Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Dalam Keluarga
Aroma cerutu memenuhi ruang kerja Arkan, ketika sebuah foto dilempar ke atas meja kayu hitam miliknya.
Foto itu menampilkan Alya, yang sedang berbicara dengan Raka di depan sebuah kafe beberapa hari lalu. Tatapan Arkan langsung berubah dingin.
"Aku sudah bilang, bahwa dia itu berbahaya," ujar Damar santai, sambil menyandarkan tubuh di sofa. "Tapi kamu malah sibuk bermain rumah tangga."
Arkan tidak menjawab, jarinya menekan sudut foto itu begitu keras, hingga kertasnya hampir robek.
"Aku sudah menyelidiki pria itu," lanjut Damar. "Dan ternyata dia seorang polisi."
Beberapa saat suasana terasa sunyi, hingga akhirnya gelas di tangan Arkan pecah menghantam lantai.
"Apa kamu sudah yakin, dengan apa yang kamu katakan barusan?"
Damar tersenyum tipis, "Yakin seratus persen."
Tatapan Arkan perlahan berubah gelap, semua potongan mulai terasa masuk akal. Kedekatan Alya dengan Raka, cara Alya beberapa kali bertanya tentang bisnis keluarga virello. Dan malam ketika Alya diam-diam keluar mansion tanpa izin.
Dada Arkan terasa panas, bukan karena takut. Tapi karena perasaan dikhianati.
Setelah bertahun-tahun ia membuka hatinya sedikit, dan wanita itu mungkin sedang menusukkan pisau dari belakang.
"Di mana Alya sekarang?" tanya Arkan.
"Di perpustakaan mansion."
Arkan berdiri tanpa berkata apa pun lagi, langkahnya terlihat tenang. Dan itu justru pertanda buruk.
Alya sedang membaca buku, ketika suara pintu terbuka dengan keras, hingga membuat tubuhnya tersentak.
Arkan masuk dengan wajah dingin, yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bahkan lebih dingin dibanding malam pertama mereka.
"A-Arkan, kenapa..."
Belum sempat Alya melanjutkan ucapannya, Arkan langsung melempar foto itu ke meja.
Tatapan Alya membeku saat melihat gambar dirinya dan Raka.
"Apa maksud dari semua ini?" tanya Arkan.
Alya menelan ludah, "Itu cuma..."
"Jangan bohong padaku, Alya!"
Bentakan itu menggema memenuhi ruangan, Alya sampai berdiri karena kaget. Selama ini Arkan memang selalu mengintimidasi, tapi kali ini Alya bisa melihat kemarahan dan rasa kecewa dalam diri Arkan.
"Dia polisi," ucap Arkan pelan. "Kamu pikir aku bodoh?"
Wajah Alya pucat, ia tahi hari ini akan datang cepat atau lambat.
Raka memang sedang menyelidiki keluarga Virello, tapi Alya tidak pernah berniat mengkhianati Arkan.
"Aku bisa jelaskan..."
"Penjelasan apa?" Arkan mendekat perlahan. "Penjelasan bahwa kamu mendekatiku hanya untuk menghancurkan keluargaku?"
"Bukan begitu, Arkan!"
"Lalu apa?"
Alya terdiam, karena sebagian dari tuduhan itu memang benar. Awalnya ia memang menerima pernikahan ini demi mencari kebenaran tentang kematian ayahnya.
Dan nama Virello selalu muncul di balik tragedi itu, namun semua berubah sejak Arkan mulai menunjukkan sisi lain dirinya.
Pria itu memang kejam, tapi juga melindunginya, menjaganya, hingga membuat Alya goyah secara perlahan.
"Aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu," bisik Alya.
Arkan tertawa kecil, namun tawanya terdengar dingin dan menyakitkan. "Lucu sekali."
"Aku serius, Arkan."
"Kalau begitu, jawab satu pertanyaan dariku. Mengapa kamu menikah denganku?"
Napas Alya tercekat, ia tak mampu menjawab. Dan diamnya itulah yang menghancurkan semuanya, sorot mata Arkan berubah kosong. Seolah jawaban yang ia takutkan akhirnya benar.
