NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 23 : PAKSAAN TAKDIR DI BALIK DINDING STERIL

Kelegaan menyelimuti ruang rawat VIP Rumah Sakit Pusat Harapan Medika sore itu. Setelah melewati masa-masa menegangkan akibat serangan jantung mendadak, Ambarwati Baskara kini sudah bisa bersandar di ranjangnya. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya, tapi rona wajahnya mulai kembali. Radit dengan penuh telaten menyuapi ibunya bubur rumah sakit sesendok demi sesendok. Di sisi lain ranjang, Dimas dan Amanda setia menemani, sesekali merapikan selimut sang Mommy.

Ceklek...

Pintu kamar rawat mendadak terbuka lebar tanpa ketukan terlebih dahulu. Langkah kaki yang terburu-buru memecah ketenangan ruangan. Tiga orang melangkah masuk secara bersamaan. Di depan, tampak Natasha Olivia Renata (28 tahun) yang mengenakan dress kasual modis, disusul oleh ibunya, Larasati Murni, dan seorang pria paruh baya berwajah tegas yang baru saja mendarat dari luar negeri, yaitu Hendra Sanjaya (55 tahun), papanya Natasha yang merupakan pengusaha sukses sekutu bisnis keluarga Baskara.

"Mommy!!! Ya ampun, Mommy nggak apa-apa kan?!" seru Natasha histeris, langsung berlari menerobos ranjang dan memeluk tubuh Ambarwati dengan sangat erat dan manja. "Natasha bener-bener panik banget, Mom! Tadi aku, Mama, sama Papa sempet mampir ke rumah Mommy, tapi kata pembantu di sana, Mommy udah dibawa ke rumah sakit karena pingsan. Kita langsung ngebut ke sini!"

Ambarwati tersenyum lemah, mengelus rambut pirang Natasha penuh rasa sayang. "Mommy nggak apa-apa, Natasha sayang... Untung aja Radit cepet bawa Mommy ke sini. Tapi tetep aja, dada Mommy rasanya masih sesak kalau inget kejadian tadi pagi."

Laras melangkah mendekat, menggandeng tangan Hendra ke depan ranjang. "Jeng Ambar, kok bisa sampai begini sih? Memangnya tadi pagi ada masalah apa di rumah keluarga Wijaya? Jeng Sarah nggak cerita apa-apa di grup arisan."

Ambarwati mengembuskan napas panjang, wajahnya mendadak ditekuk kaku dipenuhi rasa jijik yang luar biasa besar saat ingatan tentang Kalea kembali merayap di benaknya. "Aduh, Jeng Laras... Saya bener-bener sial banget tadi pagi! Saya datang ke rumah wijaya untuk menjauhkan kalea dari radit! Di depan saya, cewek murahan itu ngelontarin kata-kata kejam dan fitnah busuk yang bikin emosiku meluap sampai dadaku sakit banget dan pingsan! Dia itu bener-bener iblis pembawa sial yang mau ngebunuh saya secara perlahan!"

Radit yang mendengar ibunya kembali menghina Kalea hanya bisa diam membeku di tempat duduknya. Rahang tegasnya mengeras kuat, sepasang mata elangnya menatap kosong ke arah mangkok bubur di tangannya, menahan gemuruh amarah batin yang luar biasa besar demi menjaga kondisi jantung ibunya agar tidak kembali drop.

Natasha yang melihat ketegangan itu langsung berbalik tubuh, merentangkan kedua tangannya melompat memeluk Amanda yang berdiri di sudut ranjang. "Amanda... kamu pasti syok banget ya liat Mommy kamu tadi pagi?"

Amanda tersenyum sangat senang, membalas pelukan hangat itu penuh antusiasme yang gila. "Iya, Kak Natasha! Amanda seneng banget Kak Natasha dateng sekarang! Amanda dari tadi pusing banget jagain Mommy. Amanda mau panggil sebutan Kakak aja ya ke Kak Natasha, biar akrab!"

"Boleh banget dong, Amanda sayang," sahut Natasha manja sambil mencolek dagu Amanda lentik.

