“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 23.
Liora keluar dari ruang kerja sambil membawa map hitam itu di tangannya. Langkahnya tidak secepat saat masuk tadi. Ia masih mencerna semua yang baru saja didengarnya.
Komisaris, jabatan itu terasa terlalu besar untuk seseorang yang beberapa minggu lalu bahkan tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari keluarga Salendra.
Begitu pintu lift terbuka, suara riang langsung menyambutnya.
"Lioraaa!"
Dewangga berlari kecil menghampirinya sambil membawa cup es krim yang tinggal setengah.
"Lama."
"Baru sebentar."
"Nggak! Lama bangettt..." Bibir pria itu cemberut.
Liora terkekeh pelan. "Iya deh, maaf."
"Nih cobain." Dewangga langsung menyodorkan sendok ke depan wajah Liora. “Es krim Dewangga enak, loh."
Liora menggeleng sambil tersenyum. "Itu punyamu."
"Dewangga mau berbagi."
Melihat wajah penuh harap itu, Liora akhirnya menerima satu suap kecil. "Hm... enak."
"Hehehe...“ Dewangga langsung tertawa puas.
Keivan yang berdiri di samping hanya mengembuskan napas pelan. Untuk sementara, ia memilih mengikuti sandiwara ayahnya. Meski begitu, ia sendiri belum tahu apa sebenarnya rencana yang sedang disusun ayahnya itu.
"Papa memang selalu begitu. Kalau sedang senang, semua orang harus ikut makan."
"Malah bagus, kan? Paling tidak dia masih mau berbagi.“
Keivan tersenyum tipis.
Saat itu Codet datang menghampiri.
"Nyonya."
"Ya?"
"Mobil sudah siap."
Liora mengangguk. "Ayo, kita pulang."
"Oke!" jawab Dewangga semangat.
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil jauh lebih santai. Dewangga sibuk memeluk bonekanya sambil sesekali melihat keluar jendela.
"Liora, lihat! Itu balon, aku mau."
"Nanti kita beli, ya."
"Oke." Dewangga kembali menurut.
Di kursi depan, Codet sesekali melirik melalui kaca spion. Entah kenapa, hari itu ia merasa Tuan-nya terlihat lebih tenang dari biasanya. Sesampainya di mansion, sebuah mobil lain sudah lebih dulu terparkir di halaman.
"Ada tamu?" Liora mengernyit.
Codet ikut melihat. "Saya tidak mendapat laporan."
Belum sempat mereka melangkah masuk, pintu rumah utama sudah terbuka. Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di sana. Penampilannya anggun dengan pakaian serba mahal, tetapi sorot matanya tajam sejak melihat Liora.
"Lama sekali kalian."
Tuan Besar yang baru turun dari mobil kedua langsung menghela napas pelan. "Kau datang juga rupanya."
"Tentu saja! Kudengar keponakanku akhirnya muncul di perusahaan." Wanita itu tersenyum tipis.
Tatapannya beralih kepada Dewangga. Untuk sesaat, matanya melembut. Namun ketika melihat tangan Dewangga menggenggam ujung blazer Liora, ekspresinya kembali berubah.
"Jadi... ini wanita yang dinikahkan dengan Dewangga?"
"Selamat sore." Liora mengangguk sopan.
Wanita itu tidak menjawab, ia justru mengamati Liora dari ujung kepala hingga kaki. "Cantik, lumayan."
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi jelas mengandung sindiran. Wanita itu adalah Nyonya Agatha, adik kandung mendiang nenek Keivan sekaligus salah satu pemegang saham terbesar di Salendra Group. Dia adalah adik ipar dari Tuan besar. Dan di keluarga Salendra, semua orang paham jika Nyonya Agatha adalah orang yang paling sulit dipuaskan.
"Bibi Agatha." Dewangga tiba-tiba melangkah maju.
"Dewangga masih ingat Bibi?" Wanita itu tersenyum hangat.
"Iya, bibi bawa cokelat?"
"Tentu saja." Nyonya Agatha tertawa kecil, Ia mengeluarkan sekotak cokelat dari tasnya.
Mata Dewangga langsung berbinar. "Cokelat!"
Liora hanya bisa menggeleng geli. Baru saja tadi makan es krim, sekarang sudah memikirkan cokelat lagi.
Namun saat Nyonya Agatha menyerahkan kotak cokelat itu, mata Dewangga sempat menangkap sebuah cincin bermotif burung elang di jari manis wanita tersebut. Sorot matanya berubah sesaat, cincin itu... Ia pernah melihatnya tepat sebelum kecelakaan yang mengubah hidupnya. Sepersekian detik kemudian, Dewangga kembali tersenyum polos.
"Terima kasih, Bibi."
Tak seorang pun menyadari bahwa ingatan lain baru saja kembali pada Dewangga, dan membawa petunjuk yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Malam mulai turun ketika seluruh penghuni mansion akhirnya kembali beristirahat.
Kedatangan Nyonya Agatha membuat suasana makan malam sedikit lebih ramai, meski Liora merasa wanita itu beberapa kali memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Beruntung, Dewangga tetap menjadi pusat perhatian.
"Bibi, tadi cokelatnya enak."
"Kalau habis, nanti bibi belikan lagi."
"Hehehe..."
