NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Formal yang Gagal

Rencana Arga sebenernya simpel: dia mau pamer. Dia pengen ngebuktiin kalau dia bisa jauh lebih romantis dan "berkelas" daripada sekadar kiriman bunga lili dari Pak Hendra. Maka, dipesanlah satu meja di restoran fine dining paling mahal di lantai 50 sebuah gedung pencakar langit. Pemandangannya? Lampu kota Jakarta yang kelap-kelip. Suasananya? Sunyi, elegan, dan penuh pelayan yang jalannya kayak ninja.

Nara turun dari mobil dengan gaun hitam simpel, tapi mukanya agak ditekuk. "Ga, serius kita makan di sini? Gue baru aja mau ngajak lo makan sate padang di depan komplek."

"Sate padang bisa besok, Nara. Malam ini, kita butuh suasana yang... privat," jawab Arga sambil ngebenerin kancing jasnya. Dia kelihatan ganteng banget, tapi jujur, kaku banget juga.

Begitu duduk, masalah dimulai. Menu yang dikasih pelayan semuanya pakai bahasa Prancis yang kalau dibaca malah kayak mantra pemanggil hujan.

"Ini... Escargot itu siput kan, Ga?" bisik Nara pelan, sambil nunjuk daftar menu.

Arga berdeham, sok tahu. "Iya. Proteinnya tinggi. Bagus buat kesehatan."

"Tapi gue geli, Ga! Masa kita bayar jutaan cuma buat makan bekicot?" Nara nahan tawa, tapi Arga tetep pada mode 'CEO Elegan'-nya.

Pesanan dateng. Porsinya? Masya Allah, cuma seupil di tengah piring yang gedenya kayak lapangan bola. Arga mulai motong daging steak yang teksturnya lembut banget, tapi pas dia mau nyuap, tiba-tiba HP-nya bunyi.

"Bentar, Nara. Dari Bayu, kayaknya soal audit Rio," Arga angkat telponnya. "Ya, Bay? Apa? Dia mau nego? Nggak ada nego-negoan! Audit tetep jalan!"

Suara Arga yang tegas itu langsung bikin beberapa tamu di meja sebelah nengok dengan tatapan terganggu. Maklum, di sini orang bisik-bisik aja kedengeran. Nara yang ngerasa nggak enak cuma bisa nyengir kuda ke arah tamu lain.

Nggak lama setelah Arga tutup telpon, giliran Nara yang dapet masalah. Dia mencoba motong sayuran hiasan di piringnya yang ternyata alot banget. Kriet... kriet... Bunyi pisaunya beradu sama piring keramik mahal itu nyaring banget di ruangan yang sunyi senyap itu.

*BRAK!*

Gara-gara terlalu semangat motong, sepotong brokoli kecil malah terpental terbang dari piring Nara dan mendarat manis di dalem gelas *wine* seorang ibu-ibu sosialita di meja seberang.

Nara melongo. Arga melongo. Ibu-ibu itu lebih melongo lagi.

"Eh... maaf Bu! Itu... brokolinya mau ikut minum kayaknya," ucap Nara spontan dengan muka merah padam.

Arga langsung nutupin mukanya pakai telapak tangan. "Nara... ya Tuhan."

Ibu-ibu itu cuma ngedengus kesel sambil minta pelayan ganti minumannya. Suasana romantis yang Arga bangun susah payah langsung hancur berkeping-keping. Arga yang tadinya mau sok keren, malah jadi bahan tontonan gara-gara brokoli terbang istrinya.

"Udah deh, Ga. Gue nggak kuat. Di sini udaranya terlalu 'mahal' buat gue. Gue laper beneran, bukan laper estetik," keluh Nara sambil naruh garpunya.

Arga natap piringnya yang masih penuh, terus natap Nara yang mukanya udah melas banget. Dia ngehela napas panjang, terus tiba-tiba dia ketawa. Ketawa tulus yang jarang banget keluar.

"Lo bener. Gue juga sebenernya bingung ini daging rasanya apa selain rasa mahal," gumam Arga. Dia manggil pelayan, minta bill, terus bayar tanpa sisa.

Lima belas menit kemudian, mereka udah nggak di lantai 50 lagi. Mereka duduk di kursi plastik warna biru di pinggir jalan, di depan gerobak Sate Padang langganan Nara. Asap sate yang gurih ke mana-mana, suaranya bising sama klakson motor, tapi muka mereka berdua jauh lebih rileks.

"Nah, ini baru hidup!" Nara lahap banget makan sate ususnya. "Gimana, Ga? Lebih enak daripada siput Prancis kan?"

Arga ngelepas jas mahalnya, nyampirin di sandaran kursi plastik, terus nggulung lengan kemeja putihnya. Dia nyuap sate dengan kuah kental yang pedas itu. "Oke, gue akuin. Lidah gue emang lebih cocok sama yang ginian daripada yang tadi."

