Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"Rani, seharusnya kau diam saja. Biar aku yang urus semua ini, tapi kau sudah mengacaukan semua nya!" Irfan sangat kesal dengan ulah Rani.
Irfan frustasi sekarang, jika sudah seperti ini dia akan semakin susah. Nadila tidak akan mau lagi mengurus nya, pengeluaran nya akan semakin besar jika Nadila sudah menyerahkan semua pada nya.
Irfan meninggal kan Rani di ruang tamu, dia akan menemui Nadila di dalam kamar nya. Rani yang melihat nya langsung mencegah nya.
"Mau kemana kau mas?" Tanya Rani sambil menahan tangan Irfan.
"Lepaskan Rani, aku harus bicara dengan Nadila!" Ucap Irfan tegas.
"Nadila tidak mau bicara dengan mu, kenapa kau harus menemui nya lagi. Sudah lah Mas, biarkan saja Nadila mau apa. Lagian untuk apa kau takut pada wanita mandul itu!" Rani masih berusaha untuk menahan Irfan agar tidak menemui Nadila
"Aku harus bicara dengan nya, semua ini demi kebaikan kita!" Irfan menghentak kan tangan Rani dengan kasar.
Rani mengerucut kan bibir nya, dia cemberut karena Irfan tidak mau mendengar kan nya.
Dreeettt, dreettt, dreeettt.
Sebelum Irfan mencapai pintu kamar Nadila, ponsel di saku nya berdering. Irfan mengambil ponsel nya dan dia melihat ibu nya yang menelepon, Irfan mengurung kan niat nya untuk pergi menyusul Nadila.
"Hallo bu!" Sapa Irfan pada wanita yang sudah melahirkan nya ke dunia ini.
"Hallo Fan, kamu di mana sekarang Fan?" Tanya Bu Marni dari seberang sana.
"Irfan baru orang dari kantor, Ma. Baru saja tiba di rumah!" Jawab Irfan.
"Fan, istri kamu itu kurang ajar banget. Tadi ibu telepon mau minta uang buat si kembar mau ikut study tour, tapi dia malah marah - marah dan menyuruh Ibu buat minta uang sama kamu!" Bu Marni mengadukan semua nya pada Irfan.
"Apa? Jadi Nadila menolak memberikan ibu uang!" Irfan memijit pelipis nya.
Irfan merasakan kepala nya yang berdenyut, baru satu hari Nadila mengetahui perselingkuhan nya dengan Rani, semua sudah runyam seperti ini.
"Betul itu Fan, istri mu itu memang durhaka. Dia ingin menguasai semua uang mu sendiri!" Ucap Bu Marni lagi.
Irfan hanya terdiam, bagai mana Nadila bisa menguasai uang nya. Jika uang nya sudah habis untuk keluarga nya, dan juga Rani. Kini Irfan semakin kesulitan, apalagi Nadila sudah memutuskan untuk menghentikan semua batuan keuangan nya di rumah ini.
"Bu, biar nanti aku yang bicara dengan Nadila ya!" Irfan berkata pada ibu nya.
"Sekarang kamu kirim kan uang enam juta, adik mu mau bayar study tour nya!" Bu Marni berkata pada anak nya.
"Iya bu, nanti aku kirim kan. Bu nanti aku telepon lagi ya, aku sedang ada urusan!" Irfan memberikan alasan pada ibu nya.
Klik.
Irfan pun memutus kan sambungan telepon dengan ibu nya, dia tidak jadi menemui Nadila. Kini masalah baru sudah muncul, padahal masalah nya di sini sedang begitu rumit.
"Kenapa Nadila harus tahu sekarang? Itu arti nya aku lagi yang harus mengeluarkan uang untuk si kembar, Nadila pasti tidak akan mau memberikan uang pada keluarga ku!" Irfan semakin stres dan tertekan.
Selama ini Nadila tidak pernah menolak saat ibu dan adik - adik nya meminta uang pada nya, dia selalu mengirim kan uang di luar uang bulanan yang biasa nya di berikan oleh Irfan.
