Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Ashlyn, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Ashlyn adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Malam ini, mansion utama keluarga Michael tampak lebih terang dari biasanya. Karpet merah digelar di aula utama untuk menyambut Ashlyn. Bagi ayah Michael, Ashlyn bukan sekadar calon menantu; dia adalah peninggalan terakhir dari sahabat terbaiknya yang tewas dalam tragedi berdarah lima tahun silam.
Mansion utama keluarga Michael selalu terasa seperti rumah kedua bagi Ashlyn. Sejak ayahnya tiada lima tahun lalu dalam tragedi besar itu, keluarga inilah yang menjadi pelindungnya. Bagi Ashlyn, ayah dan ibu Michael sudah seperti orang tuanya sendiri.
Malam itu, meja makan kayu ek yang besar sudah dipenuhi dengan masakan rumahan kesukaan Ashlyn. Ibu Michael, seorang wanita anggun yang sangat menyayangi Ashlyn.
Michael berdiri di depan cermin besar di lobi, membetulkan jam tangannya dengan perasaan campur aduk. Tak lama, sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu. Ashlyn turun dengan gaun putih gading yang tampak sangat kontras dengan dunia mereka yang gelap.
"Michael! Kamu jemput aku di depan pintu? Uh, manis sekali!" Ashlyn langsung berlari kecil dan memeluk lengan Michael, membuat pria itu hampir kehilangan keseimbangan.
"Berhenti berlebihan, Ashlyn. Ayah dan ibuku menunggumu," jawab Michael dingin, meski ia membiarkan tangan Ashlyn tetap di sana.
Saat memasuki ruang makan, Ayah Michael langsung berdiri dengan mata berkaca-kaca. "Ashlyn, kamu sudah datang? Setiap kali melihatmu, aku selalu melihat mendiang ayahmu. Kau tumbuh menjadi anak yang sangat baik."
Ashlyn tersenyum manis, senyum yang terlihat tulus namun menyimpan ribuan rahasia. "Ayah selalu bilang aku harus diperlakukan seperti putri, Paman. Makanya aku jadi begini, merepotkan Michael terus."
Makan malam berlangsung dengan penuh nostalgia. Ayah Michael terus bercerita tentang kehebatan ayah Ashlyn, sementara Michael hanya diam, meraba-raba gelas kristalnya dengan tatapan penuh selidik. Michael tahu, ayah Ashlyn adalah seorang legenda. Bagaimana mungkin orang sekuat itu memiliki putri yang menangis hanya karena salah warna kuku?
"Michael, kenapa diam saja? Berikan perhatian pada tunanganmu," tegur ayahnya.
Michael menghela napas. Melihat Ashlyn yang sibuk mengeluh karena saus makanannya terlalu pedas, Michael tidak tahan lagi. Ia menjangkau kepala Ashlyn dan menjentik dahinya dengan jari tengahnya. Plak!
"Aduh! Paman bibi, lihat! Michael memukulku lagi!" Rengek Ashlyn sambil menutup dahinya yang memerah.
"Michael! Jaga sikapmu!" bentak ibunya, namun Michael hanya menatap Ashlyn tajam.
"Dia terlalu banyak bicara, ibu," ucap Michael singkat.
"Makan yang banyak, Ashlyn sayang. Kamu kelihatan lebih kurus. Michael pasti tidak menjagamu dengan benar ya di luar sana?" Goda Ibu Michael sambil melirik putranya.
Michael yang baru saja hendak menyuap nasi, hanya bisa menghela napas. "Ibu, dia makan lebih banyak daripada aku. Dan dia menghabiskan setengah waktunya untuk mengeluh soal menu diet."
Ashlyn tertawa kecil, suara tawanya terdengar manis dan tulus. Ia lalu bergelayut manja di bahu Ibu Michael. "Habisnya Michael galak terus, Bi! Kemarin saja dia memaksaku memilih gaun pengantin dalam sepuluh menit. Memangnya dia pikir aku sedang beli gorengan?"
Ayah Michael tertawa terbahak-bahak, suasana makan malam itu benar-benar hangat. "Michael, kau harus sabar menghadapi putri sahabatku ini. Ayahnya dulu juga sama keras kepalanya." Ashlyn hanya terkekeh, sungguh detik inipun dia benar-benar merindukan ayahnya.
"Michael, suapkan brokoli itu! Aku malas pakai garpu," rengek Ashlyn tiba-tiba, menoleh ke arah Michael dengan mata bulat yang meminta dikasihani.
Michael menatap brokoli di piringnya, lalu menatap Ashlyn dengan tatapan 'Kau serius?' Karena malas berdebat di depan orang tuanya, Michael akhirnya mengangkat garpunya. Namun, tepat saat Ashlyn membuka mulut, Michael justru menjentik dahi Ashlyn kembali dengan tangan kirinya. Plak!
"Aduh! Michael!" Ashlyn memekik sambil memegangi dahinya, kali ini dia benar-benar kaget karena Michael berani melakukanya dua kali. Entah kenapa manusia menyebalkan itu suka sekali menjentik dahi Shaneen.
"Makan sendiri. Jangan jadi bayi," ucap Michael datar, meski ada secuil senyum kemenangan di sudut bibirnya.
"Michael! Jangan kasar pada tunanganmu!" Tegur ibunya, yang dibalas Ashlyn dengan wajah penuh kemenangan ke arah Michael.
Setelah makan malam, saat orang tua Michael sedang asyik berbincang di ruang keluarga, Michael menarik Ashlyn ke area selasar yang sepi, di dekat sebuah kolom pilar yang gelap.
"Berhentilah bermain-main, Ashlyn," desis Michael sambil menyudutkan Ashlyn ke pilar. "Aku tahu kau tidak selemah itu. Kemarin di mobil, bagaimana kau bisa tetap tenang saat peluru menghujani kita?"
Ashlyn menatap Michael, wajah manjanya hilang sesaat, digantikan oleh tatapan tajam yang membuat Michael terpaku. Insting predator Ashlyn seolah menyala di kegelapan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Michael, membisikkan sesuatu dengan suara rendah yang sangat berbeda dari suara manjanya tadi.
"Kenapa? Kamu lebih suka aku yang berbahaya, atau aku yang suka merengek minta dibelikan tas, Michael?" Ucapnya tenang namun tajam.
Michael terdiam, jantungnya berdegup tidak karuan. "Tidak, aku hanya berpikir. Bagaimana bisa ayahmu menjadi orang yang hebat tapi punya putri yang sangat cengeng dan manja seperti mu!"
"Atau mungkin kamu lagi memainkan peran ya?" Goda Michael, dia terus memperhatikan mimik wajah Ashlyn.
Namun, sebelum Ashlyn sempat menjawab, pandangannya beralih—Ashlyn kembali memasang wajah manjanya dan meraba-raba saku jas Michael.
"Eh, ponselmu bunyi tuh! Pasti dari sekretarismu yang kaku itu—sama kakunya dengan dirimu!"