Hendra Sanjaya, papanya Natasha, melangkah maju satu langkah ke depan ranjang Ambarwati, membetulkan letak jas formalnya. Pria paruh baya itu melemparkan senyuman wibawanya yang ramah. "Jeng Ambar, saya baru aja mendarat dari luar negeri siang ini dan denger kabar duka ini langsung dari Laras. Cepat sembuh ya, Jeng. Semoga kondisinya bisa segera pulih total biar kita bisa berkumpul santai lagi kayak dulu."

"Terima kasih banyak, Pak Hendra... Makasih udah sempetin mampir kesini pas baru pulang," jawab Ambarwati tulus. Wanita paruh baya itu kemudian memalingkan wajahnya menatap lurus ke arah putra sulungnya. "Radit."

Radit mendongak perlahan, menatap ibunya datar tanpa ekspresi. "Iya, Mom."

Ambarwati memperbaiki posisi bersandarnya dengan sangat angkuh, lalu menatap Hendra penuh rahasia bisnis yang matang. "Pak Hendra, Jeng Laras... Mumpung kita semua lagi kumpul di dalam ruangan steril ini, aku mau mutusin sesuatu. Aku mau pernikahan antara Radit dan Natasha dipercepat bulan ini juga! Nggak usah pakai acara tunangan yang ribet, langsung akad nikah aja secepatnya!"

Laras langsung bersorak kegirangan di samping suaminya. "Aduh, Jeng Ambar! Aku setuju banget! Lagian mereka berdua kan emang udah cocok banget, yang satu dokter genius, yang satu model terkenal. Sempurna!"

Hendra menganggukkan kepalanya tegas, menyetujui perkataan istrinya. "Saya juga setuju, Jeng Ambar. Bisnis kita di luar negeri juga bakal makin kuat kalau dua anak kita ini resmi bersatu dalam ikatan pernikahan sah."

Mendengar seluruh rencana sepihak yang diatur oleh ibunya untuk menjodohkannya dengan Natasha, kesabaran Radit akhirnya habis total. Sifat perfeksionis dan ketegasannya berontak kuat. Radit meletakkan mangkok buburnya di atas nakas dengan sentakan kasar, lalu berdiri tegap menjulang setinggi 185 sentimeter menghadapi ibunya dengan pandangan mata elang yang memancarkan kilatan amarah yang membara.

"Cukup, Mom! Tolong stop atur hidupku?!" bentak Radit dengan suara baritonnya yang rendah namun terdengar sangat tegas, kaku, dan memotong seluruh perbincangan dengan telak. "Aku nggak bisa nikah sama Natasha! Aku udah punya pacar! Aku tetep bakal menikahi Kalea secara sah! Aku cuma cinta sama Kalea, Mom, nggak ada cewek lain di hati aku?!"

DEG!

Mendengar deklarasi cinta Radit yang begitu berani menantang maut di dalam kamar rumah sakit, Dimas Narendra Baskara yang sejak tadi duduk diam di sudut kursi langsung mengepalkan kedua tangan kekarnya kuat-kuat di samping tubuhnya. Rahang Dimas menegang kaku, dadanya kembali sesak luar biasa merasakan kehancuran batin karena cewek yang dia cintai pada pandangan pertama lagi-lagi diklaim mutlak oleh abang kandungnya sendiri.

Natasha yang panik mendengar penolakan keras Radit langsung merangsek maju. Dengan gerakan genit yang dibuat-buat, Natasha melingkarkan kedua lengan seksinya di sekeliling lengan kekar Radit, mengusap-usap kemeja hitam Radit dengan gerakan manja yang memprovokasi gairah. "Ih, Radit sayang... kamu kok bicaranya kejam banget sih di depan Mommy yang lagi sakit? Lupakan cewek anak haram itu, Radit... Cuma aku yang pantas jadi istri kamu, aku sayang banget sama kamu..."

Sret!

