Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24
Malam harinya.
Alisa berdiri di depan lemari, memandangi pakaian yang sudah disiapkan di dalamnya. Harlan rupanya sudah menyiapkan semua kebutuhannya, termasuk pakaian untuknya.
Alisa memang tidak membawa banyak baju ganti. Tidak ada niat untuk tinggal di ibu kota, Alisa hanya membawa barang-barang seperlunya saja. Begitu juga dengan baju, hanya satu tas ransel berukuran sedang yang ia bawa.
Karena itulah, Harlan pun berinisiatif untuk menyiapkan semua barang yang dibutuhkan oleh Alisa, termasuk baju ganti untuk sehari-hari, pergi ke acara formal dan juga baju untuk tidur.
Tangannya menyentuh salah satu baju yang sudah tersusun rapi di lemari dengan ragu.
“Mas…” panggilnya pelan. Membuat Harlan yang sedang duduk di tepi ranjang, menoleh.
“Iya, apa ada?”
“Baju-baju ini… semua buat aku?” tanyanya.
“Iya. Kalau ada yang kurang atau ukurannya tidak sesuai, bilang saja. Nanti aku suruh orang untuk menggantinya.”
Alisa terdiam sejenak. Dadanya terasa menghangat… tapi ada rasa sedikit tidak enak juga, merasa kalau ia sudah merepotkan orang lain.
Refleks Alisa langsung membalik badannya. Menatap ke arah Harlan yang juga sedang menatap ke arah Alisa.
“Kenapa tidak bilang dulu kepadaku? Ini semua… pasti merepotkan.” ucapnya.
Harlan tersenyum tipis. Pria itu langsung bangun dari duduknya, berjalan menghampiri Alisa yang masih berdiri di depan lemari pakaian.
Harlan berdiri tepat di hadapan Alisa, menatap lembut gadis yang mulai saat ini, akan menghabiskan waktu bersama dengannya.
“Aku paling tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini. Sekarang, kamu itu istriku dan bagiku, tidak ada yang merepotkan. Apalagi itu untuk kepentingan istriku sendiri.”
Jawaban sederhana itu justru membuat Alisa semakin tidak tahu harus berkata apa.
“Maaf, dan terima kasih banyak, Mas,” jawab Alisa karena tidak tahu lagi harus berkata apa.
“Sama-sama. Sana, cepat ganti baju. Sudah waktunya kita istirahat.”
Alisa pun akhirnya mengangguk pelan, lalu ia mengambil salah satu baju tidur yang ada di sana dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian, lampu utama kamar pun dimatikan. Menyisakan lampu tidur yang redup di sisi ranjang.
Membuat suasana berubah… menjadi jauh lebih sunyi dan kembali terasa canggung.
Alisa sudah berada di atas ranjang. Duduk di sisi sebelah kiri, dengan selimut yang ia genggam sedikit lebih erat.
Sementara Harlan masih berdiri di sisi kanan, pria itu terlihat sedang merapikan beberapa barang sebelum akhirnya ikut naik ke tempat tidur.
Ranjang besar itu… kini terasa sempit bagi Alisa. Bukan karena ukurannya. Tapi karena jarak mereka yang kembali begitu dekat.
Ia menunduk, menatap jemari nya sendiri. Nafasnya sedikit tidak teratur. Padahal ini bukan pertama kalinya. Namun tetap saja… membuat Alisa merasa gugup dan canggung..
Kasur sedikit bergerak saat Harlan naik. Membuat Alisa refleks menegang dan Harlan tentu menyadari hal itu.
Ia melirik sekilas, lalu berbaring tanpa berkata apa-apa. Memberi jarak aman dan menyisakan sekat yang cukup lebar sebagai pemisah antara dirinya dan Alisa.
Seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Alisa… meskipun hal itu tidak dijelaskan dengan kata-kata.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.
Alisa menggigit bibir bawahnya pelan. Berusaha menenangkan diri, tapi justru pikirannya malah ke mana-mana.
“Aku… harus bagaimana?” gumamnya dalam hati.
“Alisa.”
Deg.
Alisa tersentak kecil, Suara bariton Harlan, berhasil membangunkannya dari lamunan. Membuat Alisa langsung menoleh.
“Iya? Kenapa, Mas?” tanyanya, dengan nada yang ia buat setenang mungkin di tengah gejolak hati.
Harlan tidak langsung menoleh ke arah Alisa. Tatapan nya masih tertuju ke arah langit-langit kamar.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Alisa terdiam.
“Aku tahu… kita masih membutuhkan waktu untuk sampai ke titik… itu.” ucapnya, semakin merendahkan nada suaranya di akhir kata.
