Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗
Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.
Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.
Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.
Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya tidak menyukai Kapten Kalvin
“Peltu Tina, kok melamun di sini?”
Sapaan Kaluna membuat Tina terperanjat. Wanita itu menatap terkejut kehadiran Kaluna di sana.
“Saya cuma istirahat sebentar, Letda Kaluna,” bohongnya.
Kaluna menyipitkan mata. Seakan tidak percaya dengan apa yang Tina katakan, sebab saat tiba di pos istirahat, ia melihat Tina tengah melamun.
Namun tak mungkin juga Kaluna mencecar Tina untuk bercerita padanya, apalagi mereka baru saling mengenal.
Setelah menenggak air mineral, Kaluna kembali keluar, mengajak serta Tina yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
“Peltu Tina, kita keliling sebentar yuk,” ajak Kaluna.
Tina mengulum senyum, merespons ajakan Kaluna dengan anggukan kepala. Keduanya berjalan beriringan menyusuri area patroli sambil mengamati keadaan sekitar.
Pandangan Tina mengedar. Wanita itu kembali mencari keberadaan Kalvin yang entah saat ini ada di mana.
“Apa Letda Kaluna melihat Kapten Kalvin?” tanya Tina.
Sontak pertanyaan Tina membuat Kaluna bertanya-tanya. Ia mulai menduga jika Tina menyukai Kalvin, terlihat dari cara Tina memperhatikan pria itu.
“Tadi saya lihat ada di depan, Peltu Tina,” jawab Kaluna.
Refleks Tina langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar. Nampak di kejauhan Sertu Anton tengah berjaga sambil mengamati area sekitar. Namun sayang, Kalvin tidak terlihat berada di dekatnya.
“Peltu Tina, maaf kalau saya lancang... apa Peltu Tina sebelumnya mengenal Kapten Kalvin?”
Bertanya adalah jalan terbaik daripada Kaluna menduga-duga sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi fitnah jika tidak sesuai kenyataan.
Tina menghela napas, lalu beralih menatap perbukitan hijau yang membentang indah di hadapan mereka.
“Saya mengenal dia, tapi sepertinya dia tidak mengenal saya,” jawab Tina pesimis.
Alis Kaluna bertaut. Wanita itu menatap intens wajah Tina. “Kenapa begitu?” ucapnya heran.
Sudut bibir Tina terangkat. Ia menatap Kaluna sejenak. “Lihat saja sikap dinginnya, mana mungkin dia mengenal wanita seperti saya,” sahutnya dengan nada rendah.
Sepertinya sifat Kalvin memang sudah dari dulu seperti itu. Mengesalkan dan sombong. Tina yang notabene cantik dan berasal dari keluarga terpandang saja tak dianggap ada oleh Kalvin.
Atau jangan-jangan apa yang pernah Anton katakan memang benar, Kalvin tidak menyukai wanita?
“Tapi entah mengapa, sikapnya justru semakin membuat saya suka,” sambung Tina diiringi kekehan lirih.
“Hah... Peltu Tina menyukai Kapten Kalvin?” sergah Kaluna kaget.
Dengan senyum lebar, Tina mengangguk mengakui apa yang memang ia rasakan sejak duduk di bangku SMA.
“Ya, saya menyukai dia. Makanya saya datang kemari,” jawab Tina jujur.
Kaluna sampai terbengong mendengar kenyataan itu. Sungguh ia tak mengira jika wanita cantik seperti Tina menyukai Kalvin si kanebo kering.
Tadinya Kaluna hanya menduga-duga, namun siapa sangka jika semuanya memang benar.
“Apa Letda Kaluna tidak menyukai Kapten Kalvin? Dia tampan, seorang Kapten, dan berasal dari keluarga terpandang,” tanya Tina setengah berbisik.
Sebenarnya Tina ingin memancing Kaluna, ingin tahu apakah wanita itu tertarik pada Kalvin atau tidak. Namun tanpa diduga, Kaluna memberikan respons yang jauh dari perkiraannya.
“Idih, saya nggak mungkin naksir sama dia. Lihat wajahnya yang dingin itu, saya sudah takut. Lagian Papa saya sudah berpesan untuk tidak menjalin hubungan dengan sesama abdi negara,” jelas Kaluna. Raut wajahnya tiba-tiba berubah sendu.
“Kenapa?” tanya Tina penasaran.
“Karena almarhumah Mama saya juga seorang prajurit TNI AD. Papa saya tahu betul seperti apa kehidupan seorang prajurit. Itu sebabnya beliau berpesan agar saya tidak menjalin hubungan dengan laki-laki yang memiliki profesi seperti itu. Lagian saya juga sudah dijodohkan,” jelas Kaluna lugas.