Radit dengan gerakan yang sangat kasar dan tidak berperasaan langsung menepis tangan Natasha menjauh dari tubuhnya, membuat Natasha terhuyung mundur satu langkah canggung. "Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotormu, Natasha?!" ketus Radit sedingin es.

Amanda yang melihat penderitaan Natasha langsung membela sekutunya, menatap Radit dengan pandangan yang sangat sinis dan penuh kebencian. "Mas Radit keterlaluan banget sih! Amanda suka Kak Natasha jadi kakak ipar Amanda! Kak Natasha itu terhormat, berpendidikan, cantik! Nggak kayak anak haram itu, yang baru dateng sekali aja udah sukses bikin Mommy jantungan dan masuk rumah sakit kayak begini?! Mas Radit bener-bener egois?!"

"Aku tetep nggak bisa nikahin Natasha, Amanda! Keputusanku udah bulat!" balas Radit lantang tanpa mau mundur satu senti pun.

Ambarwati yang melihat putranya menolak keras di depan kolega bisnisnya langsung menggunakan senjata pamungkas manipulasinya. Air mata palsu mendadak mengalir deras membasahi pipi paruh bayanya, dia menangis meraung-raung memegangi selimut sambil membawa-bawa topik kematian untuk memojokkan Radit. "Ya Allah, Radit... Kamu bener-bener mau ngebunuh Mommy secara perlahan ya?! Kamu udah nggak sayang lagi sama Mommy, hah?! Lebih baik Mommy mati aja. Hiks... hiks... dada Mommy sakit lagi, Radit..."

Amanda dan Natasha langsung panik kesetanan, bergegas merapat ke arah ranjang dan kompak mengusap-usap punggung Ambarwati yang sedang menangis sesenggukan dengan gerakan naik-turun yang mesra.

"Mommy! Tenang, Mom! Jangan nangis begini, nanti jantung Mommy drop lagi!" panik Amanda sambil melemparkan tatapan membunuh ke arah kakaknya. "Mas Radit! Liat tuh kelakuan Mas! Puas Mas sekarang bikin Mommy nangis bawa-bawa kematian begini?! Minta maaf sekarang juga?!"

Laras ikut menimpali dengan kalimat menusuk jarum provokasi dari samping. "Iya, Radit... Sebagai anak tertua, kamu nggak boleh sekejam itu sama ibumu yang lagi sekarat. Natasha kurang apa coba dibanding cewek Wijaya itu?"

Radit yang melihat ibunya menangis histeris membawa-bawa kematian mendadak ngerasa benteng pertahanannya goyah akibat tekanan moral kedokterannya. Pria berusia 29 tahun itu mengembuskan napas panjang yang sangat kasar dan melelahkan dari lubuk dadanya. Dia melangkah maju mendekati ranjang, lalu dengan jari-jemarinya yang hangat, Radit perlahan-lahan menghapus air mata yang membasahi pipi ibunya dengan kelembutan seorang anak yang terjebak dilema takdir.

"Mommy... tolong jangan bicara soal kematian lagi, aku mohon," ucap Radit dengan nada suara yang melunak penuh kepasrahan batin, menatap ibunya lekat.

"Mommy nggak bakal berhenti nangis dan Mommy nggak bakal bisa sembuh, Radit!" potong Ambarwati ketat di sela-sela tangisannya, menatap putrinya penuh tuntutan mutlak yang menjebak. "Mommy baru bisa tidur tenang dan sakit jantung Mommy ini nggak bakal kumat lagi kalau kamu BERJANJI mau nikah sama Natasha sekarang juga! Jawab Mommy, Radit! Kamu mau nikah sama Natasha atau kamu mau liat Mommy mati besok pagi?!"

Radit memejamkan sepasang mata elangnya rapat-rapat, seluruh pasokan udara di kepalanya rasanya bener-bener buntu menghadapi kelicikan ibunya yang menggunakan nyawanya sendiri sebagai alat tawar-menawar kontrak benci jadi cinta ini. "Mom... aku butuh waktu buat ngejawab ini. Nggak bisa sekarang."

