"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Saat Arash mulai menyuap sendok pertama bubur ayam hangat buatan Bundanya, rasa gurih dan kehangatan masakan rumah itu seolah mengalirkan kembali energi kehidupan ke dalam tubuhnya yang sempat mati rasa.
Fatimah tersenyum lega melihat kunyahan pertama sang anak, sementara Arfin dan Kyai Hasan memperhatikan dari sisi ranjang dengan sisa-sisa kekhawatiran yang perlahan menguap. Suasana kamar terasa begitu damai dan khidmat.
Namun, kedamaian di kamar itu rupanya tidak ditakdirkan bertahan lama.
Tiba-tiba, udara di pojok kamar berputar seketika, menciptakan pusaran angin ghaib mini yang entah bagaimana hanya bisa dirasakan desirannya oleh bulu kuduk Arash.
Bersamaan dengan itu, seberkas bayangan hijau berpendar cerah muncul entah dari mana, melesat menembus dinding kamar tanpa permisi.
Wusshhh!
Sesosok hantu remaja perempuan dengan rambut dikuncir kuda dan gaun hijau limau yang khas mendadak menampakkan wujud transparannya tepat beberapa senti di depan wajah Arash yang sedang mengunyah.
"Mas gantengggg! Kamu sudah bangun!"
Suara teriakan melengking super cempreng khas Lala itu menggema dahsyat di dalam gendang telinga Arash.
Efek kejut yang luar biasa dari kemunculan mahluk halus cegil yang kelewat bersemangat itu sukses membuat seluruh sistem saraf motorik Arash mengalami malfungsi seketika.
Byurrr!
"Uhukk! Uhukk! Hukk!"
Arash langsung tersedak hebat.
Seperempat sendok bubur yang baru saja hendak ditelannya tersembur keluar secara estetis, sebagian mengenai selimut putih dan sebagian lagi sukses membuat Arash terbatuk-batuk dengan wajah yang mendadak memerah padam hingga ke leher.
Dada yang tadinya sudah mulai membaik kini kembali terasa seperti dihantam palu godam akibat saluran pernapasannya yang tersumbat paksa.
"Astaghfirullah! Kamu kenapa lagi, Nak?! Arash, ya Allah, jangan bikin Bunda khawatir terus dong!" seru Fatimah panik setengah mati.
Dengan gerakan secepat kilat, ia langsung menyambar gelas berisi susu putih hangat dan selembar tisu di atas nakas, menyodorkannya ke depan bibir Arash sambil menepuk-nepuk punggung anaknya dengan panik.
Arfin yang berdiri di belakang Fatimah langsung mengerutkan dahi dalam-dalam, menatap Arash dengan pandangan menyelidik yang tajam.
Arash buru-buru meneguk susu hangat yang diberikan Bundanya untuk meredakan rasa perih di tenggorokannya.
Setelah mengambil napas dalam-dalam beberapa kali dan mengelap mulutnya dengan tisu, getaran di dadanya perlahan mulai mereda.
"A—Arash gak apa-apa, Bunda. Cuma... cuma tadi Arash makannya terlalu buru-buru, jadi tersedak," jawab Arash pelan dengan suara yang masih agak parau.
Meski mulutnya berkata demikian pada Fatimah, sorot mata Arash yang memerah kini menatap sangat tajam, menusuk, dan sarat akan ancaman pembunuhan spiritual ke arah Lala yang kini sedang melayang horizontal di udara.
'Emang bener bener setan nih cegil satu!' umpat Arash dalam hati.
Mendapat tatapan mematikan dari cowok sholeh pujaannya, Lala langsung menegakkan tubuh melayangnya menjadi vertikal.
Hantu remaja itu mengerucutkan bibirnya, lalu dua jari telunjuk transparannya saling diketukkan di depan dada dengan pose menggemaskan yang dibuat-buat.