Mendengar penjelasan tersebut, Tina yang awalnya tidak yakin akhirnya percaya.
“Saya turut berduka, Letda. Ibu Letda pasti sosok yang hebat. Beliau telah mengabdikan hidupnya untuk negara,” ucap Tina memberi semangat.
Kaluna hanya menanggapinya dengan senyuman. Seperti apa pun kisahnya, ia sudah berjanji pada sang Mama dan Papanya.
Maka dari itu Kaluna harus bisa membatasi diri, dengan tidak menaruh hati atau terbawa perasaan pada laki-laki yang berprofesi sama dengannya.
...****************...
Matahari mulai terbenam. Pergantian malam ini disambut dengan senja yang membias indah di langit jingga.
Hingga langit mulai sepenuhnya gelap, dihiasi bintang-bintang yang semakin menambah keindahan. Jarum jam terus berputar mengikuti rotasi bumi.
Kaluna mengenakan mantel dan duduk di luar dengan secangkir teh hangat di tangannya. Padahal saat ini sudah pukul sepuluh malam, namun matanya sama sekali tidak mau terpejam.
Tiba-tiba saja ia teringat kepada Rafanza dan Papanya. Ingin menghubungi mereka, namun sayang ponsel Kaluna tidak memiliki sinyal.
Sebagian anggota militer yang bertugas hari ini sudah mengistirahatkan tubuh mereka, hanya tersisa beberapa orang saja. Sebab mereka memang harus bergantian jaga. Sedangkan Tina sudah terlelap sejak pukul sembilan tadi.
Kaluna memandangi langit, tatapannya tertuju pada satu bintang yang tampak begitu terang.
“Mah, Mamah lagi lihat Luna ya? Luna senang banget bisa mengikuti Satgas ini.”
Setitik air mata menetes dari sudut matanya. Kaluna tersenyum getir, rindu itu benar-benar meremas relung jiwanya.
“Kenapa belum tidur?”
Suara berat itu membuat Kaluna tersentak kaget. Buru-buru wanita itu mengusap pipinya, lalu mendongak menatap seseorang yang berdiri di sampingnya.
Wajahnya tidak terlihat dengan jelas, namun postur tubuh dan suaranya sudah membuat Kaluna paham siapa yang ada di sana.
“Belum ngantuk,” jawab Kaluna seraya menyeruput teh yang sudah hampir dingin.
“Ini sudah malam. Saya tidak mau besok ada yang mengeluh sakit,” ucap Kalvin memperingatkan, namun kali ini nada bicaranya sedikit lembut.
“Kalaupun saya sakit, saya tidak akan merepotkan Kapten,” sahut Kaluna judes.
Kehadiran Kalvin di sana membuat Kaluna kesal, namun tak mungkin ia meminta Kalvin pergi. Alhasil Kaluna membiarkan saja, lagipula sampai sekarang ia juga belum bisa terlelap.
Tiba-tiba saja Kalvin menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Kaluna. Kursi besi yang tertanam di sana menjadi tempat keduanya bersantai menikmati malam.
“Kamu yakin?” pancing Kalvin tanpa menoleh ke arah Kaluna.
Kaluna menggigit bibir bawahnya, menatap sengit pria menyebalkan yang entah mengapa harus datang menghampirinya di sini.
“Sangat-sangat yakin,” jawab Kaluna kemudian.
Kalvin hanya manggut-manggut, raut wajahnya terlihat sangat menyebalkan di mata Kaluna. “Ya, semoga demikian.”
Kalvin meneguk tehnya, pandangannya masih belum beralih dari gelapnya hutan yang membentang di hadapan mereka.
“Manusia aneh,” gumam Kaluna, namun masih terdengar jelas oleh Kalvin.
Pria itu menatap Kaluna dari samping. Terlihat wanita itu membuang muka menatap entah ke mana. Tidak tahu mengapa hati Kalvin berdesir hanya karena melihat wajah Kaluna.
Perasaan yang belum pernah Kalvin rasakan selama dua puluh delapan tahun usianya ini. Kalvin bangkit, segera menepis khayalan anehnya.
“Sudah sana istirahat, anginnya semakin kencang! Ingat, ini sebuah perintah,” tegas Kalvin.
Dan nyatanya perkataan pria itu berhasil membuat Kaluna bangkit. Walau sebal, Kaluna menuruti perintah Kalvin dan bergegas masuk ke dalam barak untuk beristirahat.
izin autor hebat, 🙏🙏
jangan lupa singgah ya ka, dinovel baru ku "Balas Dendam Nyonya Cha" udah update sampai 20 episode, saling suport boleh dong ka🤗