Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25. BCS
Riak ombak ditengah laut menggulung berlomba ketepian pantai, angin berhembus menyapa para peselancar yang akan berlomba, satu per satu peserta unjuk kepandaiannya dalam berselancar, semua mempunyai trik masing-masing saat melawan gelombang tinggi air laut.
Beberapa peserta bergantian dan saatnya Prasasti menunjukkan bakatnya setelah beberapa bulan tidak ikut festival berselancar karena menyelesaikan studi dan menekuni pekerjaannya barunya.
Jesika memantau Prasasti dari pantai merasa khawatir karena posisi Prasasti dibelakang ombak, ternyata bukan hanya Jesika saja beberapa peserta dan panitia ikut khawatir terjadi sesuatu pada Prasasti.
Panitia menyuruh tim penyelamat mencari keberadaan Prasasti. Festival berselancar itu masuk dalam berita sport televisi. Semua pecinta olahraga mengikuti acara tersebut.
Albi sedang menikmati makan pagi tiba-tiba merasakan detak jantungnya berdegup sangat cepat, tubuhnya bergetar pikirannya tertuju pada Prasasti istrinya. Ia mengambil ponsel diatas meja lalu menghubungi seseorang.
Baru saja mencari kontak, ponselnya berdering langsung diangkat dengan perasaan khawatir. "Ada apa?"
Seseorang memberitahu keadaan Prasasti, Albi merasa dunianya hilang dan pikirannya melayang jauh. Ia tidak bisa berdiam saja dirumah. lalu memutuskan panggilan teleponnya dan berjalan dengan tertatih keluar rumah.
"Sayang, kamu mau kemana? Kaki kamu belum sembuh, nanti kalau kamu jatuh bagaimana? Mama mohon, jangan pergi apapun yang terjadi dengan istrimu Mama yakin dia akan baik-baik saja, dia perempuan hebat," Khasanah memberi kekuatan kepada Albi.
Albi menatap wajah mamanya lekat, hatinya sedikit lebih tenang namun, tidak dengn pikirannya masih diselimuti rasa penasaran. "Aku ingin tahu kejadian disana, Ma,"
Khasanah tahu apa yang dirasakan anaknya, tapi ia tidak mau Albi pergi karena kondisi kakinya masih butuh perawatan dan tidak boleh berjalan terlalu lama. Tulang retak pada kakinya masih proses perbaikan dan harus kontrol rutin.
"Ingat kondisi fisik kamu, kalau kamu saja sakit gimana mau menolong istrimu? Disana sudah ada banyak orang juga tim penyelamat yang membantu istrimu. Jangan keras kepala, lihat kondisi kamu," Khasanah dengan nada sedikit lebih keras.
Albi memutuskan tidak pergi, ia kembali menghubungi orang suruhannya. Beberapa saat kemudian baru diangkat. ”Kemana saja kamu, dari tadi panggilanku tidak diangkat?"
"Maaf tuan, saya dari toilet. Saat ini kami masih mencari Nyonya. Tim penyelamat juga sudah dikerahkan terjun ke laut mencari nyonya," kata orang suruhannya.
”Terus kamu ngapain disitu, kenapa tidak ikut mencari?" bentak Albi.
"Kami juga mencari namun, kami dilarang ikut oleh tim penyelamat," jawab orang tersebut.
Albi memutuskan panggilan sepihak kemudian berjalan masuk ke kamar untuk beristirahat karena kakinya terasa sakit. Ia merebahkan tubuhnya ditempat tidur dan tidak lama tertidur.
Khasanah akan memberikan obat, melihat Albi tidur tidak berani membangunkannya, meletakkan obat disamping tempat tidur lalu keluar dan menutup pintu.
"Apa Albi baik-baik saja?" tanya Abdi menghabiskan minum teh.
"Sepertinya sedang tidur," jawab Khasanah duduk disampingnya.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu," Abdi berpamitan kepada istrinya sambil mencium kepalanya lalu berjalan menuju mobil yang sudah siap mengantar ke kantor.
Ditempat festival terjadi kericuhan karena kehilangan satu peserta lomba. Hampir dua jam tim penyelamat mencari keberadaan Prasasti di sekitar tempat batas berselancar tak membuahkan hasil.
Jesika duduk di bebatuan menangis dalam pelukan Bisma kekasih sekaligus suaminya. Sedari tadi ia menunggu kembalinya Prasasti.
