Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Penjaga Bangkit
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah berat itu mengguncang lantai.
Debu berjatuhan dari langit-langit ruangan.
Dinding retak semakin panjang.
Dan hawa dingin berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Tekanan.
Seolah ada sesuatu besar sedang mendekat perlahan.
Naresha merasakan napasnya semakin berat.
Tubuhnya gemetar tanpa bisa dikendalikan.
“Ven…”
Arven langsung menggenggam tangan Naresha erat.
Tatapannya tetap lurus ke arah lorong luar.
Wajahnya pucat.
Namun matanya tajam.
Siap melindungi.
Tok.
Tok.
Tok.
Lampu terakhir di ruangan meledak.
Prang!
Gelap total.
Hanya cahaya merah samar dari simbol di lantai yang tersisa sekarang.
Dan dari lorong…
Sesuatu muncul perlahan.
Tubuh tinggi besar.
Terlalu tinggi untuk manusia.
Seragam sekolah tua yang robek menjuntai di tubuhnya.
Kulit pucat keabu-abuan.
Dan wajah rata tanpa mata, hidung, atau mulut itu kini terlihat jauh lebih jelas.
Penjaga.
Makhluk itu berhenti tepat di depan pintu.
Diam.
Namun aura mengerikan yang keluar darinya membuat lutut Naresha hampir lemas.
Suara bisikan langsung memenuhi ruangan.
“Berikan…”
“Pengikat baru…”
“Berikan…”
Naresha memegang kepalanya kesakitan.
“Astaga…”
Pak Damar melangkah maju perlahan.
Tatapannya justru tenang.
Seolah sedang menyambut sesuatu yang sudah lama ditunggu.
“Sudah waktunya,” bisiknya pelan.
Arven langsung menatap pria itu penuh kebencian.
“Lo beneran sakit.”
Pak Damar tidak peduli.
Ia justru mengambil sesuatu dari saku jas hitamnya.
Pisau kecil berukir simbol merah.
Deg.
Naresha langsung mundur.
“Bapak mau apa?”
Pak Damar menatap Naresha lurus.
“Kamu atau…”
Tatapannya berpindah ke Arven.
“…dia.”
Suasana langsung membeku.
Arven berdiri lebih depan.
“Jangan harap.”
Pak Damar menghela napas kecil.
“Kalau tidak ada pengikat baru, Penjaga akan keluar dari sekolah ini.”
“ITU BUKAN ALASAN BUAT NGORBANIIN ORANG!”
Untuk pertama kalinya suara Arven menggema penuh emosi.
Dan Naresha bisa melihat sesuatu di mata cowok itu.
Ketakutan.
Bukan untuk dirinya sendiri.
Tapi untuk Naresha.
Penjaga perlahan bergerak masuk ke ruangan.
Tok.
Tok.
Tok.
Setiap langkahnya membuat simbol merah di lantai menyala lebih terang.
Makhluk itu berhenti tepat di depan mereka.
Kepalanya perlahan menunduk ke arah Naresha.
Dan suara banyak orang terdengar keluar dari tubuhnya.
“Dia melihat…”
“Dia cocok…”
“Dia akan bertahan…”
Tubuh Naresha langsung dingin.
“Ven…”
Arven buru-buru menarik Naresha ke belakangnya.
“Ga akan.”
Pak Damar menatap Arven lama.
Lalu perlahan tersenyum kecil.
“Makanya kamu dipilih.”
Deg.
“Apa maksud Bapak…”
“Kamu selalu seperti ini.”
Tatapan Pak Damar berubah aneh.
Hampir seperti bangga.
“Selalu mau melindungi orang lain.”
Arven mengepalkan tangannya.
Dan tiba-tiba…
Pak Damar bergerak cepat.
Brak!
Pisau kecil itu langsung diarahkan ke Arven.
“VEN!”
Arven refleks menahan tangan Pak Damar.
Pisau itu berhenti hanya beberapa senti dari dadanya.
Mereka berdua beradu tenaga.
Naresha langsung panik.
“STOP!”
Namun Penjaga tiba-tiba bergerak.
Cepat.
Terlalu cepat untuk tubuh sebesar itu.
Tangannya yang panjang langsung mengarah ke Naresha.
Dan dalam sepersekian detik—
Evelyn muncul di depan Naresha.
“JANGAN SENTUH DIA!”
Brakkk!
Tubuh Evelyn menghantam Penjaga keras.
Ruangan bergetar hebat.
Jeritan mengerikan menggema memenuhi lorong.
AAAAAAAA—
Bayangan hitam langsung memenuhi ruangan seperti asap hidup.
Naresha jatuh terduduk sambil menutup telinganya.
Sementara Arven berhasil mendorong Pak Damar menjauh.
Pisau itu jatuh ke lantai.
Cling!
Namun saat Naresha menoleh—
Ia langsung membeku.
Karena simbol merah di lantai mulai bersinar terang.
Dan darah perlahan muncul sendiri membentuk tulisan.
PENGIKAT BARU TELAH DIPILIH
Deg.
Napas Naresha tercekat.
Tulisan darah itu terus bergerak perlahan…
Membentuk satu nama.
NARESHA.