NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 : Hanya Dark Elf Yang Numpang Lewat

Malam turun perlahan di atas kerajaan.

Angin malam berhembus melewati hutan yang berada tidak jauh dari istana. Suasana tampak tenang… terlalu tenang.

Namun di antara pepohonan yang gelap, lima bayangan bergerak cepat.

Mereka melompat dari dahan ke dahan tanpa suara. Aura mereka berat. Membunuh.

Kelima orang itu mengenakan mantel hitam dengan simbol kecil di dada—lambang keluarga Duke Albrecht.

Salah satu dari mereka berhenti di cabang pohon tinggi dan menatap ke arah istana yang terlihat jauh di kejauhan.

“Target berada di sana.”

“Perintahnya jelas,” ucap yang lain dengan suara dingin.

“Bunuh Ferisu.”

Kelima orang itu langsung melesat lagi.

Namun—

Saat mereka mendarat di sebuah jalan setapak menuju istana…

Seseorang sudah berdiri di sana.

Angin malam meniup rambutnya.

Di kedua tangannya tergenggam dua belati pendek dengan bilah hitam yang memantulkan cahaya bulan.

Anor.

Ia memutar salah satu belatinya di antara jari-jari dengan santai.

“Jadi benar,” katanya pelan.

Kelima assassin itu langsung berhenti.

Salah satu dari mereka menyipitkan mata.

“Kau siapa?”

Anor mengangkat kedua belatinya sedikit.

“Hanya Dark Elf yang numpang lewat.”

Bilahnya berkilat tipis.

“Dan… orang yang akan menghentikan kalian.”

Para assassin saling melirik.

Lalu—

FWOOSH!

Tanpa aba-aba dua dari mereka langsung menyerang.

Pedang mereka melesat ke arah leher Anor dari dua sisi.

Namun—Tubuh Anor tiba-tiba menghilang dari tempatnya.

SWISH!!

Ia meluncur rendah seperti bayangan. Kedua belatinya bergerak bersamaan.

CLANG!

Ia menangkis pedang pertama dengan belati kanan—lalu berputar dan menahan serangan kedua dengan belati kiri.

Percikan api beterbangan.

“Cepat juga,” gumam salah satu assassin.

Tiga orang lainnya langsung ikut menyerang.

Sekarang—

Lima lawan satu.

Salah satu muncul dari belakang. Belati menusuk ke arah punggung Anor. Namun Anor tiba-tiba menunduk dan memutar tubuhnya.

SHING!

Belatinya menyayat sisi tubuh assassin itu.

Assassin itu melompat mundur cepat, tapi pakaiannya sudah robek dan darah mulai merembes.

“Brengsek…!”

Serangan mereka makin brutal. Pedang dari atas. Belati dari samping. Tendangan dari belakang.

Anor bergerak seperti bayangan di antara mereka. Dua belatinya menari cepat.

CLANG! SHING! CLANG!

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Salah satu assassin meluncur rendah dan menyapu kaki Anor.

DUAGH!

Keseimbangannya goyah sesaat.

Saat itulah—

SLASH!

Sebuah pedang berhasil menggores lengannya. Darah menetes. Anor mundur beberapa langkah.

“Hmph…”

Kelima assassin kembali membentuk lingkaran.

“Kau kuat,” kata salah satu dari mereka.

“Tapi sendirian.”

Yang lain tersenyum dingin.

“Kau akan mati di sini.”

Anor menarik napas pelan. Ia memutar kedua belatinya sekali lagi.

“Sepertinya… memang agak merepotkan.”

Namun tiba-tiba—

Suara lembut terdengar dari belakang.

“Kalau begitu… bagaimana kalau dua lawan lima?”

Para assassin menoleh. Di ujung jalan, seseorang berjalan mendekat. Gaun biru panjangnya bergoyang tertiup angin malam.

Noa.

Ia mengangkat tangannya perlahan.

“Maaf datang terlambat, Anor.”

Anor melirik sekilas lalu tersenyum kecil.

“Timing-mu bagus.”

Para assassin mengerutkan kening. Salah satu langsung melesat menyerang Noa.

Namun Noa mengangkat tangannya.

“Water Art : Ocean Bind.”

Tanah di sekitar mereka tiba-tiba basah.

Lalu—

WHOOSH!!!

Air menyembur dari tanah seperti gelombang dan melilit dua assassin sekaligus.

“Apa—?!”

Mereka terjebak.

Noa menutup matanya sejenak.

“Maori…”

Lingkaran sihir besar muncul di tanah.

Air di sekitarnya berputar seperti pusaran.

“Datanglah.”

Lingkaran itu bersinar terang.

Lalu—

BOOOOOOOM!!!

Air meledak keluar dari lingkaran.

Seekor makhluk raksasa muncul dari dalamnya.

Roh air berbentuk ikan paus raksasa yang melayang di udara seperti berenang di lautan tak terlihat.

Maori.

Suaranya berat dan bergema.

“Siapa yang mengganggu Masterku…”

Para assassin membeku.

“Roh kontrak…?!”

Anor menyeringai.

Ia merendahkan tubuhnya sedikit, kedua belatinya siap menyerang.

“Sekarang…”

Ia melangkah maju.

Noa tersenyum tipis.

“Maori.”

Mulut paus raksasa itu terbuka.

Air raksasa berkumpul seperti meriam.

WHOOOOOSH!!!

Semburan air menghantam tanah seperti tsunami. Para assassin terpencar mencoba menghindar. Namun Anor sudah bergerak. Tubuhnya melesat seperti bayangan.

FLASH!!

Ia muncul di belakang salah satu assassin. Kedua belatinya menyilang.

SLASH!!

Darah memercik di udara malam.

Anor berbisik dingin.

“Sudah kubilang…”

Matanya tajam.

“Tak akan kubiarkan salah satu dari kalian lolos.”

.

.

.

Air yang dilepaskan Maori menghantam tanah seperti gelombang laut yang jatuh dari langit.

BOOOOM!!

Para assassin terpencar. Tanah retak, lumpur beterbangan, dan pepohonan di sekitar bergoyang keras.

Noa berdiri tenang di belakang Maori, rambutnya berkibar tertiup angin lembab dari energi air yang memenuhi area.

“Maori, jangan biarkan mereka mendekat ke istana.”

Suara paus raksasa itu bergema dalam seperti ombak laut dalam.

“Aku mengerti… Master.”

Salah satu assassin melompat keluar dari semburan air dan langsung menyerang Noa dari samping.

Namun—

WHOOSH!

Air di udara tiba-tiba berputar dan berubah menjadi dinding.

CLANG!

Belati assassin itu terpental.

“Serangan langsung tidak akan berhasil,” ucap Noa dengan tenang.

Ia mengangkat tangannya sedikit.

“Water Art : Binding Current.”

Air di tanah bergerak seperti ular.

SPLASH!

Dua assassin langsung terlilit hingga jatuh ke tanah. Mereka mencoba bergerak, tapi arus air itu menekan tubuh mereka seperti tangan raksasa. Di atas mereka, Maori melayang perlahan seperti penguasa lautan.

“Manusia kecil… kalian tidak memiliki kesempatan.”

Sementara itu—

Beberapa meter dari sana. Anor dan satu assassin berdiri saling berhadapan. Assassin itu berbeda dari yang lain. Aura membunuhnya jauh lebih berat. Matanya dingin seperti mayat.

Ia perlahan mencabut pedangnya.

“Jadi kau penjaga mereka.”

Anor memutar kedua belatinya.

“Kurang lebih.”

Assassin itu menatap sekilas ke arah Noa dan Maori. Empat anak buahnya kini sedang terdesak.

Ia kembali menatap Anor.

“Tidak buruk.”

Lalu suaranya menjadi lebih dingin.

“Tapi kau salah memilih lawan.”

Tubuhnya menghilang.

FLASH!

Pedangnya muncul tepat di depan wajah Anor.

CLANG!!

Anor menangkis dengan belati kirinya, tapi tekanan serangan itu membuat tanah di bawah kakinya retak.

“Kuat juga…” gumam Anor.

Assassin itu langsung menebas lagi.

SLASH! SLASH! SLASH!

Serangannya cepat. Brutal. Presisi. Pedangnya bergerak seperti bayangan yang membelah udara.

Anor mundur beberapa langkah sambil menangkis.

CLANG! CLANG!

Percikan api bertebaran.

Dalam sekejap mereka sudah bertukar lebih dari sepuluh serangan.

Assassin itu menyeringai tipis.

“Kau cukup cepat.”

Ia tiba-tiba menghilang dari pandangan.

Insting Anor langsung bereaksi.

Ia berbalik—

Namun pedang itu sudah turun dari atas.

SLASH!!

Anor melompat mundur.

Ujung pedang hanya berjarak satu sentimeter dari wajahnya.

Tanah di belakangnya terbelah panjang.

“Nyaris saja.”

Assassin itu menurunkan pedangnya perlahan.

“Reaksi yang bagus.”

Lalu—

Aura membunuhnya meningkat tajam.

“Sekarang serius.”

Tubuhnya menghilang lagi.

Namun kali ini—

Lima bayangan muncul sekaligus.

Dari depan.

Belakang.

Samping.

Atas.

Serangan bersamaan.

Anor menyipitkan mata.

“Teknik bayangan ya.”

Ia menarik napas pendek.

Lalu—

Kedua belatinya bergerak.

FLASH!!

Tubuhnya berputar seperti pusaran.

Belati kanan menangkis serangan pertama.

Belati kiri menyayat bayangan kedua.

Ia menunduk menghindari tebasan ketiga.

Lalu meloncat memutar tubuhnya.

CLANG!!

Pedang asli akhirnya bertabrakan dengan kedua belatinya.

Namun kekuatannya luar biasa.

DUAGH!

Anor terpental beberapa meter dan mendarat dengan satu lutut di tanah.

Darah menetes dari sudut bibirnya.

Assassin itu berjalan perlahan mendekat.

“Kau kuat.”

Langkahnya berhenti beberapa meter dari Anor.

“Tapi masih di bawahku.”

Ia mengangkat pedangnya.

“Ini akan jadi akhir—”

Namun tiba-tiba—

Anor tertawa kecil.

“Hah…”

Ia berdiri perlahan.

Lalu memutar kedua belatinya lagi seperti biasa.

“Kau tahu…”

Matanya menjadi lebih tajam.

“Aku belum serius juga.”

Assassin itu sedikit mengernyit.

Dalam sekejap—

ANOR MENGHILANG.

Bahkan assassin itu sedikit terkejut.

“…!”

Sebuah suara muncul tepat di belakangnya.

“Sekarang…”

SLASH!!

Belati menyapu udara dengan kecepatan luar biasa. Darah memercik tipis. Assassin itu melompat mundur cepat. Di pipinya kini ada sayatan kecil.

Anor berdiri santai beberapa meter darinya. Belati di tangannya meneteskan darah.

Ia tersenyum tipis.

“Aku akan serius kali ini.”

Matanya tajam seperti pemburu di malam hari.

“Sekarang pertarungannya mulai menarik.”

Di sisi lain medan—

Noa mengangkat tangannya tinggi.

“Maori!”

Paus raksasa itu membuka mulutnya lebar.

Energi air berkumpul seperti pusaran badai.

“Tidal Crash.”

BOOOOOOM!!!

Gelombang air raksasa menghantam para assassin yang tersisa.

Pertarungan di hutan malam itu…

Baru saja memasuki fase yang sebenarnya.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!