Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Di incar dalam gelap
Daniel tiba di kantor polisi dengan langkah cepat dan wajah tegang. Ia menunjukkan foto mobil sewaan Julian, nomor plat, serta identitas sang CEO. Polisi yang bertugas membawa Daniel ke ruang pemeriksaan, membuka berkas kecelakaan terbaru.
“Mobil ini memang ditemukan tiga hari lalu,” ujar petugas itu sambil meletakkan foto lokasi kejadian.
Kendaraan ringsek di pinggir jalan, tetapi… tidak ada tubuh, tidak ada jejak pengemudi.
Daniel mencondongkan tubuh. “Pengemudinya? Korban? Pelaku? Ada yang ditemukan?”
Petugas itu menggeleng berat. “Tidak ada. Bahkan tidak ada jejak darah sebanyak yang seharusnya. Lokasinya juga janggal… seperti korbannya hilang. Kami menduga korban di pindahkan.”
Dunia Daniel seakan berhenti sesaat.
“Jadi… ini bukan kecelakaan biasa?” suaranya serak.
“Kemungkinannya iya, Pak Daniel. Ada indikasi unsur kesengajaan.”
Daniel menutup wajah dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar, bukan karena lelah perjalanan, tetapi karena ketakutan yang semakin nyata.
Ada yang mengincar Julian.
Dan ia sama sekali tidak tahu siapa.
---
Tidak menunggu lebih lama, Daniel keluar dari kantor polisi dan langsung menekan kontak di ponselnya—seorang teman lamanya, pemilik perusahaan penyedia bodyguard, penyidik pribadi, dan tim investigasi profesional.
Begitu telepon tersambung, Daniel berbicara cepat.
“Aku butuh timmu. Full. Prioritas satu. Seseorang hilang—Julian Jae Hartmann. CEO perusahaanku.”
Temannya berdeham. “Julian? Hilang? Sejak kapan?”
“Sudah tiga hari. Mobilnya ditemukan rusak parah, tapi Julian tak ada di tempat. Ada yang sengaja memindahkannya. Aku butuh penyelidikan mendalam. Segera.”
“Baik. Aku kirim tim terbaik. Mulai dari tracking digital sampai pemeriksaan lapangan. Dan Daniel…”
“Hm?”
“Kalau ini soal pembunuhan berencana, kamu harus berhati-hati juga.”
Daniel menatap kosong jalanan depan kantor polisi.
“Ya. Aku tahu.”
---
Malam itu, ia kembali ke hotel tempat Julian menginap. Langkahnya berat, tetapi pikirannya terisi penuh strategi dan rasa takut yang menempel di tulang.
Di resepsionis, ia berkata singkat, “Saya ingin memesan kamar. Yang paling dekat dengan kamar Mr. Julian Jae Hartmann.”
Petugas hotel mengangguk kaku, jelas sudah mengenali Daniel sebagai orang yang sama yang tadi pagi hampir membuat keributan.
“Kamar di sebelahnya sedang kosong, Pak.”
“Bagus. Saya ambil.”
Setelah mendapatkan kunci, Daniel memasuki kamar barunya. Pintu tertutup, dan untuk pertama kalinya setelah tiba di Indonesia, ia mengembuskan napas panjang—bukan lega, hanya perlu bernapas.
Ia melihat dinding tipis yang memisahkan dirinya dari kamar Julian.
Entah kenapa, berada dekat kamar itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Daniel memandang layar ponselnya.
Ada ratusan pesan dari staf utama perusahaan. Para investor meminta update, direktur keuangan menanyakan jadwal meeting, dan sekretaris pribadi Julian terus mengulang satu pertanyaan:
“Tuan apa Mr Hartmann masih di Indonesia? Mengapa semua Email saya belum di balas? .”Tanya salah satu petinggi perusahaan.
"Ya, beliau masih di Indonesia, beliau sekarang sedang cuti darurat jadi semua agenda di alihkan ke saya"
" Baiklah kalo begitu "
Daniel mengepalkan tangan.
Tidak ada siapa pun yang boleh tahu Julian hilang. Jika kabar ini bocor, para investor akan panik. Saham akan jatuh. Perusahaan bisa kacau balau dalam hitungan jam.
Telponnya kembali berdering "Halo tuan Daniel, mengapa tuan Hartmann belum juga mendatangani email yang sudah saya berikan? "Tanya asisten Daniel lainnya bernama Isabelle.
