Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 Misi Sampingan
"Rahasia dong. Ayo cepat masuk," ajak Alneo.
Dengan cepat Riani masuk ke dalam mobil, seketika matanya membulat karena itu bukan mobil biasa, ia melihat banyak layar hologram di depannya.
"Ya ampun, ini AI yang kakak bilang? Ini keren banget," puji Rania terkagum-kagum.
"Iya dong, sudah siap?" tanya Alneo tersenyum.
"Siap dong!" kata Riani bersemangat.
Perlahan-lahan mobil pun melaju di jalanan menuju sekolahnya, saat ini Riani kelas 2 SMP dan sebentar lagi ia akan nik kelas 3.
Perjalanan menuju sekolah Riani terasa jauh lebih menyenangkan dari biasanya.
Riani tidak henti-hentinya memandangi ponsel barunya, mobil kakaknya dan terus tersenyum.
Sesampainya di depan gerbang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bakti Nusantara, suasana sudah cukup ramai oleh hiruk-pikuk murid yang berdatangan.
Alneo turun terlebih dahulu, membantu Riani membukakan pintu mobil. "Nah, sudah sampai. Ingat, ponselnya disimpan di dalam tas dulu. Nanti kalau istirahat atau jam pulang, baru boleh kamu buka lagi untuk cek tugas. Paham?"
Riani mengangguk patuh, "Paham, Kak! Riani enggak bakal pamer kok, janji," ucapnya sambil memasukkan ponsel mewahnya di dalam tas punggungnya. "
"Pintar," Alneo mengusap kepala adiknya. "Sana masuk, belajar yang rajin. Nanti pulang sekolah Kakak jemput di depan gerbang."
"Siap, Kapten! Terima kasih banyak, Kak Alneo!" seru Riani riang, memeluk pinggang Alneo sekilas lalu berjalan memasuki gerbang sekolah.
Alneo tidak langsung pergi. Ia memilih berdiri di dekat pembatas gerbang untuk memastikan adiknya masuk dengan aman.
Namun, baru beberapa langkah Riani berjalan di koridor halaman sekolah, langkah gadis itu terhenti.
Tiga orang siswi yang tampaknya merupakan teman sekelas Riani sengaja menghadang jalannya.
Salah satu dari mereka, seorang gadis berambut kuncir kuda dengan tas bermerek mahal bernama Siska, menatap Riani dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.
"Eh, lihat deh. Riani sekarang baju baru, bukanya selama ini seragamnya paling kusam," celetuk Siska dengan suara yang cukup keras, memancing tawa dari dua temannya.
"Iya, bener! Eh, lihat tasnya, deh. Mereknya pasaran banget, pasti beli di pasar loak," timpal teman Siska yang berambut pendek, sengaja menyenggol bahu Riani hingga Riani hampir tersungkur.
Riani menunduk dalam-dalam, mencengkeram erat tali tas punggungnya. Wajahnya memucat karena malu dan takut.
"Misi... aku mau lewat," bisik Riani lirih.
"Mau lewat? Santai dong. Kamu masuk sini lewat jalur beasiswa kurang mampu. Sadar diri dong, sekolah di sini itu isinya anak-anak orang kaya. Ponsel aja kamu pasti enggak punya. Paling nanti kalau ada tugas kelompok, kamu cuma bisa numpang nama!" ketus Siska sambil bersedekap dada, merasa di atas angin.
"Kalian... kalian terus menghina ku! Memangnya apa yang telah aku lakukan sampai kalian membenci ku?" tanya Riani gugup. Suaranya bergetar, menahan tangis.
Jia melangkah maju, menatap Riani dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. Ia sengaja mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.
"Aku benci sama orang miskin! Apa lagi orang seperti mu! Menghirup udara yang sama dengan orang miskin membuat hidup ku tidak tenang! Bau tahu, bau keringat orang susah!" jawab Jia ketus.
"Lagipula, wajah mu itu merusak pemandangan sekolah ini. Heran deh, beasiswa kok bisa nyasar ke orang kayak kamu!" kata Rati sambil tertawa renyah, memutar-mutar ujung rambutnya dengan manja
Riani menggeleng kuat-kuat. "Aku ke sini untuk belajar, Rati. Aku tidak pernah mengganggu kalian!"
"Nggak mengganggu kamu bilang? Keberadaanmu di kelas kita itu sudah sebuah gangguan, Riani. Kamu itu pembawa sial!" kata Siska. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Daripada kamu sok rajin di sini, lebih baik kamu berhenti sekolah dan kerja agar bisa membeli alkohol buat bapak mu itu!" kata Jia menyeringai.
"Iya benar! Kudengar bapakmu kemarin ngamuk lagi ya di pangkalan ojek karena mabuk?" sahut Rati memprovokasi.
Seketika itu juga, tawa mereka pecah.
"Berhenti membully ku!" kata Riani membela diri.
Seketika itu juga, tawa Siska, Jia, dan Rati terhenti. Mereka terkejut. Ini pertama kalinya si gadis miskin berani membentak mereka.
Siska maju selangkah, matanya menyipit berbahaya.
"Oh, berani melawan kau sekarang rupanya ya?" tanya Siska.
Bruk!
Tanpa aba-aba, Siska mendorong keras bahu Riani membuat Riani mundur beberapa langkah
"Siska, cukup..." kata Riani membela diri.
"Cukup kamu bilang?" Barusan itu peringatan. Jangan pernah merasa setara dengan kami, Riani. Mengerti?" Siska mendekatkan wajahnya, tersenyum sinis.
(Yang kemaren rindu sama Amirul setelah di prank mana nih🤣🤣, nih aku buat season 2)