"Hehehe... Mas ganteng kaget lagi ya?" kata Lala meringis lebar, menatap Arash dengan pandangan penuh rasa bersalah namun tetap terselip binar kesenangan karena melihat Arash sudah sehat kembali.
"Maaf deh, maaf. Lala kan cuma terlalu rindu dan bahagia tingkat dewa pas tahu Mas ganteng kesayangan Lala ini akhirnya membuka mata indahnya setelah tiga hari menyaru jadi Sleeping Beauty."
Arash hanya bisa mengumpat di dalam hati, menahan sekuat tenaga agar tinjunya tidak melayang ke udara kosong.
Dia melirik ke arah Bundanya yang masih sibuk mengelap sisa bubur di selimut dengan wajah yang sangat cemas.
"Bunda, Arash beneran gak apa-apa. Ini buburnya Arash habisin sendiri aja ya? Bunda sama Ayah mending istirahat dulu, wajah Bunda kelihatan capek banget," ucap Arash mencoba mengalihkan perhatian, sekaligus mencari cara agar bisa menginterogasi Lala tanpa gangguan dari manusia normal.
Fatimah menatap suaminya, meminta pertimbangan. Arfin yang paham kalau Arash mungkin butuh ruang untuk menenangkan diri akhirnya mengangguk.
"Ya sudah, kita keluar dulu. Biar Arash istirahat dan menghabiskan makanannya tanpa diganggu. Ayo, Sayang."
"Tapi, Yah..." Fatimah masih agak berat hati, namun setelah Arash memberikan senyuman meyakinkan, wanita itu akhirnya luluh.
"Ya sudah, makannya pelan-pelan ya, Nak. Kalau ada apa-apa, langsung panggil Bunda atau Ayah."
"Iya, Bunda. Terima kasih," sahut Arash tulus.
Begitu pintu kamar tertutup sempurna dan menyisakan keheningan, topeng kesabaran Arash langsung runtuh seketika.
Dia meletakkan mangkok buburnya kembali ke atas nakas dengan hentakan yang cukup keras, lalu menatap Lala dengan ekspresi horor bercampur jengkel yang maksimal.
"Udah berapa kali aku bilang! Jangan suka muncul dadakan! Inget La, kamu itu setan, bukan tahu bulat!" seru Arash geram.
Nada suaranya dinaikkan satu oktav, tidak memedulikan lagi tenggorokannya yang masih terasa perih dan terbakar sisa-sisa batuk muntah darah tempo hari.
Lala langsung memanyunkan bibirnya hingga maju beberapa senti ke depan, membuat wajah transparannya yang dilapisi pendaran hijau ghaib itu terlihat seperti anak kecil yang baru saja dilarang membeli es krim oleh ibunya.
Kedua tangan transparannya kini bertaut di depan perut ghaibnya.
"Iya, maaf lagi, Mas," cicit Lala dengan volume suara yang mendadak ciut, tidak lagi melengking nyaring seperti klakson bus antar kota.
"Kebanyakan minta maaf kamu!" Arash mengusap wajahnya dengan kasar penuh rasa frustrasi yang teramat mendalam.
Cowok indigo itu menyugar rambut hitamnya yang agak berantakan setelah tiga hari menempel di bantal.
"Ya kan aku cuma mau ngasih tahu kalau aku kangen, lagian aku juga khawatir pas Mas ganteng—"
"Gak usah kebanyakan cuma! Ini peringatan terakhir dari aku ya, Lala. Kalau kamu kayak gini lagi, muncul dadakan tanpa ketuk pintu atau minimal ngucapin salam, aku jual kamu ke tukang tahu bulat di depan kompleks, biar aja digoreng dadakan lima ratusan!" ancam Arash dengan tatapan mata yang dilebarkan, mencoba memberikan efek jera psikologis pada mahluk beda dimensi di depannya.
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
bisa kan,,,sapa,,
Assalamualaikum dlu😅😅😅