Ambarwati menggelengkan kepalanya dengan gerakan kaku penuh penolakan mutlak. "Nggak ada waktu tambahan, Radit! Kamu harus jawab SEKARANG JUGA di depan Pak Hendra dan Tante Laras! Pilih sekarang?!"

"Aku nggak bisa jawab sekarang, Mom!" balas Radit menggelengkan kepalanya teguh mencoba mempertahankan Kalea dalam jiwanya.

Tiba-tiba, di tengah perdebatan sengit itu, wajah Ambarwati mendadak memucat kembali bagaikan kertas. Kedua tangannya bergerak refleks mencengkeram erat area dada kirinya dengan napas yang mendadak tersengal-sengal sesak yang sangat kaku, dibuat seolah-olah dia kembali mendapat serangan jantung susulan akibat penolakan Radit. "A-Ahhh... D-Dadaku... S-Sakit banget... Radit... M-Mommy udah nggak kuat lagi... Ahhh..."

"MOMMY?!" Amanda berteriak histeris ketakutan, langsung melompat memeluk ibunya. Natasha juga ikut menjerit panik memegangi tangan Ambarwati. Laras dan Hendra langsung heboh memanggil dokter jaga di luar.

Ambarwati menatap Radit dengan pandangan mata yang sayu, merengek kaku di sela-sela akting sesak napasnya. "Radit... m-mungkin ini adalah hari terakhir Mommy hidup di dunia... hiks... Mommy mau... Mommy mau liat kamu janji nikah sama Natasha sebelum mata Mommy... Ahhh..."

Melihat kondisi darurat medis ibunya yang semakin kritis mencengkeram dada di depan matanya sendiri, Radit bener-bener tidak punya pilihan logis lain untuk menyelamatkan situasi. Sisi profesionalitas kedokterannya dan baktinya sebagai anak sulung akhirnya memaksa egonya untuk runtuh berhamburan menjadi abu kekalahan. Radit menarik napas dalam-dalam penuh kepasrahan yang teramat sangat menyayat hati.

"Oke, Mom! Oke! Aku menyerah!" ucap Radit dengan suara bariton yang bergetar hebat menahan sesak di dadanya, wajah tampannya memucat kaku. "Aku... aku janji bakal MENIKAHI NATASHA, Mom! Tapi... tapi nggak langsung hari ini atau besok pagi juga! Aku mau Mommy sembuh dulu, pulang ke rumah, dan kita berkumpul sehat lagi seperti sekarang baru kita urus pernikahannya! Tolong tenang dulu, Mom, jangan sesak lagi!"

Mendengar kalimat persetujuan dan janji manis yang keluar langsung dari mulut putranya, di balik erangan sakitnya yang mencengkeram dada, di dalam lubuk hati Ambarwati yang terdalam, sebuah senyuman licik penuh kemenangan egois mendadak terukir sangat lebar. Dia bersorak puas karena taktik serangan jantung palsunya terbukti seratus persen berhasil meruntuhkan pertahanan Radit untuk memisahkan anak haram itu dari hidupnya.

Radit membungkukkan tubuh jangkungnya, lalu dengan gerakan kaku dia meraih tangan kanan ibunya dan mencium punggung tangan Ambarwati dengan takzim sebagai tanda ikatan janjinya malam ini.

Ambarwati yang merasa sudah menang langsung membuka matanya, lalu dengan gerakan lambat dia meraih tangan kanan Radit dan tangan kanan Natasha, menyatukan kedua telapak tangan anak manusia itu dalam satu genggaman erat di atas selimut ranjangnya. "Nah... begini baru putra kebanggaan Mommy... Natasha, jaga Radit ya sayang."

Natasha langsung mengulas sebuah senyuman kemenangan yang sangat lebar dan manis di wajah cantiknya, menatap Radit penuh binar kepuasan obsesi yang tercapai. "Iya, Mommy sayang... Natasha janji bakal jagain Radit terus."

Amanda yang melihat bersatunya tangan mereka langsung bertepuk tangan heboh penuh suka cita di dalam kamar rawat. Dia melompat maju, langsung memeluk erat tubuh Natasha dengan binar mata bahagia. "Horeee!!! Amanda seneng banget! Sebentar lagi Kak Natasha bakal resmi jadi kakak ipar Amanda yang sah! Nggak sabar banget deh!"

Sementara perayaan kemenangan palsu itu sedang berlangsung riuh di dalam kamar rawat VIP, Dimas Narendra Baskara yang masih duduk tenang di sudut kursi besi hanya bisa diam membisu seutuhnya. Namun perlahan, seulas senyuman tipis yang sangat misterius mendadak terukir samar di bibir tampannya. Entah senyum apa itu... Apakah senyum karena dia merasa lega karena Radit dan Kalea akhirnya tidak jadi menikah sehingga dia masih punya peluang untuk mengejar cinta bidadari bermata birunya di luar sana, atau senyum miris menertawakan ketidakberdayaan abang sulungnya yang baru saja terbelenggu oleh takdir manipulasi ibunya sendiri? Hanya Dimas yang tahu isi hati terdalamnya malam itu, menutup babak paksaan takdir dengan jalinan konflik cinta segitiga rumah tangga yang dipastikan bakal berjalan semakin rumit, sedih, dan penuh intrik balas dendam di bab-bab selanjutnya.

...****************...

Suasana di lantai dua rumah keluarga Wijaya mendadak senyap setelah kepergian Fandi yang membawa koper pakaiannya. Setelah membersihkan sisa makan malamnya bersama Bi Minah di dapur bawah, Kalea Azzahra Putri melangkah pelan menaiki anak tangga kayu ek. Langkah kakinya yang terbalut sandal rumah terasa ringan, berlawanan dengan gejolak batinnya yang rumit.

Kalea berhenti tepat di depan daun pintu kamar tidur Fitri yang masih sedikit terbuka. Dari dalam ruangan yang bernuansa biru tenang itu, sayup-sayup terdengar suara isak tangis tertahan yang sangat parau dan menyayat hati. Kalea menarik napas panjang, lalu mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu dengan pelan.

Tok! Tok! Tok!

Kalea mendorong pintu itu perlahan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama yang kini tampak berantakan. Dia melihat Fitri Amelia Wijaya sedang duduk bersila meringkuk di atas lantai marmer, bersandar di samping ranjang besarnya dengan kedua lutut yang ditekuk menutupi wajahnya.

Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Fitri mendongakkan kepalanya secara refleks. Begitu matanya yang sembap dan merah menangkap sosok Kalea yang berdiri tegak dengan setelan rumahan yang santai, Fitri langsung buru-buru menyeka air matanya secara kasar menggunakan punggung tangannya. Raut wajah kaku seorang Dokter Spesialis Jantung kembali dia pasang, meskipun tubuhnya masih gemetaran hebat menahan sesak.

"Mau ngapain kamu masuk ke kamarku, Kalea?!" ketus Fitri dengan nada suara yang serak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibwanya yang sudah hancur lebur sore ini. "Kamu ke sini cuma mau menertawakan aku, kan?! Kamu mau mengejek kebodohanku yang udah dikhianatin sama Mas Fandi dan Shinta selama tiga tahun?! Puas kamu sekarang liat aku hancur begini?! Keluar kamu dari kamarku! Pergi?!"

Kalea tidak memedulikan usiran ketus dan nada sinis dari kakaknya. Dia mengembuskan napas pendek yang cukup panjang dari lubuk dadanya. Tanpa rasa canggung sepeser pun, Kalea melangkah mendekat, lalu mendudukkan tubuh mungilnya tepat di atas lantai marmer, mengambil posisi duduk bersila di samping Fitri—sosok kakak sulung yang selama 24 tahun hidup di rumah ini tidak pernah menganggapnya ada, bahkan selalu melabelinya sebagai anak haram pembawa sial.

Kalea memalingkan wajah cantiknya, menatap lurus ke dalam manik mata Fitri yang masih berkaca-kaca dengan seulas senyuman tipis yang sangat tulus, tanpa ada sedikit pun kedok kepalsuan atau niat mengejek di dalamnya.

