NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 : Ujung Pisau Di Bawah Bulan

Hutan di luar istana berubah menjadi medan perang.

Tanah basah oleh air dari sihir Noa, pepohonan patah, dan udara dipenuhi aura sihir yang masih bergetar.

Di satu sisi medan—

Maori, roh paus raksasa, melayang di udara seperti penguasa laut yang turun ke daratan.

Gelombang air raksasa terus menghantam tanah.

Noa berdiri dengan tangan terangkat, matanya fokus.

“Jangan biarkan mereka bergerak bebas.”

“Seperti yang kau inginkan.”

Suara Maori bergema dalam.

Air di tanah berputar seperti pusaran.

Para assassin yang tersisa berusaha keluar dari arus air yang menekan mereka seperti tekanan laut dalam.

Sementara itu, beberapa puluh meter dari sana—Anor dan Pemimpin assassin berdiri berhadapan.

Angin malam berhembus pelan di antara mereka. Bulan menggantung tinggi di langit.

Pemimpin assassin menyentuh pipinya yang terluka.

Setetes darah jatuh ke tanah.

Ia menatap Anor dengan mata yang kini jauh lebih serius.

“Sudah lama…” katanya pelan, “aku tidak terluka.”

Anor memutar kedua belatinya di tangannya.

“Harusnya kau pensiun kalau sudah tua.”

Pemimpin assassin menyeringai.

“Terlalu cepat.”

Dalam sekejap—

FWOOSH!

Ia menghilang.

Tanah meledak ketika kakinya menapak. Pedangnya muncul dari samping dengan kecepatan brutal.

CLANG!!

Belati Anor menangkisnya—namun kekuatan serangan itu membuat tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah.

Assassin itu langsung melanjutkan.

SLASH! SLASH! SLASH!

Pedangnya bergerak seperti badai.

Serangan dari atas.

Bawah.

Samping.

Anor menangkis dengan kedua belatinya.

CLANG! CLANG! CLANG!

Percikan api berterbangan.

Namun tekanan lawannya semakin besar.

Pedang assassin itu menghantam lagi—

DUAGH!!

Anor terpental dan menghantam batang pohon. Batang pohon itu retak keras. Ia mendarat dengan satu lutut di tanah. Darah menetes dari lengannya.

Pemimpin assassin berjalan mendekat perlahan.

“Kecepatanmu luar biasa.”

Langkahnya berhenti beberapa meter dari Anor.

“Tapi kekuatanmu kurang.”

Ia mengangkat pedangnya. Energi gelap berkumpul di bilahnya. Udara di sekitarnya terasa berat.

“Serangan berikutnya akan mengakhiri ini.”

Anor menghela napas pelan. Ia mengusap darah di bibirnya.

“Serius amat.”

Namun matanya masih tajam. Ia berdiri perlahan. Belatinya kembali terangkat.

Pemimpin assassin melesat maju.

FLASH!!

Pedangnya menebas dengan kekuatan penuh.

“MATI!”

Namun—

Tiba-tiba tubuh Anor menghilang. Pedang itu hanya membelah udara.

Pemimpin assassin membelalakkan mata.

“Apa?!”

Sebuah bayangan muncul di sisi kirinya.

SHING!!

Belati menyayat bahunya. Darah memercik. Assassin itu memutar tubuh dan menebas balik. Namun Anor sudah melompat mundur.

Ia mendarat ringan.

“Sudah kubilang…”

Anor memutar belatinya.

“Aku akan serius.”

Pemimpin assassin menyeringai lebar.

“Bagus.”

Ia mengangkat pedangnya lagi.

Aura membunuhnya melonjak.

“Kalau begitu… kita akhiri ini.”

Dalam sekejap—

DUA ORANG ITU MELENYAP.

Yang terlihat hanya bayangan bergerak.

CLANG!!

Benturan logam meledak di udara.

Mereka bertabrakan di tengah jalan.

Belati dan pedang saling beradu dengan kecepatan yang hampir tak terlihat.

CLANG! CLANG! CLANG! CLANG!

Percikan api beterbangan seperti hujan bintang.

Anor meluncur rendah—belatinya menyapu kaki lawannya. Namun assassin itu melompat dan menebas dari atas.

SLASH!!

Anor memblokir dengan kedua belati.

Namun tekanan serangan itu membuat tanah di bawah kakinya retak.

Pemimpin assassin menekan lebih keras.

“Kau sudah kalah.”

Pedangnya turun lagi.

Namun—Anor tiba-tiba menyeringai.

“Belum tentu.” Ia menjatuhkan salah satu belatinya.

Pemimpin assassin sedikit terkejut.

Saat itulah—Anor mendekatkan tubuhnya secara tiba-tiba. Gerakan yang terlalu dekat untuk pedang panjang.

Assassin itu terlambat bereaksi.

Belati terakhir di tangan Anor bergerak seperti kilat.

SLASH!!

Bilah itu menembus celah armor tipis di perut assassin itu.

Darah menyembur.

