NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Predator di Kampus

​Langkah kaki Briella menggema di sepanjang koridor porselen Upper-Chrome, menciptakan ritme yang presisi dan penuh percaya diri. Pagi ini, udara di kampus terasa berbeda, seolah-olah atmosfer telah bergeser untuk menyambut kepulangannya yang tidak terduga. Di belakangnya, dua pria bertubuh tegap dengan setelan hitam legam mengikuti dalam jarak tiga langkah yang konstan.

​Pengawalan ketat yang diberikan Geovani bukan sekadar protokol keamanan, melainkan pernyataan perang yang nyata. Briella mengenakan kemeja sutra putih dengan kerah sedikit terbuka, membiarkan kain mahal itu jatuh dengan elegan di tubuhnya. Ia tidak lagi menunduk seperti mahasiswi beasiswa yang takut akan bayangannya sendiri.

​"Tetap di depan pintu aula selama aku mengikuti kelas anatomi," ucap Briella tanpa menoleh pada pengawalnya.

​"Baik, Nona Briella. Instruksi Tuan Geovani adalah memastikan tidak ada satu pun orang yang menyentuh Anda tanpa izin," jawab salah satu pengawal dengan suara berat yang kaku.

​Briella tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung racun yang sangat halus. Ia bisa merasakan tatapan mata para mahasiswa yang berpapasan dengannya di koridor. Mereka berbisik-bisik, mencoba menebak apa yang terjadi hingga gadis yang dulu mereka remehkan kini kembali dengan kemewahan yang mengintimidasi.

​Aroma disinfektan dan buku-buku tua menyambutnya saat ia memasuki aula utama. Di barisan paling depan, Prilly duduk dengan wajah yang tampak sangat pucat meski tertutup riasan tebal. Berita tentang merosotnya saham Adijaya Group tadi malam jelas telah sampai ke telinganya dan mulai memakan ketenangannya.

​"Lihat siapa yang berani menampakkan wajahnya di sini setelah menjadi simpanan dokter bedah," sindir Prilly saat Briella melangkah melewatinya.

​Briella tidak langsung membalas, ia justru sengaja berhenti tepat di samping kursi Prilly. Ia menyesuaikan posisi rambutnya, menyampirkan helaian panjang itu ke satu bahu hingga leher jenjangnya terekspos sepenuhnya. Di sana, pada kulit putihnya, terlihat jelas bekas kemerahan yang ditinggalkan Geovani semalam.

​"Kau terlihat sangat tidak sehat pagi ini, Prilly. Apakah berita malpraktik di klinik ayahmu membuatmu sulit bernapas?" tanya Briella dengan nada yang sangat tenang dan manis.

​Prilly terbelalak, matanya tertuju pada tanda kepemilikan di leher Briella yang terlihat begitu kontras dan vulgar. Tangannya gemetar hebat saat ia mencengkeram tepi meja kayu di depannya. Aroma parfum mahal Prilly yang biasanya mendominasi kini seolah tenggelam oleh keberanian yang dipancarkan Briella.

​"Kau wanita murahan! Kau pikir Geovani benar-benar menginginkanmu? Kau hanya alat baginya!" geram Prilly dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian dosen.

​"Mungkin aku memang alat, tapi setidaknya aku adalah alat yang paling dia hargai saat ini. Lihat leherku, Prilly. Ini adalah tanda bahwa tunanganmu lebih memilih menghabiskan malam denganku daripada memikirkan nasib keluargamu yang mulai hancur," Briella berbisik tepat di telinga Prilly.

​Prilly bangkit dari duduknya dengan gerakan kasar, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak. "Geovani tidak mungkin melakukan itu! Dia hanya sedang mengasihanimu karena kau adalah sampah yang tidak punya tempat tinggal!"

​"Kasihan? Geovani tidak mengenal kata itu dalam kamus medisnya. Dia hanya mengenal obsesi dan kepatuhan. Dan sepertinya, dia sangat terobsesi dengan apa yang ada di balik kulitku," sahut Briella sambil mengusap bekas merah itu dengan ujung jarinya.

​Keadaan di aula mendadak sunyi ketika para mahasiswa lain mulai menyadari ketegangan antara dua wanita itu. Briella tetap berdiri dengan tenang, menikmati setiap detik kehancuran mental yang dialami musuhnya. Ia bisa mencium aroma ketakutan yang menguar dari tubuh Prilly, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​"Jangan pernah menyebut namanya dengan bibir kotormu itu!" Prilly mencoba mengangkat tangannya seolah ingin menampar Briella lagi seperti di mansion.

​Namun, sebelum tangan Prilly mendarat, dua pengawal Briella sudah berdiri di ambang pintu aula dengan tatapan yang sangat mengancam. Prilly terhenti di tempat, menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kekuasaan untuk menyentuh Briella tanpa konsekuensi yang fatal. Keadaan benar-benar telah berbalik.

​"Sentuh aku, Prilly, dan aku pastikan ayahmu akan kehilangan satu lagi investor besar sebelum jam makan siang dimulai," ancam Briella dengan suara yang sangat rendah namun penuh tekanan.

​Prilly menurunkan tangannya dengan lemas, air mata amarah mulai menggenang di matanya yang indah. Ia merasa seperti predator yang kini justru menjadi mangsa di kandangnya sendiri. Briella berjalan perlahan menuju kursi kosong di barisan tengah, meninggalkan Prilly yang terpaku dalam penghinaan yang luar biasa.

​"Kau akan membayar ini, Briella! Aku akan memastikan kau merangkak kembali ke selokan tempatmu berasal!" teriak Prilly, mengabaikan tatapan sinis dari mahasiswa lain.

​Briella hanya duduk dengan anggun, membuka buku catatannya seolah teriakan Prilly hanyalah angin lalu. Ia merasakan getaran di sakunya, sebuah pesan singkat dari Geovani yang masuk ke ponsel terenkripsinya. Ia membacanya dengan senyum yang semakin lebar.

​[Fokus pada ujianmu. Aku sedang mengatur pertemuan dengan beberapa pemegang saham Adijaya yang mulai tidak puas. Nikmati harimu di kampus, Predator Kecil.]

​Briella memasukkan kembali ponselnya dan menatap lurus ke depan, ke arah dosen yang baru saja masuk. Ia bisa merasakan tatapan benci Prilly yang tertusuk ke punggungnya, namun itu justru memberinya energi tambahan. Ia bukan lagi korban yang menunggu untuk diselamatkan; ia adalah predator yang sedang menikmati permainan.

​Sepanjang sesi perkuliahan, Briella tetap menunjukkan kecerdasan yang luar biasa, menjawab setiap pertanyaan sulit dari dosen dengan presisi medis yang sempurna. Hal ini semakin membuat Prilly tertekan, karena posisi akademisnya yang selama ini dianggap terbaik mulai terancam oleh kehadiran Briella yang lebih dominan.

​"Bagaimana mungkin kau bisa secerdas itu padahal kau baru saja kembali dari pelarianmu?" tanya seorang teman sekelas Prilly saat jam istirahat dimulai.

​"Mungkin karena aku belajar di bawah bimbingan dokter terbaik, bukan hanya mengandalkan nama besar keluarga yang mulai pailit," jawab Briella lantang agar Prilly yang berada tak jauh darinya bisa mendengar.

​Prilly segera keluar dari aula dengan langkah terburu-buru, tampaknya ia tidak kuat lagi menahan malu dan tekanan yang diberikan Briella secara bertubi-tubi. Briella memperhatikan kepergiannya dengan tatapan dingin, menyadari bahwa rencananya untuk menurunkan kasta Prilly di mata publik kampus sudah menunjukkan hasil.

​"Nona Briella, Tuan Geovani sudah menunggu di mobil. Beliau ingin Anda segera kembali ke mansion untuk agenda selanjutnya," lapor salah satu pengawal yang mendekatinya saat kelas berakhir.

​Briella berdiri dan merapikan kemejanya, memastikan bekas kemerahan di lehernya tetap terlihat jelas bagi siapa saja yang memperhatikannya. Ia berjalan keluar dari gedung kampus dengan langkah yang mantap, diikuti oleh pengawalan ketat yang membuat semua orang menyingkir dari jalannya.

​"Apakah Prilly sudah mencoba menghubungi Geovani?" tanya Briella pada pengawalnya saat mereka berjalan menuju parkiran.

​"Beliau mengabaikan sepuluh panggilan dari Nona Prilly sejak pagi tadi, Nona. Tuan Geovani sedang tidak ingin diganggu oleh urusan yang tidak produktif," jawab pengawal itu dengan sopan.

​Briella tertawa kecil, membayangkan betapa gilanya Prilly saat ini ketika tunangan yang sangat ia banggakan bahkan tidak mau mengangkat teleponnya. Ia masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu, merasakan kursi kulit yang empuk menyambut tubuhnya. Di dalam mobil, aroma parfum kayu cendana milik Geovani terasa sangat kental.

​"Bawa aku kembali ke mansion. Aku harus mempersiapkan diri untuk kejutan selanjutnya bagi keluarga Adijaya," perintah Briella pada sopirnya.

​Mobil itu meluncur pergi meninggalkan area kampus, membelah jalanan Upper-Chrome dengan kecepatan yang stabil. Briella menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang melambangkan kekuasaan. Ia menyadari bahwa perjalanannya baru saja dimulai, dan kampus hanyalah panggung kecil untuk drama yang lebih besar.

​Rasa haus akan pembalasan dendam yang selama ini membakar hatinya kini mulai terpuaskan sedikit demi sedikit. Namun, ia tidak akan berhenti sampai Prilly merasakan kehilangan yang absolut. Ia ingin melihat Prilly kehilangan segalanya—harta, status, kehormatan, dan bahkan pria yang dicintainya.

​"Kau sudah melakukan bagianmu dengan baik di kampus hari ini, Briella," gumamnya pada diri sendiri sambil mengusap perutnya yang masih rata.

​Ia tahu bahwa Geovani sedang menunggunya dengan informasi baru tentang kelemahan ayah Prilly. Aliansi gelap yang mereka bangun semakin kuat seiring dengan semakin hancurnya mental musuh mereka. Briella memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah putus asa Prilly di aula tadi, dan itu adalah pemandangan paling indah yang pernah ia lihat.

​"Ini baru permulaan, Prilly. Kau belum merasakan bagaimana rasanya saat seluruh duniamu benar-benar runtuh dan kau tidak punya tempat untuk berpijak," bisik Briella ke arah udara dingin di dalam mobil.

​Mobil terus melaju menuju mansion Geovani, tempat di mana segala rencana jahat selanjutnya akan digodok lebih matang lagi. Briella sudah siap untuk serangan berikutnya, siap untuk menjadi predator yang paling ditakuti di seluruh Upper-Chrome. Tidak ada lagi jalan kembali bagi sang mahasiswi beasiswa yang tertindas.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!