Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN RATU
Arlon terdiam sejenak, dia menatap tangannya yang tadi sempat mengeluarkan asap.
"Hutan itu dipenuhi binatang buas dan kabut beracun, El. Bahkan prajurit terbaik Ayahanda pun jarang ada yang kembali hidup-hidup," ucap Arlon, khawatir.
Elena berjalan mendekati Arlon, lalu menepuk pundak pria itu dengan pelan.
"Prajurit itu tidak punya energi naga buat mengusir kabutnya, tapi kamu memiliki nya," jawab Elena, meyakinkan.
"Tapi kondisiku-"
"Itulah gunanya latihan tadi," potong Elena cepat.
"Kita akan tunjukkan pada mereka kalau pangeran sampah dan istri desa nya ini bisa membawa sesuatu yang bahkan tidak bisa dibeli dengan seluruh isi gudang emas Ratu," lanjut Elena, tersenyum miring.
Arlon menatap Elena lama, ada binar kekaguman yang mulai tumbuh di matanya, dia merasa Elena bukan sekadar pelindung, tapi cahaya yang menariknya keluar dari kegelapan.
"Kenapa kamu sampai sejauh ini buat membantuku, El? Padahal kamu bisa saja lari setelah misi pertamamu gagal," tanya Arlon, menatap Elena dalam.
Elena tertegun sejenak, pertanyaan itu menusuk tepat ke bagian hatinya yang paling dalam, dia pun tidak tahu kenapa. Seharusnya dia egois, tapi melihat Arlon yang ditindas, dia merasa seperti melihat dirinya sendiri saat masih kecil di klan pembunuh, sendirian dan tak berdaya, dan juga entah kenapa seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang terus memberontak saat melihat Arlon.
"Anggap saja aku sedang bertaruh pada kuda yang paling lemah, karena biasanya, kemenangan kuda itu bayarannya paling besar," jawab Elena dingin, meski hatinya berdesir aneh.
"Begitu ya?" ucap Arlon tersenyum kecil, dia tahu Elena sedang berbohong untuk menutupi rasa pedulinya.
"Kalau begitu, tidurlah, aku tidak mau istriku pingsan karena kurang istirahat," lanjut Arlon, menepuk kepala Elena, pelan.
Elena hanya mendengus, lalu mematikan lilin di meja, membuat Paviliun Bintang kembali gelap, hanya menyisakan suara tetesan hujan di luar.
Namun, di balik kegelapan itu, Elena menyentuh dadanya sendiri, dia merasa ada kehangatan yang tidak biasa bergejolak di sana, kehangatan yang bukan berasal dari energi pembunuhannya, melainkan sesuatu yang jauh lebih murni, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mencoba berbicara padanya dari dalam darahnya sendiri.
"Kenapa rasanya badanku makin panas sejak aku menyentuh Arlon?" batin Elena bingung.
******
Fajar menyingsing di dalam Paviliun Bintang, Arlon terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar, meski tangannya masih terasa kaku karena semalaman menggenggam tangan Elena dalam tidurnya.
Elena sudah duduk di tepi ranjang, membersihkan sisa-sisa embun pada belatinya, dan matanya yang tajam melirik Arlon.
"Bangun, Pangeran, mata-mata Ratu yang semalam mungkin tidak kembali, tapi dia pasti akan mengirim orang lain yang lebih tangguh pagi ini," ucap Elena, melirik Arlon. nya.
"Kamu tahu ada yang mengintai kita semalam?" tanya Arlon duduk, suaranya terdengar lebih stabil.
"Aku merasakannya, tapi pria berjubah itu, dia kembali datang, dia membereskan sampah itu sebelum aku sempat bergerak," jawab Elena datar.
"Bersihkan wajahmu, sandiwara babak kedua akan segera dimulai," ucap Elena berdiri dan melemparkan sehelai kain bersih pada Arlon.
Baru saja Arlon selesai membasuh wajahnya, pintu paviliun di buka dengan sopan.
Seorang pelayan senior masuk membawa sebuah gulungan surat.
"Nona Elena, Yang Mulia Ratu Selena mengundang Anda untuk datang ke paviliun Mawar. Beliau ingin membicarakan mengenai kebutuhan pengantin baru secara lebih mendalam," ucap pelayan itu dengan senyum palsu yang kaku.
"Hanya aku?" tanya Elena, melirik Arlon yang langsung memasang wajah pucat dan batuk-batuk kecil.
"Benar, Nona. Hanya Anda," jawab Pelayan itu, melirik sinis pada Arlon.
Arlon meraih tangan Elena, dengan tatapan sendu, dan wajah yang terlihat sangat menyedihkan, guna mempermulus akting mereka di depan pelayan senior itu.
Arlon meremas jemari Elena dengan gemetar yang dibuat-buat, kepalanya terkulai lemas ke bahu istrinya.
"El... jangan lama-lama... kepalaku... Uhuk! Uhuk! Rasanya seperti mau pecah lagi," rintih Pangeran dengan suara parau yang sangat meyakinkan.
Pelayan senior itu, memutar bola matanya dengan jijik. Baginya, pemandangan Pangeran Arlon yang penyakitan adalah aib keluarga istana.
Elena mengusap rambut Arlon dengan gerakan yang terlihat penuh kasih, namun matanya yang tajam menatap pelayan senior itu.
"Sampaikan pada Ratu, aku akan segera datang setelah memastikan suamiku meminum obatnya," ucap Elena, datar.
"Baik, Nona, jangan membuat Ratu menunggu, beliau bukan orang yang sabar," jawab pelayan senior itu dingin sebelum berbalik pergi dengan langkah angkuh.
Begitu pintu paviliun tertutup dan langkah kaki menjauh, Pangeran Arlon langsung menegakkan tubuhnya, wajah lemah nya menghilang, berganti dengan seringai tipis.
"Wanita itu punya mata yang sangat tajam, El. Kamu harus hati-hati," bisik Arlon, suaranya kembali berat dan penuh wibawa.
"Dia bukan masalah besar," jawab Elena sambil menyelipkan belati kecil ke dalam lipatan gaunnya yang sederhana.
"Dengarkan aku, Arlon. Selagi aku pergi, jangan lakukan sesuatu yang mencurigakan, tetaplah di dalam, buat dirimu terlihat selemah mungkin, seperti biasanya, dan jika pria berjubah itu muncul lagi, jangan serang dia, dia berpihak pada kita, setidaknya untuk saat ini," ucap Elena berdiri, sambil merapikan pakaiannya.
Arlon meraih pergelangan tangan Elena sebelum wanita itu melangkah keluar.
"El."
Elena menoleh.
"Kalau dia menyakitimu, atau mencoba merendahkan mu, ingatlah bahwa kamu adalah istri dari seorang naga," ucap Arlon serius.
Elena terdiam sejenak, merasakan aliran listrik aneh yang merambat dari genggaman Arlon.
"Aku tahu cara menjaga diriku sendiri, Arlon," jawab Elena, menarik tangan nya.
Elena keluar dari paviliun Bintang, dengan langkah tegas nya.
Di Paviliun Mawar, Ratu Selena duduk dengan anggun di depan meja penuh hidangan mewah.
Aroma melati menyengat di udara, namun indra penciuman Elena mencium sesuatu yang lain, bau yang sangat familiar namun samar dari cairan bening di salah satu cangkir teh.
"Duduklah, Elena," ucap Ratu Selena, tersenyum penuh kepalsuan.
"Aku dengar kau sangat cekatan menangani masalah kalung kemarin. Kamu gadis yang cerdik," ucap Ratu Selena, sambil menyesap teh nya.
"Saya hanya melakukan apa yang benar, Yang Mulia," jawab Elena sambil duduk tenang.
Ratu Selena menuangkan teh ke dalam cangkir Elena.
"Elena, mari kita bicara jujur. Arlon itu sudah seperti mayat, tidak ada masa depan bagimu di sana, jika kamu membantuku mempercepat kepergiannya tanpa rasa sakit, aku akan memberikanmu emas yang cukup untuk membeli satu kota, dan kamu bebas pergi ke mana pun kamu mau," ucap Ratu Selena, penuh percaya diri.
Ratu menggeser sebuah kotak kecil berisi koin emas ke arah Elena, di sampingnya, terdapat sebuah botol kecil berisi bubuk hitam.
"Cukup masukkan ini ke dalam air minumnya setiap malam," lanjut Ratu Selena, pelan.
Elena menatap koin emas itu, lalu menatap botol racun tersebut, dia menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Ratu Selena sedikit bergidik.
"Emas ini sangat menarik, Yang Mulia," ucap Elena, jemarinya mengusap botol racun itu.