Assassin itu mundur satu langkah. Pedangnya jatuh ke tanah. Ia menatap Anor dengan mata terbelalak.

“Bagaimana…?”

Anor berdiri terengah. Darah juga mengalir dari bahunya dan lengannya.

Ia hampir jatuh.

“Belati,” kata Anor pelan. “Lebih cocok untuk jarak dekat.”

Assassin itu terhuyung. Tubuhnya jatuh berlutut.

Lalu—

THUD.

Ia roboh ke tanah. Sunyi kembali ke hutan.

Anor berdiri beberapa detik… lalu akhirnya jatuh duduk di tanah.

“Ngh…”

Ia menekan luka di perutnya sendiri. Ternyata ia juga terkena tebasan saat pertarungan terakhir. Darah mengalir cukup banyak.

Beberapa meter dari sana—

Noa menoleh.

Maori baru saja menjatuhkan assassin terakhir dengan arus air raksasa.

Maori melayang di atas mereka.

Matanya yang besar memandang medan perang yang hancur.

“Para penyerang telah dihentikan.”

Angin malam kembali tenang.

Hutan yang tadi menjadi medan pertarungan kini dipenuhi jejak kehancuran.

Tanah retak. Pepohonan tumbang. Air dari sihir Noa masih mengalir perlahan seperti sungai kecil di antara akar pohon.

Beberapa tubuh assassin tergeletak tak bergerak.

Di tengahnya—Anor duduk bersandar pada batang pohon, napasnya masih berat.

Noa berlutut di depannya.

Tangannya menyentuh luka Anor, air lembut berpendar biru menutup luka perlahan.

“Jangan bergerak,” kata Noa.

“Kalau lukanya terbuka lagi, aku tidak mau menyembuhkannya dua kali.”

Anor tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

Noa mendengus pelan.

Di atas mereka, Maori masih melayang perlahan seperti paus yang berenang di lautan malam.

Roh air itu mengamati sekitar dengan tenang.

“Musuh sudah tidak ada.”

Namun saat itu—Anor tiba-tiba menyipitkan mata.

“Tidak.”

Noa menoleh.

“Hm?”

Anor menunjuk ke salah satu tubuh assassin yang tadi ia kalahkan. Pemimpin mereka. Tubuh pria itu masih tergeletak.

Namun—

Noa langsung berdiri. Matanya membesar.

“Ini…?”

Tubuh assassin itu perlahan berubah menjadi asap hitam. Seperti bayangan yang terbakar. Beberapa detik kemudian—Tubuh itu menghilang sepenuhnya.

Tidak ada darah.

Tidak ada mayat.

Hanya tanah kosong.

Anor menghela napas pelan.

“Seperti dugaanku.”

Noa menatapnya.

“Ilusi?”

Anor menggeleng.

“Lebih buruk.”

Matanya menjadi serius.

“Itu boneka bayangan.”

Noa langsung mengerti.

Artinya—Pemimpin assassin tidak pernah datang langsung ke sini. Yang mereka lawan hanya perpanjangan tubuhnya. Angin malam bertiup lebih dingin.

Maori memandang ke arah utara.

“Master…”

Suaranya berat.

“Aku merasakan sesuatu.”

Noa menatapnya.

“Apa?”

Maori menyipitkan mata besarnya.

“Energi sihir… sangat besar.”

Arah yang ia lihat adalah—Wilayah Timur.

Tiba-tiba—Di kejauhan langit malam… sebuah pilar cahaya merah gelap muncul. Cahaya itu menembus langit seperti tombak raksasa.

Tanah bahkan terasa bergetar sedikit.

Noa langsung berdiri.

“Tidak mungkin…”

Anor juga menatap langit.

Matanya tajam.

“Sepertinya…”

Ia menghela napas.

“Malam ini belum selesai.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di kejauhan—di kastil keluarga Albrecht—seorang pria tua membaca laporan dengan senyum tipis.

“Jadi begitu.”

Ia menaruh gelas anggurnya.

“Lima assassin elit… semuanya gagal.”

Namun senyumnya justru semakin dalam.

“Menarik sekali, Asterism.”

Matanya menyipit pelan.

“Kalau begitu… waktunya mengirim sesuatu yang lebih kuat.”

Duke Albrecht berdiri di balkon tinggi.

Di hadapannya—lingkaran sihir raksasa menyala merah gelap. Di tengah lingkaran itu berdiri seseorang. Tubuh tinggi. Armor hitam. Aura sihirnya membuat udara terasa berat.

Duke Albrecht tersenyum puas.

“Sudah lama tidak bertemu.”

Sosok itu membuka matanya perlahan.

Matanya bersinar merah.

“Apa yang kau inginkan dariku.”

Duke mengangkat gelas anggurnya.

“Pergilah ke istana.”

Matanya menyipit penuh kepuasan.

“Dan bunuh raja mereka.”

Sosok itu mengangkat pedangnya perlahan.

Aura pembunuhnya jauh lebih besar dari para assassin sebelumnya.

Nama orang itu—Valtheris.

Pembunuh kerajaan.

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!