NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Sisa Wangi Malam Larut

Atmosfer di ruang tengah yang tadinya panas mendadak membeku setelah ancaman dingin Linda selesai diucapkan. Erni masih berdiri mematung dengan daster kusutnya, napasnya naik turun menatap tajam ke arah sang dosen yang masih berdiri di undakan tangga bawah dengan wajah sepucat mayat. Di tengah lingkaran wanita-wanita yang mengunci jalan hidupnya, Hino mendadak merasa seluruh pasokan udara di dalam dadanya hilang tanpa sisa. Rasa lelah yang teramat sangat menindih pundaknya, meruntuhkan sisa keberanian yang tadi sempat meledak-ledak.

Hino menatap kedua wanita di hadapannya dengan pandangan mata yang kosong, hampa, dan benar-benar mati rasa. Ia tidak lagi memiliki energi untuk membalas ancaman karir dari Linda ataupun tuntutan uang belanja dari Erni.

"Aku enggak mau denger lagi apa pun," ucap Hino, suaranya terdengar sangat pelan, serak, dan begitu datar seolah keluar dari tenggorokan pria yang sudah menyerah pada takdir. Ia melangkah melewati Erni begitu saja, berjalan lurus menuju arah kamar mandi di dekat dapur kotor. "Aku mau cari angin setelah mandi."

Erni sempat ingin berteriak dan mengejar langkah suaminya, namun tatapan peringatan yang tajam dari Linda di dekat anak tangga membuat mulut istri sah itu terbungkam kaku. Pintu kamar mandi ditutup dengan bantingan pelan, disusul suara gemercik air yang mulai menyiram tubuh Hino, mencoba membasuh habis sisa wangi minyak lavender malam jahanam dan aroma parfum Bu Hina yang masih menempel di kulit lehernya.

Setengah jam kemudian, Hino keluar dengan pakaian yang sudah berganti kemeja flanel kusam. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Erni yang masih duduk merengut di meja makan, atau ke arah kamar belakang tempat Irmi mengurung diri, Hino langsung melangkah keluar melewati pintu depan. Ia menuntun motornya dengan senyap, menerobos kegelapan malam kompleks yang mulai sepi untuk menenggelamkan diri di jalanan kota yang dingin hingga larut malam.

***

Jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas malam lewat tiga puluh menit ketika deru mesin motor Hino kembali memasuki gerbang luar kompleks kontrakan. Suasana kampung sudah benar-benar mati, hanya menyisakan sorot lampu jalan kekuningan yang tembus di sela-sela daun pohon mangga besar samping warung kelontong depan.

Hino mematikan mesin motornya sejak jarak sepuluh meter dari pagar, menggelindingkan rodanya di atas aspal dengan sisa tenaga yang tersisa di lengannya. Namun, tepat saat ia hendak membuka selot besi gerbang rumah dua lantai itu, sebuah bayangan wanita yang berdiri di balik kegelapan pilar pagar membuat gerak tangan Hino mendadak terkunci.

Linda sedang berdiri di sana, mengunci tubuhnya di balik jaket tebal yang menutupi gaun malamnya. Wajah sang dosen tampak begitu dingin di bawah temaram sinar rembulan, matanya lurus menatap Hino yang baru saja turun dari motor. Pertemuan larut malam ini sengaja ia rancang secara rahasia, memastikan orang bawah termasuk Erni dan Irmi sudah tertidur pulas di dalam kamar mereka.

"Kau belum tidur, Linda?" tanya Hino, suaranya berbisik sangat rendah, menahan kantuk dan kepengapan batin yang menumpuk di kepalanya.

Linda melangkah dua senti mendekati Hino, membiarkan embusan napas malam yang dingin menyapu ruang sempit di antara mereka. Ia meraba kantung jaketnya, meremas jemarinya sendiri yang mulai gemetar menahan gejolak mual yang sejak sore tadi ia sembunyikan dengan rapat demi menjaga gengsi akademisnya sebelum ia benar-benar yakin dengan hasil tes urine esok pagi.

"Bagaimana aku bisa tidur, Hino, jika pria yang sudah menghancurkan seluruh tatanan hidupku sedang berkeliaran di luar rumah seperti orang tidak punya dosa?" balas Linda, suaranya terdengar begitu visceral, tajam, namun sarat akan ketakutan biologis seorang wanita lajang yang terhormat. "Jangan pikir jeda di ruang tengah sore tadi membuatmu lepas dari tanggung jawab atas apa yang sudah kau perbuat di kasur atas semalam."

Hino bersandar pada jok motornya, mendongak menatap langit malam dengan tawa hambar yang terdengar sangat menyedihkan. Rasa pengap di dadanya terasa semakin mengental. Selama lima tahun menikah dengan Erni, dia selalu dicap sebagai pria mandul yang tidak berguna, namun kini, dalam waktu dua minggu, rahim-rahim di sekitarnya mendadak menjadi begitu subur dan berbalik mengunci mati seluruh kebebasannya.

"Bisa saja semua ini salah, Linda... aku akui malam itu aku gelap mata karena stres diancam oleh ponsel pintarmu," bisik Hino, matanya kembali menatap lurus ke dalam manik mata dosen di hadapannya dengan kepasrahan seorang pesakitan yang siap dihantam badai. "Kau mau minta pertanggungjawaban dariku sekarang? Oke. Kita katakan jujur pada semua orang dan biarkan hidup kita hancur sekalian!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!