"Bagai mana aku dan Rani bisa mengadakan resepsi mewah, jika uang ku di gunakan untuk semua kebutuhan di rumah ini. Belum lagi kebutuhan Ibu dan yang lain nya di kampung!" Guman Irfan dengan lirih.
******
Malam ini semua orang sudah berkumpul di meja makan, tapi di atas meja kosong melompong. Tidak ada apapun di sana, biasa nya selama ini Nadila menyiapkan makan malam untuk nya.
"Nadila, kenapa tidak ada apapun di meja makan? Apakah kau tidak memasak?" Tanya Irfan sambil melihat Nadila dengan heran.
"Di rumah ini sudah tidak ada lagi bahan makanan, aku sudah bilang pada mu tadi pagi. Kau harus kirim kan uang pada ku, agar aku bisa berbelanja! Tapi kau tidak menggubris ucapan ku, jadi silahkan pesan makanan dari luar saja!" Ucap Nadila sambil tersenyum manis.
Irfan kesulitan meneguk saliva nya sendiri, ucapan Nadila telah menghantam nya. Jika dia memesan makanan dari luar, maka pengeluaran nya akan semakin besar. Di tambah lagi dia harus mengirim kan uang untuk keluarga nya di kampung.
"Kamu bisa pakai uang mu dulu, Dil. Nanti setelah akau gajian aku ganti!" Irfan membujuk Nadila.
"Aku tidak punya uang, Mas. Kan kamu tidak pernah memberikan aku uang, jadi dari mana aku dapet uang. Apalagi saat ini keadaan butik sedang tidak baik - baik saja!" Nadila memberikan alasan nya.
Mama Nilam tersenyum melihat pemandangan di depan mata nya, putri nya kini bukan lagi Nadila yang bodoh yang akan menuruti semua ucapan Irfan lagi.
"Mas, aku laper banget ni. Buruan pesan makanan dari luar saja!" Rani berkata pada Irfan sambil mengusap perut nya yang buncit.
"Ya udah, kalian tunggu sebentar. Aku akan pesan makanan dari luar saja!" Akhir nya Irfan pun terpaksa mengeluarkan ponsel nya.
Dia segera memesan makanan dari luar untuk 4 orang, karena jika tidak mereka akan kelaparan malam ini. Nadila hanya bisa tersenyum melihat raut muka Irfan, sekarang wajah nya tidak lagi ceria seperti dulu.
'Rasain kamu mas, sekarang silahkan urus sendiri semua pengeluaran di rumah ini!' Nadila tersenyum di dalam hati.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, makanan yang di pesan oleh Irfan pun tiba. Semua orang langsung menikmati makan malam mereka masing - masing, tanpa banyak komentar apapun lagi.
Setelah menghabiskan makanan nya, Nadila segera mencuci piring nya dan Mama Nilam. Untuk piring bekas Rani dan Irfan, dia sengaja membiarkan nya. Dia tidak ingin lagi mengurus Irfan seperti dulu.
"Piring yang baru saja kau gunakan, sebaik nua cuci sendiri. Di sini tidak ada pembantu!" Nadila berkata saat dia melihat Rani yang sudah beranjak meninggal kan meja makan.
"Tuh istri nya di didik dengan benar, jangan cuma bisa jual selangkangan saja!" Sindir Mama Nilam.
"Mas, aku kan sedang hamil!" Rani beralasan agar dia tidak perlu mencuci piring.
"Lakukan tugas mu Rani, jangan banyak alasan!" Irfan memperingatkan Rani.
"Tapi mas,,,,!"
Irfan tidak perduli dengan penolakan Rani, dia bergegas menyusul Nadila dan Mama Nilam yang sudah pergi ke ruang keluarga. Irfan tidak bisa membiarkan masalah ini semakin berlarut, dia harus bicara dengan Nadila. Karena Irfan tidak tanpa Nadila, tentu saja akan mengalami kesulitan ekonomi.