"Mbak Fitri... tolong dengerin aku sebentar aja ya," ucap Kalea dengan nada suara yang sangat lembut, pelan, dan bersahabat. "Aku ke sini bener-bener nggak ada niat sedikit pun buat ngetawain atau ngejek penderitaan Mbak. Aku tahu rasanya dikhianatin itu sakit banget, apalagi sama orang-orang yang paling Mbak percaya di rumah ini."

Fitri tetap memandang Kalea dengan pandangan mata yang sangat sinis dan tajam, dipenuhi kabut ego yang menolak terlihat lemah di depan adik angkatnya. "Nggak usah berlagak sok peduli sama aku, Kalea! Dari dulu kamu itu selalu iri kan sama kehidupanku yang mapan? Kamu pasti seneng banget dalam hati liat suamiku ternyata bajingan!"

Kalea justru terkekeh sangat tipis, menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan melihat kekerasan hati kakaknya. "Ya Allah, Mbak... demi Allah aku bersumpah, aku nggak pernah punya rasa iri sedikit pun sama kehidupan Mbak Fitri atau Shinta. Aku bahagia sama jalur karirku sendiri jadi General Manager di hotel. Dan soal Mas Fandi... aku tegaskan sekali lagi malam ini, aku nggak pernah sekali pun mencoba menggoda atau mencari perhatian dari suamimu yang brengsek itu, Mbak."

Kalea memperbaiki posisi duduknya, menatap Fitri lebih lekat lagi dengan senyuman manis yang menenangkan. "Justru kenyataannya... Mas Fandi itu yang selama tiga tahun ini selalu punya niat kotor dan berusaha keras buat deketin aku di rumah ini! Dia suka mencuri pandang, dia suka kirim pesan genit yang langsung aku hapus, dan dia selalu cari celah buat nyudutkan aku biar aku kelihatan salah di depan Mbak Fitri. Aku bener-bener ngerasa sangat jijik sama kelakuan dia, Mbak. Mana mungkin aku tertarik sama laki-laki murahan kayak begitu?"

Kalea menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan nada suaranya menjadi lebih serius. "Mbak Fitri mau tahu yang sebenarnya? Seminggu yang lalu, di hotel tempat aku kerja... aku liat dengan mata kepala telanjang aku sendiri gimana Mas Fandi dan Shinta masuk bergandengan tangan mesra, lalu memesan kamar VIP dan check-in di sana siang-siang buta."

DEG!

Fitri seketika terperanjat kaku di tempat duduknya, matanya yang sembap membelalak sempurna menatap Kalea dengan rasa terkejut yang luar biasa besar menembus rongga dadanya. "K-Kamu... kamu udah tahu dari seminggu yang lalu, Kalea?! Kenapa... kenapa kamu nggak langsung kasih tahu aku waktu itu, hah?! Kenapa kamu malah diem aja dan baru teriak pas di tepi kolam renang waktu itu?!" tanya Fitri dengan suara yang bergetar hebat penuh getaran kepedihan batin.

Kalea mengangguk perlahan dengan senyuman pahit yang samar, lalu dengan gerakan tangan yang sangat lembut dan tak terduga, Kalea mengulurkan kedua telapak tangannya yang hangat untuk meraih dan menggenggam erat-erat jemari tangan Fitri yang dingin kemerahan.

"Mbak... coba dipikir pakai logika sehat Mbak Fitri sebagai dokter yang cerdas," jawab Kalea dengan nada suara yang sangat tenang namun terdengar begitu menusuk relung hati. "Kalau kemarin sore aku tiba-tiba nelpon Mbak Fitri terus bilang kalau suamimu lagi tidur sama Shinta di hotel, apakah Mbak Fitri bakal percaya sama omonganku? Enggak, Mbak. Sama sekali enggak. Mbak Fitri pasti bakal langsung marah besar, maki-maki aku, dan menganggap aku lagi bikin fitnah busuk buat ngehancurin nama baik adek kesayanganmu, Shinta."

