"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak perjodohan
"Sudah kubilang, aku ga mau!" rengek gadis di balik pintu.
Bersandar dalam posisi jongkok, tubuh kurusnya tampak kesusahan menahan papan kayu tersebut.
Sedangkan dari luar, ayahnya terus mengetuk pintu sambil mendorong paksa. "Nila, buka pintunya! Ayah mau bicara."
"Enggak mau! Kenapa sih, ayah keras kepala banget?" mengeratkan kepalan tangan, Nila berganti posisi. Membalikkan tubuhnya ke depan lalu mendorong ke arah berlawanan,
"Cepet buka!!" pintanya mulai kesal,
Brak!
Setelah cukup lama, Darma berhasil masuk. Dengan wajah geram, alisnya bersatu menatap Nila, putri tunggalnya.
"Nila, kamu bukan anak kecil lagi!" ocehnya memarahi,
Menatap kepala yang masih menunduk, sibuk mengatur nafas.
"Ya lagian, hh---setiap hari ayah selalu maksa aku,"
"Sudah kubilang, aku gak mau nikah." tegas Nila terengah-engah,
Darma menghela nafas panjang, sekilas dicubitnya pangkal hidung yang berdenyut, berharap bisa menambah rasa sabar untuk menghadapi sikap keras kepala putrinya.
"Apa kamu lupa, kamu ini udah umur berapa?"
Nila menekuk bibir, melirik malas ke arah lain. "Kenapa harus bawa-bawa umur?"
"Ya iyalah, Ayah ga bisa pura-pura lupa! Tahun ini kamu itu udah 30 tahun dan belum menikah."
"Lihat, tuh! Teman seusiamu udah pada beranak, sedangkan kamu---pacar aja ga punya!" imbuh Darma sambil melotot
"Mauku juga punya pacar...tapi gimana lagi? Jodohnya aja belum ketemu," Nila mencibir santai, semakin mengundang kekesalan ayahnya.
"Mangkanya dicari! Kalau gak mau nyari, biar ayah jodohin kamu, biar cepet dapet suami."
"Gak mau, ah! Aku tuh udah capek,"
"Coba hitung berapa kali ayah jodohin aku? Semuanya ga ada yang bener." seru Nila tegas menolak, mengingat semua pengalaman buruk yang telah didapat.
Entah kenapa akhir-akhir ini ayahnya terlihat cemas dan bertingkah aneh. Hampir setiap hari membahas pentingnya memiliki pasangan,
Bahkan selalu memaksa Nila untuk bergegas membangun rumah tangga. Seakan proyek candi prambanan yang bisa dibangun dalam semalam,
Bukan tak mau, namun Nila memang tak ingin memulai hubungan baru.
Hubungan terakhirnya telah menciptakan trauma mendalam yang membuat Nila enggan membuka hati,
Meski begitu, sebelumnya dia mencoba menuruti dan menemui beberapa pria, demi sekedar menyenangkan ayahnya.
Tapi siapa sangka? Rencana itu tidak berjalan lancar.
Mungkin sebab umur Nila yang tak muda lagi, ayahnya hanya fokus mencari pria yang mapan tanpa berpikir soal selera,
Terakhir kali Nila dijodohkan dengan pria pemilik tambak terkaya di desanya. Pria yang terkenal sopan dan dermawan, kabarnya memang selalu memberi santunan pada lansia yang tidak mampu bekerja.
Mendengarnya Nila setuju bertemu, dan berhadapan dengan pria pendek itu.
Tubuhnya berisi, berkulit hitam, giginya sedikit maju ditambah behel yang memperparah keadaan.
Bukan mencela, namun Nila masih memikirkan nasib keturunannya nanti.
Tak salah, kan? Bila dia mencari yang lebih baik. Orang bilang cinta dari mata akan turun ke hati,
"Minimal nyari yang tingginya se aku," Nila bergumam lirih.
"Jangan pilih-pilih, yang penting dia baik dan tanggung jawab. Kalau soal fisik, nantinya bakalan berubah kemakan usia!" omel Darma.
"Lagian ayah sudah tua, bentar lagi mati. Kalau kamu ga nikah-nikah, nanti siapa yang nemenin kamu?"
Sontaknya tak sengaja menyinggung hati putrinya.
"Kenapa ayah bilang gitu?!" tegur Nila mengernyit kesal,
"Itu gak akan terjadi. Kita akan tinggal bersama selamanya,"
"Udah ah aku mau berangkat kerja, kenapa sih jadi bahas mati segala?" pamitnya meraih tas pundak yang tergeletak di atas kasur,
Mempercepat langkah melewati Darma, berhasil menyembunyikan linang air mata yang hendak menetes.
"Nila," ucapnya lirih, menoleh dan memanggil punggung putrinya yang telah menghilang dari pandangan.
"Hhh..." Darma menghela nafas panjang,
Diliriknya foto kecil yang berdiri tegak di meja rias.
Kaki itu melangkah pelan menghampiri, berdiri di sudut kamar. Menatap lekat foto keluarga yang diambil saat kelulusan Nila,
"Bagaimana caranya untuk membujuk Nila?" gumam Darma, mengusap pelan gambar mendiang istrinya.
Potret wanita yang berdiri dengan senyum hangat di wajahnya.
Seketika Darma dibuat menyesal, tak seharusnya mengucapkan kalimat semacam tadi.
10 tahun telah berlalu semenjak kecelakaan itu terjadi. Darma ingat kalau dia bukan hanya kehilangan seorang istri, melainkan juga kehilangan sosok ibu bagi putrinya.
Kecelakaan yang merenggut kebahagiaan dan membuatnya menjadi disabilitas. Kedua tangannya mengalami cedera hingga tak bisa lagi digunakan untuk bekerja berat,
Mengingat betapa sulitnya situasi yang telah dihadapi, pria itu bersyukur memiliki putri berbakti seperti Nila.
Tragedi tersebut menimpa saat Nila baru saja masuk kuliah. Memaksanya mundur, membuang jauh segala mimpi demi membantu ekonomi keluarga juga merawat ayahnya.
"Padahal dia sangat cantik sepertimu,"
"Andai kamu masih hidup---pasti kamu bisa mencarikan pria tampan untuk anak kita."
...----------------...
Di sisi lain,
Debu-debu bertebaran ditiup angin baling yang menciptakan gejolak udara, membersihkan sisa daun di tanah.
Terlihat barisan pria berjas berdiri rapi, diam membusungkan dada, tubuh tegap itu memandang suara helikopter yang semakin mendekat.
Beberapa dari mereka sigap menggenggam erat senjata di tangan sembari mengawasi keadaan.
Di atas gedung bertingkat sebuah helikopter mendarat, disambut kemunculan pria gagah dari balik pintu kendaraan.
Hentak sepatunya menginjak bumi, kepalanya mendongak menatap dari kejauhan.
"Akhirnya setelah 10 tahun---menghabiskan waktu untuk pengasingan,"
"Mereka semua mengira Tuan takkan pernah sembuh dan mengusirnya ke luar negeri."
"Dengan alasan mengobati matanya yang sempat buta, diam-diam Tuan membangun perusahaan sendiri dan berhasil mengembangkannya sampai menduduki peringkat teratas di pasar global."
Herman berdiri, menerbitkan senyum kebahagiaan, memandangi tuannya yang berjalan mendekat.
Memakai setelan hitam mewah, raut tegas penuh wibawa, tatapan tajamnya membuat mereka bergidik ngeri. Namun wajah tampan itu juga tak kalah menawan,
"Elang Cakra Wijaya telah kembali."