Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25. Ciuman pertama
Suasana restoran mulai sepi malam itu, beberapa staf dan karyawan lainnya sudah pulang, Louis dan Noa berjalan keluar dari ruang loker untuk pulang. Namun, begitu melangkah ke area restoran, langkah Noa terhenti. Di salah satu meja, ia melihat Landerik duduk seorang diri dengan segelas air putih di hadapannya yang tidak pernah tersentuh. Landerik menoleh saat ia menyadari keberadaan Noa dan ia segera bangkit dari duduknya. Noa dan Louis pun menghampirinya.
“Halo, Anda pasti Tuan Landerik. Saya Louis Grey, mentor Noa,” kata Louis sambil memperkenalkan diri.
“Ya, senang bertemu dengan Anda, dan terima kasih telah membimbing istri saya,” jawab Landerik.
DEG!
Perkataan Landerik membuat Noa terkejut. Louis mengangguk sopan. “Sebuah kehormatan bagi saya, Pak,” katanya sambil tersenyum. “Kalau begitu, saya permisi. Selamat malam,” ujar Louis. “Sampai jumpa, Noa,” lanjutnya, sebelum akhirnya pergi. Kini hanya tersisa Landerik dan Noa di restoran itu. Beberapa lampu telah dimatikan, menyisakan satu lampu di tengah ruangan yang memancarkan cahaya remang, menerangi mereka berdua.
Langkah Louis menjauh perlahan, meninggalkan gema sepatu yang makin samar hingga akhirnya hilang di balik pintu kaca restoran. Pintu itu tertutup perlahan, dan seketika Le Serein terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Kini hanya ada mereka berdua, Bayangan meja dan kursi memanjang di lantai, menciptakan jarak yang terasa semakin nyata di antara Noa dan Landerik.
Noa berdiri kaku di tempatnya. Jantungnya masih berdetak tidak beraturan akibat satu kata yang barusan terucap dengan begitu tenang. Istri saya.
Landerik melangkah terlebih dahulu lalu di ikuti Noa “Aku menunggumu,”katanya singkat, suaranya rendah dan terkendali. Noa mengangguk pelan. “A-aku tidak tahu kau akan datang menjemputku.”
“Aku baru selesai dari kantor,” jawabnya. “Kupikir aku bisa menjemputmu.” Tidak ada penjelasan kenapa ia duduk sendirian di sana. Tidak ada pertanyaan tentang Louis. Tidak ada nada curiga. Justru ketenangan itulah yang membuat Noa semakin gugup.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar restoran. Langkah mereka sejajar, namun terasa berjarak. Di luar, udara malam Paris terasa dingin dan bersih. Ketika hampir mencapai mobil, Landerik berhenti. “Noa,” panggilnya. Noa menoleh.
“Ya?”
Landerik menatapnya sejenak,tatapan tanjam yang sulit dibaca. Ada kelelahan di sana, juga sesuatu yang lebih dalam. “Kau terlihat, lebih baik hari ini,” katanya akhirnya.
Noa terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil. “A-aku berusaha.”
Landerik membuka pintu mobil untuknya, sebuah gestur sederhana, nyaris refleks. Saat Noa masuk dan duduk, ia kembali teringat bagaimana Louis tadi berbicara padanya dengan hangat dan bagaimana Landerik, tanpa ragu, menyebutnya sebagai istrinya.
Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Tapi kali ini, diam itu terasa berbeda. Tidak sepenuhnya canggung, lebih seperti dua orang yang sama-sama memikirkan hal yang sama, namun belum tahu bagaimana cara mengatakannya. Sesampainya di mansion, Landerik mematikan mesin. Sebelum Noa membuka pintu, ia berkata pelan, tanpa menoleh,
“Besok hari libur pertamamu, jika kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan saja padaku, Dan ada yang ingin aku bicarakan, tapi nanti saja.”
Noa menatapnya, terkejut. “Kau mendengarnya?” Noa menelan salivanya. “I-iya, baiklah..” Landerik mengangguk satu kali. “Selamat malam, Noa.”
“Selamat malam.”
Noa melangkah masuk ke mansion dengan perasaan yang bercampur, hangat, bingung, dan sedikit bergetar. Sementara Landerik tetap duduk di dalam mobil beberapa detik lebih lama, menatap pintu besar rumahnya. Malam itu, kata istri telah terucap dengan nyata. Dan tanpa mereka sadari, batas yang selama ini mereka jaga mulai kembali bergeser perlahan, hampir tak terasa.
...♡...
Dikeesokan paginya, saat sarapan, Noa akhirnya membuka pembicaraan. Dengan suara pelan, ia mengatakan bahwa ia ingin meminta izin keluar untuk berjalan-jalan. Landerik menatapnya sekilas. Tanpa perlu penjelasan apa pun, ia sudah menebak siapa yang mengajak Noa keluar, Nama Louis Grey tak perlu disebut. Ia tidak melarang.
