.
Kaluna menarik napas pelan. Sesak. Hembuskan. Lega perlahan.
Sebagai teman yang menempati posisi sekretaris Sagara di kantor pusat Adinata, Kaluna terkadang lupa cara bersikap profesional. Tak jarang ia membawa pertemanan dalam berinteraksi dengan Sagara di kantor.
Padahal, ia tahu Sagara itu profesional dalam segala hal.
"Selalu mengulang kesalahan yang sama." suara Agam terdengar. Ia melangkah beberapa meter di belakang Sagara.
"Sagara bukan tipe sabar." Agam berhenti sejenak di samping Kaluna. "Kalau memang bosan dengan posisimu sekarang. Langsung bilang." Agam kembali menarik langkah. "Yang mau menggantikan, antri," katanya lagi dan terus berlalu. Mengabaikan tatap mata kesal Kaluna.
"Raka sudah di bawah." Agam duduk di sofa dalam ruang itu. Sagara diam, berdiri di depan jendela yang besar. Pemandangan kota terpampang jelas.
"Ravendra menunggu satu jam." Agam lanjut dengan laporan yang lain. "Itu pasti yang akan dilaporkan Kaluna."
"Cari orang untuk menggantikan Kaluna."
Sagara mengucapkan itu tanpa berbalik. Memutuskan nasib seseorang dengan begitu ringan.
"Dipecat?" Agam hanya ingin memastikan. Karena perintah itu sudah jelas.
Tak ada jawaban.
Sagara tidak suka mengulang keputusan.
"Dia bisa bunuh diri," kata Agam. Entah dia serius dengan ucapannya, atau hanya asal-asalan.
"Nyawa orang lain bukan urusanku." Sagara berbalik. Menatap tajam. Bila sudah begitu, tak ada celah lagi untuk menawar apa yang sudah diputuskan.
Agam mengangguk. Meski tatapannya berubah.
Sagara duduk. Menghadapi tumpukan berkas yang perlu ia periksa hari ini.
Raka masuk ke ruangan itu.
Sagara tak mendongak. Tatapannya tak teralih.
“Sudah kamu cek?” tanya langsung.
“Sudah.”
Baru kali itu Sagara berhenti menandatangani dokumen di depannya.
Ia mengangkat pandangan.
“Hasilnya?"
“Tidak ada yang janggal, dalam data medis Shafiya."
Hening sejenak. Agam juga menoleh.
Raka melangkah lebih dekat.
“Data lengkap. Riwayat pemeriksaan jelas. Prosedur sesuai standar.”
Sagara menatapnya lurus.
“Nama dokter?”
“Ada. Terdaftar. Masih aktif di AMC.”
“Ruang tindakan?”
“Valid.”
“Catatan prosedur?”
“Lengkap. Semuanya rapi, bersih. Tak ada kemungkinan ada kesalahan prosedur medis."
Sagara menyandarkan punggungnya.
Tatapannya berubah tipis.
“Jadi semuanya bersih.”
Raka tidak langsung menjawab.
“Secara sistem… iya.”
Sagara menangkap jeda itu.
“Tapi?”
Raka menarik napas.
“Kalau kita percaya pengakuan Shafiya…”
Ia berhenti sejenak.
“Maka ada satu kemungkinan yang tersisa.”
Sagara tidak menyela.
Raka menatapnya.
“Kesalahan manusia. Bisa jadi."
“Spesifik?"
“Pertukaran sampel.”
Ruangan kembali sunyi. Agam kerutkan kening mendengarnya.
Sagara tidak bergerak.
“Jelaskan.”
Raka merapatkan rahangnya sedikit.
“Dalam prosedur tertentu… ada penggunaan sampel yang disiapkan di laboratorium.”
Sagara tetap diam.
“Kalau dalam satu waktu ada dua pasien…” lanjut Raka, “dan terjadi kesalahan pengambilan--maka--"
Raka menatapnya lurus.
“Yang masuk ke tubuh Shafiya… bukan miliknya.”
"Itu baru kemungkinan?" Sagara menatap lurus Raka.
Raka tak langsung menjawab. Hingga akhirnya hanya anggukan saja yang ia berikan.
"Dan aku tidak menerima laporan yang tidak pasti." Sagara kembali alihkan pandangan ke beberapa dokumen di depannya.
"Aku datang karena dipanggil." Raka mengambil tetap duduk. "Bukan melapor," lanjutnya. "Terkait itu, masih ada satu hal yang aku telusuri."
"Selesai dalam dua hari?"
"Kupastikan itu." Raka mengangguk.
"Tentang anak itu, aku tidak butuh validasi." Sagara berkata datar. Ia tak peduli itu anak siapa. Dan bagaimana caranya ia ada. "Aku hanya perlu data lengkap, bahwa itu benar anakku."
Bagi Sagara yang penting anak itu sudah menjadi alasannya tetap berdiri sebagai pimpinan Adinata Holding. Cukup.
"Jadi, aku siapkan audit internal?"
Raka faham arahnya. Sagara ingin pembuktian secara data kalau anak yang dikandung Shafiya adalah darah dagingnya.
Sagara mengangguk. "Penuh. Target unit fertilitas." Sagara ingin merapikan semuanya dari awal, berdasar data. Bukan fakta.
"Itu bisa naik ke dewan."
Raka bukan keberatan, hanya memberitahu resikonya. Audit penuh akan sampai ke dewan komisaris Adinata Medical Center.
"Kau tak bisa jawab?" Sagara tak peduli resiko apapun. Ia justru menantang Raka, sanggup menghadapi itu atau tidak.
"Aku urus semuanya." Tak ada celah untuk menolak Sagara. Ia pemegang kekuasaan tertinggi. Posisi paling aman berada di barisannya.
"Dan penyelidikan itu?" tanya Raka kemudian.
Tentang kehamilan Shafiya.
"Lanjutkan." Perintahnya tegas. "Elara butuh itu."
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...