NovelToon NovelToon
Looking For Murder

Looking For Murder

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Mafia / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Bas_E

Kisah ini adalah kisah seorang perwira menengah kepolisian Osaka yang bernama Takagi Fujimaru, 35 tahun, bersama rekannya Kaoru Usui, 30 tahun, yang mengungkap kasus pembunuhan berantai. Kasus ini terinspirasi dari kisah nyata pembunuhan berantai yang terjadi di Hongkong pada tahun 1982. Dalam bekerja mereka dibantu seorang dokter ahli forensik yang bernama Keiko Kitagawa, 35 tahun. Bagaimanakah kisah perjuangan mereka mengungkap kasus dan menemukan pelaku yang sesungguhnya ?
Selamat membaca....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bas_E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhati-hatilah, Aku mohon...

Keiko menghempaskan tubuhnya di kursi taman rumah sakit setelah mengantar kepergian Geo dan jenazah Adriana di pintu keluar rumah sakit. Raut lelah terukir di wajahnya yang bersih. Seharian berjibaku dengan pekerjaannya, mengotopsi jenazah Adriana dan mempersiapkan tubuh itu agar tetap dalam kondisi baik sampai ke kampung halamannya.

Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, ketika sebelum berpisah tadi Geo sempat mengungkapkan kata maaf padanya. Maaf untuk semua rasa sakit yang disebabkan oleh dirinya. Maaf untuk semua kesalahan yang telah diperbuat adiknya. Maaf untuk semua waktu yang mereka habiskan berujung kepahitan bagi Keiko. Keiko merasakan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu adalah bentuk penyesalan yang dalam. Tapi semua telah terjadi. Kata maaf tidak akan merubah sesuatu yang retak kemudian pecah menjadi utuh kembali. Biarlah semua menjadi pelajaran berharga bagi masing-masing pihak untuk berubah menjadi lebih baik ke depannya.

Sebotol minuman isotonik tiba-tiba muncul di hadapan Keiko. Sosok yang menyodorkan minuman itu tersenyum manis, menunggu Keiko mengambil pemberiannya.

"Terima kasih, Detektif" Keiko mengambil minuman itu, membuka tutupnya, dan meneguknya.

Takagi duduk di samping Keiko, sembari meneguk minum miliknya. Tidak ada kata yang terucap setelah itu di antara mereka. Masing-masing tenggelam dalam pikiran dan perasaan mereka sendiri-sendiri. Suasana senja yang sama seperti waktu itu, ketika Takagi mendapati Keiko sedang sendirian di rooftop rumah sakit, saat ini Takagi juga mendapati Keiko sendirian di kursi taman dengan ekspresi yang sama dengan waktu itu.

Drrttt... Drrttt ... Drrttt...

Ponsel di saku celana Takagi bergetar. Bersamaan mereka memandang ke arah objek yang menimbulkan suara itu. Takagi mengambil ponselnya. Memandang layar ponsel yang menyala itu dengan wajah datar.

"Sebentar aku angkat telepon dulu" Takagi tetap duduk di tempatnya. Tidak beranjak satu langkah pun.

"Ya Rosanne" Terdengar dari seberang suara wanita yang menanyakan kabar dan keberadaannya saat ini.

"Aku baik-baik saja. Saat ini aku masih bekerja. Maaf Aku tidak bisa menemanimu. Mungkin lain kali. Baiklah sampai jumpa"

Keiko hanya memandang Takagi yang sedang menjawab panggilan telepon di sampingnya. Tidak ada keinginan di hatinya menanyakan sesuatu yang menurutnya bukan urusannya.

Takagi menyimpan ponsel itu, setelah menutup panggil itu. Seketika wajahnya menatap Keiko yang juga sedang memandang dirinya. Beberapa detik mata mereka bertemu, yang kemudian pandangan itu diputuskan sepihak oleh Keiko.

"Mantan istriku" Kata Takagi selanjutnya.

"Hah?" Keiko bingung Takagi tiba-tiba berkata begitu.

"Yang barusan menelepon tadi mantan istriku. Dia ingin aku menemaninya makan malam"

"Hmmm" Jawab Keiko dengan menundukkan wajahnya sambil memainkan jari jemarinya.

"Tapi aku tidak ingin melakukannya"

"Kenapa?" Keiko kembali memandang wajah Takagi.

Takagi menyandarkan tubuhnya ke kursi taman, dan menghembuskan nafas berat.

"Aku tidak ingin mengulang kisah baru bersamanya"

"Hmm. Sepertinya masalahmu sangat rumit"

"Ya. Begitulah" Takagi meneguk minumannya, membasahi kerongkongannya yang mendadak kering.

