NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk

...୨ৎ──── C H E R R Y ────જ⁀➴...

Berbaring di tempat tidur, aku berjuang buat tertidur. Pikiranku penuh dengan semua yang terjadi dalam dua hari terakhir.

Hari ini aku melihat sisi lain dari Cavell. Saat dia memelukku di pangkuannya, aku benar-benar merasa aman. Bahkan lebih dari sekadar aman.

Setiap kali aku berada di dekatnya, perutku selalu terasa bergetar dan jantung aku berdetak sangat cepat. aku semakin sadar betapa menariknya dia. Cara dia bergerak. Aura dominan yang dia miliki. Cara dia berbicara dengan cepat. Bahkan saat dia diam.

Rasanya seperti dia mengatakan banyak hal tanpa mengatakan apa pun. Dia memelukku dengan erat, yang berarti dia punya sisi lembut. Dia juga gak pernah menyakitiku lagi sejak kejadian saat dia melempar aku ke lantai.

Dia mencium rambutku seperti yang dia lakukan pada Tante Dalia, dan rasanya gak bisa dijelaskan betapa menyenangkannya itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, seorang pria menunjukkan kebaikan padaku. Gak pernah menyangka pria itu adalah Cavell Rose.

Mataku mulai terasa perih oleh air mata. Sekarang setelah aku merasakan sedikit kasih sayang, masa kecilku yang dingin dan sepi terasa semakin jelas. Dan itu menyakitkan.

Aku menarik napas perlahan, mencoba menekan perasaan negatif itu.

Aku gak perlu pulang lagi.

Aku gak akan pernah melihat orang tua aku lagi.

Mereka gak akan pernah bisa menyakiti aku lagi.

Perlahan aku mulai merasa lebih tenang, dan pikiranku kembali ke saat Cavell menciumku. Rasanya seperti dia benar-benar menginginkan aku, dan itu membuat emosi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya meledak.

Senyum kecil muncul di bibir aku saat aku meringkuk di bantal.

Ciumannya sempurna.

Sambil memikirkan perjalanan belanja yang akan datang, akhirnya aku tertidur.

Tiba-tiba kuku Mamaku menusuk kulitku saat dia menyeret aku ke ruang tamu.

Aku mendengar suara-suara berat bergema. Saat kami masuk ke ruangan itu, mataku menyapu para pria di sana.

Papa berdiri di samping Herman, dan mereka berdua menatapku dengan senyum mengejek.

Luke berjalan mendekati Cavell, yang bahkan gak menatapku.

"Kamu bakal memberi restu, Bro?"

Jantungku berdentum keras di dada. Mama mendorongku ke depan dan aku jatuh berlutut.

Cavell menuangkan bourbon ke gelas, sebelum akhirnya menoleh ke arahku.

Matanya menilaiku dengan jijik, lalu dia bergumam, "Iya."

Satu kata itu, yang menyegel nasibku, bergema di sekelilingku.

Luke berjalan mendekat. Bahkan sebelum aku sempat berdiri, dia sudah berada di atasku.

Tiba-tiba orang tuaku menahan kedua tanganku di lantai sementara Luke merangkak di atas tubuhku.

"Gaaaak!" aku berteriak sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.

Saat Cavell berjongkok di samping kami, aku berteriak, "Kamu seharusnya bilang gak!"

Suara Cavell terdengar rendah seperti guntur. "Kamu gak cukup kuat untuk bertahan di sisi aku."

"Gak!" aku terisak saat tangan Luke merobek pakaianku dari tubuhku.

Di mana pun dia menyentuhku, memar mengerikan muncul dan darah mulai merembes dari pori-poriku.

Aku menjerit saat rasa darah memenuhi tenggorokanku.

Aku terbangun dengan kaget.

Aku langsung melompat dari tempat tidur, berlari ke closet, lalu merangkak ke sudut paling jauh.

Aku melingkarkan tangan di kakiku dan duduk di kegelapan. aku berusaha gak bergerak sambil menahan napas agar gak terdengar.

Bersembunyi di closet, dulu sering aku lakukan untuk melarikan diri dari orang tua aku. Sudah bertahun-tahun aku gak melakukan itu, tapi itu satu-satunya hal yang bisa aku pikirkan saat mimpi buruk itu masih terasa nyata di kepalaku.

Isak kecil keluar dari bibir dan aku cepat menutup mulut dengan tangan.

Ssst...

Ssst...

Aku masih bisa merasakan tangan Luke di tubuhku, dan itu membuat perutku mual.

"Cherry!" Suara Vloo menggema seperti petir di kamar.

Ssst...