Nara ngelihatin Arga yang sekarang belepotan kuah sate di sudut bibirnya. Dia ngerasa Arga jauh lebih ganteng pas lagi begini daripada pas lagi sok jaim di restoran tadi.

"Ternyata CEO juga bisa makan di pinggir jalan ya," goda Nara.

"Bisa, asal makannya sama tumpahan cat yang bisa bikin brokoli terbang," bales Arga sambil ngeraih tisu buat ngerapiin mulutnya, terus malah reflek ngerapiin noda kuah di pipi Nara juga.

Sentuhan tangan Arga di pipinya bikin Nara diem sejenak. Di tengah keramaian jalanan malam itu, makan malam formal mereka emang gagal total, tapi buat pertama kalinya, mereka ngerasa nggak perlu pura-pua jadi orang lain. Di depan tukang sate, Arga dan Nara cuma dua orang yang lagi belajar kalau bahagia itu nggak selalu harus mahal, tapi harus nyata.

---

Nara ketawa geli sambil ngunyah sate ususnya. "Lagian sih, gaya banget mau makan siput. Gue tuh dari tadi udah ngebayangin kuah kuning kental ini, eh malah dikasih brokoli sebiji di piring segede nampan. Ya terbang lah dia, minta kebebasan!"

Arga geleng-geleng kepala, tapi matanya nggak lepas dari Nara. "Gue cuma pengen kasih yang terbaik, Nara. Gue pikir, cewek itu suka dikasih suasana yang tenang, lilin-lilin, terus lagu klasik yang bikin ngantuk itu."

"Itu di film-film, Ga. Kalau buat gue, yang terbaik itu ya yang bikin kenyang dan nggak perlu jaim," Nara nyuap kerupuk kulitnya, terus nyodorin satu ke mulut Arga. "Nih, cobain. Biar lidah ningrat lo kenal sama kearifan lokal."

Arga ragu sejenak, tapi akhirnya dia mangap juga. Bunyi kriuk yang nyaring langsung kedengeran. "Asin. Tapi nagih."

"Nah, kan! Selamat datang di dunia nyata, Bapak CEO," ledek Nara.

Mereka duduk di situ, di trotoar yang bising sama suara knalpot motor dan pengamen jalanan yang lagi nyanyiin lagu galau. Arga yang biasanya duduk di kursi kulit ergonomis seharga puluhan juta, sekarang asyik-asyik aja duduk di kursi plastik biru yang agak goyang. Jas mahalnya cuma digeletakin gitu aja di paha, kena cipratan asap sate juga dia nggak peduli.

"Nara," panggil Arga pelan di sela-sela suapannya.

"Hm?" Nara nengok, mulutnya masih penuh bumbu sate.

"Makasih ya."

Nara ngerutin dahi. "Makasih buat apa? Kan lo yang bayar satenya."

"Makasih udah bikin gue ngerasa... normal," Arga natap jalanan yang macet di depan mereka. "Selama ini hidup gue isinya cuma jadwal, target, sama orang-orang yang selalu bilang 'iya' ke gue. Baru sama lo, gue bisa ngerasain brokoli terbang dan makan di pinggir jalan tanpa takut citra gue hancur."

Nara diem bentar, terus dia nepuk-nepuk bahu Arga pelan. "Ya elah, Ga. Hidup tuh jangan serius-serius banget. Nanti cepet tua loh. Lagian, lo tetep ganteng kok mau makan sate di sini atau makan siput di sana. Cuma ya... di sini lo kelihatan lebih hidup."

Arga senyum, kali ini senyumnya lebar banget sampai giginya kelihatan. Nara sempet terpana sebentar. Gila, kalau Arga sering senyum kayak gini, bisa-bisa seisi kantor pingsan massal.

Pas mereka selesai makan dan lagi nunggu kembalian, ada pengamen kecil nyamperin meja mereka. Arga langsung ngeluarin dompetnya, terus ngasih selembar uang seratus ribu yang bikin pengamen itu melongo saking senengnya.

"Kebanyakan, Ga!" bisik Nara kaget.

"Biarin. Anggap aja 'pajak' karena kita udah dapet konser gratis pas makan sate paling enak sedunia," jawab Arga santai.

Mereka jalan balik ke arah mobil yang diparkir agak jauh. Angin malam Jakarta yang agak gerah kerasa sejuk buat mereka berdua. Nara ngerasa tangannya dicari sama tangan Arga. Mereka jalan gandengan, santai banget, kayak pasangan normal yang baru aja kencan biasa.

"Makan malam formalnya emang gagal total," kata Arga pas mereka udah di depan pintu mobil.

"Gagal total buat ukuran CEO, tapi sukses besar buat ukuran gue," bales Nara sambil ngerling manis.

Arga ngebukain pintu buat Nara, terus sebelum dia nutup pintunya, dia nunduk dikit. "Besok-besok, kalau mau sate padang lagi, bilang ya. Gue nggak bakal bawa lo ke restoran siput itu lagi."

Nara ketawa puas. "Siap, Pak Bos! Besok kita coba seblak level lima ya?"

Muka Arga langsung pucet denger kata "seblak", tapi dia tetep ngangguk pasrah. Di bawah lampu jalanan yang remang-remang, mereka berdua masuk ke mobil dengan perut kenyang dan hati yang jauh lebih deket daripada sebelumnya. Gagal di restoran mahal, tapi menang banyak di warung tenda.

---

Nara nyenderin kepalanya di sandaran jok mobil yang empuk, tangannya masih megang bungkusan kerupuk kulit sisa tadi. "Gue nggak nyangka lo bisa senyum selebar itu cuma gara-gara sate padang, Ga. Kirain lo cuma bakal senyum kalau dapet profit triliunan."

Arga ngeraih kemudi, tapi matanya masih natap Nara yang kelihatan santai banget. "Profit triliunan itu kepuasan otak, Nara. Kalau sate tadi... itu kepuasan perut sama hati. Beda jalurnya."

Mobil mulai melaju pelan ninggalin trotoar yang masih rame. Suasana di dalem kabin mobil yang kedap suara jadi kontras banget sama kebisingan di luar. Arga nyalain radio, pas banget lagunya pelan, bikin suasana jadi makin... adem.

"Eh, jas lo!" Nara tiba-tiba sadar kalau jas mahal Arga tadi ditaruh sembarangan. "Pasti bau asap sate deh. Duh, maaf ya, gara-gara gue ngajak ke situ, lo jadi harus ke laundry mahal besok."

Arga melirik jasnya yang tergeletak di jok belakang. "Biarin aja. Bau asap sate itu tanda kalau malem ini gue nggak makan sendirian di meja tinggi yang dingin. Gue nggak bakal nyuci jas itu besok. Biar aromanya jadi pengingat kalau 'makan malam gagal' ternyata bisa jadi kemenangan paling manis."

Nara diem. Pipinya mendadak kerasa panas lagi. "Lo... lo belajar gombal dari mana sih? Kayaknya efek sate padang bikin lo jadi puitis banget."

"Gue nggak gombal. Gue cuma ngomong apa yang gue rasain," sahut Arga lempeng, balik lagi ke mode datarnya tapi kali ini lebih lembut.

Pas mereka lewat di depan taman kota yang lampunya masih nyala terang, Arga tiba-tiba ngerem pelan. Dia nggak parkir, cuma jalan merayap. Dia ngelihat ke arah Nara.

"Nara, soal Rio tadi... makasih udah berani jawab dia kayak gitu. Gue bangga sama lo."

Nara ngerasa tenggorokannya agak tercekat. "Gue cuma nggak mau dia ngerasa punya kuasa lagi atas hidup gue, Ga. Apalagi sekarang... ada lo."

Kalimat "ada lo" itu bikin Arga ngeratin pegangannya di setir. Dia nggak jawab, tapi dia ngeraih tangan Nara lagi, terus dibawa ke bibirnya. Dia ngecup punggung tangan Nara lama banget, bikin jantung Nara serasa mau lompat keluar dari tempatnya.

"Gue bakal tetep ada, Nara. Kontrak atau bukan, itu nggak bakal ngerubah fakta kalau gue bakal jagain lo," bisik Arga.

Nara cuma bisa ngangguk, lidahnya kelu mau ngomong apa lagi. Sepanjang jalan menuju rumah, mereka cuma diem-dieman tapi tangan mereka nggak lepas satu sama lain. Rasa pedas sate padang tadi masih kerasa di lidah, tapi rasa nyaman yang Arga kasih jauh lebih mendominasi.

Pas mobil akhirnya belok masuk ke arah komplek perumahan elit mereka, Nara ngerasa dunianya bener-bener udah berubah. Dia bukan lagi Nara yang takut sama masa lalu, dan Arga bukan lagi robot yang cuma tahu angka.

"Kita udah mau sampai rumah," kata Nara pelan pas gerbang otomatis mulai kebuka.

"Hm. Balik ke realita," gumam Arga.

Tapi mereka berdua nggak tahu, kalau di balik gerbang itu, ada "realita" lain yang udah nunggu dengan muka yang nggak bersahabat sama sekali. Sate padang dan suasana romantis tadi kayaknya bakal langsung dibilas sama ketegangan baru yang muncul di depan teras rumah mereka.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!