"Kalau kau tidak ingin membicarakannya, sebaiknya jangan, Detektif. Aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain"

Takagi kembali memandang wanita yang duduk di sampingnya itu.

"Aku bukan tidak ingin membicarakannya. Aku cuma belum siap"

"Ya sudah kalau begitu, tidak usah dibicarakan"

Keiko mengalihkan perhatiannya ke depan. Memandang rimbunnya dedaunan dan rerumputan yang dilatar belakangi warna senja yang kian memerah. Hembusan angin semilir membelai lembut rambut hitam terurai milik Keiko.

" Hem.. Kau mau jalan-jalan?" Takagi memecah kesunyian diantara mereka.

"Kemana ?"

"Entahlah. Ke suatu tempat, mungkin ?"

"Hmm ... Kemana ya?" Keiko tampak berfikir sejenak. "Oh iya, aku masih berhutang 1 makan malam denganmu"

"Kalau begitu tunggu apa lagi" Sambut Takagi dengan bersemangat.

"Baiklah. Aku simpan jas ku dulu"

"Ok. Aku tunggu di parkiran"

"Baiklah. Pakai sepeda lagi kita?"

"Aku tidak menyimpan sepeda di mobilku kali ini, Dokter" Sambil menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.

Keiko tersenyum melihat gelagat Takagi yang salah tingkah.

Mereka berpisah dan bertemu kembali di parkiran. Takagi yang melepaskan jas dan dasinya, terlihat tampan dengan kemeja putih yang digulung pada lengannya. Tersenyum manis sambil bersandar pada mobilnya. Begitu Keiko mendekat, ia langsung membukakan pintu depan mobil miliknya, dan mempersilahkan Keiko masuk.

"Silahkan masuk, Nona. Fujimaru-san siap melayani anda" Sambil membungkukkan badannya.

"Astaga... Baiklah Tuan Fujimaru" Keiko masuk ke dalam mobil Takagi dan membalas sikap konyolnya dengan senyuman. Setelah menutup pintu mobil, Takagi pun masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil.

" So.. Kita mau kemana, Dokter?"

"Osaka Ekimae Building"

"Siap. Laksanakan" Takagi memasukkan posrneling mobil dan menekan pedal gas. Mobil pun meluncur ke tujuan mereka.

Takagi melirik Keiko yang tampak manis duduk di sampingnya dengan blazer warna coklat susunya. Rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai.

"Kau cantik sekali, Dok" Ucap Takagi

"Hah? Apa kau sedang merayuku, Fujimaru-san?"

"Aku tidak pandai merayu, Nona Kitagawa. Kenyataannya memang seperti itu"

"Baiklah. Terimakasih atas pujianmu. Tapi aku tidak akan membayarnya"

"Pujianku cuma-cuma, Nona. Tidak ada bayaran. Oh iya, kita mau makan apa?"

"Seafood segar, soba dan oden"

"Banyak sekali kedai makan di sana. Kedai mana yang menjadi tujuan kita?"

"Jinbei. Kau pernah ke sana?"

" Oh tentu saja. Jika tidak ada tugas, aku biasa datang bersama teman-teman. Lebih dari 12 merek sake tersedia di sana, yang berasal dari Tohoku hingga Khusyu, dengan kebanyakan rasa sake yang sedikit pedas"

"Kau suka minum-minum rupanya"

"Sedikit. Itu juga tidak sering. Pilihan yang bagus, Dok. Kedai itu menyediakan Soba dan oden buatan sendiri. Seafoodnya juga segar, karena pemiliknya memiliki pasar grosir yang menjual seafood yang berkualitas dengan harga terjangkau"

"Kau tau banyak hal tentang makanan ya, Detektif"

"Tidak juga. Aku orang yang suka berwisata kuliner. Sedikit banyaknya aku mengetahui beberapa hal"

16 menit kemudian mereka tiba di Osaka Ekimae Building, yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya pedagang lokal yang menyajikan berbagai makanan enak dengan harga miring. Gedung yang dibangun pada tahun 1980-an ini bergaya retro, terdiri dari empat bangunan yang terhubung dengan labirin bawah tanah.

Mereka menuju lantai B1 Gedung 3 Ekimae Building, yang telah buka dari jam 3 siang pada hari kerja. Mereka mengambil tempat duduk yang di seberang meja panjang. Memesan makanan terbaik dari kedai itu, Sashimi dengan bahan Spring Special Pattern, Soba hand made yang di buat dari bahan buckweat. Dan tidak lupa sebotol sake.

