NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepastian dan Sisa-Sisa Pertempuran

Penyihir Petir perlahan mulai sadar dari pingsannya. Ia mencoba berdiri, menggunakan dinding sebagai tumpuan. Matanya tertuju pada pohon raksasa yang kini mendominasi ruangan. Dengan langkah tertatih, ia mendekati pohon tersebut dan meletakkan tangannya di kulit kayunya yang kasar. Ia tidak lagi merasakan detak jantung manusia; yang ia rasakan hanyalah aliran getah dan energi alam yang murni.

"Dia sudah menjadi pohon seutuhnya," gumam Penyihir Petir dengan nada datar,Ia menoleh ke arah Panglima Delta dan Ratu Layla. "Panglima, jaga Ratu di sini. Aku harus kembali ke medan tempur. Pasukan kita masih di luar sana, dan tanpa arah, mereka akan binasa sepenuhnya."

Penyihir Petir berjalan kembali melalui lorong sempit yang tadi ia runtuhkan. Dengan sedikit sisa mana, ia membuka kembali jalan tersebut. Saat ia keluar ke gua utama, pemandangan yang menyambutnya adalah sisa-sisa pasukan Atlas yang sedang terjepit. Para Minotaur hanya tinggal belasan, dan naga api yang terakhir telah kehilangan satu sayapnya. Penyihir Petir segera mengangkat tangannya ke udara, memanggil petir dari langit-langit gua untuk menghantam kerumunan siluman sabit yang sedang mengepung pasukannya.

Perjalanan kembali ke permukaan memakan waktu berhari-hari. Tanpa naga api yang bisa terbang karena luka-lukanya, dan dengan prajurit yang kelelahan, setiap langkah terasa seperti ujian. Namun, akhirnya, cahaya matahari mulai menyinari ujung terowongan keluar. Sisa-sisa pasukan Atlas muncul dari perut bumi Mereka disambut oleh penjaga istana yang telah menunggu dengan cemas. Berita tentang kembalinya Ratu.

Berita tentang kembalinya Ratu Layla segera menyebar ke seluruh penjuru istana, namun bukan sorak-sorai kemenangan yang menyambut mereka, melainkan keheningan yang mencekam. Rakyat dan prajurit yang tersisa di istana menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kebanggaan militer Atlas telah hancur. Barisan Minotaur yang biasanya gagah kini hanya tersisa segelintir dengan baju besi yang hancur, sementara para Centaur berjalan dengan busur yang patah dan kaki yang pincang.

Panglima Delta, meski dadanya masih dibebat kain yang bersimbah darah, bersikeras untuk menggendong Ratu Layla sendiri. Ia menolak bantuan tandu, seolah-olah ingin membuktikan bahwa ia masih mampu melindungi ratunya meski fisiknya telah remuk. Ratu Layla sendiri tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu. Matanya yang biasanya berkilat dengan otoritas yang kejam, kini tertutup rapat. Kulitnya pucat sepucat marmer, dan napasnya terdengar tipis, hampir tidak terasa.

Sesampainya di dalam gerbang emas istana, Penyihir Petir segera mengambil alih kendali. "Bawa Ratu ke kamar pribadinya di menara tertinggi! Panggil seluruh tabib kerajaan dan siapkan ramuan esensi kehidupan!" perintahnya dengan suara serak

Pasukan yang tersisa membentuk barisan kehormatan yang suram di sepanjang lorong istana saat Delta melangkah masuk membawa sang penguasa. Setiap langkah kaki Delta bergema di lantai marmer, menciptakan irama yang berat dan penuh duka.

Mereka akhirnya sampai di kamar megah sang Ratu. Delta dengan sangat hati-hati menidurkan Ratu Layla di atas ranjang besarnya yang empuk. Ia menatap wajah sang ratu cukup lama, memastikan bahwa wanita itu masih hidup, sebelum akhirnya ia sendiri jatuh terduduk di samping ranjang karena kehabisan tenaga. Tabib-tabib istana mulai berdatangan dengan wajah cemas, segera melakukan pemeriksaan menyeluruh di bawah pengawasan ketat Penyihir Petir.

setelah para tabib pergi, penasehat pergi ke Menara Petir yang menjulang tinggi ,untuk meracik ramuannya, atmosfer terasa berat oleh uap berwarna ungu keperakan yang keluar dari kuali besar milik Penyihir Petir. Kali ini, ia tidak sedang merapal mantra penghancur, melainkan sedang meracik ramuan esensi kehidupan yang paling murni. Setiap tetesan cairan yang masuk ke dalam kuali menciptakan suara mendesis dan letupan listrik yang menerangi ruangan gelap tersebut.

Sementara itu, jauh di bawah menara, Panglima Delta berjalan menyusuri taman istana dengan langkah yang berat.Delta berhenti di depan sebuah kolam yang airnya kini keruh. Ia menatap pantulan dirinya; seorang panglima yang gagah namun kini terlihat seperti sisa-sisa dari sebuah perang yang kalah.

Pikirannya melayang pada barisan Minotaur yang kini hanya tersisa beberapa lusin, dan para Centaur yang kehilangan kecepatan lari mereka karena luka-luka permanen. Kehancuran pasukan naga api adalah pukulan yang paling telak. Tanpa kekuatan udara tersebut, Atlas hanyalah sebuah benteng besar yang menunggu untuk dikepung. Delta mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Di tengah keheningan taman yang mencekam, sebuah ambisi mulai tumbuh di kepalanya

Malam semakin larut ketika Delta memutuskan untuk menaiki tangga spiral menuju Menara Petir. Suara dentingan baju besinya bergema di sepanjang koridor batu yang dingin. Saat ia masuk ke ruangan Penyihir Petir, bau belerang dan ozon langsung menyengat indra penciumannya. Sang Penasehat tidak menoleh, ia masih sibuk mengaduk ramuannya dengan gerakan ritmis. Delta berdiri di ambang pintu, menunggu hingga sang penyihir memberikan isyarat untuk berbicara.

"Kau membawa beban yang lebih berat daripada luka di dadamu, Panglima," suara Penyihir Petir terdengar parau,

Delta melangkah maju, berdiri di samping kuali yang bergejolak. "Kita tidak bisa hanya duduk diam menunggu Ratu terbangun, Penasehat. musuh-musuh kita di luar sana pasti sudah mencium bau darah dari Atlas. Kita butuh kekuatan baru. Kekuatan yang bisa menggantikan naga api dan barisan Minotaur yang telah musnah."

Penyihir Petir berhenti mengaduk. Ia menatap Delta dengan mata yang bersinar redup. "Apa yang kau rencanakan, Delta?"

Delta menarik napas panjang, matanya berkilat penuh tekad. "Ratu Arkhne. Jika kita bisa mengalahkannya dan menundukkan koloninya, kita akan memiliki pasukan yang tak terhitung jumlahnya. Prajurit Arkhne tidak mengenal rasa takut dan mereka bisa bergerak di medan mana pun. Dengan mereka di bawah bendera Atlas, tak ada satu pun yang berani meremehkan kita lagi. Kita harus menyerang sarang mereka sekarang, sebelum mereka menyadari betapa lemahnya kita saat ini."

Ruangan itu seketika menjadi dingin saat kata "Arkhne" terucap dari mulut Delta. Penyihir Petir meletakkan tongkatnya dan berbalik sepenuhnya menghadap sang Panglima."Kau sudah kehilangan akal sehatmu, Delta!" bentak Penyihir Petir. "Ratu Arkhne bukanlah musuh yang bisa kau tundukkan hanya dengan sisa-sisa pasukanmu yang pincang. Dia adalah entitas kuno yang kekejamannya setara, atau mungkin melampaui, Ratu Layla sendiri. Menyerang koloninya dalam keadaan kita yang sekarang sama saja dengan melakukan bunuh diri massal. Kita sedang berusaha menyelamatkan kerajaan, bukan mempercepat kehancurannya!"

Delta tidak mundur selangkah pun. "Kekejaman adalah bahasa yang dipahami di Atlas! Jika kita tidak bertindak ekstrem, kita akan habis. Aku lebih baik mati dalam pertempuran menaklukkan Arkhne daripada melihat Atlas perlahan-lahan membusuk dan jatuh ke tangan pemberontak!"

"Cukup!" Penyihir Petir mengangkat tangannya, dan percikan listrik meloncat di antara jari-jarinya. "Aku tidak akan mengizinkanmu menggunakan sumber daya yang tersisa untuk ambisi butamu itu. Fokus utama kita adalah kesembuhan Ratu Layla. Tanpa otoritasnya, tidak ada rencana yang boleh dijalankan. Rencanamu ditolak, Panglima. Jangan pernah membahasnya lagi di hadapanku."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Penyihir Petir menyambar sebuah botol kristal berisi ramuan yang baru saja ia selesaikan. Ia meninggalkan Delta sendirian di tengah ruangan yang dipenuhi asap.

Penyihir Petir lalu melangkah menyusuri lorong menuju kamar pribadi Ratu Layla.Saat ia masuk ke dalam kamar, aroma wangi-wangian yang kuat mencoba menutupi bau obat-obatan yang pahit.Penyihir Petir mendekati ranjang besar tempat Ratu Layla terbaring.Penyihir Petir dengan perlahan mengangkat kepala Ratu Layla. Ia membuka tutup botol kristal tersebut, mengeluarkan aroma yang menenangkan sekaligus tajam. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meneteskan ramuan berwarna perak itu ke bibir sang Ratu yang kering

Perlahan, kelopak mata Ratu Layla bergerak."Ratuku..." bisik Penyihir Petir dengan suara yang sangat lembut. "Anda berada di istana. Anda aman. Ramuan ini akan mengembalikan kekuatan Anda."

Ratu Layla tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan suara napas yang pendek dan terputus-putus. Kesadarannya hanya bertahan sekejap sebelum ia kembali terjerumus ke dalam kondisi antara hidup dan mati.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!