Tingkah polos Dewangga membuat Nyonya Agatha beberapa kali tertawa kecil. Namun di balik senyumannya, pikirannya terus mengingat cincin di jari wanita itu.
Kenapa Bibi bisa memiliki cincin itu...? Tidak... mungkin aku salah ingat! Dewangga memilih menyimpan pertanyaan itu sendiri.
Seusai makan malam, Liora dan Dewangga kembali ke kamar.
"Aku mau mandi dulu."
"Oke."
Dewangga langsung duduk di sofa sambil memeluk boneka anjingnya, persis seperti biasanya. Tak lama kemudian terdengar suara air dari balik pintu kamar mandi. Ia menatap ke arah pintu itu beberapa saat sebelum mengembuskan napas pelan. Menjadi "anak kecil" sepanjang hari ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi rapat direksi.
Sekitar dua puluh menit kemudian, suara air berhenti. Liora yang mengira Dewangga masih sibuk bermain boneka keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia mengenakan mantel mandi putih. Namun baru beberapa langkah, handuk di rambutnya terjatuh ke lantai.
"Ya ampun..." Liora spontan membungkuk mengambilnya.
Di saat yang sama, ikatan mantel mandinya sedikit mengendur. Tanpa sengaja, Dewangga menoleh karena mendengar suara. Pria itu sontak mematung, matanya melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.
Matanya refleks membesar, napasnya sempat tertahan. Selama setahun terakhir, kemampuan berpikirnya memang seperti anak kecil. Tetapi sekarang, Ia telah kembali menjadi pria dewasa sepenuhnya. Naluri dan hasrat yang sempat terkubur... kini telah bangkit kembali.
Sadar telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat, Dewangga buru-buru memalingkan wajah. Namun gerakan itu justru terlambat, Liora yang baru berdiri kembali mengikuti arah pandangan Dewangga. Bagian dadanya yang terbuka di balik jubah... terlihat jelas.
Sesaat kemudian, wajah wanita itu berubah merah padam.
"AAAAAH!"
Dengan gerakan panik, Liora langsung merapatkan kembali mantel mandinya.
"Kamu ngapain lihat-lihat?!"
"Hah?" Dewangga berkedip beberapa kali.
"Kamu...!"
Pria itu memasang wajah bingung. "Dewangga dengar suara, terus Dewangga lihat ke Liora."
Liora membuka mulut, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ia kesal, sangat kesal setengah mati. Namun ketika melihat ekspresi polos Dewangga yang sama sekali tidak tampak mengerti letak kesalahannya, amarah itu perlahan mengempis sendiri.
Pria itu bahkan menggaruk kepalanya dengan wajah kebingungan. "Liora marah? Dewangga salah, ya?"
Liora memejamkan mata sambil menarik napas panjang, ia melakukannya berulang kali. "Nggak... kamu memang nggak ngerti.“
"Oke!“ Melihat Dewangga mengangguk begitu patuh, Liora hanya bisa mengusap wajahnya sendiri.
Mau dimarahi bagaimana? Secara mental, pria itu masih terlihat seperti anak kecil.
"Ya sudah." Liora buru-buru mengambil pakaian, lalu kembali mengunci diri di kamar mandi untuk berganti dengan lebih tenang.
Sementara di dalam kamar, Dewangga mengembuskan napas pelan. Tangannya menekan pelipisnya sendiri. "Astaga..."
Untuk pertama kalinya sejak ingatannya kembali, jantung pria itu berdetak secepat itu.
Malam semakin larut. Seperti malam-malam sebelumnya, Liora akhirnya tertidur di samping Dewangga. Karena sudah terbiasa, perempuan itu bahkan tanpa sadar bergeser mendekat hingga salah satu tangannya menyentuh lengan pria tersebut.
Beberapa saat kemudian, Dewangga perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke arah istrinya, perempuan itu tertidur sangat lelap. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Dengan hati-hati, Dewangga menyibakkan rambut tersebut ke belakang telinga Liora. Tatapannya melembut, berbeda dengan siang hari yang penuh perhitungan.
"Dasar perempuan keras kepala... tapi justru itu yang membuatmu menarik." Sudut bibir Dewangga terangkat membentuk senyum tipis.
Setelah terdiam beberapa saat, Dewangga sedikit menundukkan kepala. Dengan sangat pelan, Ia mengecup singkat kening Liora. Lalu, seolah didorong oleh perasaan yang bahkan dirinya sendiri belum mampu jelaskan, bibirnya menyentuh bibir Liora dalam kecupan yang begitu ringan, sesaat, dan nyaris seperti embusan napas.
Liora hanya bergumam pelan dalam tidurnya, sama sekali tidak terbangun. Dewangga segera menjauh, Ia menatap wajah Liora beberapa detik lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
"Maaf..."
Ucapan itu bukan karena penyesalan, justru saat ini Dewangga menyadari satu hal yang tidak pernah ia rencanakan. Liora perlahan tidak lagi menjadi sekadar bagian dari sandiwara dan rencananya. Perempuan itu telah menjadi alasan yang ingin ia lindungi... dan alasan mengapa ia harus memenangkan permainan ini, apa pun risikonya.
sebab, dia takut
korupsi di perusahaan akan terungkap
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala