Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
BAB 24: PERMAINAN KATA
"Kata-kata bukan lagi jembatan hati, melainkan jaring halus yang dipasang untuk menjerat. Setiap kalimat yang diucapkannya punya dua arti: satu yang terdengar manis dan bersalah bagi telinga polos, satu lagi yang tajam dan penuh makna rahasia bagi mereka yang tahu sandinya. Di sanalah percakapan berjalan di dua dunia, dan aku harus menangkap makna yang tersembunyi di balik bunyi."
Arka melangkah masuk melewati pintu samping yang sedikit terbuka itu, diikuti diam-diam oleh Daniel yang bersembunyi di sudut gelap dekat pintu, siap merekam dan mengawasi segalanya. Begitu kakinya menginjak lantai kayu yang hangat dan berkilau itu, udara ruangan berubah. Musik klasik yang tadi mengalun pelan seolah berhenti sejenak, dan kedua pasang mata di ruangan itu—Adrian dan Claire—langsung tertuju padanya.
Namun reaksi mereka sangat berbeda.
Adrian berdiri tegak, wajahnya sedikit terkejut namun dengan cepat berubah menjadi senyum ramah yang dipaksakan, senyum tuan rumah yang sopan namun dingin. Sedangkan Claire... begitu melihat Arka muncul di ambang pintu, matanya melebar sejenak, napasnya tertahan, dan dalam sekejap, seluruh raut wajahnya berubah total.
Topeng Claire Nathania yang kejam dan ambisius lenyap seketika. Berganti dengan wajah Elena Wijaya yang lembut, terkejut, namun penuh kekhawatiran dan kelegaan. Senyum yang berubah tadi kini kembali dipasang, tapi versi yang paling manis, paling rapuh, paling menyentuh hati.
"Mas?!" seru Claire, suaranya bergetar indah, persis seperti istri yang tak disangka-sangka kedatangan suaminya. Wajahnya pucat, tangannya menutup mulut seolah tak percaya mata. "Mas... kenapa Mas ada di sini? Bagaimana Mas tahu tempat ini?"
Ia bergegas melangkah mendekat, langkahnya terburu-buru namun anggun, lalu berhenti hanya selangkah di depan Arka. Matanya berkaca-kaca, bibirnya gemetar, tampak begitu bingung, begitu ketakutan, namun begitu bahagia.
Di belakangnya, Adrian perlahan mendekat, tangan kanannya menyelinap ke saku celana, wajahnya tersenyum sopan namun matanya tajam mengawasi setiap gerakan Arka.
"Selamat malam, Pak..." sapa Adrian ramah, mengulurkan tangan. "Saya Adrian Mahesa, teman lama keluarga istri Anda. Saya tidak menyangka Pak Arka akan menyusul ke sini. Elena... eh, Ibu Elena tidak bilang apa-apa."
Arka tidak menyambut uluran tangan itu. Ia hanya menatap lurus ke mata Claire, menembus topeng manis itu, menembus air mata buatan itu, masuk ke dalam jiwa yang berteriak minta tolong di baliknya.
"Kenapa aku di sini, Le?" tanya Arka pelan, suaranya tenang namun bergetar, penuh makna yang dalam. "Karena aku khawatir. Karena aku merasa ada yang salah. Karena aku merasa... istriku sedang dalam bahaya besar, dan dia tidak berani bilang apa-apa padaku."
Kata-kata itu keluar begitu saja, namun Arka tahu persis apa maknanya. Dan Claire pun tahu. Ia melihat mata wanita itu berkedip cepat, ada kilatan kaget sekaligus lega di sana. Arka tidak bertanya sebagai suami yang curiga perselingkuhan. Arka bertanya sebagai suami yang tahu ada rahasia besar, ada bahaya, ada penjara.
Claire mengangguk pelan, air mata mulai menetes di pipinya, ia menundukkan wajahnya seolah sangat malu dan sedih.
"Maafkan aku, Mas... Maafkan aku ya..." bisiknya lirih, tangannya gemetar menyentuh lengan Arka, sentuhan yang terasa begitu nyata, begitu hangat, namun penuh kode rahasia. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan apa-apa. Aku cuma... aku cuma malu. Dan takut. Mas pasti salah paham kan? Mas pasti pikir aku... aku..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, hanya menangis tersedu pelan. Adrian yang berdiri di belakangnya ikut angkat bicara, nada suaranya penuh pengertian dan kesedihan pura-pura.
"Jangan salahkan Ibu Elena, Pak. Semua ini salah saya. Saya yang memaksanya datang ke sini. Saya yang memintanya merahasiakan keberadaan kami. Saya tahu kedengarannya aneh, Pak. Tapi ada hal-hal masa lalu yang berat, hal-hal yang ingin saya bicarakan berdua saja dengan Ibu Elena... demi warisan almarhum orang tuanya."
Arka menoleh menatap Adrian, tatapannya dingin dan tajam.
"Warisan?" tanyanya, menekan kata itu. "Warisan yang mana, Pak Adrian? Warisan yang sudah lama dibagi-bagi? Atau warisan yang masih disembunyikan?"
Adrian sedikit tertegun, tapi dengan cekatan ia kembali memasang wajah tenangnya.
"Masih banyak yang belum jelas, Pak. Dokumen, tanah, aset... semuanya berantakan sejak kepergian orang tuanya. Saya sebagai teman lama dan penasihat keuangan, berusaha membereskan semuanya. Itulah sebabnya Ibu Elena sering pergi diam-diam. Dia tidak mau Pak Arka pusing memikirkan masalah keluarga yang rumit ini. Dia wanita yang baik, Pak. Dia hanya ingin melindungi Bapak dari beban berat."
Arka kembali menatap Claire. Wanita itu masih menunduk, bahunya berguncang pelan seolah menahan tangis.
"Dia melindungiku ya?" bisik Arka, cukup keras agar terdengar oleh mereka berdua. Ia mengangkat dagu Claire perlahan, memaksa wanita itu menatap matanya. "Le... kamu melindungiku dari apa? Dari kebenaran? Atau dari bahaya?"
Claire menatapnya, matanya basah, penuh ekspresi yang bercampur aduk. Dan di sanalah permainan kata itu dimulai, berjalan di antara baris-baris kalimat biasa namun penuh makna ganda.
"Aku cuma tidak mau Mas sakit hati..." jawab Claire pelan, suaranya penuh penekanan di setiap kata. Sakit hati. Kata itu punya dua arti: sakit hati karena tahu istrinya berbohong dan bersembunyi, atau sakit hati karena tahu istrinya terancam nyawanya. "Dunia itu kejam, Mas. Banyak orang jahat. Banyak hal buruk yang bisa terjadi kalau kita tahu terlalu banyak. Lebih baik aku yang menanggung semuanya sendiri, daripada Mas ikut terseret."
Arka mengangguk pelan, seolah mengerti, seolah percaya.
"Jadi kamu menanggungnya sendirian? Kamu menghadapi semua orang jahat ini sendirian? Kamu tidak punya siapa-siapa tempat bersandar?"
"Aku punya Mas..." jawab Claire cepat, suaranya sedikit meninggi, ada nada putus asa di sana. "Aku selalu punya Mas. Hanya Mas. Tapi Mas tidak boleh tahu semuanya. Kalau Mas tahu... Mas akan ikut celaka. Dan aku tidak sanggup kalau sampai Mas kenapa-napa."
Kata-kata itu terucap manis, terdengar seperti cinta yang berkorban. Tapi bagi Arka yang sudah mendengar rencana pembunuhan tadi... kalimat itu adalah teriakan minta tolong. Jangan ikut celaka. Aku dipaksa membunuhmu. Aku tidak mau. Lari selagi bisa.
Adrian yang mendengarkan di samping tersenyum puas. Baginya, percakapan itu berjalan sesuai skenario. Claire berakting sebagai istri yang setia dan penuh pengorbanan, Arka terlihat mulai luluh dan percaya.
"Nah, begitu lah keadaannya, Pak Arka," sela Adrian ramah, melangkah maju selangkah dan meletakkan tangan di bahu Arka—tangan yang langsung disingkirkan perlahan namun tegas oleh Arka. "Sekarang Bapak sudah tahu tempatnya. Sudah ketemu istrinya. Mari kita duduk, minum sesuatu, dan bicara baik-baik. Tidak ada niat buruk di sini. Kami cuma sedang membereskan urusan lama."
Arka menatap Adrian tajam, lalu kembali menatap Claire. Ia melihat jari-jari Claire yang menyelinap masuk ke saku gaunnya, meraba botol kaca kecil itu.
"Baiklah," jawab Arka pelan, seolah menyerah, seolah percaya sepenuhnya. Ia tersenyum tipis, senyum yang membuat Claire terkejut. Senyum yang mengatakan: Aku mengerti semuanya. Aku ada di sini untukmu. "Kalau begitu, aku ikut bicara. Aku suaminya. Urusan istrinya, urusanku juga. Aku tidak akan biarkan dia membereskan masalah berat ini sendirian lagi."
Claire menahan napas. Matanya membelalak sedikit. Ia mengerti makna di balik kata-kata Arka. Aku tidak akan biarkan kamu sendirian. Aku tidak akan biarkan kamu melakukan rencana pembunuhan itu. Aku ada di sini, bersamamu, melawan mereka.
"Mas..." bisik Claire, suaranya hampir tak terdengar, gemetar karena ketakutan sekaligus harapan yang tak percaya.
"Ayo duduk, Le," ucap Arka lembut, merangkul bahu istrinya dan membimbingnya ke sofa, menjauhkan sedikit dari jangkauan tangan Adrian. Gerakan itu alami, terlihat sebagai sikap suami yang melindungi istrinya dari orang asing, tapi bagi Claire itu adalah sinyal jelas: Aku melindungimu dari dia.
Di seberang meja, Adrian duduk bersandar, menatap mereka berdua dengan pandangan waspada namun tetap tersenyum. Ia tidak menyadari bahwa percakapan yang baru saja berlalu bukanlah percakapan antara suami yang cemburu dan istri yang bersalah.
Itu adalah percakapan kode.
Itu adalah permainan kata di mana setiap kalimat punya dua makna.
Satu makna untuk menipu Adrian.
Satu makna untuk saling berpesan antara Arka dan Claire.
Dan Arka tahu, permainan ini baru saja dimulai. Setiap kata yang akan terucap selanjutnya akan menjadi senjata, akan menjadi pesan, akan menjadi jebakan. Ia harus pandai menangkap arti yang tersembunyi, pandai menjawab dengan kode yang sama.
Karena malam ini, di ruangan ini, di antara dua orang yang satu sama lain ingin membunuh dan satu sama lain ingin menyelamatkan... kata-kata adalah satu-satunya jalan untuk memenangkan permainan akhir yang mematikan ini.
Dan di ujung permainan kata ini... ada kebenaran yang menunggu untuk dilontarkan sekeras-kerasnya.
— BERSAMBUNG.......