Tidak menunggu lama, pelayan mengantarkan pesanan mereka.

"Jangan terlalu banyak minum, Detektif. Kau kan masih dalam jam kerja"

"Tenang saja. Toleransi alkohol di tubuhku sangat tinggi. Beberapa gelas sake tidak akan membuatku mabuk, Dok. Kau sendiri tidak mau minum ?"

"Ahh tidak. Aku tidak begitu suka rasanya"

"Oh. Ok. Baiklah"

Setelah menghabiskan makanan, tak lama kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Ketika sampai di parkiran, Takagi membukakan pintu mobilnya untuk Keiko.

"Terimakasih" Tersenyum dengan manis pada Takagi.

Bruk. Pintu mobil pun di tutup. Takagi menuju tempatnya, dan berniat menyalakan mesin mobil. Namun, ia mematung. Matanya tertuju pada objek jauh yang ada di depannya.

Keiko yang melihat Takagi, reflek mengikuti arah pandangan pria tampan itu.

"Ada apa, Detektif?"

"Coba perhatikan di depan sana" Takagi menunjuk objek yang diperhatikannya.

"Perempuan yang sedang mabuk itu, lagi di papah oleh seorang lelaki? Apa yang aneh? Kekasihnya barangkali?"

"Coba perhatikan baik-baik. Kenapa dia membawa wanita itu ke sana? Seharusnya kan di bawa pulang. Setauku, gedung di sebelah sana tidak ada yang menyewa. Wait. Liat 2 orang lelaki berandalan itu. Sepertinya mereka mengikuti 2 orang tadi"

"Eeh.. Iya. Sepertinya begitu, Detektif"

"Dokter, Kau tunggulah di sini, jangan pergi ke mana-mana. Kalau dalam 5 menit aku tidak kembali, tolong kau telepon rekanku. Dia tau apa yang akan dilakukan. Aku keluar dulu"

Takagi membuka sabuk pengamannya, mengambil revolver di dashboard mobil, menyimpannya di pinggang belakang dan bergegas membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba, Keiko menahan lengannya erat. Takagi refleks memandang kedua tangan Keiko yang sedikit mencengkram lengan kanannya.

"Berhati-hatilah. Aku mohon..." Sambil menggigit bibir bawahnya.

"Aku akan berhati-hati. Aku berjanji.." Menyentuh jemari Keiko yang mencengkram lengannya dan menepuk dengan lembut.

Bergegas Takagi keluar dari mobilnya, berlari dengan hati-hati menuju empat orang yang mencurigakan itu.

1
ramanda
tubuh yusa diambil alih sota sebelum akhirnya bertemu mbak kunti dan dibanting sampai pingsan selama dua bulan. mungkin.
ramanda
aku rasa biksu itu bukan hantu atau biksu asli, tapi kepribadian baru yusa.
ramanda
wow dua bulan di dalam hutan dan masih hidup ? bagaimana cara dia bertahan hidup ?
ramanda
fuji pemilik gunung kembar kesayangan geo.
ramanda
Subhanallah .. sungguh anak yang malang.
ramanda
jadi selama ini ayahnya tau tapi menutupi fakta, dan ibunya .. sama sekali tidak tau penyakit mental anaknya. 😥
ramanda
padahal sekolah di jepang baru mengajarkan calistung ketika anak berada di sekolah dasar. atau sekitar usia 7 tahun.
ramanda
apakah ren adalah kepribadian lain dari yusa ?
ramanda
tak bisa berkata kata menyaksikan adiknya berdebat dengan dirinya sendiri.
ramanda
pelakunya mengidap penyakit kepribadian ganda. apakah yusa juga yang melakukan pembunuhan terhadap cho, ayumi, dan adriana ?
ramanda
yusa ? memiliki kepribadian ganda atau alter ego ?
ramanda
pelaku mengenal hikari ?
ramanda
benjorka. benjiro bjorka.
ramanda
perempuan mengucapkan love you kepada perempuan lain akan terdengar biasa saja sejauh kita tidak tau kalau mereka menyimpang.
ramanda
sora kah ? hahaha
ramanda
doa baik saja belum tentu dikabulkan apalagi doa buruk 🤣
ramanda
aku sudah curiga saat dia bilang tentang pilihan hidupnya dan benci lelaki. ternyata memang menyimpang.
ramanda
yang benar usia takagi 39 atau 35 tahun ?
ramanda
kalau melakukan pelepasan di dalam, besar kemungkinan ditemukannya DNA tetsuya.
ramanda
ternyata diam2 perempuan juga berimajinasi ke arah sana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!