“Kau boleh pergi,” katanya singkat. “Tapi sore hari kau harus kembali.”
Noa mengangkat pandangan.
“Malam ini ada undangan pesta,” lanjut Landerik, datar. “Pesta kolega. Kau harus ikut denganku.” Noa terdiam. Ia jelas terkejut tak pernah terpikir bahwa ia akan diminta hadir. Namun tak ada ruang untuk penolakan saat itu. Ia hanya mengangguk kecil, menerima keputusan itu tanpa kata. Di antara denting sendok dan piring, kembali tercipta suasana keheningan yang berat.
Setelah itu Noa meninggalkan Mansion, Noa melangkah pergi menuju halte bus di ujung jalan. Ia berdiri di sana sendirian, memeluk tas kecilnya, menunggu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti perlahan di depannya. Louis turun dan tersenyum begitu melihatnya.
“Maaf menunggu lama,” katanya ringan. Noa menggeleng.
“Aku juga baru sampai.” Mereka pun berangkat bersama.
Hari itu, Noa dan Louis menghabiskan waktu di taman hiburan. Bukan sebagai sepasang kekasih, setidaknya bukan secara terang-terangan, melainkan sebagai dua orang yang saling menemani, tertawa, dan berbagi kebahagiaan kecil yang sederhana.
Mereka menaiki wahana-wahana ringan, berjalan menyusuri lorong penuh warna, dan sesekali berhenti hanya untuk menikmati makanan manis yang dibeli dari pedagang kaki lima. Louis selalu memastikan Noa baik-baik saja, berjalan di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun terasa hangat.
Sesekali tawa Noa pecah, tawa yang sempat hilang beberapa waktu lalu. Louis memperhatikannya diam-diam, seolah memastikan bahwa senyum itu nyata. Di bawah langit siang yang cerah, Noa hampir lupa pada duka, lupa pada kesepian mansion, lupa pada keheningan yang menekannya setiap pagi dan malam. Bersama Louis, waktu terasa berjalan lebih ringan.
Hingga sore mulai tiba, matahari perlahan condong ke arah barat, dan bayangan mereka memanjang di atas jalan taman hiburan. Noa menatap jam di pergelangan tangannya. Senyumnya meredup, seolah ia baru saja diingatkan bahwa hari ini tak sepenuhnya miliknya. “Aku harus pulang,” ucapnya pelan.
Louis mengangguk, meski jelas ada sesuatu yang tertahan di wajahnya. “Ya, akan aku antar.” Hari itu berakhir dengan langkah yang sedikit berat, bukan karena lelah, melainkan karena ada perasaan yang aneh yang tidak di mengerti.
Di dalam mobil, Noa meraih Seatbelt dan menariknya perlahan. Namun Seatbelt itu tersangkut, tak mau bergerak. Ia mencoba sekali lagi, lalu berhenti.
“Sepertinya macet,” ucapnya pelan. Louis menoleh. “Biar aku bantu.”
Ia mendekat, tangannya menjangkau sabuk pengaman di sisi Noa. Ruang di dalam mobil terasa tiba-tiba menyempit. Saat Louis menarik sabuk itu, wajah mereka berada begitu dekat, terlalu dekat untuk sekadar kebetulan. Gerakan mereka terhenti.
Napas Noa tercekat saat pandangan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata. Hanya detak jantung yang terasa terlalu jelas di telinga mereka masing-masing. Louis menelan salivanya. Tangannya masih menggenggam sabuk pengaman, namun matanya tak lagi melihat ke sana. Ia menatap Noa, seolah berusaha memastikan sesuatu, atau mungkin melawan sesuatu. Perlahan, nyaris tanpa suara, Louis mendekatkan wajahnya. Noa tidak bergerak. Tidak menjauh. Tidak juga mendekat.
Bibir Louis menyentuh bibir Noa, lembut, dan penuh keraguan. Hanya beberapa saat, namun cukup untuk membuat dunia di sekitar mereka terasa menghilang.
Saat Louis menjauh, keduanya terdiam.
Napas mereka tidak lagi teratur. Noa menunduk, jantungnya berdebar hebat, sementara Louis memalingkan wajah, jelas terguncang oleh apa yang baru saja terjadi.
“A-aku, akan mengantarmu pulang,” ucap Louis akhirnya, suaranya rendah dan tertahan. Noa tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam ujung tasnya, bibirnya masih terasa hangat, pikirannya kacau oleh perasaan yang saling bertabrakan, antara kenyataan dan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Mobil itu kembali melaju, namun keheningan di antara mereka kini jauh lebih berat dari sebelumnya.
To Be Countinue…