Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Di ujung jalan yang berliku-liku, Sean, Christaly, Rini, dan Mila akhirnya tiba di depan sebuah warung makan sederhana yang tersembunyi di tengah pepohonan.
Sinar neon dari nama warung itu sendiri memancar lembut memecah kegelapan senja yang semakin mendalam. Aroma harum masakan segera menyambut mereka dengan hangat. Sementara gemerisik daun-daun besar di atas kepala mereka menambahkan sentuhan alami pada suasana.
Dalam cahaya lampu gantung yang redup, Sean tertawa riang menatap daftar menu yang sudah agak kusam, sementara Christaly mengusap lembut punggung kursi kayu seakan merasakan sejarah di baliknya.
Rini dan Mila saling pandang, mata mereka berbinar saat mereka menyadari betapa tampannya Sean jika dilihat lebih dekat dan dalam cahaya yang cukup.
Dengan senyum ramah, pelayan warung datang ke meja mereka untuk menanyakan hendak makan apa.
Rini segera menyarankan agar Sean memesan soto lombok, salah satu kuliner khas Malang. Sean pun mengangguk setuju meski dia tidak tahu makanan seperti apa soto lombok itu.
Sementara Sean, Rini dan Mila memesan soto lombok, Christaly memilih nasi goreng kampung. Dia tidak mau makan menu yang sama dengan yang dimakan kedua gadis menyebalkan itu.
“Astaga, kamu jauh-jauh dari Jakarta ke Malang malah pesan nasi goreng,” cibir Sean kepada Christaly. “Memangnya kamu nggak mau coba makan soto lombok khas Malang?”
“Yang mau makan kan aku, bukan kamu. Kenapa kamu yang ribet?” jawab Christaly ketus. Dia merasa sebal dengan tingkah Sean yang berlagak sok di depan Rini dan Mila.
Christaly melirik dengan ekor matanya ke arah Rini lalu Mila. “Kamu nggak lupa, kan, Sean apa tujuan kita mengajak kedua gadis itu ikut makan malam di sini?”
“Kamu kenapa, sih? Sensitif begitu?” goda Sean yang tahu kalau Christaly cemburu dengan Mila dan Rini.
“Huh! Siapa juga yang sensitif. Udah, deh. Daripada kamu sibuk peduliin aku, mending kamu mulai saja wawancaranya. Biar selesai makan kita bisa lekas pulang,” sahut Christaly dengan nada yang masih tinggi.
Rini yang mendengar Christaly menyuruh Sean untuk cepat-cepat mewawancarainya menjadi kesal. Kemudian, dengan nada tak kalah tinggi dan sinis Rini pun menyahut, “Maksud kamu apa bicara begitu? Kalau kamu nggak senang kakakmu ingin mengobrol dengan kami berdua dan merasa terganggu, kenapa kamu nggak pindah meja saja?”
“Nah, iya. Kalau kamu nggak suka kakakmu mengobrol dengan kami mending kamu pindah meja saja. Duduk sendiri di meja pojok sana itu yang agak jauh. Biar nggak dengar kami mengobrol,” imbuh Mila yang ikut membenarkan usulan Rini.
Christaly mengertakkan gigi, menahan gejolak di dadanya yang nyaris meledak. “Nggak perlu kalian berdua kasih tahu aku juga akan melakukan hal itu. Huh!”
“Baguslah. Jadi, tunggu apalagi?” sahut Rini yang menjadi lebih berani lagi.
Christaly megepalkan tangan. Dia menunggu Sean membelanya, menahannya untuk tidak pindah ke meja lain. Tapi, pria itu sama sekali tidak membela dirinya. Bahkan, dia seolah setuju dengan ide Rini dan Mila yang menyuruhnya pindah meja.
Dengan kesal Christaly mengentakkan kakinya lalu bangkit berdiri. Dia menatap tajam ke arah Rini dan juga Mila beberapa saat sebelum akhirnya berbalik lalu pindah ke meja yang berada di sudut ruangan.
“Sialan! Memangnya mereka pikir mereka itu siapanya. Berani-beraninya mengusirku,” gerutu Christaly. Tatapannya masih tajam menatap lurus ke depan, ke arah meja di mana Sean, Rini dan Mila duduk dan tampak sedang membicarakannya setelah dia meninggalkan meja mereka. “Dasar pria brengsek! Pecundang keparat! Dia sama sekali nggak bela aku, malah menikmati sandiwaranya. Awas saja kamu, Sean. Akan aku balas nanti.”
Sambil menunggu pesanannya datang dan untuk menghilangkan rasa jengkelnya dengan Sean, Christaly mengeluarkan ponsel genggamnya lalu menghubungi Riko untuk memberitahu Riko kalau dia sudah sampai di Malang dengan selamat. Beruntung bagi Christaly karena sambungan teleponnya langsung mendapatkan jawaban pada dering pertama.
“Halo, Christaly. Akhirnya kamu telepon aku juga. Astaga, kamu ke mana saja sih? Kenapa nggak kasih kabar? Aku khawatir tahu. Kamu baik-baik saja, kan?” kata Riko yang langsung menyerbu Christaly dengan serentetan pertanyaan saat dia menjawab telepon.
“Aku baik-baik saja, kok. Aku bisa jaga diriku dengan baik. Kamu nggak perlu khawatirin aku, oke?” sahut Christaly yang merasa terharu dengan kepeduliaan Riko.
“Uh, syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku cemas karena kamu nggak ada kabar sama sekali. Bahkan pesan yang aku kirim pun nggak ada yang kamu balas, dibaca pun nggak,” sergah Riko. “Tapi, sekarang aku sudah lega karena tahu kamu baik-baik saja. Lain kali kamu harus kasih kabar ke aku, ya. Jangan bikin aku stres di sini."
Christaly berdehem. “Iya, iya. Aku minta maaf. Kemarin aku kecapekan, Riko. Badanku rasanya pegal semua. Jadinya, begitu aku sampai hotel aku langsung tidur. Aku lupa kasih tahu kamu deh. Tapi, aku janji. Besok-besok aku pasti kasih kabar terus ke kamu biar kamu nggak khawatir lagi. Oke?”
“Sebenarnya aku cuma perlu tahu kamu baik-baik saja di sana, Christaly. Itu sudah cukup. Soalnya kamu di sana kan bukan untuk liburan atau jalan-jalan. Tapi, sedang manantang maut. Karena itu, aku jadi cemas kalau kamu susah dihubungi.” Riko menyahut. Dari suaranya terdengar jelas kekhawatirannya.
“Iya, iya. Nanti aku pasti sering kasih kabar ke kamu. Aku janji,” ujar Christaly meyakinkan. “Oh, iya. Omong-omong, apa aku boleh minta tolong sesuatu, Riko?”
“Ya. Minta tolong apa?”
Christaly sekali lagi berdehem. Dia melirik ke arah meja Sean. Sambil mengawasi meja pria itu dia kemudian berkata dengan suara yang direndahkan, “Riko, aku minta tolong carikan informasi terkait Tuan Wiyoko. Terutama terkait bisnisnya. Kamu bisa mencari informasi itu di bar atau klub malam atau di mana saja terserah kamu. Kamu bisa melakukannya, kan?”
“Ya, tentu saja aku bisa. Nanti aku juga akan minta tolong ke Celine untuk membantuku. Dia kan punya banyak teman, siapa tahu salah satu pelanggannya kenal dengan Tuan Wiyoko,” ujar Riko yang menyahut dengan sangat antusias. “Oh, iya. Aku hampir lupa, Celine titip salam buat si detektif itu, siapa namanya?”
“Sean.”
“Ya, Sean. Dia juga bilang kalau kamu harus berharti-hati dengan pria itu. Karena dia cukup mesum. Celine sudah mengirimimu banyak pesan untuk memperingatkanmu. Tapi, lagi-lagi kamu nggak buka pesannya dan nggak balas apa-apa. Huh!”
Christaly seketika tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Riko. Karena apa yang dia katakan terkait Sean yang mesum memang benar adanya. Akan tetapi, justru hal itulah yang membuat Christaly menjadi semakin tertarik dengannya.
Kelihaian pria itu saat bercinta di atas ranjang. Christaly yakin kalau Celine tahu Sean sangat piawai di atas ranjang, dia juga akan tergila-gila padanya.
“Hem, kalau begitu aku sudahi dulu, ya, panggilan teleponnya. Aku mau telepon Celine sekarang. Karena ada yang mau aku bicarakan juga dengannya.”
Setelah menutup panggilan telepon Christaly menoleh ke arah meja Sean. Sialnya dia melihat salah satu tangan pria itu sedang diam-diam mengelus paha Rini di bawah meja. Dan dengan pelan tapi pasti, tangan itu terus naik ke atas, menuju pangkal pahanya. “Yang benar saja! Apa dia sudah gila mau melakukannya di tempat umum seperti ini?!”