" Alihkan semuanya padaku, CEO sedang cuti darurat"
" Tapi tuan "
" Pekerjaan saya sudah banyak, jangan mendebat sekarang Isabelle."Jawab Daniel kelelahan,lalu langsung dia matikan sepihak.
Ia menatap cermin kamar, melihat wajahnya sendiri—lelah, pucat, panik,namun dipaksa tetap kuat.
“Bertahanlah, Julian” gumamnya pelan.
“Aku akan menemukanmu.”
TIGA HARI KEMUDIAN
Hujan rintik membasahi halaman hotel ketika Daniel menerima panggilan dari tim investigasi yang ia sewa. Suara di seberang terdengar serius—tanpa basa-basi.
“Pak Daniel, kami sudah menemukan beberapa petunjuk penting.”
Daniel berdiri dari kursi, jantungnya otomatis berdegup keras. “Katakan.”
“Kami memastikan satu hal terlebih dulu,” ujar ketua tim. “Ini bukan kecelakaan. Mobil yang digunakan Mr. Hartmann sengaja ditambrak. Ada dua titik benturan yang tidak sinkron dengan lokasi penemuan.”
Daniel menutup mata sesaat.
Ia sudah menduga… tapi mendengarnya langsung tetap menghunjam dadanya.
“Lalu?” suaranya turun satu oktaf.
“Kami menelusuri jalur cctv terdekat dan mencoba mencocilogikan perkiraan jam kecelakaan dan kapan hp Mr Hartmann mati. Dari rekonstruksi digital, kami menduga Mr. Hartmann sempat dibawa ke arah Bogor pada malam kejadian.”
Daniel mengernyit. “Ke Bogor? Untuk apa dia dibawa sejauh itu?”
““Itulah yang sedang kami selidiki. Ada indikasi kuat bahwa pelaku sengaja membuang korban ke daerah sepi. Kami menemukan rekaman CCTV yang memperlihatkan sebuah mobil melintas beberapa puluh menit setelah kecelakaan terjadi. Ciri-ciri kendaraannya sama dengan yang terekam di area Bogor. Namun setelah itu, kami kembali kehilangan jejaknya.”
Daniel memegang pinggir meja, tubuhnya menegang.
“Apa itu berarti… dia dibuang di sana?”
“Ya,kemungkinan besar beliau memang sengaja dibuang di tempat yang tidak terjangkau CCTV..”
Daniel terdiam.
Urat di rahangnya menegang.
“Lalu Julian… sekarang ada di mana?” tanyanya, meski ia tahu tidak akan ada jawaban mudah.
Di seberang, suara investigator melembut sedikit.
“saat ini kami masih sedang mencari di seluruh rumah sakit swasta maupun pemerintah,tapi belum ada pasien luka berat tanpa identitas yang cocok dengan ciri-cirinya.”
Daniel menatap kosong dinding kamar hotel, napasnya tercekat.
“Jadi… kemungkinan lain?”
Ia memaksakan diri bertanya.
“Dua,” jawab investigator itu tegas.
“Pertama, dia bisa jadi dirawat di fasilitas yang tidak tercatat atau menggunakan nama samaran.”
“Kedua…” ia berhenti sejenak. “…dia mungkin tidak berhasil menemukan bantuan.”
Daniel menegakkan tubuh, wajahnya menegang keras.
“Maksudmu… dia bisa saja sudah—”
“Kami belum menemukan bukti apa pun bahwa dia meninggal,” potong investigator cepat. “Tidak ada laporan jenazah tanpa identitas yang cocok. Tidak ada kecocokan sidik jari. Tidak ada.”
Hening.
Hanya suara hujan di luar jendela.
“Tetap lanjutkan pencarian,” ujar Daniel akhirnya, suaranya nyaris seperti perintah perang.
“Seluruh wilayah Bogor dan kabupaten sekitarnya. Cari rumah sakit kecil, klinik, puskesmas—bahkan tempat yang tidak resmi sekalipun.”
“Baik, Pak.”
“And if he’s alive…” Daniel menutup telepon dengan kalimat yang hampir seperti doa sekaligus peringatan, “…aku akan menemukan siapapun yang melakukan ini.”
Telepon terputus.
Daniel menunduk, kedua tangan bertumpu pada meja.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Indonesia, ia merasa kosong dan marah sekaligus.
Julian diculik, dibuang, ditinggalkan begitu saja.
Dan sekarang entah berada di mana,sedang berjuang sendirian.
Daniel mengepalkan tangan.
“Bertahanlah Julian... Aku pasti menemukanmu.”