Kalea meremas pelan jemari tangan Fitri yang mulai lemas di dalam genggamannya. "Bahkan... andai waktu itu aku nekat memfoto mereka berdua di lobi atau merekam video kemesraan mereka di depan meja resepsionis, pas aku tunjukin ke Mbak Fitri... Mbak pasti bakal langsung nampar pipiku, kan? Mbak bakal nuduh aku sengaja ngedit foto itu pakai teknologi demi memuaskan rasa iri hatiku. Iya, kan, Mbak?"

Fitri langsung terbungkam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kaku, tidak bisa membantah sepatah kata pun karena apa yang dikatakan Kalea adalah sebuah kebenaran psikologis yang mutlak. Selama dua puluh empat tahun ini, dia memang selalu buta menaruh kepercayaan pada Shinta dan Sarah, serta selalu menutup telinga dari kebenaran apa pun yang keluar dari mulut Kalea.

"Makanya... aku milih buat diam kemarin, Mbak," sambung Kalea lagi sambil menepuk pelan beberapa kali punggung tangan kakaknya yang masih dia genggam dengan penuh kehangatan emosi. "Aku sengaja nggak memberitahu hubungan menjijikkan mereka dari kemarin. Aku cuma mau menunggu... menunggu sampai sejauh mana dua iblis itu bakal bermain sandiwara di rumah ini, sampai akhirnya Gusti Allah sendiri yang nurunin karma instan buat menelanjangi seluruh kebusukan mereka langsung di depan mata kepala Mbak Fitri sore ini. Dan sekarang semuanya udah terbukti, kan?"

Kalea melepaskan genggaman tangannya perlahan, lalu dengan gerakan tangan yang luar biasa lembut, jemari lentik Kalea bergerak naik ke atas wajah Fitri. Dia perlahan-lahan menghapus sisa air mata yang masih mengalir membasahi pipi mulus kakaknya dengan kelembutan yang tulus dari seorang adik kandung.

Fitri mendadak diam mematung laksana patung lilin. Sepasang matanya yang merah menatar lurus tanpa berkedip ke arah wajah cantik Kalea dari jarak sedekat ini. Ada rasa canggung, bersalah, dan hantaman penyesalan yang luar biasa besar mendadak merayap mengunci seluruh relung batin Fitri. Selama puluhan tahun, dia selalu menganggap cewek bermata biru di depannya ini sebagai musuh, sebagai anak dari wanita masa lalu sang papa yang tidak pernah dianggap sebagai adik yang sah di rumah Wijaya. Namun malam ini, di saat dia hancur lebur ditinggal lari oleh Shinta dan Fandi, justru 'anak haram' inilah yang sudi duduk di lantai marmer yang dingin untuk menghapus air matanya dan memberikan kehangatan nasehat yang menenangkan jiwanya.

Kalea perlahan menarik kembali tangannya, lalu berdiri dari lantai marmer dengan gerakan yang sangat anggun dan tegas, merapikan kembali blus hijau botolnya. Dia menatap Fitri dengan seulas senyuman manis terakhirnya yang penuh kedamaian batin.

"Udah ya, Mbak Fitri... Nggak usah ditangisin lagi laki-laki bajingan kayak Mas Fandi itu. Dia nggak pantes dapet air mata berharga dari seorang dokter hebat kayak Mbak Fitri. Fokus aja sama proses perceraian Mbak besok pagi. Aku balik ke kamar dulu ya, Mbak. Selamat istirahat," ucap Kalea dengan nada suara yang ceria dan menenangkan.

Kalea membalikkan tubuh tegapnya, melangkah lebar keluar dari dalam kamar tidur utama Fitri dan menutup pintu kayu itu kembali dengan sangat pelan, meninggalkan Fitri yang masih duduk terpaku sendirian di atas lantai marmer dengan tangisan penyesalan baru yang mulai pecah meraung-raung meratapi kebodohannya selama ini yang sudah menyia-nyiakan ketulusan adik bermata birunya tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!