Alisa menatap Harlan. Untuk beberapa saat… ia hanya diam. Mereka sama-sama sudah dewasa dan tentu saja, mereka paham apa yang sedang mereka bahas saat ini, meski tidak dijelaskan secara mendetail.
Perlahan, genggaman tangan Alisa pada selimut pun mulai mengendur. Seiring dengan menguapnya rasa gugup yang ia rasakan.
“Mas…” panggilnya lagi, lebih pelan.
“Hm?”
“Sekali lagi. Maaf dan makasih…”
Harlan akhirnya menoleh. Menatap wajah Alisa yang masih terlihat canggung, tapi jauh lebih tenang.
Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya sebuah anggukan kecil… dan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya.
Lampu tidur masih menyala redup. Di luar, lampu kota terus berkelip seperti bintang.
Dan di dalam kamar itu… ada dua orang yang masih harus belajar saling memahami dan saling menerima satu sama lain.
Perlahan, keduanya pun mulai menutup mata dan tertidur lelap dengan perasaan aman dan nyaman.
***
Tiga bulan kemudian.
Sejak malam itu, kehidupan Alisa dan Harlan berjalan sebagaimana mestinya. Alisa menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan begitu baik.
Setiap pagi, ia sudah lebih dulu terbangun, menyiapkan sarapan hangat, menyetrika pakaian kerja Harlan, hingga memastikan segala kebutuhan pria itu tersedia tanpa harus diminta.
Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Namun justru di sanalah letak kenyamanannya.
Perlahan, perubahan kecil pun mulai terlihat. Bukan hanya dari suasana rumah yang terasa lebih hidup… tetapi juga dari Harlan sendiri.
Tubuh pria itu kini tampak lebih berisi. Wajahnya yang dulu tegas kini sedikit melunak, dan beberapa kemeja kerjanya mulai terasa sempit saat dikenakan.
Pagi itu, di meja makan yang dipenuhi aroma masakan rumahan, Harlan duduk sambil merapikan kerah bajunya yang terasa menyesakkan.
“Sepertinya, aku harus ganti ukuran baju.” ucapnya, memecah keheningan.
Alisa yang sedang menuangkan teh hangat menoleh dengan alis yang sedikit berkerut.
“Memangnya kenapa, Mas? Semua baju Mas kan masih bagus-bagus.” jawab Alisa dengan nada yang lembut.
Harlan menghela nafas pelan, lalu tersenyum tipis, meski sedikit agak canggung saat akan mengatakan alasan dibalik rencana perubahan size bajunya itu.
“Iya, memang masih bagus. Tapi masalahnya… sekarang jadi sempit semua. Aku gak nyaman pakai yang terlalu ketat.” ujarnya sambil menepuk pelan perutnya sendiri.
Alisa terdiam sejenak. Tatapannya tanpa sadar turun, memperhatikan perubahan pada tubuh suaminya. Lalu, tanpa bisa ditahan, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman.
“Berarti… aku berhasil, dong? Merawat Mas dengan cukup baik,” katanya dengan nada setengah bercanda, meski ada rasa bangga yang terselip.
Harlan terkekeh pelan.
“Alhamdulillah. Tapi… kalau bisa, jangan terlalu di push, ya. Kalau begini terus, aku takut kalau nanti, bisa-bisa aku gak muat lewat pintu.”
Tawa Alisa pun akhirnya pecah. Ia tak kuasa lagi menahan tawanya itu, suasana pagi itu pun terasa jauh hangat dan ringan.
Namun dibalik tawa sederhana itu, ada sesuatu yang tak terlihat.
Diam-diam Harlan menatap Alisa lebih lama dari biasanya. Ada rasa nyaman yang tumbuh… sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan akan ia rasakan.
Menikah karena terpaksa membuat pandangan Harlan terhadap pernikahan sedikit suram. Namun, kenyataannya, istri yang ia nikahi secara mendadak itu, kini, sudah membuatnya merasa sangat nyaman.
Membuat hati yang dulunya terasa kosong, mulai terisi dengan hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sementara itu, Alisa kembali sibuk dengan cangkir dan piring di hadapannya. Senyumnya masih terpasang, tapi matanya… sesaat tampak kosong, seolah menyimpan sesuatu yang belum sempat terungkap.
Masa lebih milih anak sambung daripada anak kandung sii.. 😬😬😤😤
Bersyukur Harlan waras n ganti nama mempelai wanitanya.. 😵💫😵💫
Ijab kabul dengan nama wanita lain?
Ngga SAH atuh ijab kabulnya 😱😱
Ini pegimana konsepnya?
Masa seorang ayah kandung tega menjerumuskan anak perempuannya ke lembah zina?? 😱😱😤😤
ayolah Harlan, Alisa saling ngobrol,saling pandang mata siapa tahu udah ada cinta