Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Waktu mobil berhenti di depan klinik, jantungku berdebar tak karuan. Leon membantuku turun dengan hati-hati, tangannya sigap menopang bahuku.
Begitu masuk ke ruang periksa, seorang dokter perempuan berjas putih tersenyum tipis saat melihat Leon.
“Leon?” sapanya terkejut.
Leon terlihat kaku sesaat. “Raisa… sudah lama tidak bertemu.”
Aku menoleh bergantian ke mereka berdua. Ada sesuatu di antara tatapan mereka yang sulit kuartikan.
Dokter itu memperkenalkan diri dengan tenang. “Saya Dokter Raisa, dokter kandungan di sini.”
Namanya disebut begitu saja, tetapi suasana ruangan mendadak terasa sempit. Perutku yang sejak tadi berkontraksi ringan, kini terasa semakin tegang—bukan hanya karena bayi dalam kandunganku, tapi juga karena perasaan aneh yang menyusup.
Leon berdehem pelan. “Raisa teman sejawatku dulu… kami satu rumah sakit.”
Teman sejawat?
Cara Raisa tersenyum membuatku tahu itu bukan sekadar hubungan biasa. Dan benar saja, ketika aku sudah selesai diperiksa dan Leon keluar sebentar mengurus administrasi, Raisa berkata pelan tanpa menatapku.
“Kamu istrinya?”
Aku terdiam. Pertanyaan itu menusuk.
“Ia hanya… menolong saya.”
Raisa tersenyum tipis. “Leon itu selalu seperti itu. Terlalu peduli. Dulu pun begitu saat kami masih bersama.”
Deg.
Kalimat itu jelas. Mantan.
Tanganku spontan menggenggam ujung ranjang periksa. Entah kenapa dadaku terasa sesak. Bukan cemburu—karena aku tak punya hak untuk itu—tapi lebih kepada takut. Takut jika kehadiranku justru membuka kembali masa lalu mereka.
Saat Leon masuk kembali ke ruangan, suasana berubah canggung.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Leon profesional.
“Kontraksi ringan karena kelelahan. Harus banyak istirahat,” jawab Raisa singkat, kembali memasang wajah dokter yang tegas.
Aku mengusap perutku pelan. Rasa lega memenuhi dadaku setelah mendengar detak jantung bayiku baik-baik saja. Tanpa sadar aku tersenyum ke arah Leon.
“Terima kasih,” bisikku tulus.
Leon hanya mengangguk lembut. “Yang penting kamu dan bayi sehat.”
Namun tatapan Raisa belum juga berpaling dari kami.
“Kalian sudah kenal lama?” tanyanya sambil melepas sarung tangannya.
“Lumayan,” jawabku singkat, mencoba terdengar biasa.
“Sejak kapan?” nada suaranya terdengar ringan, tapi matanya menyelidik.
Aku melirik Leon sekilas. “Belum terlalu lama sebenarnya… tapi cukup untuk tahu dia orang baik.”
Leon tersenyum tipis, sedikit canggung. “Raisa…”
“Aku cuma tanya,” sahut Raisa cepat, lalu menuliskan sesuatu di berkas medis.
Suasana kembali sunyi. Entah kenapa pertanyaan sederhana itu terasa seperti ujian. Seolah-olah aku sedang diinterogasi tanpa alasan yang jelas.
Raisa berdiri dan menyerahkan resep vitamin padaku. “Jangan terlalu capek. Kamu butuh banyak istirahat.”
Aku mengangguk. “Terima kasih, Dok.”
Saat aku dan Leon melangkah keluar ruangan, aku bisa merasakan tatapan Raisa masih mengiringi kami.
Di lorong klinik, aku akhirnya bicara pelan.
“Itu mantanmu, ya?”
Leon terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Iya. Dulu. Tapi itu sudah lama sekali.”
Aku menatap lurus ke depan, berusaha terlihat tegar.
Leon berhenti berjalan. “Rania…”
Namaku disebutnya begitu lembut hingga jantungku berdebar.
“Bukan soal hak,” lanjutnya pelan. “Aku hanya ingin kamu tahu, masa laluku sudah selesai.”
Aku menunduk, menggenggam hasil USG di tanganku.
Mobil Leon berhenti tepat di depan kontrakanku. Lampu teras sudah menyala, dan benar saja, sepeda motor Arumi terparkir rapi di samping gerobak kecil tempat aku biasa berjualan ayam geprek.
Aku menatapnya sebentar. Tempat sederhana itu sekarang jadi saksi perjuanganku.
Leon turun lebih dulu lalu membukakan pintu untukku. “Pelan-pelan,” ucapnya hati-hati.
“Aku gak selemah itu,” balasku pelan sambil tersenyum tipis.
“Tadi kontraksi,” jawabnya tegas. “Jangan keras kepala, Rania.”
Aku tak membalas lagi. Entah kenapa perhatian kecil darinya selalu berhasil membuatku diam.
Pintu kontrakan terbuka sebelum kami sempat mengetuk.