"Tuhan," Aku mendengar dia menggeram.

"Di mana dia?" Aku mendengar Cavell bertanya dengan nada sangat keras.

"Aku gak tahu," gumam Vloo. "Aku dengar dia teriak. Saat aku masuk kamar, dia sudah gak ada."

Tiba-tiba cahaya memenuhi closet dan suara panik keluar dari mulutku.

Aku berusaha makin menekan tubuhku ke sudut, menutup mulut dengan kedua tangan agar gak mengeluarkan suara lagi.

"Sial," aku mendengar Cavell menggeram. "Kamu bisa pergi. Aku yang urus."

Saat aku mengangkat mata, aku melihat Cavell berdiri di depan closet dengan pistol di tangannya.

Dia hanya memakai celana training, tapi itu gak membuatnya terlihat kurang berbahaya. Matanya menyala saat menatapku.

Aku mulai menggeleng dan menahan isak yang hampir membuatku tersedak, berusaha menarik napas saat dia berjongkok di sampingku. Jantungku hampir berhenti.

Nadanya jauh lebih lembut dari yang aku duga saat dia berkata pelan, "Bernapas, Sayang!"

Dia meraih tanganku dan menariknya dari mulut aku. "Kamu bikin diri Kamu sendiri hampir kehabisan napas."

Saat dia menarikku keluar dari closet, kepanikan meledak lagi di dadaku.

"Gak!"

Naluri mengambil alih, seperti ratusan kali sebelumnya. Aku mulai melawan.

Tinjuku menghantam kulit telanjangnya saat aku berusaha melepaskan diri, tapi lengan kuat melingkariku.

Aku pun terjebak di dada yang keras dan itu membuatku menjerit.

"Semuanya baik-baik saja, Cherry. Aku di sini. Kamu aman. gak ada yang bisa nyakitin Kamu lagi."

Aku mendengar Cavell terus mengulanginya. Pada suatu titik, kata-katanya akhirnya sampai ke aku.

Perlawanan di tubuhku menghilang. aku jatuh bersandar padanya sambil bernapas terengah-engah.

Tangannya mengusap rambutku. aku merasakan dia mencium kepalaku. "aku di sini."

Saat napas aku mulai melambat, dia bertanya, "Kamu udah merasa lebih baik?"

Aku mengangguk dan menjauh darinya. Saat aku berdiri, gelombang rasa malu yang kuat langsung memenuhiku.

Kenapa aku bereaksi seperti itu?

Cavell pasti akan menganggapku lemah.

"Aku... aku..." aku tergagap, mataku melihat ke closet, ke pintu kamar mandi, ke mana saja kecuali ke Cavell.

"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara yang terdengar lembut.

Karena gak bisa menghindarinya lagi, aku mengangkat mata ke wajahnya. Wajahnya tegang oleh kemarahan, dan itu membuat hatiku tenggelam.

"Itu cuma mimpi," bisikku. Rasa kecewa mengalir di dadaku. "Maaf sudah membangunkan kamu."

"Aku gak sedang tidur."

Dia berjalan mendekat, meraih tanganku, lalu menarikku ke area duduk yang gelap. Dia meletakkan pistol di meja samping dan duduk di sofa bermotif bunga.

Dia menepuk pahanya. "Sini."

Aku meletakkan lututku di samping pahanya lalu naik ke pangkuannya dan menaruh tangan di bahunya. Dia memegang pinggulku dan menarikku lebih dekat ke tubuhnya.

Saat hangat dadanya yang berotot terasa menembus kain satin kaus yang aku pakai, aku sadar Cavell gak memakai baju.

Sial.

Pipiku langsung panas, tapi aku tetap bisa menatap matanya.

"Mimpi buruknya tentang apa?" tanyanya. Sekali lagi aku merasa malu saat aku ingin mengaku, "Kamu bilang iya."

Perutku berputar saat sisa-sisa mimpi buruk itu mengguncangku.

"Kamu kasih izin pada Luke untuk menikahi aku. Orang tuaku menahanku, dan dia... dia..."

Aku gak bisa menyelesaikan kalimat itu dan hanya menggeleng. Cavell mengangkat tangannya ke wajahku.

Saat telapak tangannya menahan pipiku, rasanya sangat menenangkan sampai mataku menutup.

Tangannya bergerak ke belakang kepalaku dan dia menekanku agar menyandarkan pipi ke dadanya. Keheningan menyelimuti kami dan menenangkanku.

Untuk kedua kalinya hari ini, aku menemukan rasa aman di pelukannya. Dan itu membuatku semakin sulit menahan air mata.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!