Teman-teman Albi juga turun tangan membantu mencari keberadaan Prasasti. Sampai di tengah laut, mereka berkeliling sampai jauh.
"Sepertinya aku melihat sesuatu," kata Dasa, pandangannya tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya lalu menghilang.
Dasa menekan gas perahu menuju benda tersebut dengan cepat. Semua temannya saling pandang kemudian beralih mengikuti arah kemana Dasa melihat namun, tidak ada tanda apapun.
Perahu mereka berhenti Dasa langsung terjun ke laut mencari sesuatu yang menarik perhatiannya, teman-temannya heran melihat tingkah Dasa yang begitu cepat turun ke air.
Dasa mencari ke dalam air laut, benar saja dugaannya tidak salah, tangan yang menggapai dipermukaan air laut adalah milik Prasasti. Ia berenang menuju Prasasti yang hendak tenggelam. Entah apa yang terjadi dengannya sampai tenggelam, Dasa dengan gerak cepat meraih tangan Prasasti dan membawa kepermukaan.
Tangan Dasa menggapai meminta pertolongan, beberapa temannya membantu mengangkat Prasasti ke dalam perahu, Dasa keluar dan naik ke atas perahu.
"Prasasti," teriak mereka bersamaan.
Dasa dan teman-temannya merasa lega menemukan Prasasti namun, hati mereka merasa khawatir dengan kondisinya.
"Coba periksa apakah nadinya masih berdenyut?" perintah Dasa dengan napas tersengal.
Bisma memeriksa denyut nad, beberapa saat kemudian mengangguk. Semua merasa lega karena Prasasti masih hidup. Perahu mereka menuju perahu tim penyelamat untuk memberitahu kalau mereka menemukan korban.
"Lihat disana," ucap salah satu tim penyelamat yang menggunakan perahu karet.
Tim penyelamat melihat ke arah sebuah benda ditengah laut tak jauh dari tempat mereka. mereka bergerak menuju benda tersebut. Begitu dekat ternyata sebuah papan selancar yang digunakan oleh Prasasti karena ada tulisan namanya.
Para tim penyelamat merasa ada yang tidak beres, mereka terkejut melihat hanya papan sedangkan orangnya tidak ada. Pandangan mereka menyapu seluruh permukaan air laut.
"Sepertinya mereka menemukan korban," kata salah satu tim penyelamat bernama Dery.
"Benar sekali, mereka menuju kemari," sahut Sabri temannya.
Perahu Dasa dan temannya mendekat ke perahu tim penyelamat. "Kami sudah menemukan korban, dan kami akan membawa langsung ke rumah sakit terdekat,"
"Silahkan, semoga langsung mendapat penanganan dari Dokter," sahut salah satu tim penyelamat.
Perahu mereka menuju pantai, begitu sampai Dasa dan teman-temannya membawa Prasasti masuk ke dalam mobil. Jesika menangis melihat kondisi Prasasti, ia ikut mereka ke rumah sakit.
”Maafkan aku, Prasasti. Aku sudah membuatmu seperti ini," Jesika menangis sambil menggenggam tangan Prasasti yang terasa sangat dingin.
"Jangan menangis, Prasasti pasti baik-baik saja. Dia perempuan kuat," Bisma menenangkan istrinya.
Mobil sampai dirumah sakit Prasasti di bawa masuk menggunakan brangkar memasuki IGD. Suster memanggil Dokter untuk memeriksa pasien. Beberapa menit seorang Dokter masuk memeriksa pasien Prasasti.
Jesika dan teman lainnya menunggu diluar. Dasa menelpon Albi namun, tidak diangkat. Ia menelpon Abdi papanya Albi langsung diangkat.
"Maaf, om. Saya ingin menyampaikan kabar kalau Prasasti ada di rumah sakit..." kata Dasa melihat ponselnya gelap ternyata batrenya habis.
”Kenapa?" tanya Abas.
”Batrei habis," jawabnya dengan wajah kesal.
"Pakai punyaku," tawar Bisma namun, baru akan memberikan kepada Dasa ponselnya berdering tertera nama Albi langsung diangkat.
"Kenapa tadi Dasa menelponku, giliran ditelepon balik tidak aktif," kata Albi dengan suara kesal.
"Batrenya habis. Bi, istrimu sekarang ada dirumah sakit, ia tenggelam waktu berselancar," kata Bisma.