“Eh! Udah pulang?” seru Arumi dengan wajah panik. “Gimana? Bayinya gimana?”
Aku tersenyum lebar. “Alhamdulillah, gak apa-apa. Cuma kecapekan.”
Arumi langsung memelukku hati-hati. “Ya ampun, jangan jualan maksa banget sih!”
Leon berdiri agak canggung di samping kami.
Arumi meliriknya. “Terima kasih ya, Dok, udah bantuin Rania.”
“Iya, sama-sama,” jawab Leon singkat.
Ada jeda hening beberapa detik. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang belum selesai di pikiranku—tentang Raisa, tentang tatapan itu, tentang masa lalu Leon.
“Udah istirahat ya,” kata Leon akhirnya. “Kalau ada apa-apa, telepon aku.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Saat Leon masuk kembali ke mobilnya dan perlahan pergi meninggalkan gang kecil itu, aku berdiri di depan kontrakan dengan perasaan aneh.
Arumi menyenggol lenganku pelan.
“Kenapa liatinnya sampai mobilnya hilang dulu?”
Aku tersentak. “Gak kenapa-kenapa.”
Arumi menyipitkan mata penuh curiga.
“Hati-hati ya, Ran. Jangan sampai kamu jatuh hati lagi ke orang yang salah.”
Aku terdiam.
Apakah Leon orang yang salah?
Atau justru… seseorang yang dikirim Tuhan untuk membantuku bangkit?
Pagi itu aku dan Arumi baru saja turun dari motor, dua kantong belanjaan masih menggantung di tanganku. Udara masih segar, tapi langkahku langsung terhenti saat melihat dua sosok berdiri di depan kontrakan.
Mas Bram.
Dan Monika.
Jantungku seperti jatuh ke perut.
Mereka berdiri tepat di dekat gerobak jualanku. Mas Bram dengan tangan dimasukkan ke saku celana mahalnya, sementara Monika menatap sekeliling dengan ekspresi jijik.
“Mau apa mereka ke sini?” bisik Arumi geram.
Aku menelan ludah, mencoba terlihat tegar. “Entahlah.”
Mas Bram lebih dulu tersenyum miring saat melihatku.
“Pagi, Rania.”
Nada suaranya santai, seolah-olah tak pernah mengusirku dengan kata-kata menyakitkan.
Monika menyilangkan tangan. “Jadi ini tempat tinggalmu sekarang?”
Aku berdiri tegak. “Ada perlu apa?”
Mas Bram melangkah mendekat, menatap perutku sekilas.
“Aku cuma mau memastikan… kamu benar-benar sanggup hidup begini.”
“Apa maksudmu?” tanyaku tajam.
Monika terkekeh pelan. “Mas Bram khawatir. Mana tahu kamu nanti minta balik lagi.”
Tanganku mengepal. “Tenang saja. Aku gak akan kembali.”
Wajah Mas Bram menegang sesaat, mungkin tak menyangka jawabanku setegas itu.
“Aku dengar kamu jualan di depan rumah?” katanya sambil melirik gerobak sederhana itu.
“Iya. Kenapa? Jijik?” balasku tanpa gentar.
Arumi berdiri di sampingku seperti tameng hidup.
Mas Bram menghela napas pelan.
“Aku cuma ingin kamu tahu… hidup itu gak semudah yang kamu pikir.”
Aku tersenyum tipis.
“Justru sekarang aku baru belajar arti hidup sebenarnya, Mas.”
Monika melangkah mendekat, suaranya lebih tajam.
“Atau jangan-jangan kamu udah punya sandaran baru?”
Deg.
Tatapan mereka seperti mencari celah.
“Apa jangan-jangan dokter itu?” tambah Monika sinis.l
“Kalo iya kenapa?” sahut Arumi sinis sebelum aku sempat menjawab.
“Arumi…” lirihku mencoba menenangkannya.
“Biarkan saja, Ran,” ucap Arumi tanpa mengalihkan pandangannya dari Mas Bram. “Semoga saja ucapan Bram jadi nyata. Kamu sama Dokter Leon. Lagian Leon lebih segalanya dari Bram.”
Deg.
Nama Leon disebut dengan lantang di depan mereka.
Mas Bram tertawa keras. “Hahahaha, PD banget! Mana mau seorang dokter sama istri orang?”
“Ya kalo udah jadi janda lah,” balas Arumi cepat.
Monika ikut tertawa sinis. “Apalagi janda. Janda gatel dan gampangan.”
Darahku langsung mendidih.
“Monika!” bentakku.
Arumi maju melindungiku. “Jaga mulutmu! Dia lagi hamil!”
Monika menyilangkan tangan. “Perempuan tinggal dekat laki-laki yang bukan suaminya, terus bilang cuma ditolong? Siapa yang percaya?”
“Aku gak pernah tinggal sama siapa pun selain Arumi!” suaraku bergetar tapi tegas.
Mas Bram menghela napas seolah bosan. “Aku cuma gak mau nama baikku tercemar.”
****