"Sekarang aku mengerti," katanya pelan.
"Arkan, dengarkan aku..."
"Keluar."
"Tapi...
"Aku bilang keluar dari ruangan ini, sebelum aku mengatakan hal yang lebih buruk," ucap Arkan dingin.
"Asal kamu tahu, aku tidak pernah mengkhianatimu."
Arkan tersenyum tipis, "Semua orang selalu berkata begitu."
Kalimat itu membuat Alya diam, ada luka lama di sana. Luka yang belum pernah Arkan tunjukkan.
Namun sebelum Alya sempat berbicara lagi, Arkan sudah berbalik badan. Tidak melihat Alya lagi, seolah keberadaannya mendadak menyakitkan baginya.
Perlahan Alya menggenggam ujung bajunya, "Aku memang datang dengan alasan lain, tapi perasaanku sekarang bukan kebohongan.'
Arkan diam, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Alya akhirnya melangkah pergi dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Sementara di balik punggungnya, tangan Arkan mengepal keras sampai berdarah.
Di tempat lain, Damar tersenyum puas sambil melihat rekaman CCTV dari ruang perpustakaan.
"Bagus," gumamnya.
Perpecahan itu akhirnya dimulai, ia tahu kelemahan terbesar Arkan. Bukan musuh, bukan polisi, melainkan perasaannya.
Dan Alya adalah celah sempurna untuk menghancurkan adiknya sendiri.
"Bagaimana kalau Arkan mengetahui rencana kita?" tanya seorang pria di sampingnya.
Damar meneguk wine perlahan, "Dia terlalu sibuk mencintai istrinya."
"Lalu bagaimana degan Alya?"
Tatapan Damar berubah licik, "Wanita itu akan menjadi alasan kehancuran keluarga Virello."
Malam itu mansion terasa jauh lebih dingin, Alya duduk sendiri di balkon kamar dengan mata sembab.
Pikirannya kacau, ia ingin menjelaskan semuanya. Tentang ayahnya, tentang alasan ia menerima pernikahan ini, dan tentang rasa takutnya pada keluarga Virello sejal awal.
Namun setiap kali mengingat tatapan Arkan tadi, dadanya terasa sakit. Dan Alya menyadari satu hal yang paling ia takuti. Kehilangan kepercayaan Arkan.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Alya langsung berdiri saat melihat Isabella masuk.
Wanita itu berjalan elegan sambil membawa senyum tipis yang sulit ditebak.
"Aku dengar kalian tengah bertengkar. "
Alya menunduk pelan, "Itu bukan urusan anda."
"Kamu benar-benar berbeda dari wanita lain," ucap Isabella, sambil tersenyum kecil.
Tatapan matanya lalu berubah tajam, "Tapi jangan terlalu percaya diri, di keluarga ini cinta tidak pernah berakhir baik," lanjutnya.
Alya mengepalkan tangan, "Apa maksud ucapan anda?"
Isabella mendekat, "Arkan mungkin terlihat kuat, namun sebenarnya dia anak yang paling rapuh."
"Apa anda sedang mencoba untuk menyakitiku?"
"Tidak," Isabella menatap Alya. "Tapi aku hanya memperingatkanmu."
"Peringatan tentang apa?"
Wanita itu tersenyum tipis, sebelum berbalik pergi. "Bahwa seseorang di keluarga ini sedang bersiap membunuh."
Deg.
Jantung Alya terasa berhenti sesaat, namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Isabella sudah keluar meninggalkan kamar.
Alya berdiri mematung, pikirannya dipenuhi ketakutan baru.
Sementara jauh di lantai bawah mansion, Arkan duduk sendirian di ruang gelap dengan pistol di tangannya.
Di sampingnya masih tergeletak foto Alya dan Raka. Dan untuk pertama kalinya, sejak bertahun-tahun, Arkan merasakan takut.
Takut bahwa wanita yang mulai ia cintai, kini benar-benar akan menghancurkannya.